Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Kecanduan


__ADS_3

Setelah pingsan di jalan, jatuh dan pendarahan, kemudian ngidam yang menurut Andre nggak manusiawi sekarang apa lagi yang akan terjadi pada Hana?


HAPPY READING


Sudah lewat tengah malam dan Hana masih belum juga mampu memejamkan mata. Ia baru tahu alasan kenapa saat di rumah Lili ia sulit sekali ingin memejamkan mata. Bukan masalah rumahnya, bukan masalah hawanya, bukan masalah kasurnya, ternyata masalahnya adalah ketiadaan orang yang sebulan terkahir selalu di ranjang yang sama dengannya. Ternyata Andre yang sebelumnya ia anggap sebagai gangguan nyatanya keberadaannya membuat ia kencanduan. Hingga memejamkan mata saja terasa sulit baginya.


Semalam dalam keadaan perut sakit dan badan lemah Hana masih bisa tidur nyenyak saat Andre memeluknya. Meskipun mereka hanya tidur di atas ranjang rumah sakit yang sempit, namun itu sama sekali tak mengurangi kenyamanan Hana. Berbeda dengan sekarang. Meskipun kasur, bantal, guling, selimut, pengatur suhu ruangan, dan semuanya merupakan kualitas baik namun tetap saja Hana merasa tak nyaman karena ketiadaan Andre. Terlebih kini ia merasa perutnya keram lagi karena sejak tadi ia terus bergerak untuk mendapatkan posisi yang nyaman. Bahkan posisi yang diklaim terbaik untuk ibu hamil yang sekarang ia lakukan juga tetap tak mendatangkan rasa nyaman.


“Sayang…” Hana mengusap perutnya dan mencoba berbicara dengan janin yang masih menjadi satu dengan tubuhnya ini.


“Kita istirahat ya, Daddy masih belum pulang kerja soalnya…” ujar Hana lagi.


“Sebenarnya bukan cuma kamu yang kangen Daddy tapi Mommy juga…” lanjut Hana kemudian.


Hana sangat fasih menggunakan panggilan mommy daddy untuk ia dan Andre. Entah mengapa ia sangat senang ketika membayangkan anak yang dikandungnya kelak akan memanggilnya dengan sebutan ini.


Hana terus berbicara sambil mengusap perutnya hingga dikejutkan dengan munculnya tangan lain yang memegang perutnya tiba-tiba.


“Andre?” kaget Hana saat menyadari ternyata Andre tiba-tiba muncul di dekatnya. Hana yang semula miring kini menelentangkan tubuhnya.


“Maaf ya, aku baru pulang jam segini.” Ujar Andre sambil merapikan rambut Hana.


Andre merendahkan tubuhnya untuk mencium perut rata Hana sebelum kemudian merambat naik untuk mencium keningnya.


“Pekerjaanku di kantor banyak sekali karena seminggu  kemarin Dika banyak menangguhkannya,” ujar Andre yang kini memeluk Hana dari samping.


Hana memiringkan lagi tubuhnya dan kini membuatnya menghadap Andre secara langsung.


“Kamu ngapain?” heran Andre saat Hana menelusupkan wajahnya di pangkal lengan. “Aku belum mandi Hana,” lanjut Andre yang merasa tak nyaman sendiri melihat apa yang dilakukan Hana.


“Nggak apa-apa. Nggak bau juga.” Hana masih bersikukuh meski Andre sedikit mendorongnya.


“Ya mana ada. Aku seharian keringetan terus, soalnya Rina nyusulin ke kantor dan dia gelibet terus nggak mau jauh dari suaminya. Ya jadilah aku yang mengerjakan pekerjaan Dika juga.”

__ADS_1


Andre segera bangun saat Hana tiba-tiba menarik wajahnya. Ia mengusap lembut kepala Hana dan menyempatkan diri sejenak mencubit hidung mancung wanitanya. Semula ia mengira Hana sudah puas dengan apa yang ia lakukan, sebelum ia menyadari ada yang berbeda dengan wajah kekasihnya.


“Kenapa muka kamu?” tanya Andre saat Hana. Wanita ini tumben hanya pasrah saja saat Andre mengerjainya. Padahal biasanya ia akan meronta atau setidaknya menarik hidungnya karena rasa sakit akibat cubitan Andre.


Hana mendesah sebelum melepas kontaknya dengan Andre. Melihat Hana tiba-tiba merajuk, Andre mengurungkan niatnya untuk segera mandi. Ia kemudian duduk lagi di samping Hana dan meraih tangannya untuk ia genggam.


“Kamu kenapa, hmm?” meskipun lelah, Andre berusaha sabar menghadapi Hana.


Hana hanya menatap Andre sekilas sebelum kembali melempar pandangannya ke sembarang arah.


“Hana…”


Andre merendahkan tubuhnya dan memaksa Hana untuk membalas tatapannya.


