Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Rumah Kosong


__ADS_3

Hai, hai.


Jangan lupa jejak ya.


HAPPY READING


Hana berdiri menatap bangunan rumah bergaya minimalis di hadapannya. Tak banyak ornamen tak banyak detail dan nyaris tak ada tanaman hias untuk menyejukkan suasana.


“Ini rumah kamu?” tanya Hana begitu Andre turut berdiri di sampingnya.


“Ini rumah kita,” jawab Andre sambil meraih tangan Hana.


“Aku nggak ikut beli,” jawab Hana sambil menatap Andre.


“Tapi kamu yang ngisi…” Andre tak mau kalah dan kina keduanya saling menatap.


Keduanya masih bertahan beradu pandang hingga seorang perempuan dengan tergopoh-gopoh menghampiri Andre dan Hana.


“Den Andre, Nona. Sini saya bawakan…”


Andre membiarkan perempuan itu mengambil alih barang-barang Hana.


“Terimakasih…” Hana menggantung ucapannya karena jujur ia tak tahu harus memanggil apa.


“Panggil saja dia Bibi. Sebelumnya ia hanya bertugas merawat rumah ini tapi mulai sekarang ia yang akan bertanggung jawab mengurus semua keperluan kamu,” jelas Andre setelah perempuan pergi dari hadapan mereka.


“Oh…” Hana hanya beroh ria sambil menatap sekeliling rumah ini.


“Rumah ini homy sekali…” ujar Hana sambil berjalan pelan.


“Aku sendiri yang merancangnya,” sahut Andre tiba-tiba.


“Kok bisa?” kaget Hana karena tak menyangka Andre bisa mendesain rumah sebagus ini.


“Bisa lah. Aku punya teman arsitek, aku yang memberikan rancangan awalnya dan dia yang menyempurnakannya.”


“Apa sih yang kamu nggak bisa?” tanya Hana sambil menatap pria tampan yang berhasil menakhlukkan dirinya.


“Masak…”


Hana tertawa kecil mendengar jawaban Andre. Andre yang melihat senyum manis Hana segera menarik kepala wanitanya untuk dicium keningnya. “Aku sayang kamu…”


“Aku sayang dia,” balas Hana sambil menunjuk perutnya.


Andre tak lagi menanggapi. Ia lebih memilih untuk membimbing Hana berjalan menuju kursi di ruang tamunya.


“Nggak apa-apa kan sementara kamu tinggal di sini?” tanya Andre begitu keduanya duduk berdampingan.


“Ya nggak apa-apa,” jawab Hana dengan santainya. “Emm. Apa aku akan di sini sendiri?” tanya Hana lagi.


Andre diam sejenak. Ingin sekali ia terus berada di samping Hana, namun mulai besok ia harus kembali bekerja. Dan jika ia terus mengasingkan diri seperti ini, ia takut Hana akan semakin sulit untuk diterima oleh orang tuanya.

__ADS_1


“Nggak apa-apa kalau memang aku harus sendiri,” ujar Hana seakan tahu apa yang ada di pikiran kekasihnya. Andre merangkul Hana dan menarik ke dalam pelukannya. “Biar aku pikirin dulu ya gimana baiknya.”


“Kalau kamu menghilang tiba-tiba, aku takut keberadaanku makin sulit diterima.”


Andre menatap Hana seketika. “Apa kamu khawatir?”


“Ya jelas,” jawab Hana yakin. “Rasanya tertolak itu sakit, dan aku takut sekali jika sampai anakku harus merasakan pahitnya penolakan seperti yang aku alami,” lanjut Hana.


“Jangan samakan aku dengan Galih Rahardja Hana. Kita dua orang yang berbeda, dan aku belum pernah menikah sebelumnya,” bela Andre yang secara tak langsung merasa dipojokkan. Ia membuang pandangannya ke sembarang arah karena tak nyaman dengan bagaimana Hana kini menatapnya.


“Tapi papa dan mama sebenarnya saling kenal sudah lama,” ujar Hana tiba-tiba.


“Apa?”


Hana hanya menanggapi keterkejutan Andre dengan anggukan.


“Jadi yang orang ketiga itu Tante Mustika?”


Hana melepaskan  kontaknya. “I don’t know the truth, tapi yang jelas kata mama hidupnya berubah saat ia bertahan untuk papa, dan malangnya saat mama sudah benar-benar tak punya keluarga justru papa menghilang dan muncul lagi


dengan tante Mustika di sampingnya.”


Andre kembali memeluk Hana. “Apa pun itu pokoknya aku tak akan pernah membiarkan kamu dan anak kita merasakan pahit yang kamu takutkan. Tapi aku harap kamu jangan egois dengan punya pikiran untuk pergi menghadapi semuanya sendiri. Aku akan melakukan apa pun itu asalkan kita bisa bersama.”


