
...*HAPPY READING* ...
Hari Senin telah tiba. Libur singkat sudah berakhir, dan kini semua sudah disibukkan dengan urusan masing-masing.
Kecuali Rista, dia harus bertahan di rumah sakit untuk menjalani serangkaian pemeriksaan terkait penyakit yang mungkin di deritanya.
"Ma, minta pulang aja ya, Rista bosen di sini..."
Rista merengek kepada Santi karena kini hanya Santi yang bisa menemaninya.
"Sayang, Mama takut kamu kenapa-kenapa kalau di rumah. Kamu sabar dulu ya. Kamu kan juga bisa ngapain aja di sini, main game nonton atau apapun."
"Yah Ma. Nggak enak..."
Rista terus merengek, namun Santi tak bisa melakukan apapun selain membujuk dan bersabar.
Sebenarnya Rista berada di kamar VVIP yang jika dilihat lebih mirip dengan hotel nmbintang 5. Namun sebagus apa pun namanya tetap rumah sakit yang bukan merupakan tempat idaman untuk di huni.
Sementara itu di sisi lain Dika harus bekerja keras di kantornya. Setumpuk berkas sudah menanti untuk dia periksa dan tanda tangani kemudian.
Sebenarnya bisa saja Dika langsung menandai tangani setiap berkas di sana, karena Edo sudah memeriksa setiap berkas sebelum maju ke meja Dika. Dia hanya akan meloloskan berkas fix yang tinggal menunggu tanda tangan saja. Namun Dika tak mau terima enaknya saja. Khawatir jika suatu ketika Edo tak lagi bersamanya, ia tak akan mampu berbuat apa yang selama ini dikerjakan oleh Edo.
Di sisi lain Dedi dengan keyakinan barunya menelisik setiap anak perusahaan Dika, menemukan sebanyak mungkin masalah dan hambatan untuk segera ditangani dan dicarikan solusi.
***
"Pulang sekolah kemana?" tanya Nita saat membereskan perlengkapan sekolahnya.
"Ke rumah sakit kayaknya."
"Siapa yang sakit?"
"Adiknya Dika."
"Yang dulu sempet bikin kamu cemburu?" tanya Nita dengan tatapan menggoda.
"Belum lupa," ketus Rina.
"Menolak lupa kayaknya."
Tanpa mereka sadari, Dian sudah menunggu mereka di luar kelas. Mereka kini memang tengah bersiap untuk pulang.
Rina dan Nita berjalan beriringan.
"Hai..."
Dian mencegat merek di depan pintu. Ada rasa kesal di hati Rina saat melihat wajah gadis yang kini entah masih bisa dianggap sahabat atau tidak.
"Hai Di, mau pulang."
Menyadari kekesalan di wajah Rina akhirnya Nita memutuskan untuk menjawab sapaan Dian.
"Pulang bareng boleh nggak, lagi nggak bawa mobil nih."
"Enggg, boleh kok."
Nita dilema, namun tak enak rasanya jika ia harus menolak permintaan Dian secara terang-terangan.
"Maaf ya, aku duluan."
Rina segera pergi meninggalkan kedua sahabatnya.
"Rin..."
"Gue duluan..."
Rina segera pergi sebelum Dian mengajaknya bicara lebih banyak.
Nita menghela nafas karena ketidak harmonisan sahabatnya.
"Rina kenapa?" tanya Dian.
__ADS_1
Nita menggidikkan bahu. "Pulang aja yuk."
Untuk sementara keduanya berjalan beriringan menuju parkiran. Hingga mobil di jalankan, keduanya masih bertahan dalam diam.
"Nit, kalian kenapa sih?"
"Kenapa emangnya?"
"Hhhh. Aku ngerasa ada yang beda, terutama sama Rina."
Nita menatap sejenak sahabatnya ini.
"Aku ada salah ya?" tanya Dian saat menyadari tatapan Nita.
"Kamu nanya?"
Dian mengangguk.
"Sama aku?"
"Iya lah Nit, sama siapa lagi orang di sini cuma ada kita berdua."
Nita menghela nafas. "Ke tempat biasa mau?"
"Boleh deh."
Nita mengubah arah menuju caffe langganan mereka. Setibanya di sana, ia segera memarkirkan mobil dan masuk ke dalam.
Setelah memesan, mereka segera mencari tempat duduk yang paling strategis menurut mereka, yaitu di pojok di dekat jendela.
"Kamu masih belum jawab pertanyaan aku loh."
"Bentar." Nita mendadak sibuk dengan ponselnya.
