Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Janggal


__ADS_3

Di dunia ini tidak ada yang tiba-tiba.


Semua terjadi atas kehendak-Nya.


~Cahya Senja~


HAPPY READING


Trio sekertaris segera berdiri dan menyapa Dika dan Andre yang muncul berdua setelah tadi pergi bersama. Mereka yang saat berangkat masih dengan membawa masing-masing pasangannya, kini sudah tidak ada para wanita meninggalkan mereka berdua saja.


“Seandainya mereka belum pada punya pasangan, pasti aku kerjanya makin semangat dapat penyegar mata seperti ini setiap hari,” gumam Rahma.


Elis menghentikan sejenak gerakan tangannya. Ia menghela nafas kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa sedikit pun membalas ucapan Rahma.


“Ya elah, aku pikir mau ngomong kamu Lis.” Rahma kecewa karena ia kehilangan partner bergosip yang biasanya kompak dengannya setiap hari.


“Pekerjaanku masih banyak sekali Rahma. Mataku segar kalau dompetku kering nggak jadi segar,” balas Elis terhadap ucapan Rahma.


“Nah aku demen nih,” imbuh Riza yang memberikan support penuh terhadap kewarasan Elis hari ini.


“Ya kan kudu move on Mbak,” ujar Elis.


“Betul.”


Riza dan Elis tos sebelum kembali berkutat dengan pekerjaannya masing-masing.


“Gitu ya kamu sekarang Lis. Kemaren-kemaren siapa yang rela nangis buat kamu, sekarang kamu malah sekongkol sama Mbak Riza buat bikin aku jatuh. Jahat kamu hiks hiks…”


Rahma memang pandai sekali mengomentari hidup orang tapi untuk masalah acting, ia sepertinya sama sekali tak ada kemampuan. Terbukti dengan sekarang ia berlagak menangis namun justru membuat Elis dan Riza tertawa karena ketidak naturalannya.


Sementara itu Hana sedang di rumah Rina sekarang. Hana semula ingin Andre antarkan pulang namun karena jarak rumah mereka yang cukup jauh, akhirnya Rina mengusulkan agar keduanya diantar pulang ke rumahnya saja. Dika sekarang memang tak tinggal di rumahnya yang lama tapi pindah di sebuah apartemen di dekat kantor. Sebenarnya Dika enggan meninggalkan rumahnya, namun ini permintaan Rina jadi ia tak mau menolaknya.


“Lega banget wajah kamu?” goda Rinasaat melihat kekusutan wajah Hana pudar dan hilang entah kemana.


“Nggak sakit lagi soalnya perutnya,” ujar Hana berusaha menjawab pertanyaan Rina.


“Bukan karena nggak jadi hamil,” goda Rina lagi.


“Ehm, itu…” Hana sedikit tak nyaman dengan topic yang sepertinya sengaja Rina pilih.


Rina sadar ini hal sensitive, sehingga sekarang ia menanggalkan senyum menggodanya dan meletakkan sebelah tangan di bahu Hana.

__ADS_1


“Aku nggak lagi menjatuhkan kamu, aku hanya ingin menjadi teman yang tahu sebenarnya kamu,” ujar Rina menjelaskan maksudnya.


Rasa tersudutkan memang sudah pergi, tapi yang Hana rasakan sekarang adalah rasa malu. Meskipun tak ada orang lain yang secara langsung ia rugikan di tengah kelakuan buruknya dengan Andre tapi ini tetaplah aib dan dosa besar yang terus ditimbunnya hingga sekarang.


Rina mengusap-usap punggung Hana saat tahu benar wanita ini tak punya muka untuk sekedar berkata.


“Aku sebenarnya capek Rina. Kenapa seakan semua yang aku lakukan itu adalah sebuah kesalahan. Diam salah, mundur nggak bisa maju pun salah. Terus aku harus bagaimana?” Akhirnya Hana merasa perlu mengungkapkan perasaannya.


“Apa kamu mencintai Andre?” tanya Rina hati-hati.


Hana membalas tatap Rina.“Sangat. Aku sangat mencintai Andre.” Hana menghela nafas kemudian memutus lagi kontaknya.


“Bahkan mencintai Andre pun sepertinya sebuah kesalahan. Andre tampan, dia sangat mapan. Jadi sulit memang kalau sebagai wanita aku tak mencintainya,” lanjut Hana tanpa menatap Rina.


“Aku nggak pernah tuh cinta sama Andre, padahal kita temenan sudah lama,” kata Rina.


“Iya, karena kamu kan punya pak Restu yang bahkan melebihi Andre semuanya.”


Rina tersnyum simpul. “Lantas apa kamu juga pernah menyukai suamiku dengan semua yang dimilikinya?”


“Tidak, tidak…” Hana panik hingga mengibas-ngibaskan kedua tangannya untuk menunjukkan keseriusannya. “Aku tidak pernah. Ehm, waktu itu aku cuma disuruh, ya Tuhan?” Hana bingung hingga kesulitan berkata. Ia menelan ludah dan menatap Rina takut-takut. “Aku minta maaf, saat itu aku sama sekali tak ingin merebut pak Restu dari kamu, hanya saja,” Hana menggerak-gerakkan jarinya.


