Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Tak Seperti Yang Diperkirakan


__ADS_3

HAPPY READING


Saat ini Dika, Andre dan Melvin sedang terlihat di kantin kantor untuk makan siang. Dika dan Andre sangat jarang menginjakkan kaki di tempat ini, karena saat makan pun mereka lebih suka di ruang masing-masing jika tak sedang di luar kantor.


Semua mata di sana terutama kaum hawa berlomba untuk mencuri pandang ke arah ketiganya, dan untuk bagian ini Melvin lah yang merasa paling suka.


“Udah puas lu?” tanya Andre saat melihat Melvin yang terus memasang wajah sok coolnya.


“Belum juga masuk Ndre, mau puas dari mana?”


“Anj*ng. Bac*t lu jagain kampr*t.”


Bukannya ngeri melihat amukan Andre, Melvin justru tersenyum puas dan masih berusaha terlihat secool mungkin. “Lah. Nyolot si calon bapak kagak jadi,” lanjutnya kemudian.


Kluntang!


Melvin menarik kedua sudut di bibirnya lebar-lebar sesaat setelah berhasil menghindari lemparan sendok dari Andre, sementara Dika hanya cuek dan asik berkirim pesan dengan Rina.


“Lu tadi kenapa harus nurutin maunya si kunyuk sih,” kesal Andre bosnya. “Tuh lihat. Mata mereka sudah pada melotot ngelihatin kita,” imbuh Andre.


“Kita? Gue kali, gue,” ujar Melvin dengan membusungkan dada.


“Mana ada yang demen lihatin cowok buluk tatoan kaya situ?” ketus Andre.


“E jangan salah. Yang tatoan gini malah yang paling dicari,” ujar Melvin menyombongkan diri.


“Kalau paling dicari mana buktinya. Sampe sekarang lu jomblo aja,” sarkas Andre.


“Jomblo teriak jomblo?” ujar Melvin yang masih berusaha menjaga sikap.


“Tu makanan nggak bisa masuk ke mulut kalau mulutnya ngebacot terus,” ujar Dika saat baru saja pelayan mengantarkan makanan.


“Astaga Pak Restu. Ini pasti gara-gara Andre guna-guna sampai membuat anda harus mengotori mulut dengan kata kata kasar,” ujar Melvin dengan wajah sok prihatin.


“E b*ngke…!” umpat Andre entah yang sudah keberapa. Jika tadi ia masih berusaha meredam suaranya, sepertinya sekarang remnya sudah lepas dan entah terlempar kemana.


Dika tak mau ambil pusing. Ia melanjutkan makan siangnya sambil terus bertukar kabar lewat pesan dengan Rina. Ia membiarkan Andre dan Melvin terus menghujat dan mengumpat sesuka hati mereka. Apa pun wujud dan kenampakannya, keduanya adalah orang-orang terdekat bagi Dika.

__ADS_1


Sementara itu di toko, Hana tak lagi menjadi satu-satunya yang mengurusi masalah siaran langsung, tapi sekarang giliran Anin yang belajar untuk ini. Semula Hana meminta Haning yang mendampingi Anin sehingga ia bisa melayani pelanggan yang datang ke toko, tapi dengan seribu alasan Haning menolaknya. Sejujurnya yang menjadi alasan terkuatnya tak mau terlibat siaran langsung adalah karena banyaknya hujatan dari netizen karena performa dia dianggap tak baik dan semenarik Hana saat membawakan acara.


“Selamat datang di…” suara Hana menggantung. Ia terkejut dengan kemunculan Andre yang tiba-tiba.


Seakan paham dengan keterkejutan Hana, Andre sempat meletakkan telunjuknya di depan mulut sebelum berjalan untuk mendekati Hana.


“Pura-pura lah tak tahu kalau aku adalah orang Surya Group,” bisik Andre begitu tiba di dekat Hana.


Hana yang semula ingin membuang sampah tertegun di tempatnya. Ia kira Andre akan langsung memeluknya dan meminta ia untuk pulang bersama. Tapi ternyata Andre ke sini untuk kepentingan perusahaan, bukan karenanya apa lagi menjemput untuk pulang.


“Hai,” Andre melambaikan tangannya di depan wajah Hana. “Saya kesini untuk mencarikan seorang wanita baju," ujarnya kemudian.


Hana masih tak bereaksi. Apa maksud Andre ini. Itu tujuan ia yang sebenarnya atau hanya alasannya saja agar lebih luwes berbelanja di toko tempat aku bekerja? Batin Hana


Ditengah kegundahannya, tiba-tiba Haning muncul dan meraih pergelangan tangannya. “Hana, itu Aning butuh bantuan sepertinya,” ujar Haning yang hendak menarik Hana dari hadapan Andre.


Spontan Andre menahan tangan Hana. “Maaf, I want her to serve me.”


