
HAPPY READING
Kreyt!
Mendengar suara pintu terbuka membuat Rina dan bibi serempak menoleh ke arahnya. Melihat sipa yang baru masuk ke ruangan itu, spontan bibi langsung berdiri seketika.
“Bagaimana kondisi Hana?” tanya Andre pada bibi dan Rina yang sedang menemani wanitanya.
“Belum sadar Ndre,” jawab Rina. “Oh itu, tadi dokter Halima pesan kalau kamu sudah menyelesaikan urusanmu diminta segera menemui beliau di ruangannya,” lanjut Rina lagi.
Andre mengangguk paham. Namun sebelum meninggalkan ruangan rawat ini, ia terlabih dahulu menghampiri Hana yang masih belum sadar juga. Ia merapikan rambut Hana kemudian meraih sebelah tangannya.
“Kamu kuat ya, cepat sadar. Aku janji akan memperjuangkan yang terbaik untuk kalian,” lirih Andre di dekat Hana. Ia sempat mencium tangan Hana sebelum akhirnya kembali menegakkan tubuhnya.
Saat Andre hendak melepas tangan Hana tiba-tiba ia merasa jemari lentik yang hendak ia lepas ini bergerak. “Hana, kamu sadar sayang. Hana…”
Andre memanggil-manggil Hana berharap agar kesadarannya segera kembali setelah mendengar suaranya.
“Hana kenapa?” tanya Rina yang langsung bangkit dan berdiri di samping Andre.
“Hana…” Andre masih berusaha memanggil Hana. Ia tak menghiraukan Rina yang kini sudah berdiri di sampingnya.
Dan akhirnya perlahan mata Hana terbuka.
“Biar aku panggil dokter…” ujar Rina saat itu juga.
“Aku aja…” cegah Dika. Ia tak ingin istrinya kelelahan karena harus berjalan mencari dokter Halima yang diminta khusus oleh Dika untuk menangani Hana juga.
Akhirnya Rina duduk lagi menunggu suaminya yang sedang memanggil dokter Halima.
“Ndre, anakku nggak kenapa-napa kan?” lirih Hana yang membuka mata saja masih enggan.
“Anak kita masih berjuang. Kamu yang sabar ya…”
Hanya kedipan mata yang menjadi jawaban Hana, karena sungguh ia sebenarnya begitu lelah sekarang. Kreyt!
Pintu terbuka menampakkan Dika yang datang bersama dokter Halima di belakangnya. Melihat siapa yang datang Andre kemudian menegakkan tubuhnya. Ia mundur untuk memberi ruang pada dokter ini untuk memeriksa kondisi Hana dan anak yang dikandungnya.
Setalah berada di dekat Hana, Dokter Halima nampak menyapa Hana dan melakukan komunikasi singkat untuk mengecek tingkat kesadarannya. Kemudian ia nampak memegang bagian perut Hana dan terlihat memberi tekanan lebih di beberapa sisi.
“Apa masih sakit?” tanya dokter Halima pada Hana.
“Iya…” tak ada suara yang berhasil keluar dari mulut Hana, namun dari gerakan bibirnya semua pasti sudah tahu maksudnya.
“Untuk sementara istirahat dulu ya, jangan terlalu banyak bergerak,” ucap dokter Halima di sertai senyum di akhir kalimatnya.
Dokter Halima kemudian memutar tubuhnya untuk menatap Andre karena pria ini lah yang bertanggung jawab atas pasiennya.
“Bapak bisa ikut saya,” pinta dokter Halima.
__ADS_1
“Bisa Dok…”
“Saya permisi dulu…” pamit dokter Halima pada semua orang yang ada di sana.
“Terimakasih Dokter,” ujar Rina yang dibalas oleh senyum dan anggukan dari dokter Halima.
Dokter Halima pun keluar untuk kembali ke ruangannya. Sementara Andre kembali menghampiri Hana. Begitu tiba di samping wanitanya, ia merendahkan badan untuk mensejajarkan wajah keduanya.
“Aku ke dokter Halima ya,” pamit Andre tepat di depan wajah Hana.
“Ndre…”
“Apa?” tanya Andre yang urung menegakkan tubuhnya.
“Apa pun yang dokter bilang tolong utamakan keselamatan anak kita…” pintanya.
Meski lirih sekali tapi ucapan Hana ini masih dapat didengar dengan jelas oleh Andre.
“Maksud kamu?”
Hana menelan ludah. “Aku takut kamu disuruh memilih aku atau anak kita…” lanjutnya lagi.
Sudah tegang, Andre mendadak kesal akhirnya. “Kamu dapat teori dari mana sih Han?”
“Ya biasanya…” Hana terlihat ragu dengan kalimat melanjutnya.
“Biasanya apa?” tanya Andre yang penasaran dengan kalimat lanjutan yang akan Hana ucapkan.
