
^^^Prasangka.^^^
^^^Namanya saja masih pra, jadi bisa bener bisa salah.^^^
^^^Orang yang kelihatannya baik ternyata demen lihat kita jatuh.^^^
^^^Orang yang kita sangka mau bikin kita jatuh nggak tahunya malah lagi bikin kita aware dan nggak gampang jatuh.^^^
^^^Dedi sama Rista nitip salam nih. Mereka masih banyak tugas sekolah, 😘😘^^^
...*HAPPY READING*...
"Nanti pulangnya aku jemput ya..." kata Dika begitu menghentikan mobilnya di depan sekolah Rina.
"Nggak usah deh. Pak Restu Andika pasti sibuk." Rina menolak dengan nada menggoda.
"Nggak kok kalau buat kamu."
Rina menangkup wajah Dika. "Tapi beneran kok, aku bisa sendiri."
"Tapi aku mau jemput sayang, mumpung aku masih bisa..."
"Ya udah," pungkas Rina akhirnya. "aku masuk ya." Rina melepaskan tangannya dari wajah Dika.
"Tunggu."
Rina menahan tangannya yang hendak membuka pintu.
"Morning kissnya mana?"
"Ck, belum sah..." tolak Rina saat Dika mendekatkan wajahnya.
Dika tak mengindahkan ucapan Rina. Dika justru mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir gadisnya.
Hanya menempel dalam durasi yang begitu singkat, Dika segera menarik wajahnya dan memandang lekat wajah Rina. "Love you..."
"Love you too..."
Selepas berbalas kata, keduanya saling beradu pandang, saling mengunci dan saling menyelami.
Kali ini Rina yang mendekat, Dika segera menyambut dan indra perasan keduanya akhirnya kembali saling menyapa.
Tok tok tok
Seketika tubuh keduanya menjauh.
"Maaf Pak, ada mobil yang mau masuk."
Rina segera merapikan diri dan Dika membuka kaca jendela. "Iya Pak, maaf."
"Aku masuk." Rina membuka pintu buru-buru dan segera melesat melewati gerbang sekolah.
Sementara itu, Dika segera manjalankan mobilnya. Dia terkekeh. "Siapa suruh sih berhenti pas di gerbang," gumamnya sambil memertawakan kekonyolannya.
Tapi jika tak segera ada ketukan dari satpam, mungkin tadi akan ada buntut yang lebih panjang.
__ADS_1
Sementara Rina kini tak langsung masuk ke kelasnya. Ia ingin membasuh muka di toilet sekolah. Entah mengapa, pasca nyaris kepergok satpam sekolah, wajahnya hingga kini masih terasa panas.
Setelah membasuh muka, ia bercermin dengan menjadikan wastafel sebagai penyangganya. "Ya ampun, tadi dari luar kelihatan nggak ya?"
Rina segera mengeringkan wajahnya. Dia ingin segera memoles wajahnya dengan loose powder yang selalu di bawanya sebelum bel masuk berdering.
Rina bukanlah tokoh utama dalam novel atau sinetron yang cantik paripurna sejak bangun tidur hingga memejamkan mata tanpa sedikitpun polesan skincare dan makeup di wajahnya. Meskipun hanya sekedar loose powder dan lip balm, ia tak akan percaya diri jika harus tampil tanpanya.
Setelah dirasa rapi, ia segera keluar dan berjalan menuju kelas XII IPA.
"Baru datang kamu?"
Dian dan Nita sudah menyambutnya di depan kelas.
"Ya Tuhan akhirnya datang juga..." sambut Dian yang sepertinya sudah menantikan kehadiran Rina.
"Yuhuu, saya datang..." Rina memutar tubuhnya dan berhenti di depan keduanya.
"Sok cakep banget kamu," cibir Nita.
"Eh, kemaren gimana?" tanya Dian dengan tak biasa.
"Apanya?" tanya Rina yang segera mendudukkan tubuhnya di bangku panjang di depan kelasnya.
"Hhh, aku baru tahu kalau Ana sepupuan sama Rio..." ujar Dian tiba-tiba. Ada raut sesal dari wajahnya bersama kata yang terucap dari mulutnya.
"Next...?" tanya Rina dengan santai. Sebenarnya ia sungguh penasaran, namun ia belum tahu bagaimana posisi Dian sekarang.
"Dengan kala lain gue masih ada hubungan kerabat sama Rio." Dian menjeda ucapannya. "Tapi suer deh, gue juga baru tahu kemaren."
"Rin, gue jadi nggak enak sama elu. Sumpah deh gue kepikiran sejak kejadian kemaren. Gue lihat jelas Dika ngobrol sama Rio. Tapi Ana ngelarang gue buat nyamperin."
Bel terdengar nyaring berdering.
