Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Pagi


__ADS_3

HAPPY READING


Seorang asisten yang baru saja selesai mengelap jendela menghampiri satu lainnya yang juga baru selesai membersihkan tangga.


“Kok Tuan Andre belum turun ya?”


“Mungkin belum selesai siap-siap,” jawab bibi.


Dua wanita yang semula ingin bicara secara sembunyi-sembunyi ini segera menegakktu buhnya saat tiba-tiba bibi masuk dalam pembicaraannya.


“Tadi kata Bibi mereka akan segera turun?”


“Cucian belum ditangani,” ujar bibi dengan menatap tajam kedua asisten rumah tangga baru ini.


Bibi lelah meladeni Isti yang banyak sekali bertanya tertang kehidupan pribadi majikan mereka. Berbeda dengan Nurma dan Maya yang lebih diam dan focus pada pekerjaan mereka.


Setelah meminta Isti melakukan pekerjaan lain, kini bibi duduk sendiri menanti Hana dan Andre yang hampir satu jam setelah ia panggil tadi belum turun juga hingga sekarang. Ia sudah dapat menerka apa yang tuan dan nonanya lakukan, tapi sekali lagi ia tak bisa menegur secara langsung melainkan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka.


Dan setelah matahari beranjak tinggi, barulah Andre dan Hana muncul dengan rambut yang nampak belum kering sempurna dan wajah lelah yang begitu ketara. Untung lah hari ini hari Jum’at, sehingga tak terlalu banyak agenda yang dijadwalkan hari ini.


“Apa perlu saya panaskan makanannya?” tanya bibi begitu Andre dan Hana tiba di meja makan.


“Tidak usah Bi, kami sudah kesiangan…” tolak Andre.


Sementara Hana hanya diam saja sambil mengambil beberapa makanan untuk ia dan Andre sekarang. Ingin sekali Hana protes atas apa yang Andre ucapkan barusan, namun ia merasa sudah cukup mencari masalah dengan Andre hari ini. Meskipun makanan tak dipanaskan ia akan tetap kesiangan karena Andre sendiri yang menunda keberangkatan hingga satu jam lamanya.


Hana kembali mendengus saat baru saja ia makan beberapa suap, Andre sudah berdiri dan mengajaknya pergi. Akhirnya ia meminta bibi untuk mengambil kotak bekal untuk membawa beberapa makanan yang akan mereka makan di perjalanan nanti.


Setibanya mereka di kantor, Hana jadi ikut-ikutan Andre mengacuhkan setiap saan yang dialamatkan pada keduanya. Bedanya Andre mengangkat kepala dan berjalan dengan angkuhnya sedangkan Hana berjalan dengan menundukkan kepala. Untung Andre tak sedikitpun melepaskan tangannya, sehingga Hana tak khawatir menabrak meski jalan tidak terlihat.

__ADS_1


“Pagi Pak Andre, Nona Hana,” sapa trio sekertaris sambil berdiri.


“Pagi semua,” balas Hana karena Andre hanya diam saja.


“Pak Restu sudah datang?” Andre tak menghiraukan sapaan stafnya dan justru menanyakan keberadaan bosnya.


“Belum Pak,” jawab Riza sementara dua yanglainnya hanya menggelengkan kepala.


“Tuh lihat, Dika saja belum datang dan mungkin tidak akan datang,” ujar Andre pada Hana. Pasalnya selama perjalanan tadi Hana sama sekali tak berhenti mengomelinya karena ia berangkat kerja jauh terlambat dari jam kerja yang telah kantornya tetapkan. Dan keterlambatan ini pure karena ulah Andre yang megajaknya olahraga meski sebelumnya ia sudah lari satu jam lamanya.


“Tapi dia bos kamu sayang, jangan disamain lah,” lirih Hana yang masih bisa dengan jelas didengar oleh mantan rekan kerjanya.


“Udah lah, ayo masuk.”


