Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Be here


__ADS_3

Tinggalkan jejak di setiap kunjungan kalian ya.


Enjoy this part.


HAPPY READING


Semua staf menunduk saat Dika berjalan melewati mereka dengan tubuh tegap dan pandangan lurus kedepan. Jika biasanya ada Andre atau Rina yang berjalan di sampingnya, namun kini taka da. Rina sedang berkunjung ke


tampat Dian sedang kan Andre sudah pulang saat Dika belum datang.


Tiba di ruangannya, ia sudah di sambut dengan setumpuk berkas yang harus mendapatkan takennya. Saat dia


membuka berkas teratas, ia begitu terkejut karenana kertas-kertas itu masih begitu mulus. Biasanya Andre sudah memeriksa dan memberikan mark jika ada bagian yang kurang tepat, siap ditanda tangani atau pun yang harus diperbaiki.


“Andre kenapa? Apa aku terlalu banyak memberinya tanggung jawab dan pekerjaan?” gumam Dika sambil mulai serius membaca isi setiap berkas.


Setelah sebuah helaan nafas, ia meraih kacamata yang sangat jarang digunakannya. Jika biasanya ia tak merasa


butuh, namun sekarang mungkin benda kecil itu akan menjadi hal penting untuk membantunya membereskan setumpuk berkas ini.


***


Andre memasuki ke kamarnya dengan membawa sebuah nampan berisi makanan. Yang dibawa adalah makanan hangat karena keberadaan asap yang mengepul di atasnya.


Ia berjalan dengan tenang menuju ranjang king size dengan bed cover dan selimut berwarna putih milknya. Setelah meletakkan nampan di atas nakas, ia duduk di tepian ranjang dan menyibak selimut yang menjadi persembunyian gadis cantik yang ia sekap sejak malam.


“Kamu makan ya,” ujar Andre sambil membalikkan tubuh Hana yang semula memunggunginya.


Hana hanya menatap datar wajah Andre. Jika tak mengingat almarhum ibunya, mungkin ia sudah bunuh diri dengan akibat perlakuan yang diterimanya ini.


“Aku buatin makanan untuk kamu,” ujar Andre sekali lagi.


Hana memalingkan wajahnya.


“Kamu bisa sakit Han kalau tidak mau makan,” bujuk Andre.


“Bukannya kamu senang kalau aku sakit?” sarkas Hana.


“Aku nggak mau kamu sakit.”


Andre menunduk untuk mendekatkan wajahnya. “Tapi aku ingin membuat kamu menderita,” bisik Andre tepat di


telinga Hana.


“Sama saja kan?”


“Tentu tidak.”


Andre memaksan Hana untuk duduk. Ia menyandarkan tubuh lemah wanita ini di dadanya.

__ADS_1


“Sekarang kamu harus makan.”


Hana kembali berpaling saat Andre menyodorkan satu sendok sup di depan wajahnya. melihat reaksi Hana, Andre menahan kepala wanita ini dan memaksa makanan bertekstur halus dan hangat itu masuk ke dalam mulutnya. Karena Hana terus meronta, akhirnya membuat bubur itu belepotan di sekitar mulutnya.


“Aku sudah berbaik hati dan sedikitpun tidak kamu hargai.”


Andre berbicara tepat di depan wajah Hana. Wajah dingin dan tegasnya memenuhi seluruh indera pengelihatan perempuan ini.


Harusnya aku benci, kenapa aku malah berdebar seperti ini? Batin Hana.


Hana ingin meronta, tapi sayang ia tak cukup punya stok tenaga. Jantungnya nyaris melompat saat Andre tiba-tiba


kian mendekatkan wajahnya. Hembusan nafas Andre menyapu dengan lembut permukaan wajah Hana. Ia mengerjap dan pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutanya.


“Aku sangat jarang memasak, bahkan untuk diriku sendiri. Jadi aku tak terima saat kamu menolak makanan yang susah payah aku buatkan.”


Andre mendorong tubuh Hana dan memenjarakan tubuh wanita ini dengan kedua lengannya. Mata Hana membola saat merasa bibirnya dilu**t dengan rakus secara tiba-tiba. Ia hanya diam karena tak tahu apa yang harus ia  lakukan. Dadanya berdebar, ia bingung, malu, semua campur jadi satu saat mendapat perlakuan seperti ini. Ini adalah ciuman pertamanya, kenapa harus diambil dengan cara seperti ini?


Setelah merasa puas, Andre menarik wajahnya. Ia tersenyum miring saat melihat Hana yang matanya terpejam dengan pipi bersemu merah.


Perlahan Hana membuka mata saat merasa bibirnya telah bebas. Ternyata wajah Andre masih ada dalam jarak yang begitu dekat dengan wajahnya.


