
HAPPY RADING
“Sudah sampai Hana…” ujar Andre saat melihat Hana diam saja. Bahkan kediaman Hana ini sudah lebih dari sepuluh menit lamanya sejak Andre mnghentikan mobilnya. Padahal sebelumnya Hana terus merengek meminta Andre untuk mengantarkannya pulang.
“Ndre…” bukannya segera keluar, Hana justru memanggil Andre.
“Kenapa? Kamu nggak mau balik kerja?” ujar Andre balik bertanya.
“Nggak gitu.”
“Terus kenapa, takut? Apa ada yang suka menjahatimu?” tanya Andre bertubi-tubi.
Hana menggeleng. “Jangan pernah khawatir masalah itu. Aku belum pernah ketemu ada orang yang lebih jahat dariku dalam menjahatiku.”
Andre tersenyum dan menatap Hana. “Jadi wanitaku yang tak kenal takut ini kenapa hanya diam di sini? Kalau kamu nggak nyaman kerja di sana, kita bisa cari pekerjaan lain yang lebih baik dari ini,” ujar Andre memberi solusi.
“Aku cuma nggak enak Ndre. Aku sering meninggalkan pekerjaan seenaknya sejak kamu muncul di sini,”jelas Hana tentang ketidak nyamanannya.
“Aku sudah bilang sama manager kamu, apa kamu masih belum percaya?”
“Justru karena mbak Nuke sangat baik itu, makanya aku jadi nggak enak. Ditambah kamu yang seperti ini, aku jadi makin nggak enak sama temen-temen yang lebih dulu kerja di sana. Diistimewakan itunggak nyaman Ndre.”
“Kamu memang istimewa Hana, jadi apa salahnya?” Di situasi semacam ini bisa-bisanya Andre menggombal.
“Gitu aja terus,” kesal Hana.
“Ya sudah, kalau kamu nggak mau turun, kamu ikut aku ke kantor ya, kemu temani aku menyelesaikan sisa pekerjaan,” ajak Andre.
“Nggak mau. Mau ditaruh dimana mukaku kalau ke kantor sama kamu,” tolak Hana.
“Ya ditaruh di situ aja. Emang ada gitu tempat untuk menyimpan muka.”
“Terserah Ndre…”
Entah kemana perginya Andre yang cool dan kerap memasang wajah seram itu. Ketika bersama Hana, ia menjelma jadi sosok yang bucin dan menyebalkan.
“Jadi gimana? Mau ikut aku saja?” ulang Andre karena ia terus dikejar waktu.
__ADS_1
“Aku keluar.” Seketika Hana membuka pintu yang berada di samingnya. Ia hendak keluar begitu saja meninggalkan Andre sendiri di mobilnya.
Namun sepertinya kelincahan Hana belum dapat mengalahkan kecepatan tangan Andre. Pria ini menyambar pergelangan tangan Hana tepat sebelum Hana menutup pintu mobilnya. Alhasil Hana yang semula sudaha dalam posisi berdiri langsung jatuh lagi.
“Andree… Aku mau kerja lagi…!!”
“Siapa suruh main nyelonong begitu saja…”
“Terus gimana harusnya?”
Hana menghela nafas. “Kamu lupa sesuatu,” ujarnya kemudian.
“Sesuatu apa?” tanya Hana tak paham.
Andre menunjuk ke arah bibirnya.
“Maaf. Aku tadi kan nggak sengaja…” Hana ingat bagaimana Andre harus merasakan sakit di bibirnya karena terbentur kerasnya kepalanya.
Andre menghela nafas kasar. Ia meraih tengkuk Hana dan dalam satu tarikan ia berhasil meraup bibir tipis Hana dan mel*mat singkat. Hana yang tak siap hanya mampu membulatkan mata bahkan hingga Andre melepas tautannya.
“Kamu nggak boleh lupa yang satu ini,” ujar Andre sembari mengusap sudut bibir Hana menggunakan ibu jarinya.
“Perlu aku antar?” tawar Andre setelah melihat Hana yang tak kunjung bergerak dari tempatnya.
Hana hanya mengangguk. Andre yang tak mau buang-buang waktu untuk menanyai Hana, Andre segera keluar dari mobilnya dan berlari memutar. Setelah tiba di samping Hana, Andre segera mengulurkan tangannya. Dengan tangan yang saling tertaut, keduanya berjalan ke arah toko bersama. Sontak hal ini memicu perhatian semua yang melihatnya. Seorang pria tampan keluar dari mobil mewahnya bersama seorang wanita berparas cantik di sampingnya.
Dan Hana yang digandengan berjalan menyesuaikan dengan ritme kaki Andre saat melangkah.
“Hana, ini Hana…?”
