
^^^Maaf temanya cumi lagi, Senja suka cumi soalnya, hehehe^^^
^^^Temen-temen suka seafood nggak?^^^
^^^-Happy reading-^^^
"Dika..."
Dika tersadar dari lamunannya saat mendengar panggilan dari Rina. Dia menoleh dan menjawab dengan sebuah senyuman.
"Kamu nggak tidur?" tanya Rina karena ini masih pagi buta, bahkan adzan subuh saja belum berkumandang.
"Tidur," jawab Dika sambil menarik Rina untuk duduk di sampingnya. "Paling baru setengah jam yang lalu aku bangunnya," lanjut Dika dengan menggenggam tangan Rina.
"Pengen aku buatin minuman hangat?"
Dika menggeleng. "Gini aja." Dika menarik Rina ke dalam pelukannya.
Rina mendongak menatap Dika yang terlihat kusut tapi tetap tampan. Dia teringat sesuatu, kemudian segera menarik tubuhnya dan bangkit dengan cepat.
"Kamu nggak mau nemenin aku?" tanya Dika kecewa.
"Aku tadi bangun kan mau minum..." kata Rina setelah mengingat apa tujuan sebenarnya. Dia berjalan menuju dispenser dan minum dari sana.
"Bawain aku sekalian," kata Dika sambil mengotak-atik tabnya.
Tak lama, Rina datang dengan membawa segelas air putih. Dia ikut duduk tepat di samping Dika.
Dika meneguk air putih itu dan meletakkan sisanya di meja. "Temenin aku di sini ya?" pinta Dika.
"Aku ambil selimut bentar ya..."
Rina bangkit setelah mendapat anggukan dari Dika. Tak lama kemudian ia datang dengan sebuah selimut di tangannya. "Kamu ngeliatin apaan sih?"
"Aku kerja sayang, banyak file yang harus aku periksa dan pelajari."
"Sekolah kamu gimana?"
"Minggu depan baru mulai," jawab Dika sebelum kembali memperhatikan baris demi barisan file dokumen di tangannya. "Rio masih ganggu kamu?"
Rina menggeleng. "Aku malah ngehawatirin kamu."
"Kamu tenang ya, semua akan baik-baik saja." Dika menarik Rina ke dalam pelukannya. "Aku kerja lagi ya..."
Rina yang tadi sempat membawa ponsel Dari dalam kamar akhirnya turut larut menyelam ke dunia hayal.
Dika menghentikan aktifitasnya saat kembali mengingat sebuah nama. Apa mungkin dia ada hubungannya dengan Rahardja. "Rio..." gumam Dika.
Rina yang berbaring berbantalkan paha Dika langsung mendongak. "Kenapa?"
Ada mata-mata Rahardja dalam perusahaannya, namun tak mungkin ia katakan pada Rina sepertinya. "Aku cuma kepikiran, aku dapat tugas untuk mencari kalau ada yang menyusup ke perusahaan."
"Emang ada yang kayak gitu?"
Dika menggidikkan bahu. "Entahlah."
"Sebenarnya kamu ngerjain apa sih Dik, terlalu serius tahu nggak ukuran anak magang, apalagi kamu masih SMK, jadi nggak mungkin kan kamu dikasih kerjaan yang berat?"
"Aku magang bukan buat jadi karyawan tetap Rin, tapi buat persiapan ngelanjutin usaha Papa. Dan untungnya Om Reno mau bantu aku melibatkan dalam proyeknya."
Rina mengernyit saat tiba-tiba mengingat kata-kata papanya tempo hari. "Kamu Bosnya papa ya, soalnya kata papa tender yang ia tangani sekarang melibatkan pemilik perusahaan yang katanya masih muda," terka Rina dengan tatapan curiga.
__ADS_1
Dika tertawa, kenapa kamu harus berkata seperti itu om Reno, geram Dika dalam hati. "Ya nggak lah. Mana mungkin aku bosnya om Reno." Aku cuma pemilik perusahaan yang dikelola Papa kamu Rin, lanjut Dika dalam hati.
Dika meletakkan tanya di atas meja. Ia segera merebahkan tubuhnya di samping Rina. Di saat yang sama Rina menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
"Peluk gini nggak apa-apa kan ya?"
Rina merapatkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata. Dika sempat menatap wajah Rina yang matanya terpejam sebelum akhirnya ia juga ikut memejamkan mata.
***
Pagi hari di pantai dengan udara dingin yang menerpa kulit ari.
"Kak, ini nanti Rista boleh renang di pantai kan?"
"Jangan Dik..."
"Kok jangan sih, kan Rista udah gede, pantai sini juga kan aman buat renang?"
"Kenapa sih tumbenan banget pengen renang di pantai?" tanya Dika sambil merangkul tubuh adiknya sementara Rina Dian berjalan di belakangnya.
Saat ini mereka hanya jalan berempat, sementara Dedi lebih memilih berlari dan menghilang entah kemana.
"Nanti aku temenin deh..." tawar Rina
"Aku juga," imbuh Dian.
"Jangan, kalau mau renang di villa aja," putus Dika dengan nada tak terbantahkan. Dia kemudian berlari menyusul Dedi ketimbang mendengarkan adiknya terus merengek.
