Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Siang Ini


__ADS_3

HAPPY READING


Andre membantu seorang wanita untuk berdiri. Wanita ini sebelumnya sedang berjongkok dan menutup telinga dengan kedua tangannya. Ia juga berteriak kencang meminta tolong sehingga Andre yang mendengar langsung menghampirinya.


“Kamu kenapa?” tanya Andre yang masih memegang bahu wanita ini.


Bukannya menjawab, wanita bertubuh mungil ini justru bengong sambil mendongak menatap wajah tampan Andre.


“Hey…” Andre bahkan harus mengibaskan telapak tangannya di depan wajah wanita ini karena tak ada respon sama sekali atas panggilannya.


“Ya ampun Risma, dicariin malah di sini…” seorang wanita dengan berwarna hijau seperti yang Risma kenakan datang menghampirinya.


“Dia teman kamu?” tanya Andre saat wanita ini datang menghampiri keduanya.


“Iya Pak,” jawab wanita dengan rambut sebahu ini.


“Oh. Ya sudah saya tinggal. Tadi dia teriak minta tolong, begitu saya datang malah bengong seperti ini,” jelas Andre.


“Iya Pak, terimakasih…” ujar teman Risma ini.


Andre pergi begitu saja meninggalkan kedua wanita ini setelahnya. Ia masih banyak urusan sehingga tak ada banyak waktu untuk meladeni pengiklan seperti yang barusan.


“Ya Tuhan, itu manusia kan ya. Aku pikir dia bakal ngajak kenalan loh…” racau Risma dengan pandangan masih terpaku pada Andre yang bergerak menjauh darinya.


“Tck. Kebanyakan menghayal kamu makanya kebanyakan mimpi jadi cinderela. Sekarang ayo kerja. Di dalam mbak Ning lagi kebingungan ngecek stok. Kamu kan penguasa gudang.”


Risma pasrah saja saat tubuhnya ditarik oleh Eka untuk masuk ke dalam toko.


Sementara itu Andre yang baru saja masuk mobil kembali menengok dan mendapati perempuan yang ia datangi tadi di tarik oleh perempuan yang mengaku temannya untuk masuk ke dalam toko.


“Apa yang kamu lihat Ndre?” tanya Dika yang ada di jok belakang.


“Tadi ada orang teriak minta tolong, begitu aku samperin malah bengong,” jujur Andre sebelum kembali menjalankan mobilnya.


Saat ini dua bersahabat ini sedang dalam perjalanan untuk mengecek sebuah proyek pembangunan yang tengah berjalan.


“Kita langsung ke lokasi ini?” tanya Andre memastikan.


“Iya. Apa kamu punya kepentingan yang bisa dilakukan dengan sekali jalan sekarang.


Sungguh beruntungnya Andre punya bos sebaik ini. Makanya ia begitu total mengabdikan dirinya karena belum tentu ia bisa menemukan bos sekaligus sahabat yang baik seperti Dika ini. Meskipun  kehidupan pribadinya sedang kalang kabut, tapi ia tak lantas mangkir begitu saja dari semua tanggung jawab pekerjaannya.


“Tidak…” jawab Andre kemudian.


Setelah menjawab Andre segera tancap gas dan menuju ke tempat tujuan yang telah mereka sepakati sebelumnya.


***


Tok tok tok


“Siapa?”

__ADS_1


“Aku Bayu Han. Risma tadi minta aku buat nganterin kamu makan siang…”


“Ya, tunggu sebentar…”


Hana yang semula berbaring perlahan bangkit dan berjalan ke arah pintu. Setelah pintu terbuka munculan Bayu dengan sekantong makanan di tangannya.


“Aku masuk ya…” Bayu sebenarnya sudah biasa keluar masuk kamar ini jika karena ia dan Risma cukup akbrab sebelumnya, Namun kali ini beda. Yang ada di dalam adalah Hana jadi Bayu merasa perlu meminta ijin terlebih dahulu sebelum masuk ke dalamnya.


Hana sedikit menggeser tubuhnya dari depan pintu untuk dapat memberikan akses pada Bayu untuk berjalan melewati pintu. “Silahkan…” ujar Hana kemudian.


Tanpa terlebih dahulu menutup pintu, Hana dan Bayu berjalan memasuki kamar kos Risma.


“Pintu gitu aja?” tanya Bayu yang baru sadar jika Hana masuk tanpa menutup pintu terlebih dahulu.


Hana sejenak menatap pintu sebelum kemudian beralih menatap Bayu yang baru saja berbicara padanya. “Iya. Nggak apa-apa kan? Soalnya aku nggak enak kalau pintunya di tutup sementara kita seorang laki-laki dan perempuan ada di dalam,” jelas Hana.


Bayu hanya meringis sebelum duduk dan mengeluarkan makanan yang tadi ia beli. “Kamu makan daging nggak?” tanyanya untuk mengubah topik dari pintu ke makanan.


“Makan…” jawab Hana singkat.


“Syukur deh…” kata Bayu lega.


“Ini apa isinya emang?” tanya Hana yang datang dengan membawa dua piring dan sendok untuk mereka makan.


“Aku beli gepuk,” jawab Bayu sambil tersenyum menatap Hana.


