
HAPPY READING
Hana keluar kamar mandi hanya dengan sebuah handuk yang melilit dada hingga pangkal pahanya.
*Oh f*k! kenapa kamu harus malu-malu seperti itu.
Andre tengah mati-matian untuk tak lapar dengan apa yang dilihatnya sekarang. Ia pria normal dan ia tadi nyaris lupa diri. Iya benar, tadi ia ke kamar mandi bukan semata ingin membersihkan diri, tapi juga untuk menuntaskan hajat yang tak boleh ia lakukan bersama Hana.
“Paperbag itu untuk kamu,” ujar Andre tanpa menatap Hana.
Hana berjalan ke arah meja tempat Andre meletakkan paperbag. Ia meraih paperbag itu dan diam di tempatnya.
“Kamu pakai dan temani saya pergi?”
“Pergi ke mana semalam ini?”
“Kamu hanya perlu menurut, tak perlu banyak bertanya apa lagi protes.”
Andre bangkit dan perlahan menghampiri Hana. Hana sediri masih sedikit kesal dengan Andre hingga ia tak sadar jika pria ini sedang berjalan ke arahnya kini. Andre suka melihat raut wajah Hana yang seperti ini. Ia terlihat sadis dan menggemaskan dalam waktu yang bersamaan. Ia juga cantik dan sanget seksi dengan penampilannya saat ini. Jika tak ada sedikit saja rasa takut pada dosa, mungkin Andre sudah memakan wanita di hadapannya sejak kapan hari.
Mulut Hana terbuka, matanya membulat sempurna.
“ANDDRREEEEEEEE!!!!!!” Hana memekik sambil cepat-cepat kembali meraih handuknya.
Dengan wajah tanpa dosa Andre menutup telinganya.
“Aku mau bantu, siapa tahu kamu lupa caranya pakai baju.”
Hana tak habis pikir. Kenapa Andre bisa sesantai ini setelah menarik handuknya. Yang di pikirannya cuma dua, dia benar-benar tak menarik sehingga Andre sama sekali tak tergoda padanya, atau sebenarnya Andre ini homo makanya ia biasa saja saat melihat wanita yang bahkan sudah polos di hadapannya.
__ADS_1
Hana masih sibuk dengan pikirannya sementara Andre kini memungut dress yang tadi ia beli untuk Hana.
“Cepat pakai, atau mau aku yang pakaikan?”
“Bi, biar saya saja.”
Hana merebut pakaian di tangan Andre dan ia segera berlari ke kamar mandi.
***
Saat ini Dika dan Rina sedang makan malam romantis di resto tengah kota. Tak ada pengunjung lain selain mereka karena Dika sudah membookingnya untuk malam ini.
Dulu Rina sering protes karena merasa tindakan suaminya ini berlebihan, tapi semakin ke sini, ia jadi paham apa yang melatar belakangi sikap suaminya. Dika hanya ingin merasa aman terlebih ini menyangkut Rina. Rina sering memaksa untuk tak seperti ini, dan pernah Dika kabulkan. Ternyata benar, ada tindakan tak menyenangkan yang harus dialami Rina. Dika marah besar dan menganggap Rina tak tahu sulitnya berada di posisi dia. Dia harus menggunakan otaknya sepanjang waktu untuk bekerja karena tak hanya Rina yang menjadi tanggung jawabnya, melainkan ribuan pekerja yang menggantungkan hidupnya di perusahaan yang dipimpin Dika. Jadi terlalu melelahkan jika harus repot karena harus mikirkan kemanan Rina juga padahal Dika bisa memastikan dengan cara lain, yaitu dengan pengamanan ketat seperti ini.
Sejak saat itu Rina tak pernah membantah saat dia terus mendapat pengawalan dari jauh dan semua serba privat saat bersama Dika.
“Nanti kalau gendut gimana?”
“Tak masalah, yang penting kamu sehat dan bahagia.”
Rina masih setia menatap suaminya. Dika yang paham segera meraih tangan suaminya.
