Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Sombong


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan jejak sayang.


Biar Senja semangat updatenya.


HAPPY READING


“Ya Tuhan…! Kok aku Nggak ngenalin sih. Aku tuh ngefans banget sama suami kamu. Terlepas dari dia yang emang  kaya dari sononya, tapi ia hebat banget bisa mengembangkan perusahaan yang katanya sempat mati


suri.”


Ken bicara dengan menggebu-gebu saat tahu Rina adalah istri Restu Andika yang merupaka pengusaha muda yang dia akui menjadi sosok panutannya.


“Di, aku tuh ngelihatin Rina ini karena aku merasa familiar sama wajah dia, cuma aku nggak ngeh banget ketemunya di mana.”


“Ternyata memang belum pernah terjadi pertemuan antara kami karena aku cuma pernah melihat dia di TV sama media online,” ujar Ken sambil menggaruk kepalanya.


“Udah, ngomongnya udah?” sela Dian.


“Udah-udah,” pasrah Ken. Memang sejak Dian memberitahunya bahwa Rina adalah istri dari pengusaha muda Restu Andika, ia terus berbicara kesana-kemari saking takjubnya karena bisa bertemu dengan istri orang yang sangat dikaguminya.


Rina tertawa dengan dua orang di hadapannya.


“Eh Rin, pengen makan apa kamu?” tawar Dian.


“Apa aja yang penting gratis,” canda Rina disertai tawa sementara Ken dibuat terperangah dengan membulatkan mata.


Dian menyenggol bahu pria ini. “Jangan kaget, meski suaminya tajir melintir tapi doi kalau mau keluar duit masih kudu mikir.”


“Ya kan sebanyak apapun harta suamiku, itu semua cuma titipan Tuhan. Kalau kita selalu membiasakan diri untuk foya-foya, dan ternyata harta kita diambil sama yang punya masa hidup kita mau berhenti saat itu juga,” ujar Rina menjelaskan.


Prok prok prok prok


Ken bertepuk tangan dan berdecak kagun dengan pemikiran Rina.


“Kalian berdua memang pasangan muda yang luar biasa. Stok perempuan seperti kamu ada nggak sih Rin?”


Rina menautkan alisnya.


“Ya mungkin saja kamu punya saudara perempuan atau apa gitu yang sepemikiran sama kamu,” terang Ken.


“Nih,” Rina menunjuk Dian dengan matanya. “Dia dari remaja udah dekat sama saya, jadi mungkin sedikit banyak pemikirannya sama seperti saya.”


Ken mendesah. ”Sayangnya saya sudah kenyang ditolak sama dia.”


Rina merasa tiba-tiba hawanya berbeda. Dian tak menyahuti ucapan Ken, sementara wajah penuh canda Ken berubah serius secara tiba-tiba.


“Ekh, khem…” Rina berdehem berharap dapat mencairkan suasana.


“Kata kamu ada sushi varian terbaru, aku mau dong,” ujar Rina memecah canggung.


“Tumben sushi? Itu kan favorit Dika?” heran Dian.

__ADS_1


“Iya, lagi pengen nih…” bohong Rina.


Mereka mengobrol sambil menunggu pesanan Rina datang. Ken juga kembali ikut bicara meski tak sebanyak tadi.


Rina merasa ada yang tak biasa dengan dua manusia ini. Tapi sepertinya tak pantas jika ia langsung bertanya saat ini.


“Sepertinya aku harus pamit sekarang,” ujar Ken sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan.


“Gaya lu kaya orang sibuk,” cibir Dian.


“Gua masih ada partner bukan owner tunggal kaya situ,” balas Ken.


“Emang bisnis kamu di bidang apa Ken?” tanya Rina yang sebenarnya cukup penasaran sejak tadi.


“E-comers Rin. Perusahaan aku menjadi salah satu partner Surya Group tapi hanya partner kecil yang mungkin tak CEO sadari keberadaannya.”


Rina hanya menanggapi dengan senyum manisnya. Inginnya merendah, tapi ia bingung harus berlagak rendah dari mana. Suaminya terlalu memukai dari berbagai sisi, dia berada di posisi yang sangat tinggi, bahkan hingga tinggi badannya pun tak bisa dianggap rendah. Jadi ia hanya bisa pasrah menerima penilaian Ken dan auto sombong tanpa perlu menyombongkan diri.


“Kalau begitu saya mohon diri. Sampai jumpa Dian, nice to meet you Rina.”


