Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 The Beautiful One


__ADS_3

HAPPY READING


Pagi ini Andre datang dengan semberjuang keras kabut pekat yang menghalangi pemandangan masa depan, kini semua jelas sudah. Meski tanggal pertunangan belum dapat dipastikan, tapi mereka sudah sepakat untuk melangkah bersama segera. Tergantung kemampuan mereka menyelesaikan pekerjaan dan menciptakan waktu senggang.


Setelah perbincangan semalam, mereka sepakat untuk berperang dengan banyak pekerjaan yang targetnya harus lebih cepat diselesaikan. Mengabaikan sementara percintaan, agar mereka dapat segera mengukuhkan kepemilikan. Dika yang masih harus bersiaga karena Rina yang sudah hampir tiba waktu melahirkannya belum bisa kembali ke kantor untuk sementara. Sehingga Andre yang ingin mengejar hatinya harus berjuang ekstra untuk sementara.


Sebenarnya Andre sudah beberapa kali meminta Dedi untuk membantunya, namun dokter ini tak punya waktu karena rumah sakit juga begitu membutuhkannya. Kondisi Rudi belum kembali seperti semula sehingga tanggung jawab diserahkan kepada beberapa orang terpercaya, termasuk Dedi yang memang digadang-gadang kelak menjadi penerusnya.


***


Setelahkan melewatkan hari-hari yang berat, ditambah lebur dan menerjang hari libur, akhirnya hari yang ditunggu tiba juga. Andre dan Hana akhirnya bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius dari sebelumnya.


“Duh cantiknya...”


Hana menjeda kediatannya mematut diri untuk sementara, saat suara tak asing itu muncul menyapanya.


“Rina, Rista...” ujar Hana yang baru saja memutar tubuhnya.


“Kalau sudah cantik dari sononya, nggak butuh mua juga udah paripurna...” ujar Rina mengomentari riasan Hana.


Hana mencebik mendengar pujian yang dialamatkan padanya tersebut. “Bilang jelek juga nggak dosa kok...”


“Tapi beneran deh Kak. Cantik banget. Mau dong kapan-kapan Rista diajari...” kata Rista menimpali ucapan kakak iparnya.


“Ya kali beauty vloger minta ajarin make up sama yang amatir,” sarkas Hana dengan senyum lebarnya.


“Beauty vloger apaan. Orang cuma make up harian sebelum jalan-jalan,” elak Rista.


“Iya. Tapi yang nonton sampai jutaan. Banyak yang recreate juga kan...”


Rista mendengus. “Ya siapa saja juga bisa kalau cuma pakai cushion, pensil alis sama lip balm aja.”


“Tapi sampai muncul tagar make up ala Rista Andini.”


Kali ini Rista tak bisa menjawab lagi. Ia mendengus sambil menatap Rina berharap akan mendapat bantuan dari kakak iparnya.


“Apa? Kalian bergarap aku ngomong apa?”


Memang kini Rina menjadi pihak ketiga yang Hana dan Rista ingin dapatkan keberpihakannya. Namun yang diharapkan justru hanya tertawa.


“Apa lagi yang mau diperdebatkan. Kalian sama-sama cantik, punya hampir semua standar sebagai wanita cantik. Kulit putih, badan langsing dan tinggi, wajah juga cantik, rambut panjang. Mau pake make up mau polosan sama-sama manisnya, terus apa? Apanya yang kurang? Beda cerita kalau yang ini...”


“No, no, no. Justru kamu yang paling cantik...,” ujar Hana.

__ADS_1


“Ssttt...” buru-buru Rina meletakkan telunjuknya di depan mulut Hana. “Sejak kapan kamu gampang panik saat bercanda. Apa aku sesensitif itu?” lanjut Rina setelah berhasil membungkam Hana.


“Ya aku cuma...” Saat Rina tak lagi menahannya bicara, justru Hana yang tak bisa mengucapkan kalimat secara utuh dengan mulutnya.


“I know. I know that I'm the most beautiful women here. Why? Karena aku satu-satunya yang sudah jelas ada yang memperjuangkan,” ujar Rina dengan penuh percaya diri. “Tak hanya sepanjang waktu, bahkan di setiap hembus nafasnya...” lanjut Rina seakan tak puas hanya dengan satu kalimat saja.


Jika semula Hana panik karena takut Rina tersinggung dan kecil hati, kini ia mencebik sambil menyenggol bahu Rista.


“Kenapa? Pada insecure ya, ha ha ha...”


“Tck, jadi nyesel...”


Rina kian puas tertawanya saat Hana dan Rista kalah telak darinya. Memang sekilas memandang Rina memang kalah jauh dari dua perempuan ini secara penampilan. Dress cantik tak mungkin ia kenakan karena perutnya yang begitu besar. High heels juga kini haram dikenakan, karena bahaya untuk ia karena adanya janin di dalam kandungan.


