
HAPPY READING
“Siapa manager di sini?” tanya Rina pada Risma.
“Mbak Nuke Nona.”
Tanpa sadar Risma jadi ikut memanggil Rina dengan sebutan Nona karena Hana dan Lili yang memanggilnya dengan sebutan itu.
“Panggilkan untuk saya,” ujar Rina dengan nada tak terbantahkan.
“B, baik…”
Kena mental si Risma sepertinya. Ia hingga tergagap dan tak bisa berfikir saat berhadapan dengan Rina seperti ini. Padahal belum juga Rina melakukan apa-apa pada dirinya. Bahkan Risma juga belum tahu siapa Rina ini sebenarnya.
Saat hendak balik badan, tiba-tiba Hana menahan tangan Risma. Ia melihat Hana menggelengkan kepala.
“Nggak perlu Nona. Ini nggak ada hubungannya dengan Mbak Nuke,” ujar Hana pada Rina.
“Saya tahu Han. Saya hanya mau minta ijin untuk membawa kamu ke rumah sakit,” balas Rina.
“Tidak perlu Nona, sudah ada teman Risma yang merawat saya. Dia seorang perawat.” Hana berusaha menolak dengan cara sehalus mungkin. Karena ia tahu Rina tak akan menyerah jika ia terang-terangan menolak.
“Tapi saya tak tenang. Menjadi bulan-bulanan Andre itu bukan hal yang menyenangkan untuk saya, jika dia sampai dia tahu saya tak bertindak mengetahui keadaan kamu yang seperti ini.”
"Mana mungkin Andre berani, anda kan..."
"Apa? Apa sih yang bikin dia takut. Adu jotos sama Dika saja dia nggak mundur."
Hana meringis saat mengingat hal tersebut. Namun ia tak boleh seperti ini jika mau diterima oleh orang-orang yang kini masih menolaknya. Ia harus berusaha menggunakan segenap kemampuan dan dayanya, serta melewati jalan yang sebenar-benarnya.
“Apa kamu lebih memilih Andre yang ke sini sekarang?” Belum juga Hana selesai memikirkan cara untuk menghadapi Rina, perempuan ini sudah kembali menekannya.
Hana menyerah. “Biar saya yang ijin langsung ke Mbak Nuke,” ujarnya kemudian.
“Saya tunggu di mobil,” ujar Rina sebelum berjalan keluar meninggalkan Risma yang masih kehilangan kemampuan otak untuk memerintah otot-otot tubuhnya untuk bergerak.
“Ma, aku ceritanya nanti ya. Sekarang aku ikut mereka
dulu,” ujar Hana pada Risma yang masih mematung dengan tatapan kosong.
Risma hanya menganggukkan kepala karena kelumpuhan mendadak yang belum mampu diatasinya.
Setelah Hana keluar, Haning tiba-tiba menghampiri Risma.
“Mbak Nuke kok iya-iya saja sih Hana seenaknya sendiri seperti itu?” tanya Haning pada Risma
Risma tak bereaksi. Ia hanya menatap Haning sekilas sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada Hana yang tengah masuk ke mobil Rina.
“Aku nggak ngerti,” ujar Risma dengan kepala menggeleng lemah. Ia berjalan dengan lunglai ke arah belakang. Sepertinya ia ingin kembali menguasai gudang seperti sebelumnya. Sebelum customer membeludak mendatangi toko pasca kemunculan Hana.
“Dih, katanya teman. Pas ditanya kagak ngarti.” Haning melenggang dan menyapa customer yang kebetulan datang.
Rina membawa Hana ke rumah sakit. Ia penasaran ingin memeriksakan kondisi Hana. Baru saja keguguran, Hana sudah tertusuk saja tanpa perawatan yang baik. Jadi tak pelak hal ini membuat Rina merasa tak tenang.
“Bagaimana dokter?” tanya Rina saat dokter selesai memeriksa Hana.
“Lukanya dijahit dengan baik, dan beruntungnya nona Hana juga sangat menjaga kebersihan tubuhnya. Hanya saja mungkin akan meninggalkan bekas setelah lukanya sembuh sempurnya,” jelas dokter yang baru saja memeriksa Hana.
Perbedaan reaksi terjadi pada dua wanita cantik ini. Hana yang nampak sudah siap dengan kemungkinan ini, sedangkan Rina terlihat terkejut dengan apa yang dokter tuturkan.
“Ada cara buat menghilangkan bekas lukanya apa tidak Dok?” tanya Rina kemudian.
__ADS_1
“Bisa. Ada beberapa treatment yang bisa ditempuh, tapi untuk hasil maksimal lewat plastic surgery.”
Rina saling tatap dengan Hana sekilas. “Ya udah itu aja,” putusnya kemudian.
“Nggak usah Nona, biayanya mahal,” tolak Hana.
“Saya yang bayar.”
“Tapi saya nggak enak.”
“Saya juga nggak enak sama Andre kalau membiarkan kamu seperti ini Hana. Kamu ngerti dong.”
“Ya tapi…”
“Tapi apa?”
Hana menghela nafas. “Apa boleh kita ngobrol dulu?”
"Berdua saja," lanjut Hana setelah sempat menjeda sejenak ucapannya.
Rina pun mengangguk. Sebelum memutuskan untuk mengobrol, kedua wanita ini mendengarkan seksama apa yang dokter sampaikan. Setelah semua benar-benar jelas, sang dokter memberikan resep untuk Hana. Mereka pun keluar dari ruang pemeriksaan setelahnya dan mencari tempat ngobrol yang dirasa nyaman untuk mereka.
“Nona, saya harus kembali bekerja. Saya belum sebulan di sana, dan saya belum siap kalau harus kehilangan pekerjaan sekarang,” ujar Hana setelah mereka mengobrol cukup lama.
