Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Kuasa Tuhan


__ADS_3

Halu, halu.


Berapa garis di tespek maunya?


Satu apa dua?


HAPPY READING


Mobil besar yang sering dihujat Rina ini akhirnya menunjukkan manfaatnya. Kini dua orang tak berdaya ini bisa dibawa dengan lega.


“Kalian tadi kenapa sih Rin?” tanya Andre begita Hana hilang kesadarannya.


“Hana nolongin aku yang hampir jatuh Ndre, tapi nggak sengaja malah ketimpa tubuh aku.”


“Terus kenapa bisa sampai begini?” tanya Andre lagi yang tak dapat menyembunyikan kecemasannya.


“Aku tahu kamu panic Ndre, tapi kamu nggak lihat Rina juga kesakitan…” kesal Dika karena Andre terus menekan istrinya sejak tadi.


Dari balik kemudi Lili dilanda heran. Andre benar-benar berani. Dia bisa sesantai ini mencerca nonanya.


“Hana, Hana…” Andre menepuk-nepuk pipi Hana. “Ya Tuhan, mana nggak sadar sadar lagi."


“Bisa lebih cepat nggih sih nyetirnya!” teriak Andre pada Lili.


“I, iya Tuan…”


Lili juga bingung di balik kemudinya, terlebih berkali-kali Andre


meneriakinya. Ia sebenarnya bingung kenapa terjatuh saja bisa membuat Hana seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi pada Hana?


“Ini ke Rumah Sakit mana Tuan?” tanya Lili.


“Ke Rumah Sakit terdekat,” sahut Andre.


“Ke rumah sakit ayah saja,” sela Dika.


“Kajauhan bang**t! Lu Nggak lihat Hana terus ngeluarin darah!”


“Tapi kalau fasilitasnya nggak lengkap mana bisa dapat penanganan yang baik Njing!”


“Menurut lu nggak lebih bahaya kalau nggak segera dapat pertolongan, ha?!!!”


Lili bergidik ngeri saat dua pria di belakangnya ini saling mengumpat dan meneriaki.


“Tuan, ini jadinya kemana?” tanya Lili yang bingung harus mendengarkan siapa. Tentu yang menggajinya adalah Dika tapi jika Andre marah kepalanya rasanya terancam hanya dengan ditatap tajam.


“Ke rumah sakit terdekat,” ujar Andre dengan kesalnya.


Saat Lili melirik Dika dari cermin di atas kepalanya. Dan Dika hanya menganggukkan kepala. Akhirnya Lili segera menuju rumah sakit yang terdekat dari rumahnya.

__ADS_1


Tiba di rumah sakit, dua wanita ini langsung di sambut dengan brankar. Dua pria ini di tahan di depan pintu UGD saat para wanitanya dibawa masuk untuk diperiksa.


“Sebenarnya Rina kenapa?” gumam Dika yang yang duduk sambil memegangi kepalanya. Sementara Andre sudah tak karu-karuan mondar-mandir di depan pintu UGD. Ia berdiri, duduk, berdiri, lagi, mondar-mandir, begitu terus secara


random hingga membuat siapa pun yang melihatnya dijamin pusing dan ingin meneriakinya untuk segera berhenti.


“Duduk sini lah Ndre. Pusing gua lihatnya.” Nah kan benar. Dika saja pusing melihatnya dan meminta untuk duduk juga.


Andre tak menggubris. Jika tak ingat ini rumah sakit. Ia pasti sudah mendobrak pintunya untuk bisa melihat Hana. Sementara Lili berdiri di dekat kursi yang Dika duduki. Dia


tak berani duduk, tapi mau pergi juga segan. Bagaimana pun juga yang di dalam itu adalah Nonanya.


Tiba-tiba pintu terbuka dan seorang dokter muncul dari sana. Andre lagsung mencegatnya dan Dika langsung ikut mendekat. Lili tak berani ikut, ia hanya bisa menajamkan pendengarannya.


“Bagaimana keadaan Hana?” tanya Andre dengan tak sabar.


“Istri saya gimana dokter?” tanya Dika yang juga tak khalah menghawatirkan istrinya.


“Ehm, pertama-tama saya ucapkan selamat untuk anda berdua, karena kedua Nona yang ada di dalam sedang mengandung?”


“Apa?!” Serempak Dika dan Andre.


Dika dan Andre sama kagetnya. Keduanya saling menatap dengan sama terkejutnya, dan masih dengan ekspresi yang sama kembali pay attantion pada dokter di hadapannya ini.


“Sepertinya Tuan berdua belum tahu ya?” tebak dokter ini saat melihat keterkejutan di wajah dua pria dengan setelan jas rapi ini.


“Belum Dok,” kompak Andre dan Dika dengan kepala menggeleng.


“Tapi gimana keadaan anak saya Dok, I mean yang di kandung Hana?" tanya Andre begitu ingat bagaimana kondisi Hana selama perjalanan tadi.


