Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Galak


__ADS_3

HAPPY READING


“Kenapa kamu?”


Andre sengaja menggoda Hana. Wanita cantik ini terus menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan sejak adegan suap-suapan tadi Andre mainkan. Bagaimana tidak, karena saat Hana menolak suapan Andre, laki-laki tampan ini justru mencium Hana tanpa aba-aba di depan banyak mata. Untuk itu ia pasrah saat Andre ingin menyuapinya.


Dan saat Andre sudah puas menyuapi Hana, ia merasa belum cukup melakukan aksinya. Hana mengira ia malu mengakui hubungan keduanya, tapi sejujurnya Andre bahkan bersedia mengaku pada dunia bahwa ia memiliki cinta yang sangat besar terhadap Hana.


Tanpa persiapan dan tanpa skenario yang matang, Andre kembali beradegan. Ia kembali mencium Hana dengan sangat mesra. Hal ini tentu memicu sorak sorai semua yang ada di sana.


Ditengah sorak-sorai para staf Surya Group yang sedang makan siang kala ini, Andre mengumumkan bahwa wanita cantik yang bersamanya adalah kekasih yang akan ia nikahi. Hal ini tentu memicu kegaduhan beberapa saat lamanya. Antara mereka yang turut bahagia atas hubungan Andre, dan para staf wanita yang patah tahi setelah diam-diam mengidolakan Andre yang tampan dan mapan sudah dimiliki.


Melihat tingkah kekasihnya, Hana hanya dapat tertunduk malu sambil membayangkan jika suatu saat kedoknya akan terbuka. Apa mungkin ia akan dilempari telur busuk saat para wanita yang baru saja Andre buat patah hati tahu dia adalah mantan musuh perusahaan yang pernah menjadi dalang beberapa tindakan criminal di sana beberapa waktu lalu.


"Karena saya sangat bahagia, semua yang makan di sini saya traktir hari ini..." Yang satu ini adalah momen yang paling membahagiakan setelah tragedi banyaknya hati yang terpatahkan.


Hal ini tentu di sambut bahagia oleh semuanya, sehingga ucapan selamat dan doa mengalir deras untuk keduanya. Hana yakin besok hal ini akan menjadi trendik topic di kantor ini.


Sementara itu di salah satu sudut kantin, ada yang tengah berusaha duduk tegak karena harapan yang belum berhasil ia kubur nampaknya kian tajam menusuk hatinya. Ia yang masih setengah rela Andre dimiliki Hana harus dibuat ngilu dengan adegan romantic yang tersaji di hadapannya. Ia hanya bisa berandai-andai jika saja ia yang berada di posisi Hana, pasti ia akan menjadi wanita paling bahagia di dunia.


“Makanan kamu udah dingin tuh,” ujar Riza mengingatkan Elis yang tengah makan siang bersamanya.


Sementara itu, Rahma tampak menyeka air mata meski mulutnya nampak mengunyah makanan yang tadi ia suapkan ke dalamnya.


“Kok kamu yang nangis?” heran Elis saat menyadari keadaan Rahma di sampingnya.


“Aku, hiks, aku nggak, tega, hiks. Aku nggak tega sama kamu, hiks hiks hiks…” ujar Rahma terbata karena selain ia menangis, mulutnya juga masih sibuk mengunyah.


Elis sebenarnya sedih, tapi melihat Rahma yang nampak lebih mengenaskan darinya justru membuat ia jadi menahan tawa. Tak hanya sampai di situ, ia bahkan kini sibuk menepuk-nepuk punggung rekan kerjanya yang bergetar sejak tadi.


“Udah, udah. Malu kalau sampai ada yang lihat. Nanti dikiranya kamu patah hati,” ujar Elis menenangkan.


“Aku nggak patah hati, hiks hiks. Kan hiks, kan yang patah hati kamu...” elak Rahma di tengah tangisnya.


“Tapi kalau ada yang lihat kamu dikira patah hati ngelihat pak Andre sama Hana…” ujar Elis untuk menenangkan Rahma

__ADS_1


Rahma cepat-cepat menyeka air matanya. “Nggak mungkin lah. Aku sukanya kan sama dokter Dedi…” ujarnya saat air mata sudah tak keluar lagi.


“Ya tapi mereka kan tahunya kamu nangis pas ada pak Andre sama Hana,” kekeh Elis terhadap argumennya.


Riza tak lagi merasa iba pada Elis. Ia bisa makan dengan tenang karena rekannya ini bahkan bisa meroasting sahabat yang sebenarnya menangis untuknya.


Tak apa lah Lis. Lakukan apa pun yang bisa membuatmu tertawa. Karena patah hati itu pasti membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka, batin Riza sembari melanjutkan makannya.


Setelah semua kehebohan yang Andre ciptakan, ia kemudian membawa Hana kembali ke ruangannya. Di sana ternyata sudah ada Dian yang datang entah untuk apa.


