Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Kecelakaan


__ADS_3

Siapa yang kangen Andre sama Hana.


Ayo cung.


HAPPY READING


Rina masih ingin melanjutkan penjelajahan es krimnya. Kali ini ia tak hanya bersama Lili, namun juga Dika ikut diseretnya. Ia ingin mencicipi lebih banyak rasa es krim, untuk dapat menemukan rasa yang menurutnya paling sesuai dan dapat diterima secara luas nantinya. Mengatas namakan proyek perusahaan, Rina memuaskan hasrat dirinya untuk memakan es krim sepuasnya.


Ya Tuhan, aku butuh Andre.


Dika tak bisa menahan diri untuk lebih lama lagi tak menghubungi sekertarisnya ini. Memang libur Andre masih dua hari lagi, namun ia tak bisa menunggu selama itu untuk tak mencurahkan kepusingannya menghadapi Rina. Selama


ini Andre selalu stand by di barisan paling depan di setiap masalah Dika. Tak hanya urusan pekerjaan, terkadang urusan pribadinya pun harus Andre yang menangani. Jika tak begitu, Dika akan kesulitan untuk menyelesaikan.


Dika merogoh ponselnya dan mulai mendial nomor sekertarisnya. Sesekali ia menatap Lili di bangku depan di balik kemudi. Wanita ini nampak serupa dengan istrinya namun dengan tampilan yang lebih dewasa. Sehingga kalau boleh jujur sebenarnya Rina cukup cocok dengan tampilan ini, meskipun nampak kurang sesuai dengan kesehariannya.


“Halo Andre…” Dika tak dapat menyembunyikan kelegaannya setelah sekian hari ia sama sekali tak berhubungan dengan sekertarisnya ini.


“Halo Bos. Apa ada yang tak beres?” tanya Andre begitu menyadari ada yang berbeda dengan nada suara bosnya.


Sekali lagi Dika menghela nafas. “Gua butuh elu. Nggak bisa lusa, tapi sekarang,” ujar Dika tanpa basa-basi dengan nada tak terbantahkan.


Andre tak dapat langsung menjawab. Harinya memang hampa sekarang. Hana pergi dan ia belum tahu dimana wanitanya ini berada. Ia pun tak bisa banyak berbuat, karena sejak kepergian Hana, ia diseret sang mama untuk pulang kerumahnya. Jadi hingga saat ini ia tak bisa berhubungan dengan Hana tak hanya karena ponselnya belum bisa dihubungi, tapi juga karena ia belum bisa mencari karena mamanya mengurungnya di rumah.


“Gua free Bos. Sekarang ada di rumah Papa,” jawab Andre akhirnya.


Dika penasaran sebenarnya kenapa Andre tiba-tiba memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Ia semula mengira Andre akan menghabisakan waktunya dengan anak perempuan Rahardja. Tapi istrinya sudah berhasil membuatnya pusing, sehingga ia tak ada waktu untuk memikirkan orang lain termasuk masalah yang mungkin di hadapi sekertarisnya.


“Gua kirim alamat ya, lu cepat susul ke sana.”


Dika segera memutus panggilannya setelah Andre menyanggupi permintaannya. Ia sempat memijat pelipisnya sebelum kembali menyandarkan punggungnya.

__ADS_1


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Rina saat melihat wajah kusut suaminya.


Dika merangkul istrinya dan menyandarkan kepala Rina di bahunya. Ia mengelus rambut istrinya sebelum menyandarkan kepalanya juga di sana.


“Biasalah, sedikit lelah,” jawab Dika kemudian.


“Ya pas berarti. Kamu lelah, dan sekarang aku ajak jalan-jalan. Nanti kalau kamu udah makan es krim, aku yakin pasti lelahnya langsung ilang,” ujar Rina panjang lebar dengan antusiasnya.


Aduh sayang. Daripada aku makan es krim mendingan makan kamu. Biar sekalian aku singkiring baju kamu yang berasa jadi belek di mata, gerutu Dika dalam hati.


“As you wish…” Dika memang menggerutu dalam hati, namun kata yang dikeluarkan tetap saja manis.


Dika tersenyum dan menatap Rina yang sudah mendongak menatapnya. Layaknya magnet dengan dua kutub yang berbeda, maka Dika dan Rina merasakan ada tarikan yang membuat keduanya mendekat untuk saling melu**t.