“Oh…”


“Risma tadi bilang sama aku kalau tokonya lagi rame makanya dia nggak bisa pulang sesuai janjinya sama kamu…”


Hana hanya mengangguk sambil membuka salah satu bungkusan.


Kebali Bayu menghela nafas. Ya elah, diem lagi. Padahal aku kan pengen ngobrol sebenarnya.


“Ehm, Han, boleh tanya nggak?” tanya Bayu mencoba menemukan topik baru.


Hana meletakkan kembali sendok yang baru saja ia pegang. “Tanya apa?” tanya Hana kemudian.


“Sambil makan aja nggak apa-apa kok. Aku cuma pengen ngobrol santai…” ujar Bayu sambil membuka makanannya.


“Aku nggak terbiasa makan sama ngobrol. Jadi kalau ada yang ingin kamu tanyakan mending sekarang aja, atau kalau enggak nanti setelah makan.”


Entah sudah ******* keberapa yang Bayu lakukan hari ini. Tapi pernyataan Hana kali berhasil membuatnya langsung kehilangan kata-kata dan urung mengajaknya berbicara.


“Enggak kok. Ya udah makan aja.”


Hana meraih lagi sendoknya dan memisahkan sebagian nasinya.


“Itu kenapa nasinya dipisahin?” tanya Bayu yang sepertinya lupa kalau ia baru saja berikrar dalam hati tak ingin berusaha mengajak Hana mengobrol lagi kali ini.


Hana hanya tersenyum segan dan menggeleng. “Porsinya terlalu besar…”

__ADS_1


“Oh, sini taruh di piring aku aja.” Bayu menyodorkan piringnya.


“Lah, nggak sopan dong,” tolak Hana.


“Nggak apa-apa, aku yang mau juga,” kekeh Bayu.


Sebenarnya tak hanya itu alasan Hana, tapi juga karena ia terbiasa makan karbo dalam jumlah kecil selama ini. Sehingga lambungnya tak terbiasa jika harus makan dengan komposisi seperti ini.


“Ini…”


Dengan tak enak hati akhirnya Hana memasukkan sebagian lauknya jugabersama nasi yang ia pindahkan ke piring Bayu. Selanjutnya merka berdua makan dalam diam.


“Udah taruh saja, biar aku yang nyuci,” cegah Bayu saat Hana hendak bangkit untuk mencuci piringnya. “Aku sengaja nungguin kamu ini tadi,” lanjutnya sambil mengambil peralatan bekas makan Hana.


Bayu sebenarnya sudah habis makanannya sejak tadi, namun ia diam saja di tempatnya untuk menunggu Hana selesai dan membereskannya sekalian.


“Rumah kamu mana sih Han? Apa terjadi sesuatu di rumah makanya kamu pergi seperti ini?” tanya Bayu penasaran.


Hana hanya mengulas senyum. Ia tak punya rumah, ia tak punya tempat untuk pulang jadi ia merasa bingung dengan apa yang harus ia katakan.


“Emm, kondisi kamu gimana? Luka kamu udah kering belum?” tanya Bayu saat sudah duduk lagi di dekat Hana. Ia sadar wabita cantik ini tak ingin membahas masalah pribadi dengan dirinya.


“Masih suka ngeri kalau pas di buka,” jawab Hana.


“Boleh aku lihat?”


“Emm, sepertinya kamu mengobatinya dengan sangat baik. Aku yakin beberapa hari lagi luka ini akan kering…”


Jika saja Bayu bukan laki-laki mungkin Hana tak akan segan untuk memperhatikan lukanya saat ini.


Kenapa Hana seperti tak nyaman? Apa dia tak menyukaiku? Batin Bayu.


“Bay, kamu nggak kerja?” tanya Hana setelah keduanya sempat diam selama beberapa saat lamanya.


“Aku barusan pulang. Berangkat lagi besok pagi,” jawab Bayu dengan wajah cerah karena akhirnya Hana berisiatif untuk mengajaknya bicara juga.


“Berarti masih capek dong. Maaf ya gara-gara nyariin aku makan kamu harus kehilangan waktu istirahat.”


“Nggak apa-apa kok, aku bahkan pernah tak tidur dua hari dua malam saat menjadi relawan…”


“Tapi sekarang kamu nggak sedang menjadi relawan,” potong Hana cepat.


Senyum Bayu pudar. Jika sebelumnya ia dengan semangat membara hendak menceritakan pengalamannya ketika menjadi relawan, kini ia paham jika maksud Hana bertanya tadi tak sepenuhnya ingin mengajaknya berbicara melainkan  sedang mencari cara untuk membuat Bayu meninggalkan dirinya saat itu juga.


Bayu berusaha menark kedua sudut di bibirnya lagi meskipun jelas sekali ia sebenarnya kecewa. “Iya, aku tadi rencananya juga mau tidur setelah makan siang," bohongnya. "Ya udah Hana, kamu istirahat ya, aku mau balik ke kamar dulu.”


Hana hanya membalas dengan anggukan.


“Jangan lupa kunci pintu,” ujar Bayu sebelum menghilang di balik pintu yang ia tutup dari luar.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2