“Kamu sepertinya benar-benar menikmati ciuman saya? Apa sudah siap untuk permainan selanjutnya?”


Pertahanan Hana hancur seketika. Ia mulai gemetar dan ketakutan dibuatnya. Andre kian semangat mengerjai wanita di depannya. Ia menurunkan tubuhnya dan berhenti di ceruk leher gadis ini. Ia ingin menggodanya namun tak berniat untuk berbuat apa-apa.


Hana menggelincang hanya karena hembusan nafas Andre yang menyapu area lehernya. Kali ini ia mulai meronta dan ingin melarikan diri.


Hana terjatuh dari atas ranjang saat Andre terus merapatkan diri dengannya. Ia benar-benar takut jika harus


kehilangan kehormatannya sekarang. Meskipun pada faktanya ia tak pernah dihormati sejak ia dilahirkan.


“Kenapa kamu ketakutan? Bukankah ini yang kamu inginkan?”


Hana terus mundur saat merasa Andre begitu mengancamnya. Beberapa barang harus jatuh karena tak sengaja tersenggol tangannya.


“Apakah kamu tak mempelajari dengan baik cara menggoda pria?”


Dengan sisa kekuatannya, Hana masih berusaha mempertahankan kehormatannya. Ia mempercepat langkah saat melihat keberadaan pintu yang tak jauh darinya.


Cklek cklek


Tubuh Hana merosot saat ternyata Andre bahkan mengunci pintu kamarnya, padahal jelas di apartemen ini tak ada orang lain selain mereka.


“Andre, aku mohon jangan mendekat, aku mohon.”


Andre tak menghiraukan permintaan Hana. Ia terus mendekat dan mencengkeram rahang Hana dengan kuat. Tak ada suara rintihan yang Hana keluarkan. Rasa takut mengalahkan rasa sakit di area wajahnya.


“Apa yang kamu takutkan, ha?”

__ADS_1


Hana sekuat tenaga menahan air matanya. Ia tak ingin terlihat lebih mengenaskan. Ia harus menjadi wanita yang kuat seperti apa yang almarhum mamanya pesankan.


“Atau jangan-jangan kamu masih bermimpi bisa bersanding dengan pemimpin tertinggi Surya Group, iya?!”


Suara Andre meninggi. Jika tak mengingat apa yang menjadi motivasinya hingga berada di posisi sekarang ini, mungkin sudah lama Hana bunuh diri, menyusul mamanya yang dengan tega meninggalkan ia sendiri hidup di dunia yang tak pernah sekalipun berpihak padanya.


Hana hanya mampu menggeleng.


Brak!!!


Andre memukul pintu tepat di sisi tubuh Hana. Tubuh Hana menegang tanpa dapat melakukan apa-apa. Andre bangkit dan dalam sekejap sudah dalam posisi tegap.


“Aku selalu berusaha memegang teguh setiap perkataan yang aku ucapkan. I’ve told you, aku akan melindungimu,


asal kamu bersedia berada di dekatku.”


Hana menghela nafas. Ia memberanikan diri untuk menatap Andre, berusaha membalas intimidasi dan tatapan membunuh dari pria ini.


“Aku bisa melindungi diri ku sendiri, jadi kamu cukup membiarkanku pergi. Dengan begitu Pak Andre tak perlu repot karena memikirkanku yang berada di sini.”


Andre menyugar rambutnya.


Damn! Kenapa ia harus tampan di saat seperti ini. Batin Hana dengan pandangan terpaku pada objek di hadapannya.


“Kalau begitu, silahkan.”


Andre melepas membuka knci kamarnya.


“Kita lihat bagaimana kemampuanmu melindungi diri dengan penampilan seperti ini.”


“Kamu tinggal menyerahkan kembali barang-barangku, dan aku akan segera pergi.”


Andre tersenyum miring. “Aku sudah membuanganya,” ucapnya dengan santai.


Hana membelalakkan mata, Namun ia masih berusaha tenang. “Kalau begitu cukup kembalikan ponselku.”


“Aku tak sengaja membuangnya juga.”


“Kau…” Hana tak berani meneruskan ucapannya. Ia menghela nafas untuk meredam emosinya. Ia tak ingin ,engeluarkan kata-kata yang bisa membuat Andre lebih marah.


“Bagaimana? Kamu masih ingin pergi dan berjuang sendiri, atau be here, tanpa takanan untuk dapat bertahan."


“Apa maksudmu?”


Andre tak menghiraukan Hana dan berjalan dengan santai menuju tempat tidurnya. Ia menggerakkan jari meminta Hana untuk mendekat.


“Kamu makan dulu, aku ku jelaskan nanti.”


Hana nampak ragu.

__ADS_1


“Aku berusaha selalu menepati setiap ucapanku.”


Bersambung…


__ADS_2