Dian dan Rina kemudian berjalan mengapit Rista. "Udah jangan sedih," ucap Rina menenangkan Rista.
"Aku kan cuma pengen main air di pantai Kak, masa gitu aja dari dulu nggak boleh..."
"Nanti Kakak coba ngomong sama kakak kamu ya..."
"Hunting sarapan yuk..." ajak Dian.
"Udah disiapin Kak, tinggal balik ke villa aja," kata Rista.
"Ya coba hunting dulu, kan bisa dibawa ke villa kalau nemu yang menarik."
"Tapi gue kebelet nih," kata Rina sambil memegang perutnya.
"Yah, ya udah balik aja," putus Dian akhirnya.
"Gue duluan ya, nggak nahan nih..."
"Idih, jorok." Dian mendorong tubuh Rina untuk meninggalkan mereka. Kini hanya tersisa Dian dan Rista yang masih berjalan santai menyusuri pantai.
"Cumi semalem kayaknya masih deh," celetuk Dian tiba-tiba.
"Iya kah? Kakak masak cumi bisa nggak?"
"Bisa kok..."
"Ajarin Rista ya Kak..." pinta Rista dengan antusias.
"Serahkan pada ahlinya."
Keduanya pun tertawa sambil terus berjalan dengan semangat menuju villa.
"Kakak belajar masak dari umur berapa sih?" tanya Rista sat melihat Dian dengan lihai mencuci dan membersihkan cumi.
__ADS_1
"Emm, kayaknya nggak pernah belajar deh," jawab Dian yang masih sibuk dengan cumi di tangannya.
"Kok hebat banget..."
Dian terkekeh. "Maksudnya tuh ya, aku nggak pernah belajar masak secara khusus, cuma suka ngeliatin mama pas lagi masak, suka nungguin gitu. Soalnya mama setiap hari pasti masak buat papa."
Rista tersenyum kecut, diam-diam dia merindukan keharmonisan keluarganya yang dulu. Namun rasanya rindu itu akan menguap begitu saja terbang bersama udara, karena sang papa kini sudah tiada.
"Rista bisa bantu nggak Kak?" tanya Rista.
Dian mengangguk dengan senyum. "Ini nanti aku cemplung-cemolungin ya, abis itu kamu yang matengin?"
"Maksudnya?" tanya Rista
Dian menuntaskan aktivitasnya memotong bumbu sebelum akhirnya berbalik dan menatap Rista. "Ya aku masukin ke wajan dulu semua bahan dan bumbunya, abis itu aku mandi. Nanti kalau udah mateng kamu pindahin ke piring terus bawa ke meja."
Rista mengangguk paham. "Cirinya kalau udah mateng gimana Kak?"
"Kalau airnya udah nyusut. Nggak sampe 10 menit kok. Ngerti ya?"
"Oke Kak," jawab Rista dengan riang.
Dian mulai memasukkan semua bahan dan setelah menambahkan sedikit air, dia meninggalkan Rista sendiri di dapur.
Saat itu dari pintu depan masuk lah Dika dan Dedi yang baru saja jogging.
"Siapa yang masak Dik?" tanya Dedi saat mencium bau harum masakan.
"Palingan juga Dian, soalnya dari 3 orang yang ada di sini hanya dia yang ngerti masak."
Entah mengapa Dedi berharap jika itu adalah Rista. Saat Dika bergerak menuju kamar mandi, Dedi justru perlahan melangkah ke dapur.
Kedua sudut bibirnya tertarik saat melihat Rista sibuk dengan wajan dan spatula. Dedi mendekat dan duduk tak jauh dari Rista. "Kamu masak?"
Rista menoleh dengan senyum manisnya. "Ini tadi Kak, aw!"
Dedi langsung bangkit dan meraih tangan Rista yang terkena letupan cumi.
"Sakit?"
Rista mengangguk.
"Ya udah, kamu duduk, aku yang terusin ya..." Dedi mengambil alih spatula dari Rista setelahnya.
Rista berjalan dengan lesu ke kursi yang sempat Dedi duduki. Tinggal nerusin aja kenapa nggak bisa sih. Rista menggerutu dalam hati.
"Wah, pas banget bumbunya..." kata Dedi setelah mencicipi cumi asam manis di hadapannya. "Kamu cepet banget ya belajar masaknya."
"Itu tadi yang masak Kak..."
"Cepet ambil piring..." belum juga Rista menyelesaikan ucapannya, Dedi sudah menyuruhnya mengambil piring.
Rista datang dan segera menyerahkan piring yang Dedi minta. "Itu tadi yang masak..." tiba-tiba Dedi menyuapkan sepotong cumi yang sudah ia tiup sebelumnya.
"Enakkkk...." ucap Rista yang mengagumi rasa masakan Dian.
"Udah ayo cepet mandi, terus kita sarapan bareng-bareng."
Dedi mendorong Rista ke kamarnya untuk mandi setelah ia meletakkan piring berisi cumi asam manis di atas meja makan.
Dedi tersenyum menatap punggung Rista yang menghilang di balik pintu. Ta, aku kagum sama kegigihan kamu.
__ADS_1
TBC