Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Familiar


__ADS_3

Jangan lupa jejak ya teman-teman.


HAPPY READING


Andre meletakkan beberapa lembar uang di atas meja di samping nampan berisi makanan yang sama sekali belum disentuhnya. Ia membantu Hana membawa belanjaan dan bergegas pergi dari sana. Dua orang ini berjalan dengan langkah tergesa.


Brugh!!


“Maaf.” Spontan Hana menunduk dan memunguti paperbag orang yang ditabraknya. Sementara Andre memungut belanjaanyang semula dipegang Hana.


“Sekali lagi saya minta maaf.” Hana kembali membungkukkan badan dan mengucap maaf pada orang yang ditabraknya sebelum Andre meraih tangannya.


“Andre…”


Langkah Andre berhenti sevara spontan saat mendenga suara orang memanggil namanya.


“Dian, Rina?!” kaget Andre saat mengenali siapa yang baru saja ditabrak Hana.


“Kalian di sini juga?” tanya Dian.


“Iya Di, tapi kita mau udah mau balik,” ujar Andre agar mereka bisa segera pergi dari sana.


Rina menatap gadis cantik yang bersama Andre ini. Namanya memang Hana, tapi sepertinya bukan Hana mantan staf Andre yang belum lama keluar dari perusahaan dengan tidak hormat. Hana yang ini nampak lebih muda dengan poni dan overall di atas lutut sebagai outfitnya.


Tiba-tiba ponsel Andre berdering.


Ini kesempatanku untuk melarikan diri. Batin Andre.


“Ma’af ya, aku harus antar dia pulang, soalnya ini tadi keluar nggak pakai minta ijin Maminya. Permisi.”


Dengan belanjaan di tangan kiri dan tangan kanan mengenggam tangan Hana, Andre bergegas pergi dari sana tanpa menunggu Dian dan Rina persilahkan.


Dian menatap lekat pasangan yang baru saja ditemuinya itu. “Itu wanita yang aku ceritakan datang dengan Andre semalam. Sepertinya Andre memang sudah menemukan tambatan hati,” ujar Dian tak bersemangat.


“Namanya Hana ya?”


“Iya. Itu Hana yang kamu maksud bukan?” ujar Dian balik bertanya.


“Aku cukup familiar dengannya, tapi dia bukan Hana yang pernah kerja di kantor Dika.”

__ADS_1


“Tapi muka kamu kok kayak mikir gitu?” Dian kembali bertanya karena melihat ada ragu di setiap ucapan Rina.


“Sudah selesai belanjanya?”


Dika tiba-tiba muncul dan merangkul Rina.


Rina hanya tersenyum sebelum kemudian Dika menghadiahkan satu kecupan di puncak kepalanya.


“Bapak Ibu tolong ya, kalau mau mesra-mesraan situasi dan kondisi sekitar tolong diperhatikan. Kasihanilah hati hamba yang tengah meronta mendamba cinta.”


Kedua sudut bibir Dika tertarik lebar. “Dia kenapa?” bisiknya pada Rina.


“Habis ketemu Andre dia, dan Andre sudah sama wanita,” jujur Rina pada suaminya.


Ketiganya tertawa. Dian memang sedang patah hati, tapi bukan berarti dia akan nangis bombai dan merajuk meratapi nasibnya. Dia masih bisa bercanda dan tertawa meskipun hatinya sedang terluka.


Ketiganya berjalan menuju bioskop untuk menonton bersama. Seandainya tadi Andre sendiri, pasti akan diajak bergabung bersama mereka.


“Udah lah Di, buang jauh-jauh tu gengsi. Mending kamu ungkapin aja perasaanmu yang sebenarnya, aku yakin Andre bakal nerima.”


“Kamu gila Rin ya. Tadi nggak lihat apa dia sudah sama wanita,” tolak Dian atas saran Rina.


“Dari mana kamu tahu?” kali ini Dika ikut menyela.


“Tadi tuh Andre bilang harus buru-buru pulang soalnya pas pergi nggak izin sama maminya Hana.”


“Hana?” kaget Dika.


Rina tergelak, “ Kamu pasti mikir itu Hana mantan sekertaris di kantor kan?” tebak Rina.


“Bukan ya?” Ekspresi kaget Dika berubah seketika.