“Kami masih berusaha memberikan pertolongan. Sebentar lagi Dokter kandungan di rumah sakit ini akan datang untuk memberi pertanganan kepada Nona Hana.”


“Lalu istri saya gimana Dok?” tanya Dika.


“Beliau hanya butuh istirahat dan sudah diberi obat penguat kandungan.”


“Bisa dipindah ke ruang rawat saja Dok,” pinta Dika.


“Tapi beliau hanya perlu menunggu infus habis setelah itu Nona Rina bisa pulang Pak,” terang dokter.


“Saya minta tolong dipindahkan Dokter, saya akan membayar biayanya berapapun,” ujar Dika dengan nada tak terbantahkan.


Dokter ini hanya menghela nafas. “Silahkan ke bagian administrasi Pak. Anda bisa mengurus semua di sana, saya permisi.”


Hingga dokter itu pergi, Andre masih mematung di tempatnya. Dika yang semula ingin segera mengurus administrasi tak tega meninggalkan sahabatnya ini. Ia merangkul bahu Andre dan membawanya duduk di kursi panjang yang semula didudukinya.


“Ndre, are you okay?”


“I’am okay. Dan aku mau punya anak,” jawab Andre dengan tatapan kosongnya.

__ADS_1


“Kita sama Ndre. Rina juga hamil. Akhirnya Rina hamil. Alhamdulillah ya Allah.” Dika tak uasa menahan haru. Akhirnya Rina hamil, tanpa obat tanpa rekayasa dalam kondisi secara medis kesuburannya kurang.


Andre masih belum bereaksi bahkan saat Dika kembali merangkulnya. Namun rangkulan itu tiba-tiba Dika lepaskan saat ia ingat harus terlebih dahulu membayar biaya administrasi.


“Lili.”


“Ya Tuan.”


Dika akhirnya meminta Lili untuk mengurus semuanya, sementara ia menemani Andre di sini.


“Ndre, kamu bukan bangsat kan?” tanya Dika tanpa sungkan.


“Bukan. Aku juga seneng Dik, but…” Andre menghela nafas. “It’s to complicated.”


Dika menepuk pundak Andre. “Come on Man. This is your choice, jangan sampai Hana nyesel karena sudah mengandung anak kamu,” ujar Dika dengan nada jenaka. Panik bukanlah solusi saat ini, sehingga ia harus berusaha menyemangati sahabatnya ini.


Andre menghela nafas dan menegakkan tubuhnya.


“Yang bikin aku nyesek itu kenapa aku baru tahu sekarang dan dalam kondisi seperti ini. Dan sekarang dengan dia yang masih berbentuk gumpalan sudah harus berjuang sekeras ini bersama Hana.”


Andre mengusap kasar wajahnya sebelum menyandarkan punggungnya dengan keras.


“Kita berdoa saja sama Allah Ndre,” kata Dika.


“Apa aku masih pantas berdoa dan memohon?” tanya Andre ragu.


“Itu hak kita. Masalah dikabulkan atau tidak, itu kita hanya bisa


pasrah.” Dika menghela nafas. “Jika kamu merasa apa yang kamu lakukan salah, hentikan dan jangan ulangi di masa depan.”


Andre membalas tatapan tegas sahabatnya.


“Thanks Dika.”


Kedua calon papa ini saling memeluk dan menguatkan sementara para calon mama di dalam sedang sama-sama berjuang. Meski faktanya Hana harus lebih keras dalam berjuang karena kondisinya yang cukup parah, dan jika ia dan anaknya selamat pun masih banyak lagi rintangan yang menghadang dalam hubungan mereka.


Seorang dokter masuk ke ruang UGD denga tergesa. Dika dan Andre yakin dia yang akan menangani Hana. Dika hanya dapat mengusap lengan Dika untuk memberi dorongan tanpa kata.


Tak berselang lama Lili kembali.


“Apa semuanya sudah beres?” tanya Dika.


“Sudah Tuan,” jawab Lili.


“Terimakasih Lili.”


Lili hanya membalas dengan menunduk hormat. Dika urung memindahkan Rina ke ruang rawat. Biarkan Rina istirahat di dalam, toh setelah infus habis ia bisa segera keluar. Saat ini Andre lebih membutuhkannya. Meski pun Hana hamil karena kecerobohan Andre, namun Dika tak mau ikut mengambil bagian menghukum dengan membiarkannya berjuang sendiri. Biarkan Tuhan saja yang mengambil tindakan sebagai balasan atas kelakuan Andre, yang jelas ia hanya akan mendukungnya dan membawanya ke jalan yang Tuhan ridhoi.


Di dalam UGD Rina menyaksikan bagaimana Hana berjuang. Ia dan Hana sama-sama mengandung dan demi membantunya Hana sampai seperti ini. Ia sebenarnya senang, karena saat ia menyerah dalam melakukan program kehamilan, justru Allah menunjukkan kuasa dengan meniupkan nyawa di rahimnya. Namun di saat yang sama ia harus melihat sesama wanita yang harus melalui perjuagan panjang setelah ada nyawa di rahimnya.?

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2