Haning terpaksa melepaskan cekalannya pada tangan Hana. “Tapi dia yang bertanggung jawab pada program siaran langsung di toko kami. Jadi biar Masnya nanti dengan saya saja.”


“Apa kah keberadaan saya sebagai pelanggan setidak penting itu untuk toko ini?”


Hana dan Haning langsung mendongak secara serempak. Mereka dapat melihat dengan jelas wajah tak suka Andre saat ini.


“Iya tapi program kami harus tetap berjalan Mas.” Haning merasa perlu menjelaskan ini pada Andre. Ia benar-benar tak suka jika ada yang menghalanginya.


“Itu kenapa?” kata Eka yang saat ini menghampiri Risma yang sedang sibuk dengan orderan online yang masuk via aplikasi.


Risma yang semula sibuk mengalihkan pandangannya pada ketiga orang di sana. ketiga orang yang dimaksud adalah Hana dan Haning yang sedang menghadapi seorang pelanggan pria yang datang ke tokonya.


“Astaga?” Itu kan pria yang waktu itu, batin Risma. Ia langsung ingat Andre yang menghampirinya tempo hari saat Deni ingin meminta uang padanya di depan toko ini.


Tiba-tiba Risma merasakan debaran tak biasa di dadanya. Jangan-jangan. Batinnya.


“Kamu kenapa Ris? Kaget banget kayaknya?”


Risma menggeleng dan kembali fokus dengan ponselnya. Posisiku sekarang nggak tersembunyi banget kan? Aku yakin jika ia mau melihat sekeliling, pasti keberadaanku akan langsung disadarinya. Tahan Risma, perempuan itu dicari bukan mencari. Jadi kamu harus kalem tak boleh bertingkah yang macam-macam. Racau Risma dalam hati.

__ADS_1


Risma beberapa kali menghela nafas untuk mengurangi debaran di dadanya. Mungkinkah benar-benar ada kisah Cinderella di dunia nyata?


“Selamat siang, maaf ada yang bisa saya bantu…” setelah Andre dan Haning berdebat cukup lama, akhirnya Nuke datang dan menghampiri ketiga orang ini.


“Mbak, Masnya ini pengennya dilayani Hana, sedangkan Anin masih harus Hana bantu untuk siaran langsung,” adu Haning.


“Ya sudah kamu saja yang bantu Anin, biar Hana sama Mas ini,” putus Nuke.


“Tapi…”


Nuke tak memperkenankan Haning untuk bicara lagi. Ia menggerakkan tangannya agar Haning pergi dari mereka.


“Silahkan anda memilih sesuai yang anda butuhkan, semoga suka…” Nuke meninggalkan Hana dan Andre yang masih diam di tempatnya. Andre yang datang dengan celana bahan berwarna abu-abu dan kaos oblong berwarna putih tanpa gambar dan tanpa motif terlihat tampan dan memukau mata-mata yang melihatnya. Kulitnya begitu bersih dengan tubuh tinggi atletis. Wajahnya tegas dengan tatapan dingin yang mampu membekukan apa saja.


“Silahkan…”


Hana berjalan terlebih dahulu menuju arah display baju.


“Baju seperti apa yang inginkan. Saya akan berusaha memilihkan yang paling sesuai berdasarkan produk yang kami punya,” ujar Hana memperkenalkan produknya pada Andre.


Hana terlihat kaku saat berbicara, hal ini tak luput dari pengamatan Haning yang belum rela Andre diserve olehnya.


Andre perlahan berjalan dan berhenti tepat di belakang tubuh Hana. Ia sedikit merendahkan tubuhnya untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan Hana.


Hana tak menyangka jantungnya bisa berdisko seperti ini saat tubuh Andre berada dalam jarak sangat dekat dengannya seperti ini. Bahkan hingga aroma maskulin yang yang menguar dari tubuhnya begitu menusuk indera penciuman Hana.


“Dasar murah*n. Bisa-bisanya ia merayu pelanggan dengan cara seperti itu,” decih Haning.


Hana yang merasa posisi ini tak baik untuk jantungnya segera menyingkir untuk memberi jarak antara ia dan pria yang hampir memberinya anak ini.


“Atau barang kali anda ingin tahu produk best seller di toko kami?” tawar Hana yang sebearnya hanya alibi untuk memecah kebekuan diantara keduanya.


Melihat Hana yang berusaha menghindarinya, Andre kembali menegakkan tubuhnya dan memasukkan sebelah tangannya ke dalam sebelah kantong celananya. Ia yang sangat peka akan kegugupan Hana, sekarang tersenyum miring dan terus saja menatap Hana yang sudan salah tingkah di tempatnya.


Meskipun mereka pernah lebih dekat dari ini bahkan tanpa ada jarak yang menjeda, namun Hana tak menyangka kalau ia masih dengan mudahnya tenggelam dalam pesona Andre yang tanpa ia sadar juga dirasakan oleh semua wanita yang ada di toko ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2