“Astaga.” Untung Lili hanya mendesis. Jika tidak pasti suara terkejutnya akan membuat marah Tuan dan Nonanya. Untungnya lagi jalannya lurus, jadi meskipun ia mendapat serangan polusi mata yang tiba-tiba, ia tak sampai terganggu dalam berkendara.


Tuhan, kuatkan hamba. Ampuni juga karena mata polosku harus ternoda.


“Ma…”


“Kamu mau kemana?” tanya mama Andre sambil menyiram bunga.


“Si Bos baru telfon Ma, ada kerjaan dadakan dari dia.”


Heni mematikan selangnya dan menatap penampilan putranya yang terlihat santai. Ia sama sekali tak terlihat akan bekerja padahal alasannya untuk memenuhi panggilan bosnya.


“Kamu yakin?”


Andre mengeluarkan ponselnya dan mengutak-atik sebentar untuk ditunjukkan kepada sang mama. Heni menerima ponsel yang ditunjukkan putranya. Tak lama berselang, ia mengangguk dan menyerahkan kembali ponsel anaknya.


“Andre berangkat Ma…”

__ADS_1


Andre sempat mencium tangan sang mama sebelum melenggang menuju mobilnya. Andre segera menjalankan mobilnya menuju tempat yang sudah diinformasikan oleh bosnya. Namun tiba-tiba ia teringat Hana. Bagaimana nasib kekasihnya ini sekarang, apakah ia baik-baik saja atau justru sedang dalam bahaya.


“Hana, kenapa ponselnya nggak kamu aktifin. Gimana aku bisa nemuin kamu kalau caranya gini?”


Andre sempat berfikir jika Hana tertangkap oleh orang suruhan Galih, karena tak mungkin ia akan kembali ke pangkuan pria yang katanya adalah papanya itu dengan suka rela setelah tahu dalang penyerangan yang mereka alami beberapa hari yang lalu itu adalah papanya sendiri.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, tibalah Andre di tempat yang telah mereka sepakati. Setelah  mengecek ponselnya, ternyata Dika mengabarkan jika mereka merubah tujuan. Terpaksa Andre harus memutar haluan untuk dapat menemukan lokasi dimana bosnya berada. Ia tak begitu mood sebenarnya, tapi ia tak mau menolak kali ini.


Saat di lampu merah, ada sesosok yang cukup menarik perhatiannya. Seorang yang sedang mengayuh sepada dengan membawa beberapa pot berisi tanaman bunga.


“Mirip sekali dengan Hana,” gumam Andre.


Saat lampu berubah hijau, Andre segera menancap gasnya. Semula ia ingin belok ke kanan namun urung karena sosok mirip Hana itu berbelok kekiri. Tanpa membertimbangkan posisi mobil dan lampu signnya, Andre nyelonong begitu saja.


Brak!


Tanpa sengaja Andre menabrak seorang pemotor yang mengambil jalan lurus. Di sela keterkejutannya, ia masih sempat mencari posisi perempuan yang membuatnya kehilangan fokus tadi. Namun sayang, perempuan yang sebelumnya berada tak jauh dari posisinya menghilang begitu saja.


“Sial!?” Andre memukul setirnya dengan kuat sebelum keluar dengan cepat untuk melihat kondisi korbannya.


Pemotor itu sudah dibantu beberapa orang untuk berdiri. Ia dibawa kepinggir untuk menghindari kemacetal lalu lintas.


“Maaf, maaf.” Andre menyela sambil terus mengucap maaf di tengah beberapa orang yang berkerumun. Pemotor itu tak mengalami luka parah. Hanya lecet di beberapa bagian, dan motornya pun hanya beret sedikit. Secara kasat mata Andre lah yang mengalami kerusakan lebih parah di mobilnya, namun ia sadar jika kecelakaan ini terjadi karena kesalahannya. Untuk itu ia tak ingin banyak alasan dan harus mempertanggung jawabkan kesalahannya.


“Hati-hati dong Mas kalau bawa motor.”


“Iya Pak maafkan saya,” jawab Andre pada pemotor yang ia tabrak.


“Jangan nyetir kalau nggak bisa,” kesal orang lain yang ada di sana.


Andre hanya diam terus disalahkan seperti ini. Ia harus terima dan berusaha mempertanggung jawabkan kecerobohannya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2