"Ck, kudu banget ya belnya bunyi sekarang, gue kan masih penasaran," kesal Nita yang masih antusias mendengar cerita mereka.
"Ya udah, masuk aja dulu yuk," ajak Rina yang bangkit dari duduknya.
Dian menahan tangan Rina yang hendak masuk kelas. "Lu nggak marah kan sama gue?"
Rina menggeleng. "Lanjut nanti ya, gue masih pengen denger cerita dari elu."
Dian mengangguk dan berjalan menuju kelasnya.
"Lu beneran nggak apa-apa, nggak marah sama Dian?" tanya Nita penasaran.
Setelah mengalami serentetan kejadian yang sama sekali tak pernah ia bayangkan sebelumnya, Rina merasa harus mulai ada privasi yang dijaganya dari siapa pun.
"Gue cuma masih shock aja. Ana yang dibilang Dian itu adalah mantannya Dika."
Drrkk
Nita dan Rina segera duduk di tempatnya.
"Iya, dan dia masih pengen balik sama Dika sampai sekarang," lanjut Rina.
"Kamu takut Dian bantuin Ana buat balik sama Dika?"
__ADS_1
Rina menggeleng. "Ah tahu ah. Semua serba kebetulan. Yakin deh author kisah gue ribet amat bikin cerita."
"Siapa suruh jadi tokoh utama," kata Nita dengan terkikik geli.
"Entahlah. Sst st.... Ada pak Yanto."
Dengan masuknya pak Yanto ke kelas mereka berarti mau tak mau Rina dan Nita harus mengakhiri obrolannya. Mereka harus segera kembali pada tugasnya yaitu belajar sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Sementara itu Dika mulai disibukkan persiapan meeting. Kali ini ia tak sendiri, karena Rudi akan hadir dan membuat posisinya semakin kuat. Tak ada kandidat yang bisa melemahkan posisinya, karena dengan kuasa Hendro dan Rudi posisi baginya adalah mutlak.
Kemungkinan terburuk yang akan dia hadapi adalah hengkangnya para pemilik saham yang tak setuju jika Surya akan dijalankan olehnya. Namun itu tak membuatnya khawatir karena jumlahnya hanya kecil.
"Maaf Pak Restu, pak Rudi sudah tiba," kata Edo yang muncul dari balik pintu.
"Persilahkan beliau masuk Pak."
Bersamaan dengan pintu yang terbuka, muncullah Rudi lengkap dengan jas hitamnya.
"Kenapa kamu menatap Ayah seperti itu?"
Dika bangkit dan menghampiri Rudi. "Ayah lebih tampan jika mengenakan jas putih..." ucap Dika tepat sebelum mencium tangan ayah tirinya.
Rudi terkekeh melihat penampilannya. "Saya juga merasa begitu, tapi mamamu yang memaksa saya tampil seperti ini."
"Ckckck," Dika berdecak sambil menggeleng kan kepalanya. "Selera mama buruk sekali."
Ujaran Dika disambut tawa oleh Rudi.
"Silahkan duduk Yah..." Dika mempersilahkan Rudi untuk duduk di sofa. Namun Rudi justru memilih untuk mendekat ke meja kerja anak tirinya.
"Apa ada yang bisa Ayah bantu?" tanya Rudi yang mulai memperhatikan setumpuk berkas di hadapannya.
Dika mengernyit.
"Kamu jangan meremehkan Ayah, ya..."
Rudi mengambil berkas yang belum di periksa Dika. Dia mulai menjelaskan apa yang tertera di sana, memberikan koreksi pada bagian yang kurang tepat dan memberi tanda pada bagian yang sudah fix.
"Ayah kan dokter, kok bisa tahu yang beginian?" heran Dika.
"Ayah suka bantuin almarhum papa kamu dulu." Wajah kedua pria beda usia ini mendadak sendu. "Saya masih belum percaya jika Hendro sudah benar-benar tiada."
"Papa pasti bahagia di sana Yah..."
Rudi meletakkan sebelah tangannya di bahu Dika. "Terus doakan dia, karena hanya doa anak soleh yang langsung bisa sampai untuk almarhum papamu tanpa harus melewati banyak pos."
Dika terdiam sejenak. "Jadi harus soleh dulu baru doanya bisa diterima."
Rudi meletakkan berkas yang semula dipegangnya. "Wallahualam. Tak ada yang tahu, itu hak prerogatif Allah, kita hanya wajib berusaha."
Rudi melihat ada keresahan di wajah Dika. "Jangan resah, semua manusia punya dosa, hanya saja jenisnya yang beda. Yang terbaik adalah yang menyadari dosanya dan mau terus berusaha memperbaiki dirinya."
"Ayah, terimakasih."
Rudi mengangguk. "Segera persiapkan diri kamu, karena banyak dewan yang sudah hadir."
TBC
__ADS_1