
Jangan lupa cuap-cuap di kolom komen ya.
Terimaksih.
HAPPY READING
“Andre astaga…”
“Mik. Sorry aku datang dalam kondisi seperti ini,” ujar Andre yang muncul bersama Hana disampingnya dengan kondisi yag tak karuan.
Miko membuka pintu dengan lebar untuk mempersilahkan Andre masuk bersama Hana.
“Ayo Hana, kita harus obati luka kamu,” ajak Andre pada Hana yang enggan ikut masuk bersamanya.
“Ndre aku nggak terluka…”
Mendengar ucapan Hana, Miko yang sudah berjalan terlebih dahulu juga ikut menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan menatap wanita yang datang bersama sepupunya.
Jelas-jelas tubuhnya berlumuran darah. Bagaimana bisa ia menyebut dirinya tak terluka? Batin Miko.
“Oke, kita masuk aja dulu," ajak Andre pada Hana. "Mik, apa aku bisa pinjam baju kamu?” tanya Andre pada sepupunya kemudian.
“Kebetulan Nita punya baju di sini, mungkin muat buat…” Miko sengaja menggantung ucapannya karena ia belum tahu siapa wanita yang datang bersama sepupunya ini.
“Dia pacarku, namanya Hana.”
Miko mengangguk paham. “Ayo…”
Miko mengajak Andre dan Hana kesebuah ruaangan di rumahnya. Berbeda dengan anak muda pada umumnya yang lebih senang tinggal di apartemen, Miko ini lebih senang tinggal di rumah kecil dengan pekarangan luas meskipun ia hanya tinggal sendiri.
“Silahkan Hana.” Ujar Andre setelah mengeluarkan baju Nita dari dalam lemarinya.
“Eh, lu mau kemana?”
Miko menahan bahu Andre saat sepupunya ini mau masuk bersama wanita yang jelas-jelas bukan muhrimnya.
“Maaf Mik, aku harus masuk,” ujar Andre dengan wajah serius.
Melihat seramnya wajah Andre, Miko segera mengangkat tangannya dari bahu pria ini. Ia mundur beberapa langkah membiarkan Andre masuk ke dalam kamar yang sama dengan kekasihnya.
Miko menatap heran tingkah sepupunya. Bukan Andre banget yang seperti ini dengan wanita. Apa kelamaan jomblo makanya begitu punya pacar langsung gercep. Eh, masa iya. Atau jangan-jangan kehidupan dia sebenarnya bebas, cuma nggak ada yang tahu saja karena ia sudah bertahun-tahun hidup sendiri.
“Lah, ngapain kamu masih di sini?” tanya Andre begitu keluar dari kamar yang semula dimasukinya bersama Hana.
Saking sibuknya melamun, Miko bahkan masih mematung di depan pintu sejak tadi. Karena Andre terlanjur melihat dirinya, ia hanya membalas dengan senyum lebarnya.
“Gimana kondisi cewek kamu?” tanya Miko mengalihkan pembicaraan.
Andre menghela nafas. “Ia bener-bener nggak terluka. Aku juga nggak tahu apa yang terjadi sama dia sampai badannya berlumuran darah seperti tadi.”
Miko mengajak Andre ke ruang tengah. Ia meninggalkan sepupunya ini untuk mengambil kotak obat yang berada tak jauh dari mereka.
“Memangnya apa sih yang terjadi sama kalian. Kenapa juga kamu sampai babak belur seperti ini?”
“Kita diserang orang nggak dikenal. Ishhh…” ujar Andre yang berujung ringisan karena Miko tiba-tiba menekan lukanya dengan sedikit kencang.
__ADS_1
"Pemegang sabuk hitam kok K o sih," cibir Miko.
"Ya meskipun pemegang sabuk hitam kan belum sampai level superman, jadi susah juga kalau harus ngelawan banyak orang yang semuanya bisa bela diri.
Saat Miko mengobati lukanya, Andre nampak sama sekali tak menunjukkan rasa sakit seperti awalnya tadi. Ia beberapa kali menoleh kebelakang ke ruangan tempat Hana berada. Miko yang cukup mengenal dengan baik Andre hanya dibuat terpana kala memperlihatkan Andre yang begitu mengkhawatirkan wanita padahal kondisinya sendiri saja separah ini.
“Kamu sudah lama sama Hana?” tanya Miko yang masih sibuk membersihkan luka yang rata di mana-mana.
“Baru bulan-bulan terakhir.”
“Tapi kayaknya udah klik banget.”
Andre tertawa kecil. “Untuk yakin sama perempuan aku nggak perlu buang-buang waktu bertahun tahun seperti kamu.”
“Ck. Aku juga udah yakin kali dari dulu.” Miko yang merasa tersindir langsung menanggapi.
“Gimana kabar Nita?” ujar Andre dengan wajah puasnya.
“Dia baik, hubungan kita juga baik,” jelas Miko.
“Kapan kalian melepaskan status pacar?” tanya Andre lagi.
