
^^^Maaf ya kemaren nggak up. ^^^
^^^Insyaallah hari ini double up. ^^^
...*HAPPY READING* ...
"Sayang, lagi ngapain? Sibuk amat kayaknya..." Ririn menghampiri putrinya yang nampak sibuk berkutat dengan laptop di kamarnya.
"Ini Ma, lagi nyari info kampus yang ada jurusan desain perhiasan."
Ririn duduk di samping putrinya.
"Itu jurusan apa sih? Kok Mama baru denger."
Rina yang semula tengkurep sekarang bangkit untuk duduk.
"Ya kalau fashion designer kan yang di desain baju, kalau jewelry designer ya perhiasan Ma. Rina boleh nggak ambil jurusan itu?"
"Kayaknya kamu belum pernah bahas ini deh sebelumnya. Sejak kapan kamu tertarik sama bidang ini?"
"Semalem Dika ngajakin ke tempat temen mama Santi yang seorang desainer perhiasan. Dan di sana Rina sempat di kasih lihat mulai proses desain awal sampai jadi dalam bentuk perhiasan."
"Rina ngerasa bahwa selain fashion, wanita nggak bisa lepas dari perhiasan, selain itu menjadi seorang jewelry designer kerjanya nggak melulu di kantor. Kita bisa kerja dimana saja, jadi Rina masih bisa berkarya meskipun tugas utamanya adalah menjadi istri Dika nantinya. "
"Nak, kamu mikirnya sudah sejauh itu ya..."
Ririn mendadak dirundung pilu saat seakan diingatkan jika tak lama lagi putri semata wayangnya akan menjadi istri orang.
"Kayak yang papa bilang menjadi pantas untuk bersanding dengan Dika itu perlu."
Ririn menghela nafas.
"Apa ini semua permintaan Dika?"
Rina menggeleng. "Bahkan Dika belum tahu masalah ini."
"Terus kenapa kayak bingung gitu?"
"Biayanya gede Ma," kata Rina dengan memamerkan deretan gigi putihnya.
Ririn tak bisa menahan tawa mendengar kepolosan anaknya. Ia sanget bersyukur Rina tumbuh menjadi pribadi yang sederhana, meskipun ia anak tunggal dan tak pernah merasa kekurangan. Reno bisa mencukupi semua kebutuhan mereka namun memang Ririn tak pernah memanjakan Rina sejak kecil.
"Ntar ya, nunggu Papa. Kita bicarain lagi. Dan sepertinya Dika juga harus tahu masalah ini karena jika memang tak ada halangan, tahun depan kamu akan menjadi istri Dika sedangkan dalam kurun waktu itu dapat dipastikan kamu belum selesai melaksanakan study. "
__ADS_1
"Iya Ma. Makasih."
Ibu dan anak ini kemudian saling berpelukan. Ririn masih berat saat harus membahas pernikahan. Bagaimana tidak, ia hanya punya 1 anak dan kini sudah menjadi calon istri orang.
...***...
Hari berganti hari. 1,5 bulan pasca ujian telah terlewatkan. Rina sudah memantabkan hati untuk mengambil study jewelry design. Jurusan ini masih jarang di Indonesia namun beruntungnya sudah ada perguruan tinggi asing yang membuka cabanganya di dua kota besar di Indonesia.
Hal ini memudahkan Rina untuk mendapat izin dari kedua orang tua dan support penuh dari calon suaminya.
Semua persyaratan sudah dipenuhi dan pendaftaran secara online pun sudah dilakukan. Jakarta menjadi kota yang dipilih Rina ketimbang Surabaya. Serangkaian tes juga sudah ia lewati. Dan Rina sudah resmi diterima di perguruan tinggi pilihannya.
Apa Dika menjadi pacar yang stand by mengantar Rina kemana saja?
Bukan. Dika bukan pacar seperti itu, karena ia sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya hingga untuk bertemu pun susah rasanya. Namun Rina tak kecewa. Ia sudah mulai membiasakan diri berhubungan seperti ini sebelum mereka resmi menjadi suami istri.
Hari ini adalah hari yang mendebarkan untuk dirinya dan seluruh peserta ujian akhir SMA dan sederajat lainnya. Karena hari ini hasil jerih payah mereka akan ditentukan dalam bentuk lulus atau tidaknya mereka dalam menjalani serangkaian ujian.
