Zona Berondong

Zona Berondong
Jahe


__ADS_3

^^^Sengaja dalam cerita tak ada pandemi, karena author berharap pandemi segera pergi dan hidup kita kondusif lagi. Aamiin^^^


...*HAPPY READING*...


Adegan makan malam kali ini berlangsung dalam diam. Rista yang biasanya meramaikan suasana justru masuk angin dan harus beristirahat di kamarnya. Acara yang disetting Dika dengan properti yang di bawa Dedi terpaksa dibatalkan karena selain karena kondisi Rista, nyatanya ia pun sudah balikan dengan Rina.


"Sayang, di minum ya jahe angetnya." Santi membawa minuman jahe hangat yang dibuatnya untuk Rista yang kini ditemani Dika dan Rina di kamarnya.


Rista menggeleng dan menutup mulutnya. "Nggak suka Ma, pedes."


"Emang nggak enak sayang, tapi lebih nggak enak lagi kalau masuk angin ya nggak sembuh-sembuh kan?"


Akhirnya Rista mengalah dan mencoba membuka mulutnya.


"Hoewk...!"


Rista kembali menutup mulut beserta hidungnya.


"Maa...! Baru nyium aja udah pengen muntah nih. Bawa keluar Ma, please."


Melihat Rista yang merengek dengan mata yang berkaca-kaca membuat Santi tak tega. Ia pun membawa turun minuman yang sudah dibuatnya.


"Nggak jadi dikasih sama Rista?" tanya Rudi yang melihat istrinya kembali dengan gelas yang masih penuh terisi.


Santi yang hendak ke dapur spontan menghentikan langkahnya.


"Dia nggak mau Mas, mau muntah katanya. Mana dari tadi nggak mau makan lagi." Gerutu Santi sambil kembali berjalan ke dapur.


Dedi nampak tak konsen pada permainan caturnya dengan Rudi. Sebenarnya sudah sejak tadi ia ingin menghampiri Rista, namun ia segan karena Dika ada di sana.


Tak lama kemudian Santi kembali dan duduk di samping Rudi. "Rista dulu kayaknya jarang deh masih angin."


"Tante..."


"Ya."


"Waktu itu Rista masuk angin dan karena dia nggak suka jahe akhirnya Dedi buatin teh, madu sama lemon. Tapi karena ini Rista belum makan, gimana kalau Dedi buatin teh madu aja."


"Wah, iya juga ya. Kenapa aku bisa lupa kalau Rista benci banget sama jahe."


Dedi mengangguk. "Terus waktu itu saya juga buatin dia sup ayam."


"Bener banget. Sifat madu secara alamiah dapat mengurangi iritasi sehingga dapat menenangkan peradangan. Madu juga memiliki sifat antibakteri. Rasa manisnya bisa melegakan bagian ujung saraf tenggorokan dan mengurangi batuk," jelas Rudi.


"Eh, kok kamu yang ngurusin Rista, Dika kemana?" tanya Santi disela rasa kagumnya karena Dedi bahkan nampak lebih mengenal Rista dari pada dia.


"Waktu itu, dia lagi olimpiade Tan, jadi saya yang jagain Rista."

__ADS_1


"Ya udah, saya bikinin dulu teh madu sama sup ayamnya. Kayaknya tadi ada ayam deh." Santi segera bangkit dan kembali ke dapur.


"Saya bantu Tante." Dedi ikut berdiri dan menyusul Santi.


Rudi yang ditinggalkan akhirnya bangkit juga, dan menyusul keduanya.


"Kamu mau bantu juga Mas?" tanya Santi saat melihat Rudi menyusulnya.


"Mau lihat istri lagi masak, boleh kan?"


Santi tersipu. Meski begitu tangannya masih sigap menyiapkan segala sesuatu untuk membuat sup ayam. Sementara itu, Dedi tengah memanaskan air untuk membuat teh madu yang akan diberikan untuk Rista.


Tak membutuhkan waktu lama, teh madu buat Dedi sudah jadi.


"Bawa ke atas sekalian ya," pinta Santi saat Dedi selesai megaduknya.


Dedi sejenak diam. Ia masih ragu untuk menemui Rista jika ada Dika.


"Kalau yang buat sup ayamnya Dedi aja boleh nggak Tan?" tanya Dedi karena tak ingin Santi tahu kalau ia tengah menghindari Dika.


"Terus teh madunya?"


"Dedi minta tolong sama Tante gitu maksudnya," ujar Dedi dengan segan.


"Kalau gini jadinya saya yang minta tolong sama kamu Nak."


"Nggak apa-apa Tante. Dedi udah biasa kok..."


"Iya Tante..." kata Dedi meyakinkan.


Santi meletakkan bahan yang baru di cucinya dan segera meraih gelas berisi teh madu yang baru saja Dedi buat.


