
...*HAPPY READING*...
"Yah Kakak, kok kesini sih. Rista kan pengen main-main di sana."
"Di sini kan sama aja ta, ada pantai ada juga pasirnya, kalau mau rame kita juga udah rame-rame."
Rista kecewa karena harus serba privat lagi. Dia tak suka seperti ini. Ia suka keramaian dan bercampur dengan banyak orang. Menemukan hal-hal baru secara random tanpa sebelumnya ada yang tahu.
Ia bahkan tak trauma karena pernah hilang diajak orang, karena itu tak berlangsung lama, karena ia berhasil ditemukan sang kakak bersama orang suruhan almarhum papanya
Tanpa Rista tahu, itu adalah penculikan terencana yang didalangi lawan bisnis papanya untuk menekan sang papa demi sebuah proyek. Berbeda dengan Dika, ia tahu pasti bagaimana hal itu terjadi dan hukuman apa yabg diterima orang yang hendak membawa Rista.
Jadi Dika memang protektif terhadap adiknya, takut jika hal serupa kembali terulang padanya.
"Ini sih wow. Punya elu ya bro," ucap Andre mamandang kagum bangunan apik di hadapannya.
Dika berbalik menatap Andre.
"Punya orang tua."
"Ta, kita masih bisa happy kok di sini. Emang keberadaan kita berdelapan masih kurang ya."
Rista hanya menatap kesal pada Rina yang baru saja berbicara padanya.
"Kita sedih nih kalau ternyata Rista nggak suka," kata Rina seolah ia sedang sedih.
"Kakaaakkk. Ya udah deh, maafin Rista."
Dika tersenyum bahagia melihat bagaimana Rina punya cara untuk membujuk adiknya.
"Oke, jadi fix ya, hari ini kita happy-happy di sini. Silahkan kalian gunakan fasilitas apa pun yang kalian suka."
Ucapan Dika itu disambut suka cita. Mereka bukan hanya senang karena bisa menggunakan fasilitas mewah di villa Dika, tapi juga karena kebersamaan mereka menikmati hari bersama.
Ya karena hanya Dedi yang berbeda, sedangkan mereka semua berasal dari kalangan berada.
"Sayang, pakai hot pant dan kaos saja ya, jangan pakai bikini apa lagi two piece."
Dika menyusul Rina yang hendak ganti di salah satu kamar.
"Yah, aku adanya celana selutut nih, ini juga rencananya buat pulang."
"Ya udah pake itu aja."
"Tapi atasnya off shoulder loh."
"Never mind. Dari pada tubuh kamu di pandangin sama cowok lain."
Rina mendengus. "Ya kan cowok lain itu ke sini sama ceweknya sayang."
"Tapi kalau kamu ada di sekitar mereka pasti tetep kelihatan Rina."
"Ya terus."
Rina duduk dengan kasar di atas kasur.
"Ya udah pakai tuh bikini."
"Beneran?" Rina mendadak sumringah.
"Iya." Dika merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
"Tapi renang ya di bathtub aja berdua sama aku," lanjut Dika dengan senyum miringnya.
Senyum Rina langsung sirna. Perlahan Dika menarik tangan Rina, merebahkannya, dan memenjarakannya di antara kedua lengannya.
Rina tahu apa yang akan terjadi, dan ia segera memejamkan mata. Ya sudah lah. Temen-temen pasti juga udah tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Dika meraba bibir gadisnya yang mulai memerah.
"Sayang, nikah yuk."
Rina tak menjawab namun justru menarik tengkuk Dika.
"Ehm..."
Spontan Rina melapaskan tangannya dan segera bersembunyi di dada Dika.
Dedi melangkah tanpa dosa menuju sejoli yang tengah bergelung di ranjangnya.
"Nih, kudu lu cek segera." Dedi menyodorkan tablet Dika yang tengah berada di tangannya.
"Bisa nggak sih permisi dulu," ketus Dika sambil menyerobot tabnya.
Dika bergeser dan menjadikan ketiaknya sebagai tempat menyembunyikan wajah Rina.
"Udah. Udah ngetok, udah teriak tapi bunyi kecipak mulut lu berdua lebih kencang."
Rina makin dalam menyembunyikan wajahnya.
"Astaga... Udah ganti nama mulutnya masih sama aja. Bisa pake filter nggak sih."