"Hhh, si Miko uring-uringan gara-gara gue pulang duluan," kata Nita sambil meletakkan ponselnya.
"Ck, dasar bucin."
"Biarin, biar bucin gue hubungannya jelas." Nita sengaja menjeda ucapannya. "Ketimbang elu nggak pernah punya hubungan yang jelas."
Nita menghela nafas. "Tapi kita bisa salah paham sama prinsip nggak biasa elu Di."
"Maksudnya?"
Nita tak langsung menjawab pertanyaan Dian, ia masih diam sambil menunggu pelayan menurunkan pesanan mereka.
Setelah mengucap terimakasih, pelayan itu pun pergi meninggalkan Nita dan Dian untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Maksud kamu apa sih Nit. Aku beneran nggak ngerti...."
Kesungguhan nampak jelas dari sorot mata Dian.
Nita menghela nafas. "Aku nggak tahu pastinya. Aku ngerasa nggak ada hak untuk memaksa Rina menceritakan semua. Hanya yang aku tahu kamu punya foto dia pas lagi sama Awan di ultah Nina. Dan yang aku sendiri nggak ngerti dengan maksud dan tujuan kamu, kenapa kamu ngasih lihat foto itu sama Dika."
"Awan siapa sih?" tanya Dian yang masih belum paham dengan apa yabg dibicarakan Nita.
"Oke, what do you see on Nina's birthday party?
Dian mengernyit. Sepertinya ia tengah berusaha mengingat sesuatu. "Oh, I see. Apa cowok yang lagi mesra-mesraan sama Rina?"
Nita menggerakkan jari telunjuknya.
"Betul, dan mereka nggak lagi mesra-mesraan. Awan, dia obses banget sama Rina, dan masih ngarep banget sama dia."
"Dika putus sama Rina?" terka Dian.
Nit menggeleng. "Untungnya Dika nggak segegabah Rina, yang main menyimpulkan tanpa mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya."
Dian menurut dadanya lega. "Syukurlah..."
Nita mendelik. "Syukur?"
__ADS_1
Dian mengangguk. "Aku pasti ngerasa bersalah banget kalau mereka sampai putus."
"Di..."
"Ya..."
"Kamu nggak naksir Dika kan?"
Dian langsung terbahak mendengar pertanyaan Nita.
"Gue emang pecinta cogan, tapi nggak pacar temen juga kali yang diembat."
"Alhamdulillah...."
Dian mendelik. "Lagi berdoa lu?"
"Kagak. Tapi lagi bersyukur."
"Buat?"
"Buat elu yang nggak setega itu sama temen."
"Ya enggak lah." Dian menjeda ucapannya. "Tapi nggak tahu kalau Ana," lirihnya kemudian.
"Siapa?" tanya Nita yang tak mendengar dengan jelas apa yang baru saja Dian katakan.
"Siapa sih, nggak ada kok," elak Dian.
Nita mencomot stik kentang miliknya. "Kamu kudu ngomong sama Rina, ngjelasin masalah ini. Jangan biarin terlalu terlarut dalam salah paham, sayang kan persahabatan kita kalau ancur cuma gara-gara salah paham."
Dian asik menyeruput jusnya.
"Aku sih awalnya sempet mikir kalau mereka putus, soalnya Rina malah nyolot pas aku tanyain."
"Ya kamu juga sih nanyanya ngotot. Harusnya sans aja, hargai privasi dia."
"Iya juga sih ya."
"Nah kan."
Dian mengangguk setuju.
"Tapi kamu ngerasa penasaran nggak sih sama Dika."
"Ennggg...." Nita mengadu-aduk minumannya.
"Sebenarnya sih iya, tapi nggak ada urusannya kan sama kita."
"Ya iya, tapi..."
"Udah. Mending kamu cari pacar deh, biar nggak kepo sama pacar temen. Salah-salah dikira mau ngegebet lagi."
Dian mencebikkan bibirnya.
"Aku belum siap bucin kayak kalian."
Tak lama kemudian ada sesosok pemuda berseragam SMA yang datang dan menutup mata Nita dari belakang.
"Miko, kamu nggak usah usil deh."
Akhirnya yang disebut Miko itu melepaskan tangannya dan mengecup singkat pipi Nita.
"Aku udah bilang kan, tungguin aku."
"Maaf sayang..." Nita bergelayut manja di lengan Miko.
"Nah kan, bucinnya kumat," Dian berdecih lirih.
"Aku ke toilet bentar ya." Dian bangkit begitu saja tanpa menunggu persetujuan Nita.
Degh!
__ADS_1
"KAMU...!?"
TBC