Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Jurang Pemisah


__ADS_3

Hai, hai.


Jangan bosen ninggalin jejak ya.


Senja agak lemes nih kekurangan amunisi, he he he


HAPPY READING


“Apa cara lain itu maksudnya aku?” tebak Andre.


Hana mengangguk.


“Sudah kuduga…” Andre sejenak membuang pandangannya sebelum kembali menatap Hana.


“Jadi kamu tahu?” kaget Hana.


“Termasuk preman yang menganggu kamu itu bukan?” Andre melanjutkan.


Hana mengangguk.


Andre kembali menatap wajah ayu wanita ini. Mata memang tak bisa mutlak membuktikan kejujuran, tapi dari keseluruhan system yang bekerja di wajah, kita bisa tahu jujur tidaknya seseorang. Tapi tak semua orang bisa membaca ekspresi seseorang, hanya mereka yang sudah sering berinteraksi dan yang benar-benar jeli lah yang bisa. Dan Andre merupakan salah satunya yang memiliki kemampuan tersebut.


“Kalau sudah tahu kenapa harus bertanya?” kesal Hana.


“Karena aku ingin mendengar jawaban langsung dari kamu. Ya mungkin saja ada miss informasi atau semacamnya jika aku mencari tahu sendiri,” kilah Andre.


Hana melipat tangannya di depan dada. “Sekarang kamu jujur deh, sebenarnya kamu udah tahu semua tentang aku?”


Andre menarik lebar kedua sudut di bibirnya. “Kamu marah?”


“Ya kamu kan serba tahu, jadi untuk apa susah-susah… eh…”


Hana kaget saat tubuhnya tiba-tiba melayang. “Kamu mau ngapain?”


“Kamu tahu pasti…”


Benar kata Andre, Hana pasti tahu tanpa perlu bertanya. Dengan sekali tendang, pintu kamar Andre langsung terbuka.


“Ndre…”


Hana nampak memelas, begitu Andre merebahkannya di atas ranjang.


“Apa kamu keberatan?” bisik Andre dengan suara rendah.


“Kenapa baru sekarang tanyanya?”


“Karena tanyanya kemarin-kemarin pasti jawabnya keberatan.”


Hana mengulum senyumnya. “Kalau sekarang?”


“Aku yakin kamu pasti udah siap nanggung dosa sama-sama…”


Hana tak dapat menahan lagi tarikan kencang di kedua sudut bibirnya. Andre langsung menyambut lengkungan indah di bibir Hana dengan sebuah pagutan mesra.


Drrttt ddrttt ddrtt ddrrrttt


“Sh*t! Nggak bisa nunggu nanti apa?”

__ADS_1


Andre menegakkan tubuhnya untuk menjangkau ponselnya yang bergetar di atas meja.


Andre kembali mengumpat saat tahu siapa yang tengah menelfonnya. Sementara Hana yang masih berbaring hanya menatapnya keheranan.


“Halo Ma…”


Saat baru saja Andre mengangkat telfonnya, tiba-tiba Hana mendengar ada yang menekan bel apartemen. Ia segera merapikan penampilannya dan berjalan ke depan untuk membuka pintu.


Cklek!


Pintu terbuka dan Hana menyembulkan kepalanya. JIka pengantar makanan seperti biasa, ia tak perlu keluar dan cukup menyembulkan kepala dan menerima apa yang diantarkannya. Namun yang muncul bukan sosok seperti yang Hana kira, melainkan sesosok wanita yang tengah berdiri membelakanginya.


“Permisi, anda cari siapa?” tanya Hana yang hanya muncul sebatas kepala.


Perempuan dengan ponsel di telinganya itu langsung berbalik. Ia terlihat sangat terkejut saat melihat keberadaan Hana.


“Kamu siapa?” wanita itu balik bertanya.


Dari belakang Andre muncul dari balik pintu. “Mampus!”


“Saya…” Hana tak melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba Andre menarik tubuhnya.


“Mama,” sapa Andre dengan sudut bibir yang ia tarika paksa selebar-lebarnya. Sementara perempuan yang dipanggil mama ini hanya memperhatikan dengan mata menatap tajam.


“Mama?” ulang Hana. Mulut dan mata melebar sempurna, yang saat sadar langsung ditutupnya. Saat itu juga reflex mundur untuk menyembunyika tubuhnya.


Ya Tuhan ini gimana.


“Ma, Mama masuk Ma.”


Perempuan paruh baya ini berjalan dengan anggun menuju sofa di ruang tamu Andre.


“Tutup pintunya.”


Tanpa membantah, Andre langsung melakukan apa yang diminta sang Mama. Ia segera membereskan bekas cemilan yang ia makan selama Hana mandi tadi. Melihat Andre yang berubah drastic seperti ini, membuat Hana hilang akal di depan pintu. Ia tak tahu harus berbuat apa, kalau mau membuka pintu dan kabur dari sini sepertinya tidak mungkin. Karena ia hanya menganakan kimono dan handuk yang membungkus rambut basahnya.