“Ndre, jangan bicara seperti itu. Aku malah semakin takut memikirkan hari esok.”


Andre menghela nafas. “Maksudku kan ingin meyakinkan kamu bukannya bikin takut.”


“Permisi Den.” Tiba-tiba bibi datang menghampiri Hana dan Andre yang sedang mengobrol. “Kamarnya sudah selesai saya bereskan dan barang-barang Nona sudah saya rapikan,” ujar bibi begitu Andre menatapnya.


“Saya permisi ke belakang lagi Den.”


“Bibi mau masak?” tanya Hana yang sebelumnya hanya diam.


“Ia Nona. Bibi msu masak untuk makan malam. Apa Nona ingin sesuatu?” tanya bibi menawari.


Hana tak langsung menjawab. Ia justru melirik Andre seakan meminta pertimbangan.


“Kamu mau apa? Bilang saja,” ujar Andre sambil mencubit gemas hidung Hana.


Wajah Hana langsung sumringah mendengar ucapan Andre. “Apa aja?” ulangnya.


“Iya.” Jelas Andre sekali lagi.


“Bi, tolong buatkan saya tumis bunga papaya bisa, dikasih ikan asin,” pinta Hana dengan wajah mendamba.


“Ha? Nggak salah Non?” kaget bibi.


“Apanya Bi yang salah?” melihat reaksi bibi membuat Hana bingung sendiri.


Bukan hanya Bibi yang kaget, tapi Andre juga menatap Hana tak percaya. “Itu makanan apa lagi sayang?”

__ADS_1


Andre melepas rangkulannya dan menjambak rambutnya frustasi.


“Ya makanan. Aku dulu sering dimasakin mama, dan sekarang aku lagi pengen banget makan itu.”


“Itu sehat nggak sih?” tanya Andre dengan wajah babak belur.


“Ya sehat lah, kan nggak pakai bahan pengawet atau apa lah. Ikan asinnya juga ngawetinnya pakai garam,” jelas Hana.


“Ya nggak gitu, tapi nutrisinya baik nggak buat anak aku."


“Ya setahuku kayaknya nggak masalah.” Hana mulai menunduk lesu saat ia merasa keinginannya yang ini tak bisa terpenuhi seperti tumis pare tadi.


Pagi tadi anak buah Andre akhirnya ke pasar untuk membeli sayur pare. Dan dengan instruksi dari istrinya, pria yang biasanya handal berkelahi itu mendadak handal dalam mengolah pare khusus untuk calon anak Andre. Mereka memilih untuk melakukan hal tersebut dari pada esok hari mereka sudah tidak lagi bisa bekerja.


Di satu sisi bibi saat ini tengah terkejut bukan main. Ia ingin bertanya tapi mana berani. Selama ini ia sama sekali belum pernah mendengar tuannya ini menikah namun tiba-tiba membahas anak saat muncul dengan seorang wanita.


“Bi, Bibi!”


“I, ia Tuan, eh Aden.” Bibi hingga gelagapan saat Andre menanyainya dengan nada tinggi. Siapa suruh ia melamun namun siapa suruh juga Andre membuatnya terkejut sehingga pikirannya langsung ruwet seketika.


“Bibi bisa membuat yang Hana minta?” tanya Andre dengan nada kesalnya.


“Bisa Den. Tapi itu bunganya bibi nggak ada dan nggak tahu juga harus mencari dimana.”


Andre kembali menatap Hana. “Tuh bunganya nggak ada. Makan yang lain aja ya, yang lebih manusiawi kek.”


Hana menunduk lesu. “Tapi aku maunya cuma itu.”


“Ssshhh.” Bunuh ggueeee!!!! Teriak Andre dalam hati.


Andre mencengkeram rambutnya untuk menumpahkan rasa kesalnya.


“Ya sudah, kalau nggak ada Bibi masak aja seadanya,” putus Hana.


Senyum lega terbit di wajah Andre dan bibi.


“Baik, saya permisi masak dulu, Aden, Nona…” pamit bibi setelah Andre persilahkan.


Andre kemudian membawa Hana untuk beristirahat di kamar.


“Kapan kamu terakhir ke sini?” tanya Hana begitu mereka tiba di dalam kamar.


“Aku nggak pernah ke sini,” jawab Andre sambil melepas jaketnya.


“Rumah ini selalu kosong dong sebelumnya?” tanya Hana lagi.


“Iya,” jawab Andre yang kini sudah duduk di samping Hana. “Kenapa? Kamu takut?”


“Emm, ya nggak juga sih. Karena aku hidupku berurusan dengan orang dari dunia malam itu lebih menyeramkan dari hantu yang hanya berani muncul ketika malam.”


Andre kembali memeluk Hana. “Kamu sabar dulu ya. Kamu juga harus kuat.”

__ADS_1


Hana mengangguk dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Andre.


Bersambung…


__ADS_2