Sebenarnya hari ini Dika tak kekantor dan hendak menemui Rina. Namun Rina melarangnya sebelum ia mendapat kepastian tentang lulus atau tidaknya dirinya.
Rina sudah stand by bersama mamanya sembari menunggu e-mail masuk terkait hasil ujiannya.
"Assalamualaikum..."
"Papa udah pulang?" tanya Ririn yang heran karena ini belum jam pulang suaminya. Ia kemudian bangkit dan mengambil alih barang-barang dari tangan Reno.
"Iya, Papa tak ingin melewatkan momen kelulusan putri kesayangan Papa."
"Makasih Pa..." Rina memeluk erat tubuh papanya.
Sementara Ririn membawa barang-barang Reno dan menyimpannya.
"Tehnya Pa..."
Ririn datang dengan membawa segelas teh hangat.
"Makasih Ma..."
Ketiga orang ini berbincang, terkait pengalaman sekolah mereka dulu dan juga tentang persiapan Rina untuk kuliah.
Dan yang ditunggu pun tiba. Sebuah notifikasi e-mail masuk. Dengan tak sabar Rina segera membukanya. Reno dan Ririn segera memeluk putrinya dengan bahagia. Rina berhasil lulus dengan nilai memuaskan.
Sebenarnya ini bukanlah hal yang mengejutkan, namun tetap ada haru saat momen ini tiba.
__ADS_1
Saat mereka tengah saling memeluk dengan bahagia, tiba-tiba terdengar deru mobil yang berhenti di depan rumah mereka.
"Assalamualaikum..."
Dan benar saja, sebuah salam terdengar tak lama kemudian.
"Waalaikum salam." Rina dan kedua orang tuanya segera menjawab salam tersebut.
Namun hanya Reno dan istrinya yang melihat kedepan, sedangkan Rina masih excited memperhatikan deretan nilainya. Ia juga nampak menghubungi para sahabatnya, menanyakan bagaimana kabar nilai mereka.
"Rin, salim dulu gih..." bisik Ririn pada putrinya.
Rina bahkan tak sadar jika mamanya sudah berdiri di sampingnya.
"Bentar Ma, kurang Dian. Rina pengen tahu kabar nilai Di...." ponsel Rina terjatuh saking kagetnya.
Ia terkejut karena di sana tak hanya ada mama dan papanya saja, tapi Dika beserta kedua orang tuanya juga .
Dia segera melompat dan melesat ke dalam kamar. Bagaimana tidak, Rina dalam keadaan kacau sekali. Mengenakan piyama kesayangannya yang kedodoran, rambut acak-acakan, bahkan ia belum mandi sejak bangun tadi.
"Monggo, duduk dulu..." sembari menunggu Rina membersihkan diri, Ririn meminta ketiga tamunya ini untuk duduk di ruang tengah. Orang-orang di rumah ini memang lebih senang mengobrol di ruang tengah ketimbang di ruang tamu bagi siapapun yang dirasa sudah akrab dengan mereka, dengan alasan suasananya lebih nyaman.
Sekitar 15 menit menghilang, Rina sudah kembali dengan tampilan yang lebih segar. Ia masih tetap mengenakan pakaian rumahan, hanya saja ini lebih sedap dipandang daripada yang tadi.
Ia segera menyalami kedua calon mertuanya namun skip Dika. Entah mengapa ia tak nyaman bersalaman dengan Dika di depan orang tuanya.
"Rina gimana nilainya?" tanya Santi.
"Alhamdulillah, lumayan Ma."
"Alhamdulillah deh. Oh iya, Dika nilainya juga tinggi loh, meskipun masih kalah dengan Dedi," tutur Santi dengan senyum lebarnya.
"Dedi jangan dibawa-bawa dong Ma. Dia mah otak komputer, matanya kayak kamera yang bisa ngerekam apa aja," protes Dika.
"Kalau Nak Dika sudah nggak diragukan lagi Mbak..." balas Ririn.
Rina tiba-tiba merasa ada sesuatu yang aneh. Sekarang yang nilainya baru keluar kan mereka yang barusan ujian, terus yang dimaksud nilai Dika sama Dedi nilai apa dong?
"Mari tehnya diminum dulu."
Baru saja Rina hendak membuka mulut terkait nilai yang dibicarakan Santi, tapi Ririn sudah lebih dulu berbicara.
TBC
__ADS_1