Hana baru sadar di mana ia berada setelah Risma mencegatnya di depan pintu. Ia segera melepaskan tangan Andre dan salah tingkah karena merasa tertangkap basah. Tak hanya bajunya yang berbeda dengan di awal tadi, tapi kini Hana mengenakan make up yang menyempurnakan penampilannya. Semua ia hanya perlu menutup hasil karya Andre yang nampak begitu jelas di lehernya. Namun setelah berhasil ia tutupi, ia memutuskan untuk mengaplikasikan make up di wajahnya juga agar tone di kedua area ini tak begitu berbeda.
Atasannya yang semula bermodel kemeja sekarang menggunakan model sabrina yang mengekspos pundak mulusnya, dipadu dengan rok span membuat Hana benar-benar mempesona.
“Kamu dari mana?” Tanya Risma kemudian setelah ia puas melihat penampilan Hana dari atas ke bawah..
“Aku…” Hana menghela nafas karena di kepalanya tak ada kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Risma.
__ADS_1
“Tadi ada accident di kantor dan aku minta bantuan Hana. Jadi maaf ya sudah membuat dia telat kembali,” ujar Andre kala melihat Hana kebingungan mencari alasan.
“Berarti besok malam beneran kamu yang…” Risma kesulitan melanjutkan kalimatnya. Ia hanya menatap Hana dengan sendu karena merasa akan kehilangan salah satu teman kerja yang baik karena akan di rekrut oleh perusahaan besar ini.
Hana segera menggerakkan tangannya di depan dada.
“Acara apa besok malam?” Tanya Andre pada kedua wanita ini.
“Itu, yang aku tanyakan sama kamu tadi,” ujar Hana menjelaskan.
“Oh…”
Saat Andre menarik kedua sudut di bibirnya seperti saat ini sontak membuat semua terpana. Entah mengapa di sini Andre terlihat begitu mempesona, sehingga dengan mudah ia menarik perhatian para wanita.
“Saya sudah berkali-kali mengajak Hana kembali, tapi katanya ia sudah nyaman kerja di sini…” ujar Andre sambil menatap Hana yang nampak berusaha menetralkan wajahnya. Jelas sekali apa yang baru saja ia katakan barusan tak pernah masuk dalam topik pembicaraaan keduanya. Sehingga yang baru ia ucapkan tak lebih dari karangannya semata yang merupakan hasil dari interaksi dan pengamatannya pada Hana.
“Itu benar Hana?” Tanya Haning yang muncul tiba-tiba. Sebenarnya tadi ia lah pertama menyadari kedatangan Hana, namun mengompori Risma untuk menghampiri rekan kerjanya ini sementara ia bersembunyi sembari mendengarkan apa yang akan Hana jelaskan. Ternyata setelah mendengar pembicaraan ketiganya, ia tak tahan untuk lebih lama bersembunyi.
Tak ada pilihan lain bagi Hana selain menganggukkan kepala. Ia juga tersenyum untuk melengkapi sandiwaranya.
“Ya sudah saya permisi dulu. Mohon maaf sebenar-besarnya yang telah telat mengembalikan Hana. Saya janji hal seperti ini tak akan terulang lagi,” ujar Andre dengan sedikit membungkukkan badan sebagai wujud rasa bersalah yang rasakan.
“Makasih ya…” ujar Hana melepas kepergian Andre.
“Hati-hati…” imbuh Haning dengan nada riang sambil melambaikan tangan.
Haning dan Hana sejenak saling mantap sementara Risma masih nampak bingung berdiri di tempat. Pasalnya ia harus bersikap biasa saja pada pria yang sempat ia anggap sebagai pangerannya namun kini ternyata pria itu dalam hubungan yang dekat dengan rekannya.
“Kamu tadi kemana emangnya? Dan ini kenapa bisa berubah penampilannya?” Tanya Haning yang berjalan beriringan bersama Hana.
“Andre memintaku untuk menemaninya memebereskan pekerjaan.” Aku tak bohong kan? Tadi saat bersama, Andre memang tak pernah lepas dari yang namanya pekerjaan dan aku terus menemani di sampingnya. Lanjut Hana dalam hati.
“Terus-terus…” desak Haning penasaran.
“Ya nggak ada terus Mbak,” jawab Hana yang tak ingin melanjutkan kebohongan.
“Terus penjelasan baju dan make up gimana?” tanya Haning yang nampaknya tak tahan jika harus diam dalam rasa penasaran.
__ADS_1
Hana menghela nafas. Ia harus bisa berfikir dengan cepat jika tak mau semua orang yang bersiap mendengarkannya akan merasa curiga. “Namanya juga kerja sebagai karyawan perusahaan besar, tak mungkin kita muncul dengan penampilan seadanya,” ujar Hana menjelaskan. Ia berusaha mengatakan segala sesuatu seaman dan sehati-hati mungkin.
Bersambung…