Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Ngidam


__ADS_3

Anak Andre kayaknya bener-bener ngerjain Daddynya ini.


Siapa yang gemes???


HAPPY READING


Ponsel yang sedari tadi terus berdering benar-benar Andre acuhkan. Terlebih saat itu hanya berisi curhatan bosnya yang pusing dengan kedua mamanya yang berlebihan dalam memperlakukan Rina.


Jika saja boleh meminta, Andre ingin meminta sedikit dari yang Rina peroleh untuk ia berikan pada Hana. Secara materil Andre dengan sangat percaya diri dapat memberikan yang terbaik untuk Hana dan calon anaknya. Namun dalam hal perhatian dan kasih sayang, Andre tak bisa memberikan sebagaimana yang Rina dapatkan. Karena selain Hana tak punya orang tua, Andre pun khawatir jika Hana akan ditolak dengan keadaan dan asal-usulnya yang demikian.


Kini Hana tak mau sedikitpun menyentuh makanan. Semua yang bibi sajikan membuatnya mual dan yang diinginkan hanya tumis bunga papaya. Kenapa harus papaya, bukan bunga mawar atau bunga melati yang setidaknya akan lebih mudah ditemui sehingga Andre bisa memenuhinya.


Seandainya Andre tahu bagaimana tak nyamannya jadi Hana, tentu ia tak akan menggerutu seperti ini meski hanya dalam hati.


“Hana, please jangan gini. Kondisi kamu sedang tak baik-baik saja, jangan kamu siksa anak kita dengan tak mau makan apa-apa seperti ini,” ujar Andre sambil memijat tengkuk Hana yang tengah muntah karena tadi dipaksa makan.


“Hoek, aku, hhooowwweekkk…”


Sekedar menajawab saja Hana tak bisa. Bahkan kini tumis pare yang belum habis dicerna harus ikut keluar karena perutnya begitu menolak makanan yang baru saja masuk ke dalam sana.


Andre terus memegangi Hana. Tubuhnya begitu lemas, sehingga bisa jatuh kapan saja jika sampai Andre lepaskan.


Jika saja ia tahu kondisi Hana akan seperti ini, maka ia akan menyuruh perawat yang sudah ia sewa datang hari itu juga. Sayangnya perawat itu baru akan datang besok sehingga Andre saat ini harus pusing memikirkan Hana yang muntah-muntah sejak tadi seperti ini.


Andre mengangkat tubuh Hana dan membaringkannya di atas tempat tidur saat dirasa wanita ini sudah tak muntah-muntah lagi. “How do you feel Hana?” Andre merapikan rambut Hana dengan mengusap ke arah belakang kepala.


Hana yang lemas hanya dapat menggelengkan kepala. Bibi yang sejak tadi memperhatikan dari jauh mulai masuk ke dalam kamar tuannya.


“Ini saya buatkan teh hangat Nona,” ujar bibi sambil meletakkan teh yang ia maksud di atas meja.


“Ada gulanya nggak Bi?” lirih Hana dengan suara lemasnya.


“Nggak ada Non,” jawab Bibi masih dari posisi yang sama.


“Ndre aku...”


“Kok nggak dikasih gula sih Bi, kalau tawar darimana Hana dapat tenaga.” Andre langsung menyemburkan kemarahannya pada bibi, hingga tak mendengar kalau Hana tadi hendak berbicara.

__ADS_1


“Maaf Den, saya pikir…”


“Yang kamu pikirkan itu belum tentu benar. Jadi kalau nggak tahu itu tanya, jangan seenaknya memutuskan.” Andre masih belum puas menumpahkan kekesalannya meski yang dihadapannya ini adalah orang dengan usia lebih tua darinya yang mestinya ia hormati bukan marahi seperti ini.


Dada Andre naik turun karena kesal dan pusing dengan keadaan Hana.


“Buatkan…”


Andre menghentikan ucapannya saat Hana meraih tangannya. “Kenapa sayang?” Andre menunduk untuk dapat lebih dekat dengan Hana.


“Aku mau itu…” lirih Hana begitu wajah Andre berada sangat dekat dengan wajahnya.


“Tapi itu tawar Hana," kesal Andre karena Hana justru meminta apa yang menurutnya tidak baik.


“Justru kalau ada gulanya aku makin mual Andre.”


Andre menatap bibi yang baru saja dimarahinya. Wanita paruh baya itu diam saja sambil menundukkan kepala. Akhirnya Andre mendudukkan Hana dan menyandarkan di dadanya. Ia meraih gelas berisi the hangat itu dan membantu meminumkannya.


