Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Kurang Ajar


__ADS_3

HAPPY READING


Dika dapat bernafas lega karena apa pun alasannya, Dedi  akhirnya bersedia membantu ayahnya di rumah sakit ini. Entah atas arahan Rudi atau memang karena panggilan dari hatinya, Dedi mengambil disiplin yang sama dengan ayah tiri Dika ini. Sehingga sekarang ia bisa menjalankan sementara apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab Rudi.


“Kamu kenapa seperti terkejut tadi?” tanya Rudi pada Dika.


Dika menggeleng dan lanjut berkutat dengan gadget di tangannya.


“Apa Dedi tak cerita terkait keterlibatannya membantu Ayah?” tanya Rudi memastikan. Ia menaksir ini menjadi alasan yang membuat dua bersahabat ini nampak tegang di awal pertemuan.


Dika menuntaskan urusannya sebelum kemudian menyimpan ponselnya.


“Dedi bahkan dengan songongnya ninggalin ruangan Dika tadi pagi. Dia kekeh tak mau terlibat dengan urusan internal rumah sakit ini apa lagi kalau sampai menjalankan apa yang menjadi tugas Ayah,” jelas Dika.


Dika bangkit saat melihat ayah tirinya hendak bangun untuk duduk. Dengan sigap ia segera membantunya.


Rudi nampak menghela nafas sebelum menatap serius wajah lelah anak tirinya. “Dedi memang tak mau mengelola rumah sakit ini. Dia bersedia melakukan tanggung jawab yang seharusnya ayah kerjakan, namun tak bersedia mengambil alih kepemimpinan rumah sakit ini.”


“Apa bedanya coba. Heran saya.”


“Itu lah kelebihan sahabat kamu…”


“Makanya Ayah begitu menyayangi dia?” terka Dika.


“Tapi di tempat yang berbeda dengan kamu tentunya…” Rudi menambahkan.


Kedua sudut bibir Dika tertarik lebar, saat ayahnya melakukan antisipasi demi menjaga perasaannya. “Saya tidak mungkin cemburu dokter Rudi. Saya tetap menjadi anak pertama kesayangan Anda...” ujar Dika dengan pongahnya.


Rudi membalas senyum lebar Dika. “Benar sekali. Lagi pula apa yang harus kamu cemburui, soal harta warisan juga tak mungkin, karena asset pribadi kamu jauh melampaui apa yang saya miliki, kasih sayang jelas sekali saya sudah sangat menyayangi kamu jauh sebelum kamu menerima saya...”

__ADS_1


“Tapi kasih sayang Ayah masih saya butuhkan sampai saat ini…”


Rudi merentangkan tangannya. Dika tak ingin membuang kesempatan langka ini. Ia bangkit dan menyambut pelukan sang ayah tiri. Bukan masalah Rudi tak pernah memeluknya, namun jika mereka tak hanya berdua, rasanya aneh saja kalau tiba-tiba mereka berpelukan seperti ini.


“Diiihh, Rista nggak diajak…”


Rista masuk dengan tak sabar dan langsung berlari bergabung dengan sang kakak dan ayah tiri. Ayah tiri bagi Rista, namun kenyataannya Rudi adalah ayah kandungnya.


“Lagi bahas apa sih, pakai acara pelukan segala…” tanya Santi yang baru saja menutup pintu.


Setelah tadi membuka makanan yang mereka cari sebelumnya, ternyata mereka baru sadar kalau lupa membeli minuman, sehingga Santi, Rista dan RIna kembali pergi untuk membeli minuman sekalian berjalan-jalan.


“Eeee…” Bingung juga harus bilang apa. "Ekhm, haus..." Dika segera meraih kantong berisi minuman yang Rista bawa dan mengambil satu diantaranya. Ia kemudian meminumnya untuk mengulur waktu sembari menyusun rangkaian kata yang hendak ia ucapkan.


“Dika kangen saja Ma. Nggak kerasa Dika sudah lama nggak ngobrol serius sama Ayah,” ujar Dika setelah ia selesai dengan minumannya.


Sementara Rudi hanya mengulas senyum seakan seiya dengan Dika.


Rina menyerahkan apa yang Dika pesan sebelum mereka pergi dan membukanya bersama kemudian.


***


“Han… beneran nggak boleh masuk nih?” tanya Andre yang tengah menyandarkan punggungnya di depan kamar  yang pernah mereka tempati berdua itu.


“Aku belum selesai Sayang!” teriak Hana dari dalam.


Andre sempat mengacak rambutnya sebelum memutuskan untuk menegakkan tubuhnya. “Masih mending kalau aku belum tahu, tapi ini sudah terlanjur khatam semua. Arrgghh!!” Andre berjalan tak tentu arah hingga akhirnya ia berhenti di ruang tengah yang di depannya terdapat satu set sofa. Ia yang gabut segera membanting tubuhnya di atas sana. Dengan posisi tengkurap, ia mulai memejamkan mata.