Andre menegakkan tubuhnya sejenak, membuang pandangannya ke langit-langit, kemudian merendahkan tubuhnya lagi agar wajahnya sejajar dengan Hana.
“Kamu kebanyakan baca novel sama nonton drama sih.”
Andre yang tadi terlihat kalut kini mulai terbit senyum di wajahnya. Dika yang menganggap ini kejadian langka segera menyenggol istrinya untuk untuk menunjukkan betapa tak biasa Andre saat ini. Dan tanpa diduga, ternyata sejak tadi Rina pun sudah menatap sejoli ini.
“In fact, nggak ada pilihan semacam itu. Adanya tuh ya yang menentukan selamat atau tidaknya ibu dan janin itu ya kondisi masing-masing. Kalau baik ya selamat, kalau nggak baik ya…,” jelas Andre panjang lebar. Ia sengaja tak melanjutkan ucapannya karena tak ingin itu menjadi doa untuk nasib anaknya yang tengah dikandung Hana.
“Masa iya?” tanya Hana dengan wajah polosnya.
“Iya.” Andre memegang kepala Hana dan menciumnya. “Aku ke dokter Halima dulu.”
Kembali Hana mengangguk sebelum Andre bangkit meninggalkannya.
“Aku nitip bentar ya.” Andre berhenti sejenak di dekat Dika dan Rina. Dan setelah mendapat hadiah jempol dari bosnya, barulah ia berjalan keluar untuk menuju ruang dokter yang menangani wanitanya.
Setelah kepergian Andre, keempat orang di ruangan itu masih terjaga dalam diam. Rina yang sejak tadi sudah tak tahan untuk bersuara tiba-tiba berkacak pinggang dan menghampiri Hana.
“Hai…” sapa Hana begitu Rina berdri di dekatnya.
“Eh, itu beneran Andre?”
__ADS_1
Hana hanya menatap Rina dengan wajah datar dan mata berkedip sesekali. Maksud Rina apa sih? Ya jelas itu Andre. Bukankah katanya mereka berteman sejak SMA? Batin Hana.
“Hey…” Rina berbalik dan menghampiri suaminya. “Jangan-jangan Andre punya kembaran?” tanya setelah menarik lengan Dika agar suaminya itu sedikit merendahkan tubuh untuknya.
“Ngawur kamu. Andre kan anak tunggal,” jawab Dika mengingatkan. Dika menegakkan tubuhnya lagi, karena membungkuk seperti ini bukan posisi favoritnya.
Rina menengadah. Bukan untuk menatap langit-langit tapi menatap suami berondongnya yang berdiri menjulang tinggi di sampingnya.
“Atau Andre punya kloningan,” tebak wanita mungil ini lagi.
“Tck, sshhhhtt….” Dika meletakkan telunjuknya tepat di depat bibir Rina.
“Igghh…” Rina menyingkirkan tangan Dika dan kembali menghampiri Hana.
Ddrrkkkk!!!
Rina menarik sebuah kursi untuknya duduk di sana.
“Eh, Andre biasa gitu ya sama kamu?” tanya Rina penasaran.
Hana menggeleng.
“Lah kok enggak.”
Rina menoleh lagi ke arah suaminya. “Tuh denger. Hana aja ngerasa Andre beda dari biasanya. Jangan-jangan itu bukan Andre lagi.”
Dika berjalan menghampiri kedua wanita hamil ini. Karena enggan menarik kursi, ia merendahkan tubuhnya untuk mensejajarkan wajah dengan istri mungilnya yang tengah duduk. “Terus kamu maunya apa?”
“Maunya yaaaa….”
“Pulang aja yuk,” potong Dika yang tak ingin melihat istrinya makin ngelantur kesana-kemari dan menggganggu Hana yang butuh banyak istirahat.
“Nggak mau.”
“Kamu juga harus istirahat sayang,” bujuk Dika.
“Aku juga nggak lagi ngapa-ngapain ini,” bela Rina.
“Tapi kamu nggak boleh kecapekan, kata dokter Halima kan gitu tadi,” ujar Dika mengingatkan.
“Yang bikin capek kan kamu,” ketus Rina.
Dika menghela nafas. “Iya deh iya,” pasrahnya karena Rina sampai di tempat ini karena ia yang tak bisa menahan diri.
Dari posisinya yang masih berbaring, Hana tersenyum melihat interaksi pasutri ini. Senang ya kalau sudah sah, bisa mengungkap kasih sayang tanpa khawatir dinyinyir orang. Seandainya aku dan Andre bisa.
“Ssshhh…” Hana mendesis karena merasakan nyeri di perutnya.
Tuhan, meskipun dia tak punya kepastian nasib, tapi aku benar-benar ingin dia bertahan.
__ADS_1
Bersambung…