"Kelamaan kalau pake filter. Adek lu bisa makin uring-uringan. Untung Andre sama Dian bisa ngajakin gabung dia, kalau kagak Rista bakal jadi orang ketiga dalam kemesuman kalian."
"Iyain aja. Kalau kamu oke, aku juga oke."
"Lama-lama perusahaan lu gua embat ya."
Dedi menyerobot tablet itu kemudian membawanya pergi dari sana.
"Sayang," Dika menyingkirkan semua yang menutupi wajah Rina.
"Aku malu..." lirih Rina sambil menutup wajahnya menggunakan tangan.
Namun Dika menahan kedua tangan Rina dan kembali menindihnya.
"Di sini cuma ada kita berdua," bisik Dika dengan lembut. Ia menelusupkan wajahnya diceruk leher Rina.
Ckrek
Rina langsung mendorong tubuh Dika.
"Dedi! Berani lu ya!"
Bukannya gentar Dedi justru menunjukkan hasil jepretannya. Kepada Dika yang duduk di tempatnya.
"Kayaknya seru kalau orang tua kalian tahu."
"Jangan!" serempak Dika dan Rina.
Nikah sih yes tahu kalau kelakuan yang kayak gini sampai diketahui orang tua ya jelas big no.
"Kalian mau turun atau masih mau mesum di sini?"
__ADS_1
"Mumpung gua masih baik nih?" ucap Dedi saat melihat Dika dan Rina diam saja.
Akhirnya Dika bangkit dan segera menghampiri Dedi yang masih berdiri di ambang pintu.
"Cepet turun dan jangan pakai bikini."
Brak
Dika segera menutup pintu kamar dengan kasar dan meninggalkan Rina di sana.
"Lu brengsek banget tahu nggak."
Dedi hanya tertawa menanggapi umpatan sahabatnya. Mereka kemudian berlari menuruni tangga. Mereka beradu cepat sambil melepas dan melempar satu-persatu pakaian yang melekat di tubuhnya.
Byur
Mereka melompat ke dalam kolam dan berlomba sampai ke tepi.
Tiga wanita di kolam itu sontak terpukau kala tubuh bagian atas Dika dan Dedi terekspos. Bagaimana tidak. Dengan usia yang masih belasan, otot mereka sudah terbentuk sedemikian indahnya.
Jika Nita langsung dapat mengontrol muka kagumnya, sedangkan Dian matanya berbinar dan terbuka lebar.
"Sayang, aku juga otw gitu kok," goda Andre yang gemas dengan tingkah kekasihnya.
Andre memang unik.
"Kak ikuuuuttt.....!!"
Rista segera berenang menghampiri kakak dan kekasihnya. Tak lama kemudian mereka bertiga berhenti di tepi yang sama.
Rina datang dan segera ikut nyebur juga. Dika melotot karena Rina tak mengindahkan larangannya. Memang bukan model two piece, bahkan ada aksen rok di bagian pingang, namun tetap saja tanpa lengan dan lekuk tubuh Rina jelas terlihat.
Rina meliukkan tubuh dan mengayun lengannya dalam air. Ia berenang menghampiri Dika.
"Aku ikut ya," ucap Rina dengan senyum manisnya.
"Kan udah aku bilang nggak boleh," ucap Dika dengan tatapan tak suka pada Rina.
"Yang nggak boleh kan two piece sayang, and see... Aku udah kayak teletubbies."
Dika mendengus. Benar juga yang dibilang Rina.
"Oke deh, kita tanding. Yang kalah harus nuruti yang menang. Jadi kamu siap-siap ganti baju kamu," sarkas Dika dengan wajah tak sukanya.
"Yah, ya jelas menang kamu lah."
"Udah tahu gitu kenapa mesti ngelawan."
"Karena belum saatnya aku nurutin semua aturan kamu."
Dika tiba-tiba memeluk Rina.
"Ternyata pelukan dalam air gini asik juga."
"Ih..." Rina berusaha mendorong tubuh Dika saat merasakan sentuhan di tubuhnya.
"Sstt..." Dika masih belum mau melepaskan gadisnya.
Merasa muak dengan polah sahabatnya, Dedi mengajak Rista untuk adu cepat berenang dengan gaya andalan masing-masing.
TBC
__ADS_1