
HAPPY READING
“Nona kenapa? Sepertinya terlihat begitu gelisah…?” tanya Hana yang melihat gelagat tak biasa Rista dari pantulan kaca.
Rista berusaha menenangkan diri dan menghadap ke depan. “Jangan panggil aku Nona Kak. Panggil Rista saja. Sudah tahu namaku kan?”
Hana tersenyum kikuk. “Tapi saya sungkan…”
“Aku yang nggak nyaman kalau sudah tinggal bertiga tetap dipanggil Nona…”
“Mau mampir ke mana gitu dulu nggak?” sela Andre tiba-tiba.
“Kamu tanya sama siapa?” tanya Hana pada Andre yang tengah menyetir di sampingnya.
“Ya sama kalian lah, mau nanya sama Dedi dianya nggak ada.”
“Kenapa harus bawa-bawa orang itu,” sahut Rista cepat.
“Kok sewot sih. Aku cuma asal ngomong,” kilah Andre. Tak mungkin ia bilang kalau sebenarnya punya rencana membuat Dedi dan Rista bertemu di acara makan malam tadi, namun sayang pria tengik itu malah tidak datang. Jadi kalau ia jujur pada Rista sekarang, bisa dipastikan kalau adik bosnya ini akan menimpuknya dari belakang.
Rista hanya mendengus dan kembali melempar pandangannya ke belakang. Pasalnya tanpa sengaja ia tadi merasa melihat mobil yang cukup familiar baginya. Bukan mobil keluaran terbaru, tapi mobil yang mirip dengan mobil yang sering membawanya kemana-mana lebih dari lima tahun yang lalu.
“Apa kamu ngerasa kita sedang dibuntuti?” tanya Andre begitu sadar kelakuan tak biasa adik dari bosnya ini.
Rista segera menggeleng dan mengembalikan tatapannya ke arah depan. “Mungkin aku sedang salah lihat,” jawabnya karena ia juga kurang yakin dengan apa yang mampir di netranya.
“Memangnya kamu lihat apa?” tanya Andre yang juga turut melihat kondisi di belakang mobil mereka dari pantulan kaca.
“Nggak apa-apa Kak, mungkin aku hanya mengantuk karena hari ini terlalu banyak beraktivitas.” Rista berusaha menenangkan pikirannya karena ia tak mau Andre ikut khawatir dan mengganggunya menyetir.
“Maaf ya, aku harus menyeretmu ke acara yang aku buat,” ujar Andre kemudian.
Rista tersenyum. “ Nggak apa-apa Kak. Meski ada kejutan yang cukup memeras otak, tapi aku jadi tahu banyak hal yang bahkan sebelumnya belum pernah aku pikirkan,” jelas Rista.
“Kejutan apa?” tanya Hana ingin tahu.
“Ya yang tadi itu. Kak Andre sama sekali nggak kasih tahu kalau aku harus memilih satu diantara rekan-rekan Kak Hana, alhasil aku harus bekerja ekstra agar tak salah pilih kandidat.”
“Oh…” singkat Hana.
“Lagian kenapa sih Kak, bukan Kak Hana saja yang dipilih untuk masuk ke perusahaan?” tanya Rista pada Andre.
“Aku yakin semua akan jadi lebih mudah kalau Kak Hana yang masuk,” lanjut Rista setelah sempat menjeda ucapannya.
“Dia yang nggak mau Ris,” ujar Andre dengan pandangan lurus ke depan.
“Kenapa nggak mau Kak. Jelas sekali kalau Kak Hana punya kemampuan yang cukup mencolok dibanding yang lain walau hanya sekilas memandang. Bagaimana Kakak bersikap, juga terlihat sangat professional,” ungkap Rista mengenai penilaiannya terhadap Hana.
Hana hanya menjawabnya dengan helaan nafas kemusian menunduk untuk menatap jemari yang ia tautkan.
__ADS_1
“Pasti Kak Andre nih biang masalahnya. Iya kan Kak. Kakak jujur saja sama Rista biar nanti Rista bantu bereskan…”
“Eh gaya lu. Emang dipikir aku barang mau diberesin,” protes Andre.
“Bukannya memang kamu yang menendang aku dari perusahaan,” celetuk Hana tiba-tiba.
“Ha?!”
Ucapan dengan nada serius Hana berhasil membuat Rista membulatkan mata. “Ih, maksud Kak andre apa sih?” lanjut Rista menyalahkan Andre meski ia belum paham benar dengan situasi..
Tak hanya Rista, sebenarnya Andre cukup terkejut dengan ucapan Hana. Memang benar ia yang menendang Hana, tapi apa maksud Hana membongkarnya saat ini?
“Perlu nepi nggak nih?” tanya Andre yang juga ingin tahu maksud Hana ini.
Hana hanya menggidikkan bahu dan kembali menundukkan
kepala.
“Nepi deh Kak. Rista penasaran sama cerita Kak Hana. Nggak bisa nunda pokoknya kalau buat penjelasan semacam ini.”
Andre nampak berfikir. “Tapi mungkin lebih baik lain kali saja ya pembahasan lebih lanjutnya. Ini sudah cukup malam. Aku takut kena amuk kakak kamu kalau sampai adiknya pulang telat…”
“Tenang Kak. Rista nggak aneh-aneh juga.”
