Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Shiro and Baise


__ADS_3

Bismillah banyak yang ninggalin jejak, hehehe


HAPPY READING


Tidur. Bebar-benar tidur dengan mata terpejam. Andre kali ini benar-benar menepati ucapannya. Dua boneka beruang yang ia bawa ia taruh di kanan dan kiri ranjang, sementara ia memeluk Hana di tengah. Dua manusia tanpa ikatan ini tengah berpelukan dan terlelap dalam mimpi.


Flashback sebelum tidur siang


Andre mendorong Hana ke atas ranjang dengan dua boneka yang menimpa tubuh rampingnya. Ia kemudian ikut merebahkan diri di samping Hana.


“Yang pake pita hitam aku kasih nama Shiro,” ujar Andre tiba-tiba.


“Ha?” Hana tak paham dengan maksud Andre.


“Di leher boneka itu ada pitanya. Yang satu warna abu, yang satu warna hitam. Nah yang pake pita hitam aku kasih nama Shiro,” jelas Andre sambil menatap langit-langit.


Hana mengecek satu-persatu boneka itu. “Oh iya, pake kalung pita ya. Imut,” gumam Hana.


“Yang pake pita abu mau kamu kasih nama siapa?” tanya Andre sambil menatap Hana di sampingnya.


“Emm… Báisè,” ujar Hana sambil mengangkat boneka beruang putih dengan pita abu di lehernya itu.


“Kalau Shiro bahasa Jepang, kalau Báisè itu bahas


China. Artinya sama, putih,” ujar Hana sambil memeluk boneka itu.


Sejenak andre terhipnotis dengan kecantikan Hana. Wanita ini tersenyum manis seakan tak ada beban dalam hidupnya. Andre segera membuang muka saat tiba-tiba Hana menoleh ke arahnya.


Hana sedikit kecewa karena Andre menolak tatapannya. Ia menghela nafas dan memeluk erat bonekanya.


“Kamu bisa bahasa mana aja?” tanya Andre tanpa menatap Hana.


“Emmm, bahasa Inggris, bahasa China sedikit karena diwajibkan sama Papa, dan waktu SMA aku diam-diam belajar


bahasa Jepang. Setelah lulus, aku berniat menjadi TKI Jengan Jepang sebagai negara tujuan. Aku nggak bisa mendalkan papa untuk kehidupan kami. Aku nggak tega mama terus menderita membanting tulang seorang diri.”


“Jadi ke Jepang?”


Hana menggeleng. “Papa tiba-tiba datang dan bilang akan membiayai sekolahku. Memberikan kehidupan yang layak untukku, asalkan aku mau ikut dengannya dan meninggalkan mama.”


Hana menghela nafas. Terdengar jelas jika helaannya kali ini cukup jelas. Andre tak ingin menganggu momen ini. Momen


di mana ia bisa tahu tentang Hana sebenarnya.


“Awalnya aku menolak, karena sejak kecil aku hanya bersama mama. Tapi mama memaksaku dan dia juga bilang aku tak boleh menemuinya jika aku belum menjadi orang yang  sukses.”


Andre menelusupkan lengannya di bawah leher Hana. Hana tak menolak. Ia menyamankan posisi kepalanya dan menjadikan lengan Andre sebagai bantal.


“Apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Andre hati-hati.


“Selepas ujian dan nilaiku keluar, aku tak bisa menahan diri untuk menemui mama. Aku ingin bilang kalau aku menjadi lulusan terbaik dan akan mendapat penghargaan saat wisuda. Aku ingin mama tahu dan datang di saat istimewaku.”

__ADS_1


“Diam-diam aku pulang tanpa sepengetahuan papa.”


Andre membelai rambut Hana, membawa kepala wanita ini agar lebih dekat dengannya.


“Tapi tiba di kontrakan, aku harus menerima kenyataan pahit jika mama telah meninggal.”


Hana mulai terisak. "Dan aku tidak tahu mama dimakamkan di mana?"


"Apa orang di sekitar kamu tak ada yang bisa ditanyai."


Hana menggeleng dan menutup mulutnya. Spontan Andre menarik Hana ke dalam pelukannya.


“Jangan dilanjutkan kalau tidak sanggup…” ujar Andre sambil mengusap lembut rambut Hana. Rambut lurus berwarna coklat yang terurai hingga selinggang. Hana kembali dibuat menangis saat bersama Andre, pria muda yang telah  memenjarakan hatinya.


