Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Privilege


__ADS_3

HAPPY READING


Tiba di kantor, Andre langsung bergegas menuju ruangannya. Jika ia biasanya beberapa level lebih rendah dari pada Dika tingkat keangkuhannya, kali ini sepertinya prosentase keduanya sama. Ia mengacuhkan seluruh sapaan yang dialamatkan kepadanya dan hanya fokus ke jalannya saja.


“Pak Andre akhirnya masuk juga, lumayan buat cuci mata.”


“Iya, tapi kok jadi jutek gitu ya?”


“Lagi sakit gigi kali.”


“Ya mana mungkin orang sekeren Pak Andre sakit gigi. Nggak elit banget dengernya.”


“Ya sakit gigi kan nggak pandang bulu. Mau orang cakep mau canti kalau jorok ya sakit gigi aja.”


“Tapi ya jangan sakit gigi juga lah, sariawan atau apa gitu.”


Dan para wanita yang bergosip itu adalah beberapa diantara mereka yang sapaannya diacuhkan oleh Andre. Jika semula semua bertanya-tanya kenapa CEO mudanya yang tampan sangat angkuh dan acuh, akhirnya semua pahamkarena ada hati yang harus di jaga setelah Dika mengungkap status pernikahannya. Terlebih lagi ternyata istrinya adalah Rina, orang yang sering keluar masuk kantor namun sebelumnya tak menunjukkan identitasnya.


“Pagi Pak Andre…” serempak ketiga staf sekertarisnya.


Andre kembali mengacuhkan sapaan itu dan melenggang masuk ke ruangannya.


“Pak Andre kenapa?” tanya Rahma pada kedua rekannya.


Dan yang ditanya pun hanya menggidikkan bahunya sebagai jawaban atas ketidak tahuan mereka. Andre bukan tipikal orang yang ramah, tapi mengacuhkan sapaan seperti ini jelas bukan ia yang biasa.


“Pak Andre masih single kan ya?” celetuk Elis tiba-tiba.


Hal ini membuat Rahma dan Riza spontan menatap ke arahnya.


Riza menyipitkan mata. “Mikir apa kamu?” todongnya pada Elis seketika.


Elis hanya membalas pertanyaan Riza dengan tatapan tak bermakna, namun tak lama sebelum ia kembali menatap pintu ruangan Andre yang tertutup.


“Dari pada mikir macem-macem, mending kamu kerja saja yang bener. Nggak inget Hana apa? Dia yang cakepnya nggak ketulungan aja sekarang terhempas entah kemana gara-gara sok-sokan ngedeketin pak Restu,” jelas Riza mengingatkan.


Elis kembali menatap Riza, dan di sampingnya ada Rahma yang nampak menganggukkan kepala.

__ADS_1


“Ya tapi kan itu pak Restu, dimana dia CEO yang jaraknya jjaaaauuuhh dari satf sekertaris seperti kita. Dan ini pak Andre yang merupakan atasan langsung kita bertiga. Bukannya romansa antara staf dan atasan itu hal yang biasa, aw…”


Wajah Elis langsung cemberut setelah Riza menoyornya tanpa permisi.


“Jangan kebanyakan menghayal kamu. Aku kasih tahu ya, kalau menghayal itu yang kira-kira. Soalnya kalau nggak kesampaian dan jatuh..."


Pagh!


"Itu rasanya sakit,” ujar Riza sambil menepukkan kedua punggung tangannya. Keludian sekali lagi menoyor kepala Elis dengan telunjuknya.


“Aku kan nggak ngehayal Mbak. Cuma bilang kalau pun ada romansa antar atasan dan bawahan itu mungkin adanya,” bela Elis.


“Sshhhh, udah, udah, udah…”


Rahma menarik Riza kemudian Elis untuk kembali ke tempat duduknya masing-masing. Mereka harus kembali pada kenyataan bahwa pekerjaan mereka tak akan selesai jika hanya dibayangkan. Dan tak berselang lama Dika dan Rina pun datang. Untung mereka sudah berada di masing-masing meja, sehingga peluang mendapat teguran dari orang nomor satu di company mereka itu terhindarkan.


“Pagi Pak Restu, Nona Rina…” sapa ketiga staf sekertaris di kantor pusat Surya group ini.


“Pagi semua…”


Sudah bisa ditebak kan siapa yang menjawab? Dika tak akan pernah menjawab sapaan para karyawannya, jadi yang barusan menjawab tentunya bukanlah dirinya melainkan Rina.


“Nah kalau yang ini bak kulkas kan emang karena sudah ada yang wajib dihangatkan, lha pak Andre ini kenapa? Setelah ngilang hampir seminggu balik-balik ikutan jadi kulkas aja."


