Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Dasi


__ADS_3

HAPPY READING


Satu jam berkeliling membuat Andre merasa harus mengakhiri olahraga paginya. Ia segera pulang untuk menyambut kesibukan yang tengah menantinya


“Capek?” tanya Hana sambil menyodorkan handuk yang sudah ia siapkan sebelumnya.


“Itu apa?” tanya Andre yang melihat ada gelas berwarna merah di dekat Hana.


“Oh itu. Jus semangka. Mau kan?” Hana menghentikan gerakan tangannya yang mengelap keringat Andre. Ia mengambil jus yang sengaja ia siapkan sebelumnya.


“Tumben nggak wortel,” kata Andre sambil menerima jus yang Hana berikan.


Hana kembali membantu Andre mengelap keringat kala Andre sibuk menengguk jus di tangannya.


“Hari ini aku baik, lain kali wortel lagi…”


“Uhk…” Andre memelototi kekasihnya yang menahan tawa. “Kamu, uhuk, uhuk, uhuk…”


Masih sambil menahan tawa, Hana mengusap lembut punggung kekasihnya. Ia tahu Andre pasti tak terima saat ia menyinggung masalah jus wortel, karena ia tahu Andre sungguh tak suka buah yang satu ini.


“Udah, udah. Sekarang kamu mandi, aku mau bantu bibi siapin sarapan.”


Andre menahan tangan Hana saat wanita ini hendak meninggalkannya. “Kenapa kamu nggak mandi sekalian.”


“Aku udah tadi…”


“Kok aku nggak kamu tungguin,” protes Andre.


“Ya kan kamu masih jogging…”


“Aku nggak mau tahu. Sekarang kamu harus mandi lagi sama aku.”


Mulut Hana menganga karena tak habis pikir dengan keinginan kekasihnya.


“Nggak mau!” Hana menghela nafas dan mendorong Andre


ke kamarnya.


“Kerja lagi…” ujar Bibi memperingatkan ketiga asisten baru di rumah ini.


Wanita paruh baya ini bisa menebak apa yang ada di kepala ketiga rekan barunya. Tak salah memang jika mereka berfikiran tak baik tentang kedua majikannya ini. Namun yang harus mereka pegang tegus adalah mereka di sana untuk bekerja, bukan mengomentari kehidupan Andre dan Hana apa pun bentuknya selama itu tidak merugikan dan merampas hak mereka.


Andre dan Hana memang dalam fase yang salah, namun selebihnya mereka adalah orang baik yang sangat menghargai setiap orang yang ada di sekitar mereka.


“Ikut ke kantor ya…” pinta Andre saat ia baru saja keluar dari kamar mandi. Ia muncul dengan rambut basah dan titik-titik air di tubuh berototnya.


“Aku di rumah saja. Aku harus menyelesaikan setidaknya sebuah buku bulan ini…” jelas Hana sambil memegang pakaian yang akan Andre kenakan hari ini.


“Kan bisa bikinnya di kantor…” Andre masih belum menyerah untuk membujuk Hana.


“Aku takut…” Hana menggantung ucapannya.


“Aku akan hati-hati Hana,” sambung Andre saat Hana enggan meneruskan ucapannya.


“Hati-hati biar nggak ketahuan?” sarkas Hana.


Andre hanya menggerakkan alisnya dengan senyum nakal terpatri di bibir tebalnya.


Hana menghela nafas. Ia mulai lelah jika Andre keseringan mengajaknya kucing-kucingan dengan semua orang di sekitarnya.


“Jangan gini dong Ndre.” Hana merengek dan mengayun ayunkan lengan Andre. “Kalau berhenti nggak bisa, at least jangan jadi kebiasaan seolah kita nggak tahu kalau ini adalah hal yang haram…”


Andre menghela nafas dan perlahan membawa Hana ke dalam pelukannya. “Maaf ya…”


Penjelasan masuk akal Hana nampaknya bisa Andre terima.


“Aku juga maaf,” ujar Hana senada.


Bibi yang semua hendak memanggil kedua majikannya ini urung melangkah dan berhenti di ambang pintu. Ia tersenyum simpul mendengar apa yang Andre dan Hana bicarakan.


