Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Impas


__ADS_3

HAPPY READING


Satu film telah Hana, Haning, Eka, Risma dan Anin tuntaskan. tuntaskan. Tiga diantaranya sudah terlalap dan melayang di alam mimpi menyisakan Haning dan Hana masih terjaga dan berbincang berdua.


“Sebenarnya apa alasan kamu mau resign Han?” tanya Haning yang masih menjunjung tinggi kaidah menggali informsi untuk mendapatkan jawaban atas rasa penasaran yang berkecamuk dalam dirinya.


“Aku cuma nggak pengen buat Mbak Haning kesel tiap hari. Biar nggak marah-marah dan cepat tua, ha ha ha…” ujar Hana dengan diakhiri tawa.


“Tck… Ini mumpung aku lagi baik. Nanti kalau kumat lagi gimana?” Haning paham maksud Hana hanya bercanda sehingga ia menaggapinya dengan candaan pula.


“Emang masih berani?” tantang Hana setelah Haning tahu sedikit bagian tentang dirinya.


Haning menggeleng. “Kamu tahu nggak, aku nyaris pingsan saat melihat kemunculan pak Andre di acara makan malam. Aku takut kalau langsung dibereskan,” jujur Haning mengakui bahwa ia juga merasa bahwa kelakuannya selama ini sering keterlaluan.


“Sekarang sudah beres belum?” canda Hana.


Haning menatap sendu. “Sudah…”


“Aku mau nanya. Apa yang Mbak Haning pikirkan tentang Hana?” tanya Hana pada Haning untuk meminta pendapat tentang dirinya.


“Kamu mau jawaban jujur apa nggak?” Haning balik bertanya untuk mengetahu tipe jawaban seperti apa yang Hana kehendaki.


“Jujur dong…” jawab Hana dengan yakin.


“Bener?”


“Pahit ya kalau jujur?” tanya Hana tiba-tiba ragu.


Haning tak ingin lebih jauh mengerjai wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan rekan kerjanya ini. Ia menghela nafas dan bersiap bicara. “Sepertinya sejauh mana sih hubungan kamu sama pak Andre?” tanya Haning to the point.


Hana sudah bersiap dengan pertanyaan semacam ini, sehingga ia bisa menjaga wajahnya agar tetap biasa saja. “Sejauh mana ya? Masih di kota ini saja belum pernah kemana-mana selain perjalanan bisnis dulu saat kami belum ada hubungan,” jelas Hana berusa mengutarakan kalimat aman.


“Lha terus kalian berhubungan sejak kapan?” tanya Haning penasaran.


“Sejak aku keluar dari perusahaan,” jujur Hana.


“Kamu bukannya keluar karena terlibat skandal?” Haning mulai mengutarakan apa yang ada di kepalanya.


“Skandal dengan siapa?” Hana balik bertanya dengan wajah jenaka.


“Ya dengan pak Andre lah…” kesal Haning karena wanita ini sudah berkali-kali mempermainkannya malam ini.


Hana menggeleng.


“Terus status hubungan kamu sekarang apa? Mending kamu jujur deh dari pada kita mikirnya macem-macem.” Haning mulai mengancam agar Hana tak terus mempermainkannya.


“Nggak apa-apa kok.”


“Nggak apa-apa gimana? Atau benar kamu itu…” Haning mendadak ragu dengan kata yang akan ia ucapkan.


“Kamu beneran simpanannya pak Andre?” Akhirnya Haning menguatarakan apa yang ada di kepalanya setelah beberapa kali menimbang.


Hana menghela nafas. “Aku juga nggak tahu Mbak disebutnya apa. Yang jelas hubungan kita terhalang restu…”


“Siapa yang ngasih restu? Orang tua kamu?”

__ADS_1


Hana membalas tatapan Haning yang sejak tadi terhunus padanya. “Semua…”


“Kok bisa?”


“Ya bisa Mbak. Buktinya ini kejadian…”


“Kurangnya apa coba?”


“Siapa?”


“Ya kamu ya pak Andre. Coba yang disukain aku, pasti ibu langsung kasih ijin…”


Hana tertawa kecil mendengar celoteh Haning. Aku saja kadang nggak PD dengan umur, apa lagi kamu Mbak, lanjut Hana dalam hati.


“Kenapa tertawa, mau bilang aku nggak secantik kamu, iya?”


“Ya nggak gitu Mbak. Tapi Andre masih sangat muda.”


“Mau ngatain aku tua, ha? Emang dia umur berapa sih?”


“Emm, belum genap 25 Mbak…” jawab Hana setelah sempat menghitung ulang di dalam hati.


“Ha…?!”


Lagi-lagi Hana dibuat tertawa dengan reaksi polos Haning. Menilik karir yang sudah ditapaki Andre, memang masih sangat sulit diterima kalau usianya belum genap 25. Tapi ini tak seberapa dibanding Dika yang terpaut satu tahun lebih muda. bisa menjadi konglomerat dengan aset pribadinya. belum lagi kalau digabung dengan keluarganya.


“Terus kamu umur berapa sekarang?” tanya Haning lagi.


“Emmm… mau 27…” jujur Hana malu-malu.


“Awet muda kan aku Mbak?” ujar Hana dengan bibir masih berhias tawa.


“Tck…”


“Ya udah kita istirahat ya. Sekarang sudah hampir jam dua,” ujar Hana pada Haning.


