
Tim Dian mana Tim Dian?
Senja percaya tidak orang jahat paripurna atau baik paripurna.
Setiap manusia pasti punya kedua sisi itu, hanya saja cara menunjukkannya yang berbeda.
HAPPY READING
“Maksud kamu apa sih Ndre?”
Andre menghela nafas. Ia sempat menatap Hana yang terus menolak kontak mata dengannya, sebelum akhirnya kembali manatap Dian yang berada di hadapannya.
“Aku sangat serius dengan Hana, dan denganmu aku tak bisa lebih dari teman,” ujar Andre dengan nada serius di setiap katanya.
Dian menatap nanar. Ia sulit mempercayai apa yang baru saja dia dengar.
“Dan denganmu, kita memang tak sebaiknya terlalu dekat, karena sebaik apa pun pertemanan laki-laki dan perempuan itu tetaplah akan menyakiti pasangan. Baik itu pasanganku mau pun pasanganmu nanti,” lanjut Andre masih dengan nada yang sama.
“Aku masih tak percaya kamu jadi sekolot ini. Kamu hebat sekali Hana. Kamu berhasil merubah Andre secepat ini.”
Takut-takut Hana mengangkat wajahnya, karena ia ragu kalau apa yang baru di dengarnya ini adalah tidak nyata.
“Benar, Hana memang hebat. Tanpa ia melakukan apa pun, ia sudah membuatku gila. Aku masih merasa sayang meskipun aku sedang kesal dengannya,” lanjut Andre menanggapi ucapan Dian.
Dian nampak mengatur emosinya, ia menghela nafas beberapa kali, menengadah untuk memberi ruang lebih di dadanya untuk menyerap udara, sebelum kembali menatap sejoli yang telah memporak-porandakan hatinya.
“Hana, aku ingin tanya sama kamu.”
Hana yang sejak tadi diam hanya mengangguk untuk mempersilahkan Dian bertanya.
“Aku bukan orang yang percaya cinta pada pandangan pertama. Aku juga tak percaya saat ada yang bilang mencintai apa adanya. Cinta itu akan bertahta jika kita merasa tak lengkap jika sosok itu tak ada, cinta itu artinya kita yakin jika kita baru akan berjalan saat ada dia. Lalu apa yang membuat kamu yakin jika Andre memang orang yang kamu inginkan untuk kau ajak hidup bersama.”
Andre menatap resah pada Hana. Ia sendiri belum yakin apa kah ada cinta di hati Hana untuknya. Selama ini dia selalu melakukan apa maunya tanpa peduli apa yang Hana inginkan sebenarnya. Ia juga tak berencana untuk jatuh cinta pada Hana awalnya, namun takdir sepertinya lebih berkuasa akan hatinya.
“Di…” gerakan tangan Hana yang membalas gemanggaman Andre secara tiba-tiba membuat pria ini menghentikan ucapannya. Sekilas pandangannya beradu dengan Hana, sebelum sekali lagi Hana terlebih dahulu memutus kontak dengannya.
“Aku mencintai Andre karena aku merasa suka dengan apa pun yang dilakukannya. Saat dia membuatku menangis pun aku masih merasa suka. Saat mendengar kata-kata kasarnya pun aku suka, saat melihat ia kesal, marah, aku masih suka. Aku tak bisa menjelaskan lebih banyak, karena aku sendiri tak habis pikir kenapa aku bisa merasa suka.”
__ADS_1
Hana menggigit bibirnya untuk mengusir gugup yang ia rasakan saat ini. Aku tak tahu permainan apa yang akan kamu siapka setelah ini Ndre. Aku hanya ingin mengatakan secara jujur apa yang aku rasakan saat ini.
Dian menatap Hana tanpa ekspresi. Kepalanya menggeleng pelan dan tatapan terkunci pada wanita di depannya ini. “Sulit aku percaya.”
Hana menarik paksa kedua sudut di bibirnya. “Itu terserah kamu.”
“Hana. Aku dekat dengan Andre sejak kecil. Aku tahu hampir semua hal tentangnya. Aku tahu kebaikan dan keburukan dia, dan semua itu karena kami saling mengenal dalam waktu lama. Dan kamu, dengan waktu sesingkat ini, apa kah yakin tak akan terkejut jika suatu ketika menemukan keburukan Andre yang bahkan mungkin tak pernah kamu bayangkan sebelumnya?”
Andre masih mengenggam sebelah tangannya dengan begitu erat, akhirnya Hana hanya dapat mengepalkan tangan yang sebelahnya.
“Aku tak bisa memastikan apa pun yang berkaitan dengan Andre, karena bagaimana nasibku setelah ini pun aku tak tahu.” Hana menatap Andre sekilas sebelum ia kembali beradu tatap dengan Dian. Dian tertawa remeh mendengar jawaban Hana.