“I love you just the way you are, sayang. Kenapa kamu begitu takut kalau kamu jadi gendut tapi kamu tak pernah takut punya tubuh pendek. Rambut juga gitu, idealnya seorang wanita cantik kan punya rambut panjang atau setidaknya sebahu lah, tapi nyatanya punya kamu selalu pendek.”
“Jadi mulai body shaming nih.”
“Ya nggak body shaming sayang, aku kan cuma tanya. Coba deh sekarang kamu jawab pertanyaanku baik-baik.” Dika sudah terbiasa seperti ini. Menghadapi Rina yang moody sejak awal perkenalannya. Namun hal ini tak membuat Dika mengurangi rasa sayang untuk istrinya.
“Ya kalau masalah tinggi badan emang dikasihnya segini aku bisa apa, dan kalau ini…” Rina menyentuh rambut yang bahkan tak bisa menutup bagian depan lehernya.
__ADS_1
“Aku ngerasa paling cocok punya rambut segini. Kalau panjang aku ngerasa kepalaku besar dan aku tak percaya diri.”
Dika menjentikkan jarinya. “Nah itu. kamu jangan pilih kasih dong sama berat badan. Tinggi badan dan rambut saja kamu bisa, kenapa sama berat badan enggak? Aku nggak peduli apakah kamu gendut kurus pendek tinggi, yang penting kamu ya kamu. Menjadi terbaik versi kamu, menjadi terbaik untuk ku sesuai apa yang ada di diri kamu. Jangan terlalu baper sama tren apa lagi kata orang. Kamu sudah bersina dengan apa yang kamu punya. Kenapa harus khawatir pada sisi gelap dari bayangan yang ada pada semua penghuni dunia.”
“Saaayyyaaannnnggg…” Rina benar-benar dibuat melayang. Rina bangkit dan menarik kursi untuk duduk di samping Dika. Ia kemudian bergelayut manja di sana.
“Kayaknya aku memang harus nambah deh makannya, soalnya kalau berat badanku nggak nambah, aku bisa melayang setiap kamu baperin.”
“Kok baper sih, aku kan cuma ngomong soal logika kamu yang kadang terlalu jahat sama diri sendiri itu.”
Rina mendongak dan memamerkan deretan gigi putihnya. “Terserah kamu, yang jelas aku baper sama kamu. Kamu nggak pernah kehabisan cara buat bikin aku baper, that’s why aku ngerasa beruntung banget punya suami kayak kamu.”
Dika mengusap lembut rambut pendek Rina dan mendaratkan sebuah ciuman di puncak kepala. Jika saja Dika tak membayar mahal demi ketenangan dia dan istrinya, mungkin para waiters yang stand by di sekitar mereka pasti sudah berteriak histeris melihat romantisme pasangan muda ini. Mereka juga harus berjuang keras untuk berdiri tegak meski lutut mereka lemas melihat pria sesempurna Dika memperlakukan istrinya dengan begitu baik membuat para wanita iri dan mendamba sosok pria yang seperti dia. Padahal jika dilihat dengan kasat mata Rina biasa saja. Cantik sih iya, tapi tak cukup sempurna untuk seorang Restu Andika.
Namun itu adalah menurut orang, yang jelas tidak demikian bagi Dika.
“Jadi mau nambah lagi?”
Rina mengangguk antusias. Hanya dengan menggerakkan tangan, seorang pelayang datang menghampiri Dika. Rina mulai memesan menu yang diinginkan sementara Dika melanjutkan makan karena dari awal ia memang telah memesan lebih banyak dari istrinya.
“Makasih sayang…”
Dika tersenyum dan menyuapkan makanan pada istrinya. “Aku cuma pesen satu, kalau lagi nggak sama aku, kamu jangan suka makan junk food lagi ya. Sesehat-sehatnya junk food itu tetep nggak sehat.”
Rina mengangguk. Ia tak ingin protes kali ini. Ia paham maksud suaminya, secara tak langsung mengingatkan dia jika ia harus semangat demi segera memberi keturunan untuk suami yang sudah begitu menyayanginya.
“I promise,” ujar Rina sebelum kembali menyandarkan kepala di lengan suaminya.
Bersambung…
__ADS_1