Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Tak Sengaja Bertemu


__ADS_3

Dan beneran Dedi nih yang muncul.


Yok, yok, yok, mana lagi hadiahnya, wkwkwkw


HAPPY READING


Ketiga pasang mata itu serempak menatap sesosok jangkung yang langsung membuka pintu tanpa menunggu dipersilahkan oleh sang pemilik ruangan. Tiga reaksi berbeda tampak dari tiga wajah orang yang berada di dalam ruangan.


Pria ini hanya fokus pada sahabat yang ingin ditemuinya dan mengacuhkan keberadaan wanita yang masuk begitu saja dalam frame penglihatannya. Sehingga ia segera masuk dan menutup pintu.  Saat ia sedang membenahi kacamata yang bertengger manis di hidung mancungnya, ia baru sadar jika ada wanita cantik yang menjadi objek kerinduannya selama ini sedang berdiri tak jauh darinya. Sehingga keterkejutan tak dapat dielaknya.


Sekian detik keempat manusia ini hanya terdiam. Hanya deru nafas yang menjadi backsound tunggal di sana.


“Rista pamit…”


“Jangan.” Dedi menahan tangan Rista yang hendak berlalu melewatinya. “Aku saja…”


Rista menghempaskan tangan Dedi yang sempat mencekalnya. “Nggak usah repot-repot…” Wanita cantik ini meneruskan langkahnya melewati pria yang sangat ia rindukan dan ia benci dalam waktu yang sama ini.


“Sayang, itu…”


Dugh!


“Akh!!”


“Rina…”


Drrrkkk!!!


Dika melompat seketika kala melihat Rina meringis karena perutnya menabrak tepian meja. Semula ia ingin mengejar Rista namun karena kurang hati-hati ia justru seperti ini.


Rista yang hendak kabur langsung berhenti seketika saat mendengar pekikan sang kakak. Dedi yang semula hendak mengejar Rista pun turut merubah haluannya. Ia berhenti di depan pintu melihat Rina yang sudah dipegangi Dika.


“Ya ampun sayang…” Dika mengangkat tubuh istrinya dan berjalan ke arah sofa. Setelah tubuh istrinya terbaring dengan nyaman, Dika masih bertahan dalam posisinya


“Rista mana…” tanya Rina.


“Kenapa malah nanyain Rista, kamu sendiri gimana keadaannya?” Dika balik bertanya tanpa bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


“Nggak apa-apa sayang. Cuma kebentur sedikit doang…”


Dika bangkit dan menyugar rambutnya. “Dikit doang gimana sih? Sudah berapa kali kamu dalam kondisi seperti ini.”


“Sekarang Rista mana…?” Rina sepertinya sangat mengkhawatirkan adik iparnya ini.


“Sayang, udah lah. Dia sudah gede. Nggak mungkin ilang kalau pergi.”


“Lagian tadi kenapa juga bisa tiba-tiba ada Dedi?” tanya Rina saat merasa kini mereka tinggal berdua.


“Aku memang ada janji sama dia. Aku sudah mumet ngerjain ini sendiri, sedangkan Andre sedang menghandle banyak proyek berjalan juga sekarang." Jelas Dika. "Lha terus kenapa juga ada Rista tiba-tiba?” ia balik bertanya pada istrinya.


“Kan aku tadi sudah bilang kalau pengen jadiin dia brand ambassador. Aku pengen bahas itu sih sekarang…”


Pasutri ini saling menatap dan serempak mendesah setelah kontaknya terputuskan.


Saking complicatednya pikiran pasutri ini, mereka hingga tak sadar jika pintu ruangannya masih terbuka. Di luar pintu itu masih ada seorang pria dan wanita yang diam dengan pikiran yang sama-sama sibuknya.

__ADS_1


“Kamu masuk, aku yang pergi…” putus Dedi.


“Tapi Kak Restu sedang butuh kamu Kak,” ujar Rista kemudian.


“Jangan sampai Rina stress gara-gara khawatir kamu pergi,” timpal Dedi lagi.


Keduanya kembali diam.


“Kak…” lirih Rista.


“Iya…” Dedi mengepalkan dengan erat jemarinya. Sungguh, ia ingin memeluk erat wanita ini.


“Kita masuk sama-sama ya…” pinta Rista.


“Kamu nggak keberatan?” tanya Dedi memastikan.


Agak ragu, namun Rista menggelengkan kepala kemudian.


“Kamu masuk saja duluan aku masih mau nyari sesuatu.”


Dedi berbalik tanpa menunggu Rista berkata. Wanita ini hanya mampu menatap punggung Dedi yang bergerak menjauh darinya. Apa kamu keberatan berada di tempat yang sama denganku? Apa aku sudah tidak membawa arti lagi untukmu?


Dengan kecewa yang memenuh hatinya, Rista memutuskan untuk berjalan masuk untuk menemui kakak dan kakak iparnya.


Sebenarnya Dedi tak benar-benar pergi. Ia berbelok ke ruangan Andre dan menenangkan diri di sana. Tentunya ia sudah terlebih dahulu meminta ijin pada sang pemilik ruangan sebelum memutuskan untuk masuk ke sana. Setelah pikirannya tenang, ia ingin membantu pekerjaan sahabatnya dari sana.


“Rista, aku merindukanmu…” gumam Dedi sambil menyentuh dada.


***


Sebenarnya ia tak akan seposesif ini jika Hana tampil seperti biasanya. Tapi gara-gara tindakannya, Hana justru jadi tampil mempesona seperti ini.


“Sayang, makan malam dulu ya…” ujar Andre pada Hana dari balik kemudi.