Andre membawa Hana masuk ke dalam ruangannya begitu saja. Kali ini Hana datang dengan sedikit rapi. Meski ia tak mengenakan pakaian formal, setidaknya cukup elegan dengan make up yang menyempurnakan penampilan. Ia masih trauma kalau dianggap kurir pengantar makanan lagi kalau ada yang tiba-tiba menghampiri Andre hari ini.


“Gimana hasil kemarin?” tanya David sambil menunggu aplikasi menyelesaikan progressnya.


“Kemaren apanya?” tanya Marshal yang masih sibuk mengamati.


“Ya pertemuan elu sama Black Pearl. Dia cowok apa cewek? Dia remaja, dewasa atau malah orang yang sudah berkeluarga?” tanya David panjang sekali.


“Dia…” Marshal ragu. Perlu kah ia mengatakan pada David bahwa Black Pearl adalah wanita yang beberapa hari yang lalu tak sengaja mereka temui saat tengah mencari makan pagi hari.


“Dia siape? Jangan-jangan salah satu mantan blind date yang lu tinggal kabur,” goda David.


“Tck. Ngawur kamu. Aku baru kemarin kenal sama dia. Namanya Hana…” Marshal urung membahas pertemuan mereka. Selain itu ia yakin David juga pasti tak mengingatnya.


“Hana?” ulang David.

__ADS_1


“Iya Hana,” jawab Marshal.


“Shal, lu naksir tu orang?” tanya David penuh selidik.


“Kamu terlalu cepat menyimpulkan.”


“Eh, gua nggak mungkin salah. Banyak yang nganggep kamu homo tahu nggak karena nggak pernah peduli dengan wanita. Tapi sekarang kamu dengan entengnya membahas wanita, terus apa lagi coba.”


“Serah lah.”


“Eh mau kemana?” tanya David saat Marshal bangkit.


“Mau berak. Ikut?”


Spontan David melepaskan cekalannya. Ia ingin segera kembali pada pekerjaannya. Dan tanpa David tahu, ternyata Marshal tak ke kamar mandi. Ia justru ngeloyor ke area parkir. Dengan gerakan cepat ia mengenakan helm dan melesat bersama motor sport kesayangannya.


Hana. Aku penasaran kenapa kamu tak bersedia menunjukkan identitas. Kamu tinggal dimana sebenarnya?


Yang seharusnya Hana tanda tangani adalah kontrak untuk 1 karya yang akan akan terbit dan dipublikasi oleh perusahaan Marshal, namun karena Marshal sangat penasaran dengan Hana ia mengajukan kontrak ekslusif agar Hana menjadi penulis tetap di platformnya terlepas dari satu karya yang telah disepakati.


Marshal masih menjomblo bukan karena ia tak laku, tapi karena ia sangat pemilih untuk urusan wanita. Dia yang penggemar sastra pernah sekali ditolak karena dianggap pria lembek hanya karena hobinya. Ia dianggap lemah dan doyan membual tanpa ada perjuangan untuk membuktikan. Seperti halnya dalam membuat karya. Ia pandai menyusun kata, namun tak pernah terjadi di dunia nyata.


Bergelut di dunia literasi memang dianggap tak menjanjikan selain popularitas yang jika kita tak punya karya selanjutnya akan meredup dengan mudahnya. Untuk itu Marshal bertekat untuk mematahkan semua hujatan yang pernah dialamatkan padanya. Ia ingin sukses dengan caranya. Kini dia sudah menjadi CEO dari dua perusahaan sekaligus. Meskipun bukan termasuk perusaan besar, tapi tak jua bisa dianggap sebelah mata. Melihat dia yang memulainya dari bawah tanpa dukungan keluarga yang juga menentangnya.


Kini setelah kehidupannya sedikit cerah, mulai datang


wanita yang ingin bersamanya. Termasuk sang mama yang mendamba menantu untuk anak pertamanya. Tapi Marshal masih kaku. Ia ingin mendapatkan pendamping yang juga menyukai dunia yang sama dengan dia. Sehingga apa pun keadaan dia kedepannya, mereka akan terus saling mendukung dan menguatkan.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2