Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Adik yang Tak Diakui


__ADS_3

HAPPY READING


Andre keluar dari mobilnya dengan tergesa.


Bgggm!!


Ia membanting pintu dan berjalan cepat melewati lobi. Ia sama sekali tak menghiraukan tatapan heran dari para karyawan yang tak sengaja melihat kedatangannya. Pasalnya ini bukan nampak seperti Andre biasanya. Ia yang selalu muncul di kantor dengan setelan jas yang rapi kini ia hanya mengenakan celana panjang dengan kaos lengan panjang berwarna putih.


Saking kagetnya para karyawan, hampir semua tak ada yang ingat untuk menyapa Andre yang berstatus sebagai orang kedua di dalam perusahaan ini.


Setibanya di depan ruangan Dika, ia segera membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Namun setelah pintu terbuka, ia tak segera masuk dan justru mematung di tempatnya. Dia pikir di dalam hanya ada Dika dan Melvin, ternyata ada satu orang lagi yang tak ia sangka akan ada di sini.


Melihat kemunculan Andre, Dika menggerakkan kepalanya. “Masuk…” ujarnya kemudian.


Andre harus menghela bernafas beberapa kali. Ingin ia melayangkan tinjunya tepat di wajah pria yang kini juga tengah menatapnya. Ia yakin kepergian Hana ada hubungannya dengan pria ini. Namun ia masih menganggap Dika sehinga ia berusaha untuk tak gegabah saat ini. Setelah ia merasa siap, Andre segera menutup pintu dan bergabung bersama ketiga pria yang ada di dalam.


“Duduk dulu,” pinta Dika saat melihat wajah Andre terlihat kaku.


Andre hanya melakukan yang Dika minta tanpa suara. Ia masih berusaha mendamaikan diri saat melihat Rio di tempat yang sama dengannya. Pria ini lah yang menyumbang penderiataan besar yang untuk Hana.


“Sorry buat kalian berdua,” ujar Dika sambil menautkan jemarinya di atas meja menatap dua pria yang sejak beberapa saat lalu terlihat enggan bertegur sapa.


Di tempatnya Melvin terlihat santai, sementara Andre dan Rio terlihat tegang seakan sama-sama membawa listrik bertegangan tinggi.


“Aku hanya perlu kalian berbicara langsung, bukannya hanya saling mengira dan menerka,” ujar Dika sambil menatap kedua pria di hadapannya.


Andre dan Rio yang merasa Dika bicarakan sempat beradu pandang sebelum memutus kontak dan kembali menatap Dika yang berada di kursi kebesarannya.


“Dimana Hana?” tanya Andre tanpa melihat siapa yang diajak bicara.


“Apa maksud kamu?” Rio balik bertanya dengan suara dingin. Meskipun Andre tak menyebut namanya atau sekedar menatapnya, tapi Rio tahu pertanyaan ini ditujukan padanya.


“Jangan pura-pura. Aku tahu kamu sangat membenci Hana. Dan aku dengan suka rela menjauhkannya dari hidup kamu. Jadi kenapa kamu masih juga mengusiknya.”


“Anda hati-hati kalau berbicara. Jika tanpa bukti jangan pernah


menuduh hanya dengan alibi,” sarkas Rio.


“Kamu…”

__ADS_1


Melvin langsung menghalangi Andre yang sudah bersiap meraih kerah Rio.


Dika menghela nafas. “Saya mengundang kalian agar bisa berbicara baik-baik, bukan untuk adu kekuatan,” ujar Dika dengan nada tegasnya.


Kedua pria dewasa ini sibuk mengatur nafasnya. Jelas sekali mereka sama-sama memendam kobaran api di dalam dada. Buktinya dada mereka hingga naik turun dengan ritme tak beraturan dan nafas pun terdengan ngos-ngosan.


“Saya harap kalian bisa bersikap dewasa. Jangan kekanakan,” ujar Dika lagi.


Melvin yang sudah kembali ke tempatnya dengan santai membuka botol soda yang ada di meja tak jauh darinya. Ia meminum minuman favoritnya itu sembari menunggu pertunjukan apa yang akan ditampilkan di hadapannya kini.


“Andre, aku bawa Rio ke sini karena ada yang melapor kalau kemaren Rio sempat masuk ke ruang Hana sebelum Hana menghilang,” jelas Dika.


“Bangsat,” desis Andre. “Apa yang kamu lakukan di ruang rawat Hana, ha?!!”


Sekali lagi Melvin turun tangan di saat yang tepat. Jika tidak tumpukan berkas di meja Dika bisa berantakan karena tersenggol Andre yang bergerak dengan tidak santai.


“Ini kayaknya perlu dibawa ke ring sekalian Bos,” ujar Melvin sambil menatap sodanya yang tumpah dengan mengenaskan di atas lantai.


Melvin spontan meringis saat Dika menatapnya dengan tajam tepat setelah ia menyelesaikan ucapannya.


“Andre, anak baek. Jangan ngamuk,” ujar melvin sebelum menjauhkan tangannya dari pundak Andre.


“Dikasih t*i malah ngumpat. Dasar t*i\,” gerutu Melvin dengan volume kecil.


“Vin. Aku mengundangmu bukan untuk membuat gaduh,” ujar Dika memperingati.