Hana menggeleng. “Aku mau pulang,” ketusnya karena Andre semakin asal memanggilnya.


“Tapi kamu hampir tak menyentuh makanan siang tadi,” ujar Andre mengingatkan. Bahkan ia tururt andil dalam mengganggu acara makan Hana.


“Andreeee….!!!” Hana tak mampu lagi menahan kekesalannya.


“Apa sayang…”


"Shhhh...." Hana benar-benar ingin memukul Andre sekarang. Namun masih berusaha menahan dengan wajah merengut meski Andre menatapnya dengan mesra seperti ini.


Hana coba menginsyaratkan pada Andre jika sekarang sedang ada Risma yang berada di jok belakang. Ia menunjuk temannya ini menggunakan ekor matanya.


“Kenapa? Ya kalau pun kamu mau menyembunyikan semua tentang kita, tapi pengecualian dong buat Risma.”


Hana hanya mendengus mendengar Andre berbicara seperti ini. Ia ingin memperingati Andre agar tak terus bicara sembarangan, namun yang ada Andre sepertinya berniat untuk membukanya. Sementara Risma yang berada di jok belakang sama sekali tak berani bersuara sejak tadi.


“Gini Risma, saya mohon maaf sebelumnya karena kamu pasti bingung saat melihat kami.”


Andre menghela nafas sehingga ucapannya pun turut


terjeda.

__ADS_1


“Sebenarnya kami bukan teman biasa, tapi kami sedang berada dalam hubungan yang membingungkan. Jadi kamu jangan ikut-ikutan bingung lagi ya…” ujar Andre dengan kedua sudut tertarik lebar diakhir ujarannya.


“Iya…” jawab Risma dengan suara rendah karena ia tahu Andre sedang berbicara padanya. “Jadi sebenarnya kalian itu...” Risma sengaja menganggntung ucapannya untuk melihat bagaimana pasangan ini menanggapinya.


“Kita…” Hana tak jadi bicara saat Andre tiba-tiba menggenggam tangannya. Andre kemudian mengangkat tangan Hana yang sudah ia genggam agar Risma dapat melihatnya.


“Saya sangat mencintai dia, dan saya sedang berusaha untuk bisa hidup dengan dia…” ujar Andre sebelum mencium tangan Hana.


Hana sekarang hanya mampu bernafas dan berkedip. Jika saja system kerja jantungnya tidak otomatis, mungkin sekarang pun detaknya berhenti karena Hana lupa cara mengoperasikannya. Ia benar-benar tak siap mendengar Andre berucap demikian padanya. Perlahan Hana memutar kepalanya dan seketika bertemu pandang dengan Andre yang kala itu menatapnya


“Andre…” lirih Hana dengan susah payah.


“Hana, aku harap kamu nggak akan pergi lagi. Kita hadapi semua bersama-sama. Jika kamu maunya semua beres dulu, maka akan aku kabulkan, dan aku akan dengan sabar menunggu semuanya teratasi terlebih dahulu.”


Meski Andre tetap fokus menatap jalan, namun Hana bisa merasakan kesungguhan yang diberikan. Tak terasa air mata Hana menetes begitu saja. Ia sangat terharu dan tak menyangka bahwa Andre begitu mencintainya. Tapi setelah serangkaian peristiwa yang mereka lalui bersama, ia sekarang yakin jika cinta itu memang ada diantara keduanya.


“Dan Risma, tolong bantu aku menjaga Hana sebelum aku bisa membawanya pulang ya…” ujaran Andre ini akhirnya bisa membuat Hana kembali pada kenyataan, setelah sempat beberapa saat melayang dan melupakan keberadaan Risma diantara keduanya.


“Kita cari makan ya sekarang. Kamu mau makan apa?” tanya Andre setelah beberapa saat mereka diam.


“Emm, apa ya… Risma pengen sesuatu barang kali?” Hana coba berbicara pada rekannya ini.


“Aku ngikut saja deh,” jawab Risma dari jok belakang.


“Kita ke tempat Dian aja gimana?” usul Andre.


“Jauh kan dari sini,” ujar Hana menimpali.


“Masih di satu kota Hana… Eh kamu sudah tahu belum kalau sekarang Dian sudah menikah?”


“Menikah? Kapan?” kaget Hana.


“Saat mereka di Beijing…”


“Beijing?” ulang Hana yang rasat akan keterkejutan.


“Kenapa? Kaget ya...” terka Andre.


“Kaget,” jawab Hana mengalir saja.


“Untung kamu waktu itu nggak mau diajak Ken ke Beijing, kalau mau bisa runyam urusan.”


Spontan Hana menatap Andre dengan mata membulat. Lagi-lagi Andre berhasil mengejutkannya. “Kamu tahu…?” tanyanya hati-hati.


“Tahu lah… Gimana? Mau ke sana?” Ucap Andre dengan santai.


Hana meraih lengan Andre tiba-tiba. “Apa nggak apa-apa?”


“Nggak apa-apa…” jawab Andre dengan nada rendah dan memegang tangan Hana sekilas.


Dari belakang setitik cahaya terang Risma dapatkan tentang siapa jati diri Hana. Kecurigaannya selama ini memang terbukti. Hana memang terlalu cantik untuk jadi orang miskin atau gelandangan, dan benar saja, pacarnya tajir melintir seperti ini. Namun sayang, tanda tanya besar muncul lagi sekarang, tentang kerumitan yang sedang dua sejoli ini bicarakan.


Sib nasib. Roman-romannya aku akan sering jadi obat nyamuk setelah ini. Batin Risma yang punggungnya sudah bersandar karena lemas.


Bersambung… 

__ADS_1


__ADS_2