
HAPPY READING
“Ndreee…”
“Apa Hana...”
“Bajunya ada nggak sih yang samaan kayak tadi.”
“Bukannya biasanya cewek itu nggak mau punya lebih dari satu baju yang modelnya sama ya?”
“Ya mungkin emang gitu, tapi untuk kali ini enggak." Hana meletakkan baju-baju yang disiapkan atas requesnya, namun tak satu pun yang modelnya mirip dengan yang ia gunakan tadi.
"Mereka nanti mikirnya gimana kalau aku balik bajunya beda dengan yang aku kenakan saat berangkat dengan kamu tadi...”
“Ya kenapa harus mikirin mereka sih. Toh yang beliin kamu itu aku bukan mereka.”
“Ya justru karena itu, makanya aku takut aku disangka simpanan kamu. Dan digunjing itu rasanya nggak nyaman Ndre.”
“Mereka akan bungkam Han kalau tahu kita yang sebenarnya. Lagian kamu juga sih. Kenapa nggak jujur saja kalau kamu itu pacar aku.”
“Aku malu Ndre. Mereka pasti akan menyudutkanku, karena aku beda kasta dari kamu.”
“Emang aku kasta apa terus kamu apa?” Hana dalam mode tak bisa diduakan sekarang, sehingga Andre menyimpan kembali ponsel yang semula ia gunakan untuk bekerja.
“Kita itu hidup di Indonesia Han, bukan di India yang di sana memang ada kasta Dalit yang disentuh saja tak boleh,” lanjut Andre saat Hana tak bisa menjawabnya.
“Udah lah Han, kalau memang ada orang lain yang kamu pertimbangkan saat memilih jalan hidup, cukupkan pada orang-orang terdekat saja, dan aku pun sama. Jangan semua yang kenal denganmu kamu terlalu memikirkan pendapatnya. Nggak akan selesai kalau gitu caranya."
Hana terdiam. sepertinya perbedaharaan katanya sangat kurang untuk menghadapi Andre hari ini. Terbukti dengan berulang kali ia terdiam karena tak sanggup menimpali ucapan yang Andre keluarkan.
"Kalau kamu merasa orang-orang yang seharusnya dekat denganmu masih berada di kejauhan, maka dekati. Aku pikir Rio bisa menjadi orang pertama, sebelum masuk lebih jauh ke dalam keluarga Rahardja,” jelas Andre yang sangat paham dengan isi kepala Hana. Hana yang selama ini menjalani kerasnya hidup seorang diri tentulah sangat mendambakan sosok pelindung yang bisa membuatnya aman serta rumah untuk tempatnya pulang. Jadi tak heran jika Hana sangat mengidolakan Rio sebagai sosok kakak yang ia dambakan.
“Tapi caranya gimana?” Hana sepertinya mulai mempertimbangkan apa yang baru saja Andre katakan.
“Sudah ada Indah yang percaya padamu Hana. Dan tante Mustika aku kira juga tak akan sekeras Rio dalam bersikap terhadapmu.”
“Tapi…”
Andre meraih tangan Hana dan menggenggamnya. “Aku akan selalu di sampingmu…”
Hana menghambur ke pelukan Andre dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria tampan ini. Andre tersenyum lega. Setelah sekian waktu berpisah, baru kali ini Hana akhirnya mau kembali memeluknya. Memang ini bukan kali pertama ia dan Hana saling memeluk dan mendekap setelah pertemuan keduanya, namun ini adalah kali pertama Hana berinisiatif untuk memeluk Andre terlebih dahulu.
Andre mengusap dengan lembut rambut panjang Hana. Saking bahagianya, ia mulai memejamkan mata dan kepalanya turun perlahan.
Dagk!!
“Akh…”
Refleks Andre menyentuh bibirnya setelah sebuah benda keras menabraknya.
__ADS_1
“Kamu tadi ngapain…?” tanya Hana sambil mengusap-usap kepalanya.
“Kamu tu yang ngapain? Jadi batal romantis kan,” kasal Andre.
Hana tak sepenuhnya bertanya, karena ia paham apa yang baru terjadi sebenarnya. Hanya saja ia yang sekarang jadi gampang panik suka berbicara asal untuk menutupi kepanikannya.
“Coba lihat…” Hana mengangkup wajah Andre dan mengusap setitik darah yang keluar di bibir Andre akibat berbenturan dengan kepalanya. Saat Andre hendak mencium kepala Hana, ia tanpa sengaja mengangkat kepalanya, sehingga terjadilah
kejadian yang tidak diinginkan setelahnya.
“Maaf ya…” ujar Hana sambil mengusap bibir Andre dengan ibu jarinya.
“Beneran mau minta maaf?”
Hana mengangguk dan menatap Andre sungguh-sungguh.
“Ya udah sini…”
“Apanya?” Tanya Hana tak mengerti.
“Bibirnya,” lirih Andre.
“Bibir siapa?” tanya Hana dengan suara sama lirihnya.
“Bibir kamu lah, masa iya bibir mbak-mbak yang lagi mandangin kita…”
Hana langsung menjauhkan tubuh keduanya. Ia baru sadar jika kini mereka sedang di sebuah butik. Meskipun tak seramai di mall atau semacamnya, tapi tetap saja ada banyak orang di sana yang kini tengah memperhatikan interaksi keduanya.