“Siapa yang tahu, kan kamu sekarang nggak lagi di kawal.”
Andre meringis dan melihat pantulan wajah Rista dari kaca. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Andre memastikan.
“Nggak apa-apa Kak. Papa hanya berusaha menjaga Rista. Asalkan mereka tak terlalu mencolok keberadaannya, Rista nggak akan merasa terganggu…” jelas Rista yang paham kemana arah pertanyaan Andre.
Mulutnya berkata tak apa-apa, tapi semua juga tahu jika ia lelah sebenarnya.
“Kamu biasa seperti ini sejak kecil?” tanya Hana tiba-tiba setelah sedikit mencerna informasi tentang kehidupan wanita cantik ini..
“Iya Kak. Malah dulu sebelum papa Hendro meninggal, penjagaannya lebih ketat. Rista juga nggak pernah boleh pergi ke tempat-tempat umum. Tapi papa Rudi beda. Rista masih bisa kemana saja, bahkan menyetir sendiri pun boleh sebenarnya. Tapi Rista tahu kalau banyak orang yang papa bayar untuk terus memantau pergerakan Rista, meski papa Rudi nggak pernah cerita masalah yang satu ini.”
“Kamu sabar…” ujar Hana bersimpati. Ternyata menjadi seorang putri melelahkan ya, batin Hana.
Rista menarik kedua sudut di bibirnya. “Rista baik-baik saja… yang bikin nggak baik itu kalau Kak Andre nggak buru-buru nepiin mobilnya, jadinya Rista nggak bisa segera dengar cerita Kak Hana.”
Andre dan Hana sempat beradu pandang sebelum keduanya serempak tertawa. Tak ingin membuat Rista penasaran, akhirnya Andre memutuskan untuk segera mencari tempat untuk menepi. Perlahan ia mengurangi laju mobilnya kala dirasa menemukan tempat yang tepat.
Brakkk!!!
“Akh!!!!”
“Astaga…!"
Refleks Andre menoleh kebelakang untuk melihat apa yang baru menabrak kendaraannya.
__ADS_1
"Sayang kamu nggak apa-apa?” panic Andre kala melihat kondisi Hana.
Hana menggeleng. “Rista…” ujar Hana, karena yang baru saja berteriak adalah Rista bukan dia. Hana mengenakan seatbelt, sehingga ia tak sampai terbentur atau kenapa-napa. Sedangkan Rista yang duduk di belakang tanpa seatbelt sehingga kepalanya harus terbentur karena mobil Andre yang tiba-tiba ditabrak dari belakang.
“Ris, Ris. Mau kemana!”
Rista tak menggubris panggilan Andre. Ia justru keluar dari mobil sambil memegangi kepalanya. Ia berhenti di samping mobil yang telah menabrak mobil Andre dan nampak mengecek di bagian kemudi.
“Buka!!!” Teriak Rista sambil memperhatikan bagian dalam.
Tok tok tok!
“Kak buka!!!” teriak Rista lagi.
Tok tok tok!!!
“Kak!!!” Rista berteriak semakin kencang. untung kondisi jalan sedang sepi, jadi kedua mobil yang berada di tengah jalan ini tak sampai mengganggu alur lalu-lintas.
Kaca mobil yang Rista ketuk perlahan turun menampakkan seseorang yang juga tengah memegangi kepalanya.
“Rista ngapain lagi itu…” gumam Andre yang masih bersama Hana di dalam mobil.
Hana sebenarnya tak apa-apa, hanya saja ia masih shock dengan kecelakaan yang baru saja mereka alami, sehingga ia masih tetap diam dan terpaku seperti ini.
“Sayang…”
Andre bingung antara harus menemani Hana atau mengecek Rista yang entah sedang apa.
“Kamu coba lihat Rista deh…” ujar Hana setelah ia mampu menguasai dirinya.
“Kamu nggak apa-apa kan?” sekali lagi Andre bertanya untuk memastikan.
Hana menggeleng. “Udah sana…” Hana mendorong Andre agar segera memeriksa Rista.
Andre segera keluar dari mobil. Dan belum juga ia tiba di dekat Rista, Andre sudah memutar badan dan kembali lagi memasuki mobilnya.
“T*i emang!” umpatnya setelah membanting pintu mobil.
“Kenapa?” tanya Hana yang tak paham dengan kelakuan Andre.
“Diundang nggak dateng. Sekarang malah muncul, pake acara nabrak lagi. Caper banget.” Andre nampak begitu kesal dengan apa yang baru ditemuinya.
“Emang ada apa sih?” Hana coba ikut melihat ke belakang. “Sepertinya yang barusan nabrak kita juga terluka…” lanjutnya saat sepintas ia melihat wajah panic Rista memegangi wajah pria jangkung yang berdiri di hadapannya..
“Nggak bakal sakit, kalau Rista sudah di sana…” ketus Andre yang nampak enggan melihat dua orang di belakangnya.
Hana yang sama sekali tak paham maksud Andre pun merasa begitu penasara. Untuk itu ia segera keluar dan melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
Bersambung…
__ADS_1