Melihat Hana yang panik, Rina meraih tangan Hana dan


“Aku percaya sama kamu Hana,” ujar Rina kemudian.


“Tapi aku memang keterlaluan waktu itu…” Hana mengakui kelakukan buruknya pada Rina beberapa waktu yang lalu.


“Iya, karena kamu membiarkan dirimu dijadikan boneka,” Rina coba melihat Hana dari sudut yang lain.


Hana menghela nafas dan menunduk lagi.


“Sudah, jangan bahas ini lagi. Aku cuma mau bilang, kalau cinta itu tak memandang harta dan rupa karena aku dulu jatuh cinta dengan Dika sebelum aku tahu ia merupakan orang kaya. Dan kamu tahu aku ini anak siapa?” tanya Rina pada Hana.


Hana terdiam, pikirannya berkelana. “Jangan bilang kamu anak pembantu atau sopir pak Restu?” tanya Hana setelah sempat mengumpulkan hipotesa.


“Ha ha ha…” Rina tertawa dengan apa yang Hana pikirkan. “Novel banget tahu nggak isi kepala kamu…” ujarnya di sela tawa.


Hana meringis. Aku kan memang penulis novel, batin Hana.


“Ya Allah, ha ha ha…” Rina masih tertawa geli dengan terkaan Hana.

__ADS_1


Hana memainkan jarinya karena merasa malu dengan imajinasinya. Terlebih saat Rina tak juga selesai tertawa.


“Maaf. Ya aku pikir kisah cinta di novel mungkin ada di dunia nyata,” ujar Hana berharap Rina segera menghentikan tawanya.


“Gina ya Han, Dika itu dulu bocah tengil tapi pintar. Cuma ya kepintaran akademis nggak bisa bikin aku cinta.”


“Terus kamu kenalnya gimana?”


“Panjang banget ceritanya, karena pertemuan pertama kami saat kami masih sama-sama di bangku sekolah dasar. Saat itu dia bahkan masih lebih pendek dari aku, tak tahunya saat kita sudah SMA dia sudah jauh lebih tinggi dari aku,” tutur Rina dengan tatapan menerawang mengingat kenangannya sebelum menikah dengan Dika.


Hana menyimaknya dengan seksama.


“Saat itu Dika sedang pontang-panting, dia yatim dan mamanya menikah lagi. Dia tak mau ikut dengan mamanya jadi ia tinggal seorang diri di rumahnya.”


“Terus dokter Rudi?” tanya Hana.


“Dia ayah tiri Dika, dan beliau adalah sahabat almarhum papa Dika.”


“Tapi kita nggak akan bahas itu,” potong Rina cepat saat melihat Hana hendak membuka mulutnya.


“Saat itu karena sebuah masalah kami putus…” Rina menjeda ucapannya saat tiba-tiba ingat penyebab putusnya mereka adalah Rio, kakak tiri Hana. Rina menyimpan yang satu ini dan melanjutkan ceritanya.


“Dan karena suatu alasan, Dika terpaksa harus bekerja. Meneruskan usaha orang tuanya yang dilimpahkan pada pak Edo karena dia sebagai pewaris tunggal belum mampu mengelola.”


“Oh jadi Andre menggantikan posisi papanya?” Hana akhirnya paham kenapa Andre bisa masuk ke perusahaan dan langsung melesat di posisi yang sangat tinggi saat baru lulus SMA. “Eh, kok tunggal, kan ada Rista?” tanya Hana yang baru menyadari adanya kejanggalan di sini.


Rina mengernyit. Iya juga. Bahkan aku sampai sekarang belum mengerti kenapa hanya Dika yang mewarisi kekayaan papanya. Racau Rina dalam hati.


“Aku kurang tahu masalah itu, yang jelas saat Dika pontang-panting aku kembali dekat dengannya.” Rina merasa poin ini harus diskip juga.


“Saat Dika mengajakku balikan, kedok asli tentang siapa dirinya tiba-tiba terbongkar. Papa adalah direktur di salah satu cabang perusahaan Dika. Aku kaget dong, saat tahu pacar tengilku merupakan pemilik perusahaan dimana papaku kerja.”


“Auto dapat restu tapi?”


“Nggak. Setelah itu malah muncul masalah. Aku merasa tak pantas untuk Dika bahkan setelah dia membuktikan kesungguhannya dengan menikahiku.”


“Apa ini alasan kenapa pernikahan kalian tak dipublikasikan?” tanya Hana penasaran.


Rina mengangguk. “Dan ternyata ketakutanku tak beralasan. Hal buruk yang aku khawatirkan akan muncul jika kami mengungkap pernikahan tidak terjadi sama sekali. Bahkan kehidupan kami semakin harmonis hari ke hari.”


Dua perempuan ini sejenak saling menatap.

__ADS_1


“Jadi Han, kalau memang Andre sudah siap menikahimu, segerakan. Aku yakin apa pun masalah yang menghadang kalian, semua akan teratasi jika kalian menyertakan Allah disetiap usaha dan doa.”


Bersambung…


__ADS_2