Setelah minum Hana minta kembali dibaringkan.  Perut Hana masih terasa kencang, ditambah rasa mual gara-gara makanan tadi membuatnya tak nyaman. Sehingga ia meminta kepada Andre untuk dibiarkan istirahat sementara.


“Bibi pernah hamil kan?” tanya Andre begitu mereka berada di depan kamar Hana.


“Ya pernah Den, anak saya kan dua,” jawab bibi atas pertanyaan yang Andre lontarkan.


“Bibi tahu berarti cara merawat orang hamil?”


“Maksud Aden?”


“Ya makanan apa yang sebaiknya dimakan waktu hamil, apa yang boleh dan nggak boleh dilakukan ibu hamil, ya semacam itu lah. Sebenarnya besok akan ada perawat yang datang untuk merawat Hana tapi saya minta kebutuhan selain obat Bibi yang atur. Soalnya saya harus bekerja dan Hana akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Bibi di rumah ini.”


“Saya akan melakukan yang terbaik yang saya tahu dan saya mampu Den. Tapi kalau boleh tahu, Nona kenapa ya, kok sepertinya beliau lebih parah daripada teler bawaan bayi?”


“Teler bawaan bayi? Itu apa Bi?” tanya Andre yang memang benar-benar tak tahu seluk-beluk masalah kehamilan.


“Ya seperti Nona tadi, yang maunya tumis bunga papaya, dan kalau nggak diturutin menolak makanan lainnya itu namanya ngidam atau bawaan bayi Den. Dan ngidam itu bukan maunya Nona tapi maunya bayi yang ada di kandungan Nona,” jelas bibi.


“Masa iya? Hana kan baru beberapa minggu usia kehamilannya. Jadi mana mungkinia sudah punya mau?” Tapi setidak tahunya Andre masalah hamil, sedikit banyak ia tetap tahu karena ia dan Miko sama-sama belajar jurusan IPA

__ADS_1


saat SMA. Sehingga dengan usia kehamilanbeberapa minggu, bayi itu belum terbentuk dan masih berupa gumpalan darah di rahim Hana.


“Ya percaya nggak percaya Den. Tapi ya gitu itu kenyataannya.”


Andre tampak merenung, memikirkan apa yang baru saja Bibi katakan.


“Biasanya orang ngidam itu munculnya dari usia kehamilan berapa?” tanya Andre lagi. Karena perngidaman ia sama sekali belum pernah ia pelajari.


“Ya nggak mesti Den. Dan nggak semua wanita halim ngidam juga.”


“Terus kalau nggak kita turuti apa yang terjadi sama mereka?”


“Ya ngaak mesti juga Den, ada yang bilang nanti anaknya ileran, tapi ada juga yang seperti Nona yang menolak makanan lainnya saat menginginkan satu jenis makanan, dan banyak lagi reaksi lainnya.”


Andre menatap Hana yang berbaring sambil memejamkan mata. Ia kemudian menatap bibi yang sedari tadi masih setia di hadapannya. “Bibi bisa tolong bantu saya?” tanya Andre pada asistennya ini.


“Apa Den?”


“Bagaimana pun caranya, tolong carikan bunga papaya dan buatkan yang Hana minta.”


“Tapi Den…”


“Bukannya Bibi yang bilang kalau keinginan wanita hamil harus dipenuhi, dan saya ingin memenuhi keinginan anak saya yang dikandung Hana.”


Bibi menunduk lemas. Jika saja waktu bisa diulang, ia tak akan banyak bicara yang akhirnya membuat tuannya berpikir seperti ini.


“Apa bisa besok saja Den, ini sudah malam soalnya.”


Andre manatap tak suka pada setiap orang yang berani menawarnya seperti ini. “Kemarin Hana mengalami pendarahan, dan setidaknya dia butuh makan. Jika Bibi  keberatan dengan apa yang saya perintahkan, silahkan mulai saat ini juga Bibi mengemasi barang dan tak usah bekerja lagi dengan saya mulai besok.”


“Ti, tidak Den Andre. Saya akan mencari bunga papaya dan ikan asin sekarang.”


“Bagus. Saya ingin saat Hana bangun nanti makanan yang ia minta sudah siap sedia.”


Lutut bibi mendadak lemas. Jika ia menjawab lagi, takutnya Andre akan marah dan ia kehilangan pekerjaan seketika.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2