
...*HAPPY READING*...
Rina sengaja diam, membiarkan Dika bermain dengan pikirannya.
"Bhhffwaahahahaha....."
Rina tak mampu lagi menahan tawa melihat bagaimana lucunya ekspresi Dika. Jelas sekali suaminya ini memasang berbagai praduga di dalam otaknya.
Dika sendiri berhasil dibuat cengo melihat istrinya yang sebelumnya diam kemudian tertawa terbahak-bahak tanpa ada alasan yang jelas.
Rina meraih lengan kanan Dika dan mengamitnya erat.
"Rin..."
"Hmm..." Rina belum mampu menjawab dengan benar karena ia masih sibuk meredam tawa.
Pikiran Dika kacau melihat tingkah tak biasa istrinya. Ya Tuhan. Jangan-jangan Rina depresi karena aku yang terlalu banyak memaksanya.
Tanpa pikir panjang, ia langsung memeluk erat tubuh Rina.
"Rina, sayang. Maafin aku ya. Aku yang seenaknya aku yang semaunya, maafin aku sayang."
Ada nada cemas di setiap ucapan Dika. Membuat tawa Rina langsung reda. Ini Dika kenapa sih?
Saat Rina ingin melepaskan tubuhnya, Dika justru memeluknya makin kencang.
" Ih, Dika ih, leepaassss... "
Rina berusaha mendorong Dika. Namun sepertinya ia kalah tenaga.
"Dika. Ihhhh....."
Sekali lagi Rina mencoba, namun sepertinya soal tenaga ia kalah jauh dari suami berondongnya. Akhirnya Rina pasrah.
"Aku nggak bisa nafas nih..."
Mendengar Rina berkata demikian, Dika langsung melepas dekapannya.
Rina memegang kedua sisi wajah Dika.
"Maafin aku," ucap Dika sekali lagi.
"Buat?"
"Buat kamu tertekan, buat kamu nurutin mau aku tanpa peduli kamu sendiri mau apa enggak, buat..."
Rina menahan bibir Dika dengan telunjuknya.
"Ngelantur ih..."
Dika membawa tubuh Rina ke hadapannya dan kembali mendekap tubuh mungil istrinya.
Rina meraih kedua tangan Dika yang tertaut di depan tubuhnya.
"Kamu mikirin apa sih?"
Dika tak menjawab. Ia meletakkan dagunya di bahu Rina.
"Aku udah mikirin semua. Aku tahu berhubungan sex itu bisa bikin hamil, kamu lupa aku anak IPA?"
Dika masih diam mendengarkan istrinya.
"Dan aku siap jika kehidupan itu memang ada."
"Bener?!" tanya Dika tak percaya.
Rina mengangguk pasti.
"Kita udah nikah, apa yang perlu ditakutkan?"
"Alhamdulillah ya Allah..."
__ADS_1
"Berarti siap program dong?" lanjutnya.
Rina menghela nafas.
"Nggak program juga, tapi biar berjalan apa adanya."
Rina beringsut agar dapat menatap wajah lelakinya.
"Jika dalam bulan ini kehidupan itu hadir, aku akan merawatnya, membesarkannya dengan penuh cinta, dan mengubah beberapa bagian dari rencana masa depanku, tapi..."
Rina menjeda ucapannya. Perasaan Dika mendadak gelisah, melihat bagaimana sorot mata Rina yang kini menatapnya.
"Tapi apa...?" desak Dika saat Rina tak kunjung menuntaskan ucapannya.
Rina kembali menghela nafas membuat Dika merasa kian gelisah.
"Jika bulan ini haid masih datang, aku benar-benar ingin menunda hingga aku siap muncul sebagai istri Restu Andika."
Rina melengos begitu menyelesaikan ucapannya. Ia tak siap jika harus melihat secara langsung sorot kecewa dari mata suaminya. Ia yakin jika Dika sebenarnya ingin segera ada anak diantara mereka, namun kembali pada tekat awalnya, bahwa ia harus menjadi sosok yang kuat hingga merasa pantas untuk bersanding dengan Dika.
Perlahan Dika memwaba wajah Rina untuk menghadap ke arahnya. Ia mengunci mata wanitanya begitu tatapan teduh itu di dapatkannya.
"Aku setuju," kata Dika tiba-tiba.
Spontan mata Rina membola seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Kamu yakin?" tanya Rina ragu.
"Yakin."
Dika menghela nafas.
"Lagian usia kamu juga sebenarnya belum cukup untuk hamil."
Rina mendelik. "Tahu darimana?"