“Ya entaran lah Ndre. Kita masih sama-sama magang juga, masa iya mau ngawinin anak perawan orang padahal kerjaan aja belum mapan.”
"Yakin?"
"Apanya yang yakin?" tanya Miko tak paham.
"Ya Nita masih utuh setelah sekian lama kamu pacaran sama dia," jelas Andre dengan wajah menggoda.
"Ya utuh lah, paling kuku sama rambut Nita aja yang suka di potong."
"Ndre..." Panggil Miko saat merasa keduanya punya obrolan yang belum dituntaskan.
“Lupalan. Oh iya. Kamu kan punya bisnis, bukannya itu juga cukup kalau buat hidup kalau misal kalian nikah.”
“Not as simple as that Ndre. Ya situ kalau masalah uang nggak akan ngerasa khawatir, jadi wajah kedua Surya Group sudah nggak perlu diragukan lagi pundi-pundi yang berhasil kamu hasilin. Belum lagi kamu juga cermat banget dalam berinvestasi, ya beda lah sama aku yang harus jungkir balik sendiri.”
"Ya salah sendiri kamu dulu nggak coba gabung sama aku."
"Aku pengennya jadi dokter, dan aku sudah mempersiapkan semuanya sejak lama."
"Ya sudah, berarti tak ada yang perlu dibahas tentang pilihan hidup kita," putus Andre.
Miko mengangguki ucapan sepupunya. ”Emang kamu udah ada rencana ngawinin Hana dalam waktu dekat?”
“Ehm…” Mendengar pertanyaan Miko, wajah Andre berubah seketika.
“Kenapa Ndre?” tanya Miko saat melihat raut berbeda dari wajah sepupunya.
“Dokter itu perbendaharaan katanya apa emang seburuk ini ya?” tanya Andre yang masih berusaha menetralkan wajahnya.
“Kenapa memang?"
“Ya nikah keh, jangan kawin. Pemilihan kata kamu nggak enak banget didenger telinga.”
__ADS_1
Miko menghentikan gerakan tangannya. “Ya nikah sama kawin saja aja kan, sinonim namanya kalau dalam bahasa Indonesia. Apa kamu lupa?”
Andre menggerakkan tangannya. “Ah udah lah. Aku mau lihat Hana.”
“Eh belum kelar itu lukanya.”
“Bentar doang.”
“Awas Ndre matanya. Aku nggak mau ada maksiat di rumah ku.”
Andre tak menghiraukan Miko. Ia berjalan lurus untuk menemukan dimana Hana berada.
Kreyt!!
Cklek!
“Han, kamu udah selesai?” tanya Andre begitu ia sudah berada di ruang yang sama dengan Hana.
Hana yang semula duduk di tepian ranjang segera berlari dan menghambur ke pelukan Andre. Refleks Andre membalas pelukan wanitanya. Ia mengusap lembut bagian belakang tubuh Hana. Andre mengajak Hana perlahan berjalan ke ranjang, dan kembali duduk di tepian.
“Kamu kenapa. Jangan nangis dong.”
Hana berusaha mengatur nafasnya. “Ngebunuh orang itu pasti dipenjara ya, atau malah langsung dihukum mati?” tanyanya beruntun.
Andre mengertnyit mendengar pertanyaan Hana. Ia menarik Hana dari pelukannya dan memegang erat kedua bahunya.
“Kamu ngomong apa sih…” tanya Andre dengan menatap lekat wajah Hana.
“Ndre…” air mata Hana turun tanpa isak. “Aku udah bunuh orang,” lirihnya kemudian.
Hana kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang Andre. Andre masih enggan menanyai Hana. Ia membiarkan wanita ini menumpahkan tangis di dadanya. Pikirannya berkelana ke mana-mana, mencoba menerjemahkan maksud ucapan Hana.
“Apa ini ada hubungannya dengan baju kamu yang berlumuran darah tadi?” tanya Andre begitu merasa guncangan bahu Hana sedikit berkurang.
Hana mengangguk dalam pelukannya.
“Apa kamu tidak keberatan kalau aku memintamu bercerita sekarang?” tanya Andre hati-hati.
Hana melepaskan pelukannya dari tubuh Andre. Ia mendongakkan wajahnya dan baru sadar jika wajah Andre cukup mengenaskan dengan banyak luka lebam dan
sebagian mengeluarkan darah.
“Maaf. Aku hanya memikirkan ketakutanku sendiri, padahal kamu terluka separah ini.”
“Sakit?” tanya Hana saat meraba luka Andre.
“Ya menurut kamu.”
Hana sudah tak kaget dengan gaya bicara Andre yang semacam ini. Alih-alih takut, dia justru tersenyum manis menanggapinya.
Andre memegang wajah Hana dan mengecup singkat bibirnya. “Cerita Hana. Bagikan suka dan dukamu bersamaku.”
Hana mengangguk. Andre perlahan mendekatkan lagi wajahnya.
Cklek!
__ADS_1
“Nah kan, waahhhh,” Miko segera memalingkan wajahnya.
Bersambung…