
HAPPY READING
Andre tak menyangka jika akhirnya ia memang harus menghadapi keadaan seperti ini. Ini adalah ketakutan yang sempat Hana ungkapkan saat keduanya baru mengetahui kehamilan Hana. Saat itu Hana mengalami pendarahan karena membantu Rina yang hampir terjatuh saat di rumah Lili.
Hana begitu takut kehilangan buah cintanya, begitu pula dengan Andre sebenarnya. Tak munafik jika Andre merasa cukup kelimpungan saat di rahim Hana sudah tumbuh benih yang tak sengaja disemainya, namun bukan berarti ia tak punya hati dengan tak ingin membiarkannya lahir di dunia.
Sekarang ketakutan itu menjadi kenyataan dengan hanya ada satu yang selamat diantara keduanya, yaitu Hana. Tidak ada narasi dimana Andre harus memilih satu diantara dua, namun faktanya anak Andre tak bisa bertahan lagi di rahim Hana.
Saat ini Andre tengah memandangi tubuh Hana yang tergeletak dengan selang infus dan selang alat bantu pernafasan di hidungnya. Matanya terpejam mengalihkan sejenak rasa sakit yang ada di tubuhnya.
“Hana, maafkan aku…” ujar Andre yang pasti tak akan Hana dengar.
Andre mengenggam erat tangan wanita yang sempat mengandung anaknya ini. Wanita yang telah ia hancurkan hidupnya, direnggut mahkotanya dan hingga kini belum juga dibahagiakannya.
Andre meminta Dika dan semua yang tadi mengantar Hana untuk pulang saja. Ia benar-benar ingin berdua dengan Hana saat ini.
Sebenarnya ada satu lagi yang belum pulang yaitu Novi. Dika yang semula ingin meminta wanita ini untuk mencarikan darah yang Hana butuhkan, namun malah pingsan tanpa ada yang tahu apa penyebabnya. Sehingga kini ia masih tergeletak di rumah sakit meski kesadarannya sudah kembali.
Tiba-tiba ponsel Andre berdering. Meskipun volumenya tak terlalu besar, namun karena tempat ini begitu sepi maka bunyinya pun terdengar nyaring sekali. Namun ini tak berhasil menginterupsi Andre. Ia tetap mengacuhkan panggilan ini hingga dering itu hilang sendiri.
Entah ada agenda apa Andre hari ini, yang jelas ponselnya berbunyi kembali setelah sempat sejenak mati. Andre kembali mengacuhkannya, namun ponselnya itu terus berbunyi, hingga membuat Andre terusik dan ingin menonaktifkannya saja. Saat ia ingin menonaktifkan benda yang hampir selalu ada bersamanya ini, ia baru sadar yang sedari tadi menelfonnya itu hanya ada satu nama, yaitu mamanya.
Dengan ragu Andre menggeser tombol hijau pada ponsel yang masih berdering ini.
“Nak, kenapa lama sekali menjawab telfon Mama…” Terdengar suara Heni di seberang sana kala panggilannya dengan Andre tersambung.
“Maaf Ma, Andre…” Andre menghela nafas. “Andre sedang rapat tadi.” Andre terpaksa berbohong karena tak ingin mamanya kecewa jika sampai tahu yang sebenarnya.
“Nak…, Mama sudah tahu…”
Degh!
“Ma…”
“Iya. Mama sudah tahu…”
Glek!
Andre menelan ludah. Tangisnya langsung pecah. Kenapa sesakit ini?
“Maafkan Andre Ma. Maafkan.”
“Sekarang kamu dimana?”
Andre tak langsung menjawab. Ia menatap Hana yang masih tergeletak dan memejamkan mata.
“Mama ingin bertemu dengan wanita yang sekarang sedang mengandung cucu Mama.”
Andre mengusap kasar air matanya. Hana cepatlah bangun. Kita akan segera menikah.
__ADS_1
Meskipun sudah tak ada lagi anaknya di dalam rahim Hana, namun niat Andre untuk segera menikahi wanita ini tidak akan ia tunda.
“Andre…” Suara Heni di seberang sana berhasil membuyarkan lamunan Andre.
“Andre sekarang sedang di rumah sakit Ma.” Andre langsung menjawab pertanyaan sang mama yang belum sempat ia jawab.
“Di rumah sakit?” ulang Heni.
“Iya Ma…” jawab Andre.
“Siapa yang sakit?”
“Hana ada di sini.”
“Dia kenapa?”