“Kenapa kamu…” Andre tertawa geli sambil berusaha menyingkirkan tangan Hana yang menutupi wajah ayunya.
“Malu Andre. Kenapa kamu nggak bilang sih kalau banyak yang ngelihatin kita dari tadi…”
“Kenapa harus bilang, orang mereka punya mata. Dan menggunakan mata masing-masing adalah hak mereka, bukan urusan kita.”
“Ya tapi kan…”
“Han, kalau kamu nggak cepetan milih bajunya, mereka akan lebih lama ngeliatin kita,” potong Andre sebelum Hana mengomel lebih panjang.
Akhirnya Hana mencomot asal beberapa baju yang sudah disiapkan untuknya. Andre menyerahkan credit cardnya untuk membayar baju yang Hana pilih. “Nggak mau nambah?” tanyanya pada Hana.
“Itu aja,” jawab Hana singkat. Ia masih berusaha menyembunyikan wajahnya, bak penguntit yang hampir ketahuan oleh masa.
Tak perlu menunggu lama, sebuah paperbag sudah di serahkan pada Andre bersama credit cardnya oleh seorang wanita. “Makasih Mbak…” ujar Andre pada wanita itu.
Pramuniaga cantik itu tersenyum sembari menundukkan kepala. Hana tahu para wanita itu sedang mencoba terlihat manis di depan Andre terlebih setelah tahu Andre memiliki black card yang tak semua orang bisa memilikinya.
“Ini…”
Hana tersadar dari lamunannya saat Andre menyerahkan paperbag yang berisi pakaian yang baru Andre belikan untuknya.
__ADS_1
“Mau dipakai di sini sekalian apa nanti di mobil?” Tanya Andre setelah Hana menerima ulurannya.
“Di mob…” Hana mendadak menelan ludah setelah sadar ia salah ucap. “Di sini saja…” lanjutnya sembari berjalan menuju kamar pas. Namun baru beberapa langkah berjalan, ia teringat sesuatu dan kembali ke belakang.
“Temani aku,” ujar Hana sambil menarik pergelangan tangan Andre.
Andre cukup terkejut dengan kelakuan Hana ini. Meski begitu ia menerimanya dengan senang hati kelakuan Hana yang satu ini.
“Tunggu di sini, jangan kemana-mana.” Hana segera menghilang dibalik tirai untuk mengganti pakaiannya yang rusak dengan yang baru.
“Han, aku masuk ya…”
“Jangan. Di situ saja.”
“Tapi ada…” Andre sengaja menjeda ucapannya untuk melihat reaksi Hana.
Ssrrkkk!!!
Dan benar saja, sesaat kemudian Hana langsung menyembulkan kepalanya dari balik tirai.
“Ada siapa?” Tanya Hana sambil memperhatikan sekitar.
“Tadi ada yang katanya mau menemani, tapi sepertinya mereka tak ingin mencari masalah dengan kamu…”
Hana mendengus.
Ssrrkkk!!!
Hana menarik tirai dengan kasar dan melanjutkan
kegiatannya mengganti baju.
Andre tertawa kecil sambil kembali menyalakan rokoknya. Merokok di ruangan berAC bukan suatu tindakan yang bijak, tapi siapa di sini yang berani melarang dia. Seorang pemilik black card akan disegani meskipun identitasnya belum diketahui.
Sementara itu di toko Risma, Eka dan Anin sedang menunggu kepulangan Hana dengan banyak tanya di masing-masng kepala mereka.
“Hana kok belum balik juga sih, sudah hampir jam 2 loh ini,” ujar Anin pada kedua rekannya.
“Berdoa saja semoga Hana tebal telinganya mendengar omelan mbak Haning nanti…” timpal Eka.
Saat ini toko memang cukup sepi. Hanya ada satu pelanggan di toko yang tengah Haning layani. Haning sangat rajin saat ini karena Nuke sudah kembali ke toko. Ia meminta Eka dan Risma untuk mengurus pernjualan online, sementara ia yang melayani pembeli yang datang langsung. Selain dua orang itu, sekarang Anin juga nampak bersiap untuk siaran langsung yang dari sini produk juga banyak terjual.
“Ris, jangan-jangan Hana dibawa kabur lagi sama itu laki-laki itu,” ujar Eka setelah selesai packing sebuah pesanan.
Risma tak tahu harus menjawab apa. Sebagai reaksinya, Risma hanya menghela sebuah nafas panjang. Pikiran buruk tentang Hana dengan mudahnya masuk ke dalam pikirannya, namun bayang-bayang kebaikan Hana selalu berhasil memukul mundur semua tuduhan yang datang pada wanita cantik ini.
Tapi ceritanya jadi berbeda jika sedang bersama orang lain seperti ini. Risma merasa capek terus ditanyai, sehingga pertanyaan ia sendiri belum tahu jawabannya pun jadi gatal ingin ia ungkapkan. Muai dari Hana yang punya jam tangan seharga ratusan juta, serta kemunculan Hana di toko ini bersama Andre setelah semalam tidak pulang ke kosnya.
Tapi pantaskah Risma mengungkap hal itu setelah apa yang dilakukan Hana padanya? Itulah yang membuat ia dilema.
__ADS_1
Bersambung…