Rupanya Elis masih belum move on dari bahasan mereka sebelumnya. Ia masih membahas perubahan sikap Andre yang nampak berbeda dari biasanya sekali pun yang baru saja lewat adalah Dika.


“Sadar El sadar…” gumam Riza tanpa sedikitpun menatap yang diajak bicara. Matanya fokus terhadap laptop di depannya padahal mulutnya baru saja menyahut rekannya.


Perdebatan tak terjadi lagi. Kini mereka kembali pada pekerjaannya karena jika tidak segera menembalikan fokus maka pekerjaan mereka akan hilang esok hari.


Begitu tiba di ruangan suaminya, Rina langsung melenggang ke ruang istirahat yang akan ia jadikan tempat melewatkan harinya. Ruangan minimalis itu sudah di dekor ulang bersama Lili beberapa hari yang lalu. Ia masih harus bedrest, sehingga berbaring di rajang menjadi keharusan saat ini. Sayangnya ia yang selalu ingin menempel pada Dika membuatnya mengekori kemana perginya suaminya saat ini, jadi ia tak bisa istirahat di kamarnya yang mewah dan harus di tempat kecil seperti ini meskipun ia tak kalah nyaman juga. Ya ini lah privilege yang dimiliki seorang wanita ketika dirinya hamil, yang mana apa yang menjadi keinginannya selalu jadi yang


utama untuk diwujudkan dan dipenuhi.


Brrgg!!!


“Pagi semua…” Kata Lili dengan nafas terengah.

__ADS_1


Setelah menyapa ketiga orang sekertaris yang sudah sibuk dengan masing-masing pekerjaannya, Lili menegakkan tubuhnya dan berkacak pinggang untuk mengurangi pegal yang ia rasa di sana.


“Bawa apa kamu Li?” tanya Riza yang paling pertama sadar jika Lili membawa begitu banyak barang yang ia jatuhkan dengan mengenaskan.


“Ampun deh, capek gua.”


Bukannya menjawab Lili justru mengeluhkan apa yang ia rasakan. Ketiga wanita yang sibuk dengan data ini sejenak menyingkirkan pekerjaannya. Mereka menatap Lili yang harus bermandikan keringat sepagi ini.


“Habis marathon kamu?” tanya Rahma yang sudah berdiri sejak Lili menjatuhkan banyak bawannya di hadapan mereka.


“Ada yang punya air nggak. Aku nggak kuat jalan lagi buat ngambil air,” ujar Lili sambil mengusap keringat yang membanjir di pelipisnya.


Cepat-cepat Riza mengambil botol yang selalu ia bawa dan menyerahkan pada Lili.


“Makasih,” ujar Lili sambil menerima uluran botol itu. Tanpa basa-basi Lili membuka botol itu dan meminum isinya hingga tandas.


“Masih mau lagi nggak,” tawar Elis yang juga mengulurkan botol berisi air putih yang selalu ia bawa meski faktanya sering tak diminumnya juga.


“Boleh deh.” Lili mengembalikan botol Riza yang sudah dihabiskan isinya dan menerima botol yang Elis ulurkan. Ia minum seakan tkerongkongannya sudah lama sekali tak mendapat aliran.


Setelah habis botol kedua, Lili segera mengulurkannya kepada yang punya. “Nih makasih, aku mau masuk dulu, dari pada aku kena semprot atau kehilangan pekerjaan.”


Setelah mengembalikan botol pada yang punya, Lili  ingin segera melanjutkan perjalannya menyusul Rina yang sudah terlebih dahulu masuk ke ruangan Dika.


“Eh, eh, eh…” tiba-tiba Lili merasa ada yang menahan langkahnya. Dan benar saja, setelah menoleh ternyata itu adalah Rahma.


“Ya ampun, jangan bercanda deh. Aku masih ada pekerjaan ini,” kesal Lili karena merasa terganggu langkahnya.


“Ya kamu sih datangnya kayak orang kesetanan, terus minum kayak orang kesurupan, terus sekarang mau pergi gitu aja tanpa keterangan,” kesal Rahma yang enggan melepaskan Lili begitu saja.


Lili perlahan melepaskan cekalan Rahma dan menghadap ke arah tiga wanita anggun dengan high heels, make up cantik, dan baju kantor yang rapi ini.


“Nanti jam istirahat aku ceritain deh, sekarang aku harus bawa ini ke dalam dulu.”


“Itu apa?” tanya Elis penasaran.


“Ini boneka strawberry punya non Rina. Udah, aku masuk.”

__ADS_1


Dan Lili pun menghilang di balik pintu.


Bersambung…


__ADS_2