Kedua perempuan ini hanya melambaikan tangan melepas kepergian Ken dari restoran Dian.


“Pacar ya?” tanya Rina begitu hanya tinggal berdua dengan Dian.


Dian menggeleng.


“Dia kayaknya naksir sama kamu,” tebak Rina.


“Suda waktunya kamu membuka hati Di. Sudah cukup lama kamu sendiri. Kalau memang nggak bisa move on tinggal ajak Andre untuk balikan. Melihat ia yang tak pernah dekat dengan wanita, aku yakin kalau dia juga sebenernya juga masih belum bisa move on dari kamu.”


“Kamu salah Rin.”


Rina menangkap ada raut kekecewaan di wajah Dian. Sepertinya ada sesuatu yang tak beres dengan sahabatnya.


“Wanna tell something on me?”


Dian menghela nafas.


“Aku mungkin terlalu naïf.”


Rina berusaha bersikap biasa saja. Ia ingin mencoba mendengarkan apa yang ingin Dian ceritakan tanpa menyela apa yang hendak sahabatnya ini ucapkan.


“Aku yang kekeh mengajak Andre berpisah, tapi sampai sekarang aku masih belum rela dia memulai hubungan dengan wanita.”


“Aku egois Rin. Aku berkali-kali berganti pasangan, tanpa sedikitpun memperdulikan perasaan Andre.”


Rina menyeruput minuman dingin di depannya. Ia masih akan setia mendengarkan cerita sahabatnya.


“Tapi baru sekali Andre membawa perempuan, aku sudah merasa nyeri hingga ulu hati.”


Rina mengernyit?

__ADS_1


“Sepanjang waktu Andre sama Dika, tapi belum sekali pun ada wanita yang datang untuknya.”


Dian kembali menggidikkan bahu.


“Jangan-jangan kamu salah paham. Mungkin saja itu rekan kerja yang sedang ada keperluan dengan Andre dan tanpa sengaja kamu melihatnya.”


Dian tak lagi memaksakan wajahnya untuk tersenyum. Ia membiarkan Rina melihat wajah kecutnya.


“Mereka begitu mesra. Andre bahkan sempat meminta pendapatku tentang kekasihnya.”


“Kamu ngobrol sama mereka?” tanya Rina hati-hati.


Dian mengangguk.


“Dia cantik, dan sepertinya cerdas?”


“Kamu tahu dia siapa? Maksudku namanya, pekerjaannya?” Rina terlihat penasaran karena selama ini ia tak pernah tahu Andre dekat dengan wanita. Jadwal dia dan Dika sangat padat, sering lembur dan nyaris tak pernah ada waktu luang.


Dian menghela nafas.


“Nama dia Hana.”


Mata Rina membola.Hana? Apa mungkin dia? Mana mungkin Andre jalan sama dia. Ah mungkin hanya kebetulan namanya sama.


“Kamu kenal sama dia?” tanya Dian saat melihat Rina terkejut padahal dia hanya menyebutkan nama.


“Mungkin aku salah orang. Dia orangnya gimana?” tanya Rina ingin memastikan.


“Emm, cantik, tingginya kurang lebih seaku, apa lagi ya. Tampilannya sederhana tapi cukup berkelas, rambutnya sebahu….”


Dian tampak mengingat sosok yang datang bersama Andre semalam.


“Kamu tahu nama lengkapnya nggak?” Rina masih belum berani menduga.


Dian menggeleng. “Aku cuma tahu  dia fresh graduate yang belum bekerja.”


Kamu salah Dian. Hana bukan fresh graduate tapi orang yang baru kehilangan pekerjaan dan masih jadi pengangguran.


Rina menghela nafas lega.


“Kamu kenal?” tanya Dian lagi.


Rina menggeleng. “Aku tadi sempet mikir kalau dia Hana staf Andre yang baru diberhentikan.”


“Sepertinya bukan. Aku malah nyaranin ke Andre buat rekrut dia ke Surya, tapi Andre nggak mau. Dia nggak mau kalau sampai lost fokus dalam bekerja kalau ada Hana di kantor yang sama dengannya.”


Dian tersenyum miris setelah menyelesaikan ucapannya. Tangan Rina terangkat dan mengusap lembut lengan sahabatnya.


“*A lot of chance *for both of you selama Andre belum terikat dalam pernikahan.”


Dian tak ingin menjawab, ia juga tak berani banyak berharap.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2