
HAPPY READING
Meski Dedi sebelumnya bertekat segera pergi, tapi Andre masih berhasil menahannya hingga kini. Pria ini bertekat untuk menahan Dedi agar tak gegabah dalam menjalankan niatnya yang menurut Andre tak berdasar sama sekali.
Jujur ini sudah berbeda dari niatan awal Dedi yang ingin memberi pelajaran pada Andre. Ia benar-benar tersulut emosi hingga ingin merealisasikan keinginan yang awalnya minim keseriusan.
“Kamu mau ke mana?” tanya Andre begitu nampak Dedi bangkit lagi.
“Sudah paham kan dari tadi,” sarkas Dedi.
Andre harus menyerah sepertinya. “Kalau begitu tunggu sebentar, biar aku temani kamu.”
“Aku bisa sendiri.”
Andre turut berdiri dan mendororong tubuh Dedi untuk duduk kembali. Ia sama sekali tak gentar meski wajahnya sudah dibuat memar.
“Dokter Dedi, melamar itu bukan hal yang sederhana. Bukan sekedar bilang cinta untuk selanjutnya mari menikah saja.”
“Memang bukan seperti itu, tapi bukan juga dengan melanggar syariat-syariat agama dengan dalih belum siap untuk membina bartera rumah tangga.”
Andre benar-benar diuji saat ini. Di satu sisi dia tak mau Dedi salah langkah, tapi setiap ucapan Dedi berhasil membuatnya ditelanjangi. Andre tak buta sebenarnya. Ia sadar benar jika dengan kesalahan besar yang diperbuatnya. Rasa gelisah juga menyerang hati kecilnya. Tapi harus bagaimana? Karena semuanya jauh dari kata sederhana.
“Baiklah kalau begitu. Biarkan saya ikut agar saya bisa belajar dari kamu tentang bagaimana menyikapi dosa berkedok cinta yang saya lakukan pada Hana.”
Akhirnya Andre turut pergi bersama Dedi. Jujur pikirannya benar-benar ruwet saat ini. Ia datang dengan masalah yang sebenarnya ingin ia carikan solusi, tapi malah menemukan masalah baru seperti ini.
“Ded, sebenarnya siapa wanita ini. Kenapa kamu seperti memperjuangkannya sekali?” tanya Andre yang duduk di samping Dedi.
Dedi menyugar rambutnya. Kemudian mulai menatap Andre dengan tatapan tajamnya. “Dia adalah wanita baik-baik yang hidupnya dirusak oleh pria dan dalam sekian waktu lamanya, ia dijebak dalam sebuah hubungan yang tak sehat.”
“Simpanan dong?” tanya Andre dengan mata yang melotot tak percaya. Selanjutnya ia nampak memegangi dada sebelum kembali menatap sahabatnya. “Kamu yakin?” lanjutnya.
Dedi mengangguk. “Terlepas dari bagaimana kondisinya, dia adalah wanita baik yang hanya terjebak janji manis buaya.” Dedi menjeda ucapannya dengan helaan nafas. Ia juga sekilas memandang raut muka Andre yang berubah-ubah dengan cepatnya.
“Kamu yakin dengan keputusan ini?” tanya Andre hati-hati.
“Keyakinan itu akan datang jika kami memang ditakdirkan.”
Andre terdiam. Ia nampak berusaha mencerna apa maksud dari ucapan Dedi. Kenapa di saat Dedi begitu kekeh untuk memberikan kepastian pada wanita yang belum pasti yang bahkan tak semua pria mau berhubungan dengannya di kemudian hari, ia justru mengabaikan wanita yang sudah menyerahkan semua kepadanya selama ini.
“Siapa sebenarnya wanita ini. Apa aku mengenalnya?” tanya Andre masih dengan kehati-hatian yang sama. Ia penasaran kenapa Dedi begitu peduli.
__ADS_1
Dedi enggan menjawab. Ia hanya menghela nafas sebagai jawaban.
“Bagaimana kondisi wanita ini, apa dia sekarang sedang hamil?”
Dedi menghela nafas. “Pernah hamil sepertinya, dan…”
“Brengsek,” umpat Andre. “Jadi kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan menjijikkan itu?!” ujar Andre dengan berapi-api. Ia seketika lupa dengan masalahnya saat membayangkan bagaimana beratnya posisi yang bersiap Dedi jemput ini.
Sudut bibir Dedi tertarik samar. Namun buru-buru ia hapus sebelum Andre menyadarinya. “Iya. Benar-benar menjijikkan. Aku sendiri tak pernah menyangka akan ada cerita seperti ini dalam hidupku,” lanjut Dedi dengan nada mengiba.
Dan umpan Dedi termakan juga. Antara kesal, marah dan iba Andre menatap Dedi. “Tapi Ded, kamu itu orang baik. Kamu pun berhak mendapat yang lebih baik.”
Kali ini Andre tak bisa bersabar lagi. Masa iya sekaliber Dedi harus menjalani takdir yang seperti ini.