Hana mendesah lagi. Susah sekali membuat pandangannya tak terkunci dengan posisi dan jarak sedekat ini. Meski begitu ia nampak terus berusaha dengan terus melempar pandangannya kesana-kemari.


“Han, aku sudah berhari-hari puasa loh, apa kamu ingin aku tak bisa menahan diri?”


Suara Andre terdengar berbeda membuat Hana menyerah dan akhirnya mau tak mau ia harus membalas tatapan Andre. Ia menggeleng cepat dengan tatapan ngeri.


“Apa? Kamu mau apa?” todong Andre karena ia merasa sudah sangat dekat dengan batas kesabarannya.


“Emmm…” Hana hanya mendesah karena tak mampu menyelesaikan ucapannya.


“Please Hana, ngomong. Ini sudah dini hari, aku butuh membersihkan diri sebelum istirahat. Nggak lupa kan kalau besok aku harus kerja lagi?”


Hana menghela nafas. Ia sadar ia tak boleh terlalu banyak mau, karena bagaimana pun juga Andre dan ia bukan pasangan sah seperti Rina dan Dika.


“Come on Hana. Jangan menyulitkanku ya. Aku akan berusaha memenuhi apa pun mau kamu. Buat kamu, buat anak kita. So please, don’t make me going crazy,” ujar Andre dengan sungguh-sungguh.


Sebelumnya ia sedikit kesal dengan Hana, namun sedikit mereda setelah berbincang dengan bibi terkait mitos-mitos kehamilan yang kini sedang Hana alami. Ditambah lagi obrolannya dengan Dika di kantor tadi, ternyata ada banyak perubahan dan ketidak nyamanan wanita saat mengalami kehamilan. Mulai dari perubahan hormon hingga perubahan bentuk badan yang pastinya akan menyebabkan ketidak nyamanan. Sehingga sebagai laki-laki para calon papa tak


boleh egois dan menimpakan semua ketidak nyamanan ini atas nama kodrat sebagai perempuan.

__ADS_1


“Andre…”


“Apa Hana…” suara Hana berhasil menyadarkan Andre dari lamunannya.


“Aku cuma ngomong ini ya, tapi aku tahu banget jawabannya nggak bisa. Tapi aku nggak apa-apa kok beneran. Intinya aku cuma mau ngasih tahu.”


“Sayang, tell me what. Jangan asal menyimpulkan, sementara kamu ngomong aja belum sama aku.”


Hana menghela nafas. Iya juga ya. Batinnya.


Hana menatap Andre dan berusaha menyingkirkan semua rasa tak enaknya. “Sebenarnya aku juga pengen ikut kemana pun kamu pergi,” ucap Hana akhirnya.


Andre nampak cukup terkejut dengan apa yang baru saja Hana tuturkan. Ia tahu Hana tak punya siapa-siapa, jadi masuk akal jika di saat ia merasa tak nyaman ingin selalu dekat dengannya. Karena kini hanya Andre yang bisa Hana andalkan, terlebih saat ada anak Andre di dalam  kandungannya.


“Tapi Ndre, aku nggak berharap banyak kamu bisa mewujudkan apa yang aku inginkan, terlebih dengan status kita yang belum menikah.” Buru-buru Hana melanjutkan ucapannya. Ia tak ingin Andre pusing karena keinginanannya.


Andre membantu Hana untuk bangun dan kemudian membawa tubuh kurus Hana ke dalam pelukannya.


“Nggak usah kamu pikirin ya, karena I know that sometimes what we want is not what we have to get. Jadi itu hanya inginku tapi jangan anggap sebagai bebanmu. Karena aku yakin akan baik-baik saja meskipun kamu tak bisa mengabulkannya,” ujar Hana sebelum menenggelamkan wajahnya.


Andre mengeratkan pelukannya pada Hana. “Maafkan aku Hana. Maafkan aku karena aku tak bisa menahan diri sehingga harus membawamu ke dalam situasi tak nyaman seperti ini.”


Hana menggeleng dan mengusap-usap punggung Andre. “It’s okay Andre. Ini sudah takdirku. Jadi tinggal aku jalani sebaik-baiknya.”


“Tapi jika aku bisa bersabar untuk terlebih dahulu menghalalkanmu dan tidak mengedepankan *****, mungkin sekarang tak bisa seperti ini.”


Hana menarik tubuhnya dari pelukan Andre. Ia merasa Andre sangat menyesalkan dengan apa yang terjadi pada mereka kali ini. Ia merasa takut jika Andre tiba-tiba berubah pikiran dan tak menginginkan anak yang ada di kandungannya lagi.


Bibir Hana bergetar saat menatap Andre yang menampakkan wajah penuh sesal.


“Andre…” Hana menggantung ucapannya karena bibirnya bergetar hebat. Ia menggigit bibirnya untuk meredakan gugup dan mengurangi getarnya.


“Apa kamu menyesal karena dia muncul terlalu cepat?”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2