Dengan wajah memelas Melvin menangkupkan kedua tangannya di depan dada. “Ampun Bos…”


Kalau suasana tak sedang tegang, Senja berani jamin semua pasti akan tertawa melihat polah Melvin. Sayang suasana sedang tak mendukung untuk pertunjukan stand up yang akan Melvin langsungkan.


“Rio, sebenarnya apa yang kamu lakukan di tempat Hana?” tanya Dika mewakili Andre yang masih dikuasai emosi.


Rio nampak menghela nafas. Ia sangat malas dengan bahasan yang satu ini. Tapi bagaimana lagi, adik yang tak pernah ia akui ini punya pemuja militan seperti Andre yang membuatnya harus repot seperti ini.


“Aku hanya ingin melihat dia. Dan benar aku ingin dia pergi, tapi tak pernah sekali pun aku berniat melukainya,” jujur Rio.


Andre mengernyit. Rio sepertinya sungguh-sungguh dengan ucapannya. Jadi dalang penyerangan waktu itu siapa? Batin Andre.


“Jadi apa yang kamu lakukan di sana?” tanya Andre dengan nada yang sudah berhasil ia turunkan.

__ADS_1


Andre sudah tak berniat memukul Rio lagi, tapi ia masih harus menahan diri untuk tidak meneriaki dan mengumpati.


“Aku cuma bilang agar dia berhenti merusak kebahagiaan orang, itu saja.”


“Rio." Kini Andre mulai menatap pria tampan berperawakan sedang di hadapannya. "Kamu sadar nggak sih betapa Hana itu peduli sama kamu, betapa Hana mengagumi kamu, betapa Hana ingin sekali mendapat pengakuanmu sebagai adiknya. Betapa ia senang saat melihat kamu bahagia dengan Indah, punya anak-anak yang lucu meski kamu sama sekali tak ingin Hana menyentuhnya, betapa ia tak mau kamu berselisih pahan dengan Indah, jadi dia bersedia menjadi boneka papamu untuk mengantikanmu.”


Rio merasa tersentuh mendengar ucapan Andre. Tapi egonya menggiring agar ia tak gampang iba dengan cerita Hana. “Kamu tahu apa tentang kehidupanku yang sudah berantakan sejak kemunculan Hana?” sinisnya kemudian.


“Aku tahu banyak karena aku bersedia mendengarkan setiap fakta yang Hana ceritakan, bukan sepertimu yang menutup mata dan telinga tentang sebuah kebenaran.”


“Itu pasti hanya bualan Hana untuk mendapat simpati kamu,” sarkas Rio.


“Hana tak pernah minta aku pertahankan. Bahkan aku yang sudah memaksanya untuk bertahan di sisiku.” Andre menjeda ucapannya dengan sebuah helaan nafas. “Aku rasa kamu tak akan marah jika aku beri tahu awal hubunganku dengan Hana adalah aku yang memaksanya. Merenggut apa yang ia pertahankan selama ini,” ujar Andre dengan hati-hati.


Melvin membulatkan mata mendengar apa yang baru saja Andre ucapkan. Sebuahsenyum licik tercetak di bibirnya kemudian sebagai reaksi atas ketidak habis pikirannya dengan kelakuan Andre yang tak ia sangka sama sekali. Aku pikir kamu anak manis yang lurus yang hanya tahu bekerja dan takut dosa, hahaha. Sayang tak ada yang mendengar ucapan Melvin ini karena ia hanya mengucapkannya di dalam hati.


“Dasar brengsek,” umpat Rio.


“Kenapa kamu harus marah? Bukannya kamu tak pernah peduli dengan dia?” Andre memang menantikan reaksi yang Rio berikan. Selama ini ia tahu Rio baik. Terlebih dengan keberadaan Indah yang setia mendampinginya, membuat Rio terus bertahan di dalam hal-hal yang baik.


“Tapi tetap saja ia dan aku hidup dari bakal yang sama,” ujar Rio dengan nada rendah.


"Apa kamu tak rela dengan apa yang aku lakukan pada Hana?"


Rio tak menjawab. Namun dari sorot matanya terlihat jelas kalau ia marah. Ditambah dengan rahangnya yang nampak mengeras.


“Oke, aku tak mau basa-basi lagi. Sebenarnya apa rencana kamu untuk Hana, akan aku kabulkan asal kamu melepaskan dia. Biar aku yang memungut dia dan menjamin kehidupannya,” tantang Andre.


Rio nampak memejamkan mata dan menghembuskan nafas kasar setelah beberapa waktu kemudian. Bersama dengan udara yang dihempas dari rongga di dadanya, Rio berharap sesaknya juga terbawa di sana.


“Aku diam-diam menemui Hana sebenarnya atas permintaan Indah. Indah ingin aku berdamai dengan Hana, tapi aku benar benar tak bisa.”


Dika masih menyimak dalam diam.


“Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan pada Hana?” tanya Andre lagi.


Rio menyandarkan pungungnya dan menatap langit-langit ruangan Dika. “Aku tak tahu. Aku masih belum bisa menerima dia. Sebenarnya papa yang masih terobsesi pada Hana. Papa masih belum rela jika tak ada keturunannya yang mewarisi system bisnis yang ia jalankan selama ini. Jadi aku masih merasa harus bersaing dengan Hana.”


“Rio, tak pernahkah kamu berfikir Hana tak pernah meminta takdir kehidupan semacam ini?”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2