“Aku pikir nggak masalah. Kamu bisa kerja sama saya kalau memang dipecat dari sana,” kata Rina
“Ya tapi nggak mungkin.”
“Kenapa nggak mungkin?”
“Ya dulu kan…”
“Dulu kenapa? Karena kamu pernah menjadi ancaman untuk saya hingga akhirnya pernikahan saya terbongkar dengan dramatis, iya?” Rina menarik kedua sudut di bibirnya setelah mengakhiri kalimat panjangnya.
“Hana. Kamu tahu betapa anak ini berarti ini tuk saya?”
Hana mengangguk paham. Sedikit banyak ia tahu cerita jatuh bangun Rina dan Dika dalam memperoleh keturunan.
“Sejak kamu menyelamatkan anak yang ketika itu, saya sudah menganggap kamu sebagai sahabat saya, dan saya yakin semua hal buruk yang kamu lakukan di masa lalu adalah karena paksaan. Jadi please, kamu terima ya balas budi saya.”
"Tapi ini berlebihan Nona. Dengan Nona memaafkan saya saya, saya sudah sangat meresa bersyukur."
“Tapi saya tidak."
Kedua wanita ini kembali saling tatap.
“Atau kalau kamu nggak mau, biar aku ngomong aja deh sama Andre.”
Rina sengaja menjeda ucapannya. “Biar sekalian kamu dikurung dan dihamili lagi, he he he…” canda Rina yang disambut wajah merah oleh Hana.
“Ya udah, saya ikut Nona,” ujar Hana sambil berusaha menyembunyikan wajah merahnya.
“Baik, jadi sekarang kamu mau yang mana?”
“Apanya Nona?”
“Treatmentnya.”
“Ya laser saja, sepertinya itu paling gampang?”
“Iya. Sekarang kita temui dokter lagi ya dan atur jadwal.”
__ADS_1
Kedua wanita ini kembali menunggu antrian untuk konsultasi lanjutan dengan dokter estetika yang telah direkomendasikan sebelumnya. Setelah mendapat giliran, keduanya masuk lagi ke ruangan untuk mengatur jadwal pengobatan.
***
“Sudah mau balik Ndre?” tanya Dika saat ia melihat Andre yang tengah membereskan mejanya.
“Iya. Aku mau ke Hana. Apa masih ada pekerjaan yang belum beres?” tanya Andre yang tak keberatan untuk mengurungkan niatnya jika memang masih ada tanggung jawab yang belum ia selesaikan.
Dika menarik kursi dan segera duduk di sana. “Nggak ada sih, hanya saja aku masih malas untuk pulang,” ujarnya kemudian.
Melihat Dika duduk di depan meja kerjanya, akhirnya Andre pun memndudukkan pantatnya di tempatnya semula. “Tumben males pulang, lagi berantem?” terkanya.
“Enggak sih, tapi Rina lagi jalan sama Hana?”
“Hana?” ulang Andre.
“Iya,” singkat Dika.
“Hana gue?”
“Iya deh iya. Hana elu,” cibir Dika.
“Kamu keberatan nggak kalau kita nyusul mereka?”
“Jangan lah. Kata Rina mareka para wanita ada urusan rahasia, dan tak ingin ada pria di dalamnya,” jelas Dika.
"Emang kenapa sih. Sejak kapan Rina akrab sama Hana?" heran Andre.
"Kenapa? Apa kamu ada masalah?" Dika balik bertanya pada Andre.
“Ya nggak sih,” jawab Andre akhirnya. "Ya udah susulin sekarang ya..."
“Nggak boleh sama Rina.”
“Kenapa nggak boleh?”
“Udahlah Ndre. Apa susahnya sih sesekali membiarkan mereka. Lagian masih banyak waktu juga buat qtime sama pasangan.”
“Itu buat kalian, tapi buat kami jalannya masih panjang. Jangankan membayangkan qtime sama Hana, ngebanyangin dapet restu aja nggak tahu datangnya kapan.”
“Kenapa panjang, bukannya kamu ingin segera menikahi Hana setelah menemukannya?”
Akhirnya Andre mulai menceritakan apa yang telah ia sepakati dengan Hana termasuk Hana yang benar-benar tak mau melanjutkan hubungan jika tanpa restu kedua orang tua Andre.
“Memang om Edo sama tante Heni masih nggak mau merestui hubungan kamu dengan Hana?” tanya Dika tanpa basa-basi.
“Mereka tak menolak, tapi sangat terlhat kalau mereka belum seratus persen menerima Hana.” Andre menghela nafas. “Aku nggak bisa nyalahin papa mama juga sih. Dasar akunya saja yang ceroboh dan membuat semuanya sulit sekarang.”
“Sabar ya…”
“Iya.”
“Next rencana kalian gimana?”
“Terpaksa aku menyetujui permintaan Hana untuk memundurkan hubungan kami, memulai semua dari awal seolah kita baru saling mengenal. Dengan begitu kami berharap restu dari papa mama akan datang pada kami secara perlahan. Dan…” Andre menghela nafas sebagai jeda dalam ujarannya. “Hana sangat ingin Rio bisa menerima keberadaannya. Keinginannya untuk Rio terima lebih dari peneriaan Galih atau orang lain atas dirinya.”
Dika mengernyit. “Rio sepertinya sangat kalem sekarang, jadi susah percaya kalau dia masih belum bisa berdamai dan menerima Hana.”
“Aku lihatnya juga gitu. Buktinya Rio sempat menemui Hana saat di rumah sakit tempo hari. Aku berharap tak lama lagi keduanya akan segera bersatu sebagai saudara.”
“Semoga…”
__ADS_1
Bersambung…