Andre menjelaskan kecelakaan yang minimpa Hana. Ia tak ingin mamanya underestimate terhadap Hana, sehingga ia berusaha mengatakan hal-hal yang nantinya tak akan menyulitkan Hana.
“Baiklah. Rumah sakit mana? Mama ingin ke sana.”
“Rumah sakit dokter Rudi Ma…”
“Baiklah.”
Panggilan terputus. Andre pun melanjutkan tangisnya. Jika saja ia lebih gentle dengan mengatakannya sejak awal bahwa ia telah membuat Hana mengandung serta menerima semua resiko yang mungkin diterimanya, mungkin sekarang mereka sudah berstatus suami istri. Dan mungkin juga Hana tak harus dibuat berlari kesana-kemari karena ia bisa membawanya di tengah orang tuanya.
“Hana, bangun lah. Sebentar lagi Mama ke sini dengan membawa restu untuk hubungan kita,” ujar Andre yang masih sibuk membersihkan sisa air matanya.
Polah Andre tak karuan. Ia mencium sebelah tangan Hana yang digenggamnya. Sayang, Hana bukan putih salju yang akan langsung sadar saat mendapatkan ciuman dari pangeran. Tapi memang selain Hana bukan Putih Salju, Andre juga bukan seorang pangeran. Begitu kan?
Tok tok tok
Andre menoleh ke arah pintu saat mendengar seseorang mengetuknya dari luar. Ia dapat bernafas lega karena untungnya ia telah selesai membersihkan sisa tangisnya.
“Permisi…” seorang wanita dengan pakaian khas perawat muncul begitu terbuka.
“Iya…” jawab Andre yang masih belum bergeser dari tempatnya.
“Maaf Pak, ada yang ingin dokter bicarakan dengan Bapak.”
“Sekarang?” tanya Andre memastikan.
“Iya Pak.”
“Baik, saya akan segera menemui dokter Halima.”
“Baiklah. Saya permisi dulu.”
“Terimakasih Sus.”
__ADS_1
Perawat itu tak menjawab karena ia telah menghilang di balik pintu yang tertutup.
Tangan ANdre bergerak untuk mengusap kepala Hana. “Hana, aku ke dokter Halima sebentar…” pamitnya kemudian.
Meski Hana belum sadar, Andre tetap berpamitan padanya. ia sempat mencium kening wanita ini sebelum ia beranjak pergi dari sana.
Setelah Andre pergi, seorang pria masuk ke ruangan Hana. Pria ini sejak tadi sudah ada di luar. Sepertinya ia memang menunggu momen dimana Hana ditinggal sendiri oleh Andre.
Pria berperawakan sedang ini membuka pintu perlahan dan menutupnya pelan-pelan. Ia kemudian berjalan menghampiri Hana yang masih belum sadar di atar brankar.
Pria ini memperhatikan kondisi Hana. Ia sangat tak suka dengan wanita ini, namun melihat kondisinya sekarang mendadak ia merasa iba.
“Hai adik, apa kabar…”
Pria ini tersenyum miris dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
“Aku tak rela, benar-benar tak rela menyebutmu sebagai adik,” lanjutnya lagi.
Pria ini adalah Rio, saudara Hana yang lahir dari rahim yang berbeda. Keduanya punya paras menawan dengan hidung sama-sama mancung dengan bibir tipis yang sangat indah kala sebuah senyum mengembang di sana.
“Aku ke sini tak ingin melukaimu. Aku pun tak akan menculikmu,” ujar Rio lagi
Dengan tanga Rio melipat tangan di depan dada.
“Aku juga tak ingin membubuhmu,” ujar Rio dengan tatapan menerawang.
“Aku hanya ingin kamu berhenti merusak kebahagaiaan orang.”
“Ah sudah lah. Berbicara sebanyak apa pun kamu tak akan dengar. Kamu cepat baikanlah, jika ada kesempatan aku pasti akan menemuimu lagi.”
Rio memegang tepian ranjang Hana.
“Aku tak akan membencimu asal kamu…" Rio menjeda ucapannya. "Lupakan. Aku pergi sekarang.”
Rio merasa ia harus segera pergi dari sana, sebelum Andre kembali dan menciptakan percikan api permusuhan diantara mereka.
“Kak…”
Suara lirih nan serak itu berhasil membuat Rio merinding. Ia melihat sekeliling sambil mengusap tengkuknya yang meremang.
“Kak…”
Rio merasa pergi dari tempat ini adalah keharusan saat ini.
Degh!
Rio menelan ludah saat sesuatu yang terasa dingin tiba-tiba menimpa tangannya yang masih memegangi tepian ranjang.
Bersambung…
__ADS_1