“Ya kalau memang niatanku sekarang ini Allah kabulkan, maka takdir ini adalah takdir terbaik yang sepatutnya aku dapatkan,” jawab Dedi dengan santainya.
Andre mendesah. “Tapi Brother, h h h h ... Ini berat lo...” Sekali lagi Andre menghela nafas. “Apa kamu bisa menerima semua keadaannya termasuk tekanan yang akan kamu dapat saat masa lalu wanita ini terbuka?”
Dedi mengangkat wajahnya. Ia menatap hamparan langit luas yang seakan menyertai perjalanannya.
“Lebih baik sekarang kamu tenang, dan lihat bagaimana Tuhan menunjukkan kekuasaan tentang nasib hamba yang berserah padanya.”
***
“Emmm…” Rina seperti menemukan sesuatu yang menganggu indera pengecapnya. Namun ia belum bisa menjelaskan apa. “Apa ya ini…” gumamnya masih sambil mengecap.
Dika mengambil tissue dan membersihkan sudut bibir istrinya.
“Cemong ya?” tanya Rina.
“Nggak. Cuma pengen aja…” jawab Dika masih sambil mengusap-usap area yang sama.
“Coba lihat.” Rina segera mengambil paksa tissue dari tangan suaminya. “Tuh kotoooorrr….”
“Nggak apa-apa sayang, toh di sini nggak ada orang….”
Rina segera memperhatikan sekitar. Kenapa ia baru sadar jika arena public ini jadi sepi tak lama setelah mereka duduk di sana. Tak heran memang sih, karena ini pasti ulah Dika yang keberadaannya tak mau diganggu meski mereka ada di luar ruang privasi mereka.
Rina kembali menjelajahi es krim-es krim di hadapannya. Tak mungkin ia mendebat keputusan suaminya karena pasti akan berakhir percuma. Memang mereka terlihat hanya berdua namun sebenarnya ada banyak yang berjaga di mana-mana.
“Kamu nggak mau ke kantor?” tanya Rina melihat suaminya yang hanya diam saja di sampingnya.
__ADS_1
“Ngapain?” Dika balik bertanya.
“Ya ngapain kek,” jawab Rina sambil menyuapkan es krim ke mulutnya.
“Andre nggak mungkin macem-macem,” gumam Dika dengan santainya.
“Ya nggak gitu, tapi sebagai wujud tanggungjawab kamu.” Entah mengapa Rina semangat sekali mendorong suaminya untuk ke kantor melihat pekerjaan yang beberapa waktu terabaikan.
“Ada di samping kamu juga merupakan wujud tanggung jawabku Sayang…” balas Dika yang tak mau kalah argumennya.
“Euummmm… gemeeeessss….”
Dika merangkul Rina setelah istrinya ini menarik sebelah lengannya dan menggenggam erat jemarinya.
“Tapi aku pengen lihat Hana,” gumam Rina dengan kepala yang tersandar pada suaminya.
“Apa ada yang penting? Kalau iya, kita kan bisa minta dia datang.”
Rina menggeleng. “Pokoknya aku pengen ke kantor,” kekeh Rina.
Kalau sudah pengen, tak ada alasan untuk Dika bisa menolak. Jika sampai ini ia lakukan dan ketahuan sang mama, pasti ia akan jadi bulan-bulanan kemudian.
Dan setelah semua beres, mereka pun pindah lokasi lagi.
***
Kantor Surya Group malam hari terlihat sepi. Ini mamang sudah lewat jam delapan sehingga karyawan pun banyak yang pulang.
“Selamat malam Pak. Apa ada sesuatu yang tertinggal sehingga harus ke sini malam-malam seperti ini?” tanya security yang Andre dan Dedi temui begitu mereka menginjakkan kaki di kantor yang telah sepi ini.
“Papa…”
Belum juga Andre dan Dedi menjawab pertanyaan security, mereka sudah dikejutkan dengan kemunculan Edo yang terlihat lelah dengan jas yang tak terkait kancingnya.
Tak hanya dua pria muda ini yang terkejut, Edo pun juga sama. Ayah dan dan anak ini memacu langkahnya cepat ke arah satu sama lain dan segera berhenti ketika sudah ada di titik yang sama.
“Akh, akh, akh... Pa, Papa, Sakita Pa!”
“Dasarrrr..., bocah tengiiiikkkk…” Edo dengan segenap hati dan jiwa memelintir telinga anaknya karena kesal dengan kelakuan tak bertanggung jawabnya.
“Pa, Pa, lepasin Pa. Papa…” Andre panik bukan main.Belum tuntas keterkejutannya karena keberadaan sang papa, sekarang ia harus mendapat hadiah tambahan yang otomatis akan menjatuhkan wibawanya di hadapan karyawan. Namun untuk saja sudah banyak yang pulang, dan hanya ada satu satpam yang menyaksikan.
__ADS_1
Belum puas dengan menjewer, Edo lantas menarik telinga sang putra dan membawanya masuk ke dalam lift. Ia ingin memperlihatkan pada Andre hasil karyanya yang membuat ia juga harus menuai akibatnya.
Bersambung...