“Awalnya pas Dian cerita aku juga sempet mikir gitu, tapi setelah lihat orangnya, aku yakin kalau dia bukan Hana yang itu,” terang Rina.


“Memangnya Hana yang itu kenapa?” tanya Dian penasaran. Setahu dia, Dika bukan tipe orang yang peduli dengan hal-hal yang tak penting. Tapi melihat bagaimana pasangan suami istri ini begitu antusias hanya karena mendengar sebuah nama, ia yakin ada sesuatu dengan Hana yang dibicarakan itu.


“Hmm, boleh aku ceritain nggak?” Rina meminta pertimbangan kepada Dika sebelum menceritakannya pada Dian.


“Silahkan, toh saat Andre membongkar kebusukannya, itu dilakukan di depan media?”

__ADS_1


“Iya juga.”


“Kalian ngomongin apa sih, astaga. Berasa jadi baygon. Padahal sekarang kan sudah bukan jamannya pakai obat nyamuk bakar.”


Dika dan Rina menanggapi racau Dian dengan tawa. Dian memang sama sekali tak menutupi bahwa dia patah hati. Namun yang mendengar bukannya sedih, tapi malah seperti menonton stand up komedi.


“Gini loh Di, di kantor itu beberapa waktu lalu kana da penyusup, namanya Hana. Dia bukan hanya ingin menghancurkan perusahaan, tapi juga menghancurkan aku yang saat itu belum diketahui public sebagai istri CEO. Dia dalang utama penggelapan sejumlah dana dan pembocoran data perusahaan. Dia berhasil masuk sebagai staf sekertaris tak lama setelah ia di terima di perusaan. Dia cukup cerdas, karena bisa menjadi staf Andre setahun setelah dia lulus kuliah. Tapi sayangnya ya itu, dia ternyata mata-mata Rahardja.”


“Rahardja? Aku kayak pernah dengar?” gumam Dian dengan alis saling bertautan.


“Perusahaan papanya Rio,” sambung Rina.


“Rio mantannya Rina, ingat kan?” sarkas Dika yang di susul cubitan Rina di pinggangnya.


Dika segera menahan tangan Rina sebelum wanita ini kembali melancarkan serangannya. Keduanya tertawa kecil karena tak ingin mengganggu Dian yang sedang serius berfikir.


“Oh, iya ya. Rio sekarang udah punya perusahaan sendiri ya, dan menjalin kerja sama dengan Surya juga.”


“Kok kamu tahu?” tanya Rina yang diam-diam masih berusaha mencubit perut suaminya.


“Iya. Soalnya waktu itu Andre pernah cerita.” Dian masih memakan popcornya sambil sesekali meminum soda.


“Popcornku!!” pekik Rina saat popcorn yang belum sempat ia makan berhamburan di sekitar kakinya. Beberapa orang juga tampak melihat aneh kepada Rina yang tiba-tiba berteriak kencang saat film tengah berjalan.


“Maaf, maaf…” Rina meminta maaf beberapa kali sambil menangkupkan tangannya agak tinggi.


Plak!


“Kamu sih.”


Sekali lagi Rina memukul Dika dengan bibir manyun menghiasi wajahnya. Dian geleng kepala dengan tingkah sahabatnya yang kekanakan meskipun sudah lama menjadi istri dan bukan ABG lagi.


“Astaga, jadi sejak tadi hanya aku yang bicara serius, sedangkan mereka asik bermesraan,” monolog Dian sambil memakan popcornya. Ia kembali menatap Rina dan Dika. Astaga, kapan kalian akan bersikap dewasa.


Saat ini Dika dan Rina sedang berbalas serangan. Mereka saling menggelitiki dan dan mencubit satu sama lain. Mereka sekekali tertawa kecil seakan tengah menyembunyikan kelakuannya ini agar tak ada orang yang melihatnya. Film bukan menjadi tujuan mereka kemari, tapi menjadikan bioskop sebagai setting tempat mereka


bermesraan yang sebenarnya terjadi.


“Sungguh malang nian nasib hamba Ya Tuhan. Saat cinta hamba pergi, sahabat hamba malah pamer kemesraan seperti ini,” kembali Dian bermonolog dan pasangan suami istri di sampingnya benar-benar mengacuhkannya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2