Haning mengangguk. Namun ia masih setia menatap lekat Hana sehingga Hana merasa segan untuk memutus kontak sekarang.“Hana, aku makasih banget ya buat kesabaran kamu menghadapi aku selama ini…”


“Iya Mbak. Aku juga minta maaf kalau sering bikin Mbak Haning kesel selama ini. Tapi Mbak, boleh nggak aku minta sesuatu…”


“Apa. Asal jangan duit saja.”


“Aku masih boleh kan jadi teman Mbak Haning meski aku bukan bagian dari Spark Shop lagi…?”


Haning tak menjawab. Ia hanya merentangkan tangannya untuk menyambut Hana dengan pelukan. Hana pun segera menghambur ke pelukan wanita yang sudah bersikap seperti seorang kakak untuknya kini..


“Makasih banyak Mbak…” ujar Hana di sela pelukan keduanya.


“Aku juga minta maaf ya Han, selama ini sudah sering jahat sama kamu…”


Hana menarik tubuhnya dari pelukan Haning. “Kita impas berarti ya Mbak…”


Haning mengangguk dan Hana langsung menghambur lagi pada pelukan wanita dewasa ini. Keduanya kemudian segera bersiap untuk beristirahat untuk bersiap menghadapi kerasnya hidup esok hari.


“Selamat tidur Hana…”

__ADS_1


“Selamat tidur Mbak Haning…”


Dan dua perempuan ini perlahan berkelana ke alam mimpi.


***


“Pagi Pak Andre…”


“Selamat pagi Pak…”


“Pagi Pak…”


“Pak Andre…”


Andre berjalan lurus dan hanya tersenyum sesekali untuk membalas sapaan dari para karyawan yang dilewatinya. Hingga tiba di dekat jajaran stafnya, ia pun sejenak berhenti di sana.


“Elis, cepat periksa e-mail yang saya kirimkan kekamu dan segera cetak setelah fix semua. Dan serahkan ke pak Restu begitu beliau tiba.”


“Baik Pak…”


Andre segera berlalu tanpa menatap dua orang staf lainnya yang sudah sibuk dengan masing-masing pekerjaannya. Ia segera menghilang di balik pintu ruangannya karena masih banyak pekerjaan yang menantinya. Sehingga ia tak punya cukup waktu untuk bertegur sapa dengan orang lain yang tak cukup berkepentingan dengannya.


“Kemaren kamu nggak aneh-aneh kan Lis?” tanya Riza yang kini menatap Elis yang nampak sibuk dengan tugas-tugas termasuk yang baru saja Andre berikan.


“Tenang Mbak. Aku masih sayang pekerjaan,” jawab Elis dengan santainya.


Namun diam-diam ada hal yang membuat ia penasaran, tentang wanita yang Andre temui setelah meeting selesai malam tadi. Siapa sebenarnya wanita yang sedang dekat dengan pak Andre. Kenapa aku rasanya sangat mengenal wajah itu? Batin Elis dalam diam karena ia sempat mencuri pandang pada wanita yang Andre temui semalam.


“Syukurlah. Aku benar-benar tak mau kehilangan kalian. Lihat sendiri, perusahaan sangat selektif mencari kandidat untuk duduk di posisi kita sekarang, sehingga meski sudah mencari berbulan-bulan, belum ada yang datang untuk menggantikan Hana yang harus kehilangan jabatan karena tindakan bodohnya,” jelas Riza untuk meneguhkan kedua rekannya agar tak terlena dengan cinta dalam bekerja.


“Iya Mbak, iya. Aku panggil Emak lama-lama kamu Mbak,” balas Rahma yang sudah merasa tertampar karena Dedi dengan tanpa ampun langsung menolaknya.


“Ya aku kan emang sudah emak satu anak. Lagi otw dua ini,” pasrah Riza.


“Mbak Riza hamil lagi?” serempak Elis dan Rahma.


Riza meringis mendampati reaksi berlebihan dari kedua rekannya. “Belum kok belum. Belum tahu maksudnya.” Riza sengaja tersenyum lebar di akhir kalimatnya. Mereka bertiga kemudian kembali sibuk dengan masing-masing pekerjaannya.


Di tempat lain Hana baru saja selesai membantu rekan-rekannya untuk mempersiapkan toko yang hendak di buka. Hal ini nampak berbeda dengan biasanya karena dari kelima wanita ini, dua diantaranya sebentar lagi akan menjadi mantan karyawan. Mereka terlihat akrab dan bahu membahu membersihkan toko bersama-sama sementara Nuke sebagai manager belum tiba.


“Kaya mimpi tahu nggak…” ujar Eka yang tiba-tiba menghentikan pergerakannya.


“Apa Ka?” tanya Risma yang kebetulan berada paling dekat dengannya.


“Ini adalah saat terakhir kita bisa bareng-bareng seperti ini,” ujar Eka dengan menggengam erat sapu dengan kedua belah tangannya.


“Tapi kita kan masih bisa sering ketemu,” ujar Anin yang merasa menjadi salah satu objek yang dibahas sekarang.


“Benar, kita tinggal atur waktu saja,” ujar Hana yang kebetulan lewat di dekat sana. “Apa lagi aku yang setelah ini nggak tahu mau kerja apa,” lanjut Hana sambil memamerkan deretan gigi putihnya.


“Setidaknya kamu nggak akan langsung kelaparan Hana kalau nggak langsung kerja juga…” timpal Haning yang juga bergabung akhirnya.


Kelimanya sempat berpelukan sebelum kembali melanjutkan pekerjaan.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2