Meski Hana tahu mantan kekasih Andre ini sudah bersuami, namun entah mengapa kini ia merasa tak nyaman saat tiba tiba melihatnya muncul di ruangan Andre seperti ini. Jika saat ini ia tak sedang berada di sana, maka dapat dipastikan pasangan mantan kekasih ini akan terlibat sebuah obrolan berdua.


“Dian? Tumben kamu ke sini?” Andre melepaskan tangan Hana yang semula ia genggam dan mengulurkan tangannya untuk menyalami Dian yang nampak menunggunya.


Hana diam terpaku. Ia menatap nanar kekasihnya yang ditarik perempuan lain ke dalam pelukannya.


“Ya ampun, sudah berapa dasa warsa kita tak berjumpa, sekarang memberi kabar saja tidak pernah…” ujar Dian sebelum melepas Andre dari pelukannya. Wanita cantik yang sedang mengandung ini kemudian berjalan melewati Andre kemudian berhenti di depan Hana yang belum bergeser dari tempatnya.


“Hai Hana…” Dian kemudian melakukan hal sama dengan apa yang Andre lakukan sebelumnya pada Hana. “Kamu apa kabar?” tanya Dian kemudian di sela pelukannya dengan Hana.


“Emm, baik…” meski rasanya sulit, tapi Hana berusaha menarik lebar kedua sudut di bibirnya. “Kamu…”


“Oh iya…” Dian berbalik meninggalkan Hana dan terus berjalan melewati Andre. Ia berhenti di dekat meja mantan kekasihnya dan mengambil sesuatu.


“Ini… aku ke sini untuk mengantar ini untuk kalian. Semula buat Hana aku cuma mau nitip, nggak tahunya malah bisa ketemu langsung di sini.”


Dian menyerahkan undangan untuk Andre dan Hana masing-masing satu. “Kalian jangan lupa datang ya…” ujar Dian kemudian.


“Ken kemana, kok kamu sendiri?” tanya Hana ketika menerima uluran undangan dari Dian.


Spontan Andre menoleh. Apa maksud Hana nanyain Ken? Batin Andre tak suka.


“Nggak tahu deh. Padahal tadi dia katanya mau pelang cepat, tapi sampai break gini dia belum muncul, jadi aku ke sini aja sendiri…” jelas Dian dengan wajah menyiratkan kecewa.


Hal ini disambut senyum lega oleh Hana. Syukurlah, dia ke sini bukan sedang mencuri waktu untuk bertemu dengan Andre, ujar Hana dalam hati.

__ADS_1


Hana nampak lega setelah terjawab tanyanya, kini justru Andre yang mulai mulai oleng lagi emosinya. Kenapa Hana sebahagia itu saat membahas masalah Ken. Apa dia lupa kalau Ken itu sudah beristri?


“Ehm, duduk Di…”


Andre berjalan ke kursinya setelah mempersilahkan Dian untuk duduk. Ia mengacuhkan Hana yang masih belum bergeser sejak tadi dari tempatnya.


“Apa kabar kandungan kamu?” tanya Andre pada Dian yang duduk di hadapannya.


“Loh, kok kamu tahu kalau aku hamil?” Dian balik bertanya dengan wajah sumringahnya.


“Aku sempat ketemu sama Ken beberapa hari yang lalu.”


Dian mengusap perutnya yang masih rata dan menatap Andre dengan senyum manis di wajahnya. Namun sedetik kemudian berubah murung.


“Kamu kenapa?” tanya Andre yang menyadari perubahan raut  wajah sahabatnya.


Hana sebenarnya penasaran, namun ia merasa tak pantas untuk bergabung dalam obrolan karena sejak kemunculan Dian tadi, oleh Andre ia benar-benar diacuhkan hingga kini.


“Sejak Ken ngurusin bisnis keluarga, dia jadi makin sibuk. Ya aku tahu semua demi aku, tapi aku seperti kehilangan dia. Dia ngelarang aku kemana-mana, bahkan resto aku juga udah dilimpahin sama orang lain untuk mengurusinya. Disangka aku tak bosan apa terus di rumah saja,” adu Dian pada mantan sekaligus sahabatnya ini.


Dian kemudian menoleh, saat sadar jika Hana sama sekali tak bersuara, ia lantas bangkit dan menghampirinya.


“Ya Tuhan. Kamu ngapain di sini, ayo duduk dong…” Dian meminta Hana untuk duduk lagi di sebuah kursi di sampingnya.


“E… Aku…”


“Hana duduk,” ujar Andre tiba-tiba.


Hana tak lagi menjawab. Ia segera melakukan apa yang Andre perintahkan.


“Kamu galak banget sih. Kalau Hana kabur nanti nangis…” cibir Dian.


“Aku pantang menangis hanya untuk urusan wanita…”


Jderrr!!!

__ADS_1


Mata Hana memanas. Apa yang terjadi pada Andre sebenarnya. Andre memang suka seenaknya terhadap Hana, tapi setelah keduanya mengikrarkan cinta, tak pernah setajam ini ucapannya. Apa ini semua karena sebenarnya masih ada Dian di dalam hatinya?


Bersambung…


__ADS_2