Di dalam, sebenarnya Hana sudah selesai mandi sejak tadi. Ia hanya mencari alasan agar Andre tak masuk ke dalam saat ini. Karena jika ia dan Andre sudah berdua di dalam kamar, maka setan akan berpesta untuk menggoda.

__ADS_1


Saat merasa Andre tak lagi memanggil-manggilnya, Hana segera bangkit dan perlahan membuka pintu. Ia sempat celingak-celinguk mencari keberadaan Andre sebelum menemukannya tengkurap di atas sofa. Hana pun berjalan perlahan dan berhenti tepat di hadapan kekasihnya.


“Maafkan aku Andre,” lirih Hana. Ia menahan kedua tangannya untuk menyentuh tubuh lelah pria yang telah merebut dunianya ini dan memilih segera ke kamar untuk mengembil selimut. Meski cuaca di luar cukup panas, namun keberadaan AC membuat ruangan ini dingin karenanya.


Setelah memastikan Andre terselimuti dengan baik, Hana segera kembali ke kamarnya. Ia melanjutkan kegiatan lama yang sudah tak pernah lagi ia lakukan lagi akhir-akhir ini. Dulu ia sempat menjadikan kegiatan ini sebagai sebuah cita-cita.


Hana ingin menjadi terkenal melalui sebuah karya bukan karena paras apa lagi criminal seperti yang ia lakukan sebelumnya. Meskipun Andre berhasil menenggelamkannya sekarang, namun sosoknya sempat mengemuka. Menjadi anak haram penguasa besar, berparas cantik dan bernyali besar. Ia berani menggoda CEO perusahaan besar seperti Dika, dan sempat menggelapkan dana dan mencuri data perusahaan dengan sangat mulus dan nyaris tanpa jejak. Sungguh tak menyenangkan mendapat image seperti itu. Sehingga ia sama sekali tak keberatan saat Andre mengubur semua tentang dirinya sehingga ia menjadi Hana yang bukan apa-apa seperti saat ini.


Hana kembali mengasah kemampuan menulisnya dan belajar merangkai kata seperti yang pernah ia lakukan semasa kuliah. Sayang semua harus ia hentikan saat Galih menugaskannya masuk dalam perusahaan besar seperti Surya Group sebagai duri yang pelan-pelan meruntuhkannya dari dalam.


Setelah berhasil membuat sebuah karya berupa syair yang belum ia beri judul ini, Hana memutuskan untuk sejenak beristirahat. Ia mulai membuat account social media dimana miliknya yang dulu sudah ia hapus semua. Beberapa platform menulis online telah berhasil ia masuki dan perlahan mulai dijelajahi. Ia ingin mencari jejak yang bisa diikutinya untuk bisa berkembang di dunia literasi.


“Akhirnya…” gumam Hana dengan senyum lebar menampakkan jajaran gigi rapinya.


Seorang ambassador dari platform menulis online berhasil ia temukan di instagram. Memang bukan sebuah pencapaian besar saat ia berhasil menulis di media online seperti ini. Uang yang dihasilkan pun tak seberapa, tapi dari sini ia bisa perlahan melatih kembali keterampilannya. Setidaknya karyanya akan lebih mudah ditemukan dan dibaca. Dari sini ia akan tahu kelayakan tulisannya untuk naik cetak dan diedarkan pada pembaca.


Hana coba mengirim pesan untuk memperkenalkan diri menggunakan identitas barunya. Ia ingin memulai semua dari awal, sehingga semua tentang dirinya di masa lalunya benar-benar ia biarkan tanggal.


Setelah semua dirasa beres, Hana segera mematikan laptopnya. Setelah lapop ia tempatkan ditempat yang nyaman, ia lantas merenggangkan tubuhnya yang pegal karena duduk dalam posisi sama dalam waktu yang cukup lama. Ia mulai beraksi saat sore hari dan bahkan sekarang sudah gelap seperti ini.


“Kamu mau aku tidur di luar malam ini?”


Suara Andre berhasil mengejutkan Hana yang sama sekali tak tahu sejak kapan datangannya.


"Kam..." Hana menelan suaranya serta menurunkan bantal yang semula diangkatnya. Ia semula ingin menimpuk Andre karena dengan lancang masuk ke dalam kamarnya. Namun sekarang ia baru ingat kalau Andre adalah tuan rumah di sini, sehingga kalau dipikir lagi sebetulnya ia yang kurang ajar karena telah menempati kamar utama dan membiarkan sang pemilik rumah tidur di sofa.


“Maaf…” itulah kata-kata yang akhirnya Hana ucapkan.


Hana memang tak mengunci kamarnya setelah menyelimuti  Andre tadi, sehingga tak aneh jika Andre sekarang bisa masuk ke dalam dengan mudahnya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2