"Tante minta tolong ya..."


"Siap Tante..."


Santi berjalan meninggalkan Dedi yang akan memasak dan Rudi yang hanya diam memperhatikan.


"Om nggak naik juga?" tanya Dedi sambil mulai mengisi panci dan menyalakan api.


Rudi menghela nafas. "Apa saya boleh bercerita?"


"Boleh Om, asal jangan cerita horor aja," canda Dedi yang diiringi tawa segannya.


Rudi tak menanggapinya membuat Dedi dengan terpaksa menghentikan tawa berganti dengan wajah serius pula.


"Saya sebenarnya masih sungkan untuk terlalu ikut campur dalam kehidupan mereka. Meskipun saya bahagia tapi saya tetap merasa turut andil dalam renganggangnya hubungan mereka?"

__ADS_1


Dedi tak berani berkomentar. Ia lebih memilih diam dan sibuk dengan masakannya. Selain itu Dedi juga tak tahu jika Rista merupakan anak biologis Rudi. Karena meskipun ia dekat dengan Dika, keduanya sama-sama menghargai privasi masing-masing.


"Nak Dedi, bagaimana hubungan kamu dengan Rista?"


Ctak


Klunthang!


"Maaf Om."


Pertanyaan Rudi berhasil membuat Dedi gugup seketika. Ia yang tengah memotong bawang nyaris meleset dan memotong jarinya. Lebih lanjut lagi, pisau yang ia pegang hingga terlepas dan jatuh ke lantai saking gugupnya.


"Kamu kenapa?" tanya Rudi saat menyadari kepanikan Dedi.


"Eng... Nggak apa-apa Om." Dedi nampak mengatur nafas kemudian untuk mengurai kegugupannya.


"Apa ada masalah?"


Dedi diam seribu bahasa. Tak mungkin rasanya aku menceritakan semua sama Om Rudi, aku masih belum siap jika mendapat tentangan mutlak dari keluarga ini dan mengharuskanku tak berhubungan lagi dengan Rista meskipun sekedar sebagai kakak.


Rudi rasa pemuda ini sedang tak siap membahas ini dengannya. Akhirnya ia memutuskan untuk mulai menceritakan tentang dirinya.


"Jujur, saya sangat menyayangi mereka meskipun mereka mungkin belum benar-benar menerima saya. Saya juga enggan punya anak dalam pernikahan saya karena mengkhawatirkan perasaan mereka, meskipun cara ini tak dibenarkan oleh agama." Rudi memijat pangkal hidungnya.


"Om, bagaimana caranya menyayangi tanpa mengharap balasan atas kasih sayang seperti yang Om lakukan?"


Rudi tersenyum. "Kasih sayang kepada manusia ini adalah perwujudan taatku pada Allah, Tuhan satu-satunya yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."


Dedi diam. Tangannya sibuk bergerak memasukkan satu demi satu bahan kedalam panci yang airnya mulai mendidih. Meskipun demikian, jelas sekali kalau ia sedang menghayati setiap kata yang baru saja meluncur dari mulut Rudi.


"Ded, apa kamu tahu pekerjaan macam apa yang saya lakukan saat ini?"


Dedi berjalan menuju kursi yang tak jauh dari Rudi setelah menutup rapat masakannya dan mengecilkan apinya. "Om dokter kan?"


"Iya. Dan tahukah kamu pekerjaan seperti apa itu?"


"Menyembuhkan orang sakit Om."


Rudi menggeleng. "Yang dapat menyembuhkan orang sakit itu hanya Allah, dan kami para dokter hanya segelintir orang yang tahu bagaimana cara sembuh dari sakit. Karena sejatinya penyakit itu datangnya dari Allah, dan obatnya pun dari Allah."


"Di awal karir saya, saya sempat depresi karena pernah salah diagnosa. Dan jika tak segera ketahuan, maka nyawa pasien yang jadi taruhannya."


"Saya sempat ingin berhenti menjadi dokter sebelum saya berhasil membantu kelahiran Restu dan membantu Santi bertahan hidup dengan darah saya."


Dedi nampak terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya, karena sungguh ia tak tahu masalah internal dalam keluarga ini yang membuat Dika dulu sangat membenci Rudi dan kini tiba-tiba dapat menerima Rudi begitu saja.


"Saat bersinggungan dengan orang sakit, sebenarnya bukan hanya pasien yang dilema, tapi dokter juga. Jika Allah sudah menghendaki kesembuhan, maka pengobatan akan lancar dan pasien akan sembuh dengan mudah. Namun jika sebaliknya, maka obat sebaik apapun, treatment sebagus apa pun, seakan tak ada guna. Dan nyawa akan meninggalkan jasad dengan mudahnya dan kembali ke pangkuan Sang Pencipta."

__ADS_1


Dedi terdiam.


TBC


__ADS_2