Syukurlah. Setidaknya mereka paham jika yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan.

__ADS_1


Namun seketika senyum bibi pudar saat hanya dengan satu tarikan, pasangan muda ini berpagut mesra di hadapannya.


Bibi mendengus dan bersiap meneruskan niatnya. Bibi sudah menganggap Andre layaknya putra sendiri. Sehingga meskipun ia tak berani melakukan pencegahan secara terang-terangan, ia akan terus berupaya yang terbaik untuk majikannya.


Tok tok tok!!!


Hana langsung mendorong Andre karena tak mau ketahuan kelakuannya yang seperti ini.


“Iya…” Hana bangkit dan berjalan menuju pintu.


“Sarapannya sudah siap ya?” tanya Hana pada bibi yang berdiri di ambang pintu.


“Iya Non…”


“Sebentar lagi kami akan turun. Makasih ya Bi…”


“Bibi permisi dulu…”


Setelah bibi turun, Hana kembali menghampiri Andre tanpa menutup pintu.


“Ngancingin baju aja lama bener…”


“Aku nunggu kamu yang ngancingin…”


Hana sebenarnya sudah tahu maksud Andre membiarkan kemejanya masih terbuka. Ia menggerutu hanya untuk basa basi saja, padahal ia sama sekali tak keberatan untuk melakukannya.


“Hana, kamu ikut ya…” sekali lagi Andre meminta. Dengan nada memelas dan wajah mengiba.


“Aku di rumah saja. Nggak enak kalau aku ngintilin kamu terus.”


“Dika juga hampir selalu bawa Rina.”


“Tapi mereka mereka itu suami istri sayang…”


“Makanya ayo menikah.”


Hana menghela nafas. “Udah bajunya, sekarang mana dasinya.” Hana sengaja mengalihkan pembicaraan agar Andre tak lagi membahas masalah pernikahan.


“Ya aku nggak tahu, kan tadi kamu yang siapin…” Ketus Andre karena menyadari kesengajaan Hana.


Hana bangkit karena ia lupa mengambil dasi. Ia menarik laci dan di sana terdapat cukup banyak dasi.


“Ini semua siapa yang beli?” tanya Hana saat belum memutuskan ia akan mengambil yang mana.


“Ada yang beli sendiri beberapa, ada yang hadiah juga, tapi kebanyakan dibeliin mama sama Dian,” jujur Andre menjelaskan dari mana dasi-dasinya berasal.


Mata Hana berhenti mencari. Ia mengalihkan pandangan


jajaran dasi.


Andre yang baru saja mengancingkan lengan kemejanya merasa aneh saat tak mendengar Hana bersuara atau melakukan sesuatu. Ia sadar ada yang tak beres dengan kekasihnya sehingga ia segera bangkit untuk mendekatinya.


Andre meraih pinggang Hana dan melingkarkan lengannya segera. Ia terus merapatkan tubuhnya dan menautkan lengannya di depan perut ramping Hana.


“Kamu kenapa?” tanya Andre kemudian.


Hana menghela nafas. Ia berusaha tersenyum meski Andre sekarang tak dapat melihat wajahnya. “Kamu emang lama jalan sama Dian, jadi nggak heran kalau masih ada banyak kenangan,” ujar Hana yang nampak sekali sedang berusaha tegar.


“Jangan acting ya, di sini lagi nggak ada kamera. Kamu pasti sedih saat tahu ada banyak dasi yang Dian berikan. Iya kan?” ucap Andre dengan gaya receh yang jarang sekali dikeluarkannya.


Hana ingin menyangkal mengaku namun kepalanya justru


mengangguk.


Andre tersenyum simpul. Sepertinya kondisi Hana tak bisa diajak bercanda.“Kamu mau kita singkirin ini semua?”


“E, nggak usah, sayang…” nada bicara Hana terdengar tak natural.


“Kenapa?”


“Ya segini banyak sayang kalau di buang…”

__ADS_1


Andre mengendurkan pelukannya dan memutar tubuh Hana agar menghadap ke arahnya.


“Siapa yang mau buang. Kan bisa dikasih orang.”