Berbeda jauh dengan Rista dan Hana yang punya tinggi jauh di atasnya. Sehingga ia nampak begitu bulat diantara mereka. Meski demikian, ia patut berbangga karena sat ini dia satu-satunya yang diperjuangkan seutuhnya oleh Dika, suaminya.


Rista kemudian membantu Hana menyelesaikan penampilannya. Rina juga turut menemani meski ia hanya duduk saja. Hana memang sengaja tak menggunakan jasa MUA, meski ini adalah acara spesialnya. Namun ia yakin bisa tampil lebih baik dengan make up kreasinya. Karena memang ia memang punya keterampilan dalam hal ini.


“Kamu kok bisa sih pakai complexion sebagus ini. Belajar dari mana?” tanya Rina yang diam-diam kagum dengan riasan Hana.


“Masa sih? Perasaan biasa saja,” jawab Hana.


“Tapi iya Kak. Ini mah MUA kelasnya,” imbuh Rista.


“Hmm, ngeles saja bisanya. Takut kalah pesona apa?” gerutu Rista.


Kembali pecah tawa ketiganya. Hingga persiapan Hana akhirnya paripurna. Beberapa kali Mustika juga masuk untuk memastikan Hana tak kesulitan dengan persiapannya yang serba sendiri. Dan kini Indah yang bersiap di sana bersama Rina dan Rista juga.


“Turun sekarang ya,” ajak Indah.


Hana tak menyahut ajakan Indah. Iadiam di tempat dengan mulut terkunci dan mata menatap kosong di depan cermin.


“Kok murung? Apa ada sesuatu yang kamu risaukan?” tanya Indah lagi.


Hana menggeleng menanggapi.


“Lalu kenapa?” Indah kembali bertanya.


Hana menghela nafas sambil sekali lagi memperhatikan penampilannya. “Aku gugup,” ujar Hana akhirnya.


“Ha...?? Nggak salah?” kaget Indah.


Tak hanya Indah yang kaget dengan ucapan Hana, namun Rista dan Rina juga. Hanya saja mereka hanya membulatkan mata dan saling menatap saja tanpa ikut bersuara.

__ADS_1


“Jangan bikin kita ketawa lah. Kalian itu bukan pasangan hasil perjodohan...”


Hana memegang pipinya yang bersemu. Bahkan kami pasangan yang sudah sempat tinggal bersama.


“Bahkan kalian...”


“Iya, iya,” potong Hana cepat. “Ayo keluar sekarang,” lanjutnya seraya bangkit segera.


Hana lantas keluar bersama Rista diikuti Indah dan Rina yang mengikuti di belakangnya. Kemunculan Hana berhasil meredam suasana beberapa saat lamanya. Semua mata dibuat terpukau dengan munculnya sang pemeran utama dalam acara.


Hana berhasil menjelma menjadi bintang saat ini. Andre pun yang sedikit lagi memastikan kepemilikan atas dirinya pun dibuat enggan untuk sekedar mengedipkan mata. Sehingga ia pun perlahan bergerak untuk menyambut Hana meski tanpa protokol yang meminta.


“Cantik,” gumam Andre dengan binar bahagia yang terpancar jelas dari matanya.


“Makasih...” balas Hana dengan senyum yang sama berserinya.


Andre perlahan meraih tangan Hana untuk mengamit lengannya. Selanjutnya mereka berjalan meninggalkan Rista yang dibiarkan sendirian.


Prosesi lamaran pun berjalan dengan meriah. Hana yang semula gugup kini mulai tak segan menunjukkan senyum bahagianya. Meski sedikit kaku, keluarga Wiguna dan Rahardja juga perlahan mulai saling terbuka.


Setelah Hana diambil alih Andre tadi, Rista memilih untuk menyendiri. Ia engan berbaur karena dihatinya mendadak ada ingin yang menggebu minta dituruti. Namun ia sadar itu tak akan mungkin saat ini.


Di tempat seramai ini kenapa aku justru merasa sepi?


Rista menatap sekitar. Hana tersenyum bahagia kala ia berdansa dengan Andre yang kini berstatus sebagai tunangannya. Ia ingin juga diperjuangkan seperti Hana. Memiliki seseorang yang mau memperjuangkan seperti kakaknya yang memperjuangkan Rina. Kenapa hanya dia yang tak punya.


“Eh…”


Reflex Rista menahan rambutnya yang tiba-tiba lepas cepolannya. Saat ia memutar badan, barulah ia sadar jika ada orang yang berdiri di belakang.


“Maksud kamu apa sih?!” kesal Rista sambil hendak kembali membenarkan rambutnya.


“Jangan,” tahan pria ini.


Pria ini tak mau Rista membenahi rambutnya. Jelas saja Rista  langsung mendelik diperlakukan begini.


“Balikin nggak.”


Pria ini sama sekali tak menggubris ancaman Rista. Ia


justru lebih kencang memeganginya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2