“Ndre, apa kamu masih mau bertahan dengan wanita yang tak sepenuhnya yakin terhadapmu ini?”
Pandangan Hana dan Andre beradu. Andre menatap resah, sedangkan Hana menatap pria di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Sudah lah Di. Aku tak pernah melarangmu dekat dengan pria mana pun, jadi sekarang ijinkan aku untuk memulai kehidupan dengan wanita selain kamu,” putus Andre.
Dian tersenyum menang. Ia merasa Hana belum mampu mengambil alih tempatnya di hati Andre sepenuhnya. Mungkin Nadre hanya ingin mencoba, seperti yang ia lakukan pada pria-pria sebelumnya.
Hana. Aku juga bingung dengan perasaanku. Bukan maksudku bimbang untuk memilihmu atau Dian, tapi bimbang bagaimana menjalani hubungan denganmu ke depan.
Andre terpaksa duduk lagi, karena ia tak mungkin meninggalkan Hana di sini saat ini.
“Dian. Aku tahu kamu menang dari segi apa pun, kamu juga lebih dari segi apa pun.”
Dian menyangga dagunya di atas meja. Ia nampak menantikan apa yang akan Hana ucapkan selanjutnya.
“Sebelum hari ini, aku tak pernah mendengar ungkapan rasa sayang dari Andre. Jadi sebenarnya aku selalu mengusir setiap ada perasaan suka, sayang, dan cinta yang datang kepadaku untuk dia.”
Hana menatap Andre yang duduk di sebelahnya. Tak hanya Dian, ternyata Andre kini juga tengah menantikan apa yang akan Hana ucapkan sebenarnya.
“Aku memang tak tahu banyak tentang Andre, tapi aku sudah pernah melihat dan merasakan bagaimana perlakuan dan sikap terburuk Andre yang mungkin, mungkin…”
Hana menjeda ucapannya. Sekali lagi ia menatap Andre yang sejak tadi tak putus menatapnya.
“Mungkin kamu membayangkan saja enggan,” lanjut Hana dengan mantab.
__ADS_1
“Jadi, melihat sisi terkelam Andre saja aku masih mau bertahan, tak akan masalah jika aku nantinya harus melihat sisi lain dari Andre yang belum pernah aku ketahui sebelumnya.”
Andre mengangkat sebelah tangannya dan membelai lembut wajah wanitanya. Ia menarik lembut wajah Hana agar berhadapan dengan dirinya.
“Hana, maafkan aku,” ucap Andre sungguh-sungguh.
Dian menyerah kalah. Wanita yang bersama mantan kekasihnya ini ternyata tak selemah yang dipikirkannya.
“Maafkan aku yang telah banyak sekali menyakitimu,” lanjut Andre masih dengan tatapan yang sama.
Prok prok prok
Belum juga Hana bereaksi, dua sejoli ini sudah kembali dikejutkan dengan apa yang Dian lakukan.
“Selamat, selamat. Mungkin aku memang harus berhenti dan meneruskan hidupku sendiri,” ujar Dian dengan wajah mengenaskan yang ia dramatisir. Sepertinya roh jahat yang sempat merasuki Dian sudah pergi melihat bagaimana ekspresinya saat ini.
Andre dan Hana memutus semua kontak. Kontak matanya, genggaman tangannya dan kini masing-masing yang telah duduk di tempatnya serempak menatap Dian.
“Oke, Hana Andre. Congrats buat kalian, long last…”
Nada bicara Dian terdengar berbeda. Terdengar menggantung dan sepertinya ia belum menyelesaikan sepenuhnya ucapannya.
Dian tersenyum. Kini senyumnya terlihat manis seperti biasanya. Dia memang ekspresif. Apa pun yang dirasakannya akan terlihat jelas dari ekspresi wajahnya.
“One more question. Tapi wajahnya jangan tegang dong. Aku nggak akan jadi nenek sihir seperti di sinetron kejar tayang kok yang akan meresahkan hubungan kalian,” ujar Dian dengan tawa konyolnya.
Senyum bahagia terbit di wajah Andre dan Hana. Keduanya saling menatap sebelum tertawa bersama.
Dian menatap Hana dengan wajahnya yang kini terlihat cerah. “Sebenarnya kamu ini siapa Han, kenapa aku tak tahu sedikitpun tentang siapa kamu?”
Hana menggigit bibirnya.
Dian ganti menatap Andre. “Bukankah untuk mendapat restuku kamu harus mengenalkan pujaan hatimu Ndre?”
Andre dan Hana saling menatap.
Bersambung…
__ADS_1