
HAPPY READING
“Kamu kenapa?” tanya Hana saat nampak Rina beberapa kali memijat pelipisnya. “Pusing? Apa kita perlu kembali ke rumah
sakit?” tanya Hana bertubi.
Rina tampak membalas tatapan Hana sebelum perlahan menggelengkan kepala. Ia kemudian kembali melemparkan pandangannya ke arah depan.
“Aku jadi saksi hidup kisah cinta Dedi dan Rista, tapi aku sekarang benar-benar nggak ngerti apa mau mereka,” ujar Rina tiba-tiba.
Hana tak menyahut. Ia memang orang baru di kehidupan mereka, jadi ia tak mau banyak bersuara karena ia belum tahu benar duduk persoalannya.
“Aku sering gemas saat melihat mereka perang dingin dan terus saling menghindar seperti itu. Aku yakin di hati mereka masing-masing masih ada cinta, tapi kenapa mereka tidak berdamai saja…” lanjut Rina dengan arah tatap yang sama.
“Sebenarnya apa yang membuat mereka berpisah?” tanya Hana akhirnya.
“Jarak,” singkat Rina.
“Jarak?” ulang Hana yang belum bisa menangkap maksud Rina.
“Iya jarak. Jarak Indonesia dan Amerika,” jelas Rina apa adanya.
Mulut Hana terbuka karena fakta yang sungguh tak ia sangka. Ia tak menyangka ada alasan semacam ini yang membuat hancurnya romansa Dedi dan Rista. Padahal Hana yakin, keduanya tak akan jatuh miskin jika sesekali saling mengunjungi. Selain itu kecanggihan teknologi saat ini pastilah bisa mengikis jarak yang membentang diantara keduanya.
“Karena LDR?” tanya Hana untuk memperoleh kepastian atas dugaannya.
Rina menggeleng.
“Lhah? Terus apa dong?”
“Nggak ada yang tahu Hana. Mereka seakan sepakat untuk tutup mulut rapat-rapat tentang kisah mereka. Padahal Rista masih terlalu muda untuk memendam semuanya sendiri sejak kala itu hingga saat ini,” jelas Rina yang nampaknya sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Hana mulai tertarik membahas hal ini. Ia memperhatikan dengan seksama setip hal yang Rina ceritakan.
“Aku pikir setelah Dedi pulang mereka akan melanjutkan kisah yang pernah tertunda. Tapi ternyata sampai sekarang mereka masih betah diam dan terus menghindar,” lanjut Rina.
Hana menghela nafas. “Aku pikir setelah malam itu mereka juga akan baikan,” gumamnya kemudian.
“Malam itu apa?” tanya Rina yang belum tahu sama sekali masalah ini.
Hana menceritakan kejadiaan saat makan malam beberapa saat lalu. Acara makan malam yang berlanjut dengan tabrakan dan berlanjut dengan Dedi yang pergi membawa Rista dari apartemen Andre.
“Lalu setelah mereka pergi kamu juga diantar balik kan sama Andre?”
Hana menelan ludah. Entah bagaimana cara berfikir nyonya Restu Andika ini. Bukannya mengkhawatirkan adik iparnya, ia justru menanyakan bagaimana nasibnya malam itu. Maunya sih Hana menjawab ia pulang dengan diantar Andre, tapi nyatanya ia justru menginap dan tak pulang hingga esokan hari.
“Pasti nginep kan?” tebak Rina saat Hana tak kunjung menjawabnya.
__ADS_1
Belum juga Hana menjawab, Rina lebih dulu berhasil menebak. ”Tapi nggak terjadi apa-apa kok. Aku belum bersih benar soalnya.” Cepat-cepat Hana menjelaskan sebelum Rina berfikiran macam-macam.
“Kalau sudah bersih berarti sudah siap dipakai lagi…?”
sarkas Rina dengan mata memicing.
Ritme jantung Hana berubah seketika kala mendapatkan perlakuan seperti ini dari Rina. Meski Rina hanya bermaksud menggoda, tatap saja hal ini membuat gugup Hana. Ia tak mau menciptakan lebih banyak kebohongan, namun kalau mau mengakui apa adanya tak pantas juga.
Hana belingsatan saat Rina dengan gencar menggodanya. Ia harus segera mencari pengalihan topik yang akan mereka bicarakan. Sembari berfikir, Hana masih dapat melihat jika trafict light berwarna merah, sehingga ia harus mengurangi kecepatan sebelum menginjak rem untuk berhenti.
Sembari menunggu lampu berubah warna, sebersit ide muncul di benak Hana saat tanpa sengaja melihat seorang ibu-ibu yang sedang menjajakan dagangannya dengan cara mengasong. Ia pun menurunkan kaca mobilnya dan memanggil wanita itu untuk mendekat ke arahnya.
“Air mineralnya ada…” tanya Hana pada wanita itu.
“Ada Nona.” Wanita itu mengangkat sebuah botol untuk ditunjukkan pada Hana.
“Saya mau semua yang ibu bawa,” jawab Hana dengan mantab.
Wanita itu nampak sumringah karena dagangannya dibeli sebanyak ini. Ia segera memasukkan sekitar 10 botol air mineral yang ia bawa kedalam sebuah kantong plastic yang telah ia siapkan sebelum menyerahkannya pada Hana.