“Nggak usah. Repot kalau harus beli yang baru.”


“Ya nggak apa-apa. Sekalian ganti, soalnya ini kan model lama.”


Hana tampak menimbang.


Ini lah kelebihan Andre dibalik kekurangannya yang sulit dihitung kalau hanya menggunakan jari, ia yang sangat peka dan tahu dengan baik apa yang harus dilakukan saat seperti ini.


Apa Andre benar-benar ingin ganti dasi?


Tentu tidak. Ia hanya ingin membuat Hana nyaman saat bersamanya. Meskipun Hana merupakan wanita dewasa, bukan remaja yang kolokan dan kekanakan, tapi jika Andre masih dikelilingi pemberian mantan, pasti dia akan merasa tak nyaman. Sehingga Andre mencari alasan untuk perlahan menyingkirkan pemberian Dian yang entah dimana saja ia simpan.


Meski kisah cinta Andre dan Dian tak berlangsung lama, tapi mereka terikat dalam waktu yang sangat lama. Sehingga saling memberi dan mengasihi meninggalkan banyak jejak seperti ini.


“Jadi hari ini aku nggak usah pake dasi ya…” ujar Andre begitu Hana melepaskan diri darinya.


“Ya jangan dong. Kan masih ada yang dibeliin tante Heni. Ya kan?”


Alis Andre berkerut. Jujur ia lupa mana pemberian mamanya mana pemberian Dian atau yang lainnya, karena jujur ia tak begitu sempat memperhatikan masalah ini.


“Sayang…”


“Hmm…”


“Yang mana?” tanya Hana sekali lagi sambil menatap Andre.


Andre bingung harus bilang apa. “Jujur boleh nggak sih?” tanya Andre akhirnya.


“Boleh…” jawab Hana dengan kepala mengangguk perlahan.


“Aku lupa…” Andre meringis di akhir kalimatnya.


“Apanya yang lupa?” tanya Hana penasaran.


“Aku lupa mana yang dari Dian, mana yang dari mama.”


“Kok bisa?” tanya Hana tak terima.


“Ya… ya…, ya nggak penting Han, makanya aku tak terlalu memperhatikan.”


“Bohong…”


“Kok bohong sih.”


“Ya bertahun-tahun kamu sama Dian, dan bisa di katakan kalian belum lama tak benar-benar berhubungan, masa iya kamu bisa melupakan pemberian dia dengan mudahnya.”


Andre menghela nafas. Ia sudah memprediksi bahwa Hana akan bereaksi seperti ini. Andre kemudian menunduk  untukmensejajarkan wajahnya dengan Hana. Tak lupa Andre memegangi bahu kekasihnya agar Hana tak lari sebelum ia menyelesaikan ucapannya.


Andre menghela nafas. Meski ia tak pernah berusanha menyembunyikan apa pun dari Hana, tapi ia tetap harus memperjelas semuanya. “Aku pacaran sama Dian hanya beberapa bulan, itu akhir SMA sampai kuliah semester awal, selebihnya kami tak ada hubungan apa-apa.”


“Bohong…”


“Jangan nyela,” protes Andre.


“Aku itu sejak lulus SMA sudah harus kerja Hana. Dan aku  yang kala itu belum tahu apa-apa harus berjuang keras agar semua bisa berjalan dengan semestinya. Saking sibuknya, aku sampai lupa untuk cari pengganti Dian makanya dianggap gagal move on. Udah sampai sini?”


Mendengar cerita Andre Hana jadi kasihan juga. Namun ia tidak boleh membiarkan masalah dasi menguap begitu saja. “Terus hubungannya sama dasi apa?”


“Dian yang sering gonta-ganti pacar selalu datang saat patah hati. Aku yang malas untuk menjelaskan dianggap masih suka sama dia.”


“Lalu?”


“Lalu aku jatuh cinta sama kamu, baru aku merasa perlu untuk mengatakan pada Dian bahwa aku sudah tidak ada rasa. Sudah?”


“Terus?”


“Terus aku mau sarapan sekarang…”

__ADS_1


“Loh loh, Andre, Andre, Anddreeeeeee….!!!!”


Bersambung…


__ADS_2