Astaga.


Hana baru sadar jika penampilannya sungguh tak pantas. Jadi satu-satunya hal yang mematung di dekat pintu. Ia harap dengan begini mama Andre tak menyadari keberadaannya. Ya tentunya itu hanya keinginan Hana saja, karena kenyataannya ia adalah makhluk kasat mata, bukannya makhluk halus yang bisa timbul dan tenggelam hanya dalam satu kedipan mata.


“Mama mau minum apa?” tawar Andre yang masih berdiri dengan tegap di samping mamanya yang sudah duduk di sofa.


Ya Tuhan, Andre saja bisa setakut itu dengan mamanya, jangan-jangan mamanya lebih kejam dari anaknya. Hana menutup mulut dan kembali berusaha tak menimbulkan


gerakan apa pun di tempatnya.


Spontan Hana menunduk saat wanita ini terlihat memutar tubuhnya. Ia yakin mama Andre akan menghadap ke arahnya.


Aku pikir mamanya akan memakiku, tapi ternyata kok diam saja. apa jangan-jangan aku benar-benar tak kelihatan? Batin Hana setelah bersiap untuk dimaki, nyatanya tak ada suara apapun yang didengarnya.


“Eh…” jantung Hana nyaris melompat saat tangannya terasa ditarik seseorang. Hana langsung lemas saat tahu mama Andre lah yang menariknya. Ya Tuhan, selamatkan hamba.


“Kamu bisa berpakaian lebih baik?” tanya mama Andre dengan nada rendah namun berhasil membuat gemetar dan pucat.


“Bi, bisa Nyonya.”


Mulutnya berkata bisa namun Hana tak tahu harus kemana. Ia takut dilempar jika tiba-tiba nyelonong ke kamar Andre, tapi jika tidak dia harus kemana. Karena semua baju-bajunya tersimpan di lemari yang sama dengan Andre.

__ADS_1


Andre dan Hana diam seribu bahasa. Bukan hanya mulutnya yang diam, seluruh anggota geraknya pun lumpuh di waktu yang sama.


Perempuan anggun ini menghela nafas. “Saya tahu di apartemen ini hanya ada satu kamar, baju kamu ada di sana?”


Hana sempat menatap Andre sebelum ia menganggukkan kepala.


“Silahkan kamu masuk dan segera ganti baju kamu.”


Hana segera berjalan dan menghilang di balik pintu kamar Andre selang tak berapa lama. Selepas Hana pergi, tinggal


Andre dan mamanya yang bertahan di sana.


“Duduk…”


Andre sama sekali tak bersuara dan duduk di salah satu kursi di hadapan sang mama.


“Dia tinggal di sini?”


Andre mengangguk.


“Berapa lama?”


“Beberapa minggu.”


Perempuan anggun ini memijat pelipisnya melihat kelakuan anak tunggalnya.


“Kalian…”


“Ma, Andre tahu Andre salah. Tapi Andre serius sama Hana.”


Mama Andre kembali menghela nafas. “Orang tuanya tahu kalau kamu selama ini bawa anak perempuannya di sini?”


Andre menggeleng lemah sebelum kepalanya tertunduk lemas.


“Astaga Andre. Mama papa salah apa sih Nak, sampai kamu punya kelakuan kayak gini.”


“Maafin Andre Ma.”


“Jangan-jangan wanita itu lagi yang menggoda kamu, iya?” terka mama Andre dengan suara meninggi.


“Ma, Hana nggak kaya gitu. Awalnya Andre yang memaksa dia Ma, karena…”


Andre ragu. Apakah ia harus sedikit merubah cerita agar ia masih bisa bersama Hana, atau membiarkan semua mengalir apa adanya.


“Karena apa?” desak sang Mama.


Andre menghela nafas. “Andre harus minta ijin sama Hana Ma, karena bagaimanapun juga ini menyangkut masalah keluarganya." Andre merasa ia harus mengulur waktu sembari terus berfikir untuk mencari alasan yang tepat untuk menyelamatkan Hana di mata mamanya.


“Dia ada masalah dengan keluarganya kenapa harus kamu yang sekarang menanggungnya.”


“Karena Andre cinta sama Hana Ma." Dengan penuh keyakinan Andre mengungkap perasaannya untuk Hana di depan sang mama.


Hana yang sudah selesai ganti baju mendengar dengan jelas pertengkaran ibu dan anak ini. Di satu sisi ia merasa bahagia karena Andre dengan yakin berkata bahwa ia mencintainya, namun kenapa di saat yang sama muncul jurang pemisah untuk keduanya.


Tuhan, apa aku tak diijinkan merasa bahagia?


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2