“Ini Nona, semuanya 30 ribu…” kata wanita ini.
Degh!
Wajah putih Hana memucat seketika. Ya Tuhan, aku kan nggak punya uang, batin Hana saat menyadari kondisinya.
Glek!
Hana menelan ludah saking bingungnya saat ia tak mungkin menggunakan kartu untuk membayar semua ini.
Ttiin tiin ttiiiiiiiiiiinnn!!
“Han! Kok bengong sih, cepet bayar…” desak Rina.
Tangan Hana bergetar. Rasanya sekarang ia ingin segera menghilang karena malu dan tak tahu harus berbuat apa.
“Tck, kelamaan…”
Rina segera menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan. “Kambaliannya buat ibu saja…” ujarnya saat ibu itu terlihat ingin menghitung kembalian.
“Ayo Han….” Rina kembali mendesak Hana.
Bunyi klakson terus bersahutan, membuat Rina mulai geram dengan Hana. Ia bahkan harus mengguncang-guncang tubuh Hana agar wanita ini segera menjalankan mobilnya.
“I, iya…” ujar Hana setelah mampu menguasai dirinya.Ia segera menjalankan kembali mobilnya menuju tempat makan yang ingin Rina kunjungi.
“Sebenarnya kamu tadi kenapa?” tanya Rina setelah melihat Hana telah kembali pada kesadarannya.
__ADS_1
Hana meringis. Ia kemudian merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan sebuah kartu yang tersimpan manis di sana.
“Saya cuma punya ini Nona, dan saya lupa kalau membeli di pedagang asongan tak bisa memakai kartu ini…” ujar Hana dengan komuk yang sudah tak beraturan bentuknya.
“Ha ha…” Rina menutup mulutnya yang sempat lancang menyemburkan tawa dengan tatapan tak percaya.
Hana yang merasa pantas ditertawakan hanya meringis sambil memegang erat setirnya untuk ia jadikan sebagai pelampiasan.
“Ha ha ha ha ha…” Dan benar. Rina pun kembali tertawa dengan lebih kencang.
Namun satu hal yang menjadi kabar baik untuk Hana, yaitu ia berhasil mengalihkan pembicaraan dari hubungannya dengan Andre. Meski Hana harus rela dirinya malu seperti ini.
Dan setelah tawanya reda pun, Rina tak berhenti mengolok dan mencandai Hana, tentang ia yang dengan PDnya membeli sesuatu padahal tak membawa uang sama sekali. Hana terima saja, yang jelas ia tak harus terus membuat kebohongan hanya untuk menutupi kebobrokan dalam dirinya.
“Itu, itu. Yang di depan itu Han…” Rina mengintruksikan Hana untuk berhenti di sebuah rumah makan padang yang berada tak jauh dari mereka.
Hana pun segera memarkirkan mobil yang ia kemudikan di area parkir yang telah di sediakan di sana.
“Kita makan di sini ya, aku sudah tak tahan kalau harus menunggu sampai kita tiba di kantor,” ujar Rina.
“Nona makan dulu saja, saya masih belum lapar.” Hana berusaha menolak karena ia masih cukup segan saat bersama wanita ini.
“Tapi apa kamu tega membiarkan saya makan sendiri…?” ujar Hana dengan tatapan mengiba.
Hana seharusnya paham, jika bersama Rina ia tak punya banyak pilihan. Dan tanpa menunggu persetujuan, Rina pun segera membawa Hana ke dalam.
Di dalam, Rina langsung memesan berbagai jenis makanan tanpa terlebih dahulu bertanya apakah Hana yang sebenarnya Hana inginkan.
Dan tanpa perlu menunggu lama, kedua wanita ini pun duduk dengan menghadap satu meja penuh makanan.
“Nona habis memakan ini semua?” tanya Hana yang takjub melihat banyaknya makanan yang Rina pesan. Ia memang tak konsisten. Kadang memanggil Rina dengan sebutan Nona, kadang hanya nama. Namun Rina tak masalah dengan itu, karena ia sendiri sudah berkali-kali berkata pada Hana untuk memanggilnya menggunakan nama saja.
“Ya bukan hanya saya, tapi kamu juga…” ujar Rina dengan santainya.
Hana menunduk menatap perut rampingnya. Lambungku mana muat menampung makanan sebanyak itu?
Hana mengangkat kembali wajahnya, dan mulai memperhatikan Rina. Perut wanita cantik ini memang mulai membesar namun di dalamnya tak hanya berisi lambung, melainkan ada janin yang pasti memakan tampat di dalam sana. Jadi mana bisa perut Rina menampung makan segini banyaknya?
“Hana, ayo makan…” ajak Rina yang sudah mulai memasukkan beberapa lauk ke dalam piringnya.
Hana benar-benar kenyang sekarang. Kenyang hanya dengan melihat begitu banyak makanan di depannya.
“Hana… apa perlu aku menyuapi kamu?”
“Tidak…” tanyan Hana bergerak cepat. Ia meraih beberapa lauk secara random ke dalam piringnya. Ia pun mulai makan bersama Rina.
Bersambung…
__ADS_1