Andre sesekali mengusap lembut bagian belakang tubuh Hana. bahu yang semula bergetar hebat itu berangsur tenang.


“Tidurlah jika kamu lelah…” gumam Andre masih dengan posisi yang sama.


Setelah yakin Hana sudah tertidur, Andre segera mengambil ponsel yang sejak tadi tersimpan di kantong celananya.


“Ndre, belum juga 24 jam, mana mungkin kami sudah dapat informasi…” protes orang di seberang sana yang kini tengah


Andre hubungi.


“Aku ada satu informasi tambahan. Kata Hana, mamanya yang bernama Erika itu sudah meninggal. Tapi sepertinya ada yang janggal. Tolong cari tahu info lengkapnya,” ujar Andre menjelaskan.


Melvin tak jadi mengumpati Andre. “Hana, maksudmu Raihana yang fotonya kamu tinggal sama aku ini?”


“Kalau orangnya ada sama kamu, ngapain susah-susah cari infonya dari aku. Kan bisa kamu tanya langsung sama dia…”


“Sudah lah Vin, bukannya dengan begini kamu bisa dapat banyak uang dengan kerja ringan.”


Tiba-tiba Hana merintih dalam tidurnya.


“Itu suara apa?” terdengar gelak tawa dari seberang sana.”Ternyata kamu masih doyan wanita ya, aku pikir kamu ada truma dengan perempuan makanya selama bertahun-tahun hanya terpaku pada Dian,” ledek Melvin.


“Nggak usah bacot deh."


Tanpa menunggu reaksi dari Melvin, Andre segera menjauhkan ponselnya.


Hana mengeratkan pelukannya pada Andre. “Kamu nggak tidur?” tanya Hana dengan suara seraknya. Serak karena baru


bangun tidur dan serak karena baru saja menangis.


“Ini mau tidur.”


“Ayo tidur,” ajak Hana dengan suara manja. Ia menarik-narik Andre agar berbaring di sampingnya.


Andre tertawa kecil dan melakukan apa yang Hana minta. Ia menempelkan kembali ponselnya di telinga. “Vin, udah dulu ya. Lagi ada yang harus aku kerjain,” ujar Andre dengan wajah berhias senyum.


“Udah sono kerjain kerjaan ranjang lu.”

__ADS_1


Andre tak membalas ucapan Melvin. Ia sedang senang makanya tak membalas ledekan pria ini dengan umpatan. Ia segera membaringkan tubuhnya dan turut memejamkan mata bersama Hana.


Tuhan, ijinkan aku tetap menjadi hambamu.


Diseberang sana Melvin mulai menjalankan aksinya. Berbekal dengan clue seadanya, ia mulai mengorek informasi tentang perempuan bernama Raihana. Saat ia sibuk mengumpulkan apa pun yang mungkin bisa menjadi petunjuk, tiba-tiba ia ingat sesuatu. Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


Nada tunggu berdengung dan Melvin masih setia menunggu.


“Halo…” ujar Melvin begitu panggilan itu tersambung.


“…”


“Benar Bos, dan misi itu sekarang sudah diberikan pada saya.”


“…”


“Baik.”


“…”


“Baik.”


“…”


“Saya mengerti.”


Setelah panggilan terputus, Melvin segera meletakkan ponselnya.


Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Setelah itu ia kembali fokus pada laptop di hadapannya.


Baru saja ia hendak kembali bekerja, tiba-tiba ponselnya berdering lagi.


“Iya Bos.” Yang menelfon Andre adalah orang yang baru saja dihubunginya.


“Saya ada sedikit clue untuk kamu. Saya harap ini bisa melancarkan misi kamu.”


Melvin tak menjawab.


“Sudah saya kirim filenya, saya rasa Andre juga belum tahu masalah ini.”


Melvin tersenyum simpul. “Senang sekali Andre punya bos yang begitu perhatian seperti anda.” Melvin menjeda ucapannya. “Anda begitu perhatian pada bawahan. Tapi apa anda tak takut jika…”


“Tidak usah kamu lanjutkan dan tak perlu kamu pikirkan. Ini semua sudah saya pertimbangkan.”


“Baik.”


“Kamu lakukan saja semua dengan baik.”


“Siap.”


Panggilan terputus dan Melvin kembali larut dalam pencariannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2