Dika menunjuk keningnya dengan telunjuk.
Suasana yang sempat tegang mencari seketika. Rina mencebik dengan sikap sombong suaminya.
Dika tertawa kecil, dan mencium gemas istri cantiknya.
"Aku sempet ngobrolin inj sama ayah, dan sebenarnya ayah juga menyarankan kita untuk menunda kehamilan. Tapi akunya aja yang kemaren-kemaren lupa."
"Ck. Otak kamu overload tuh."
"Iya, isinya bayangan tubuh polos kamu dan desahan kam..."
"Dika!"
"Apa sayang..."
"Malu ih."
"Sama siapa?"
"Ya kalau ada yang denger..." rengek Rina.
"Nggak ada, bahkan kalau kita..."
"Nggak!" tolak Rina cepat.
"Kalau aku mau?" tanya Dika dengan kelingan nakalnya.
"Aku nggak maauuuu...." rengek Rina seolah hendak menangis.
"Hahaha, iya iya aku bercanda...."
Kedua sejoli ini melanjutkan perjalanan dengan penuh canda tawa. Masih ada 5 hari rencana mereka untuk menghabiskan waktu bersama dan menanggalkan segala urusan lainnya.
***
__ADS_1
"Kakak..."
Tanpa permisi Rista nyelonong begitu saja ke ruangan kakaknya. Bukan untuk menemui Dika karena Dika sedang tak di Indonesia, tapi Dedi yang sementara menggantikan posisi kakaknya. Dedi memang tak punya ruangan sendiri. Selama ini ia bekerja di ruang yang sama dengan Dika.
Dedi melepaskan kaca matanya dan tersenyum menyambut kekasih kecilnya.
"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Dedi begitu Rista berhenti di sampingnya.
"Sama supir lah. Sekarang Kak Dedi kan nggak pernah ada waktu buat Rista, makanya Rista yang datang ke sini."
Rista mengambil kacamata yang baru saja Dedi lepas dan kembali memasangkan di wajah tampan kekasihnya.
"Gantengan gini," ucap Rista sambil mendarat kan pantat di atas paha Dedi.
Sontak Dedi terkejut dan mendorong tubuh Rista agar turun dari pangkuannya. Namun Rista lebih gesit dengan segera menglingkarkan lengannya di leher Dedi.
"Ta..."
"Kaaakkkk...., aku kangen..." protes Rista saat Dedi hendak memperingatinya.
Dedi hanya mampu menghela nafas. Jujur, ia sendiri sangat merindukan kekasih kecilnya ini. Akhirnya ia memilih untuk membalas pelukan Rista.
"Ded ini...."
Andre membeku melihat pemandangan tak biasa di hadapannya. Ia bingung lebih baik segera keluar atau melanjutkan langkahnya.
Sekian waktu terdiam, nampaknya kehadiran Andre tak mampu mengusik Dedi dan Rista yang tenggelam dalam dunianya. Akhirnya ia keluar perlahan dan menutup pintunya pelan.
Andre merutuki kecerobohannya. Siapa suruh main nyelonong gitu aja ke ruang atasan. Harusnya kan ketuk pintu dulu.
Andre yang berjalan dengan tergesa menyisakan tanya bagi jajaran staf sekretaris yang dilewatinya. Mereka saling beradu pandang dan melempar tanya. Namun keempatnya serempak menggidikkan bahu karena sama-sama tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Sementara di dalam ruangan Dedi masih berusaha menahan diri untuk tak bertindak di luar batas pada kekasihnya.
Nafas keduanya menderu, tatapan mereka beradu.
"Ta..." lirih Dedi berharap Rista paham maksudnya.
"Dia bangun ya?" tanya Rista.
Melihat Dedi menganggukkan kepala, gadis kecil ini akhirnya turun dari pangkuannya meski sebenarnya ia pun enggan.
"Seberapa bahaya sih kalau aku nggak cepet-cepet..."
"Ta, I've told you right, jadi jangan mancing sayang ya...."
"Mancing? Emang disini ada yang bisa dipancing?"
Dedi mengacak rambutnya frustrasi. Ia melepas kacamata dan meletakkannya dengan kasar.
"Mau kemana Kak?" tanya Rista saat Dedi berdiri dan menarik pergelangan tangannya.
"Cari makan. Kamu belum makan kan?"
"Tapi aku..." tubuh Rista limbung.
Greb
Dengan sigap Dedi menahan tubuh Rista yang nyaris jatuh dan mendekapnya.
Setelah membantu Rista kembali berdiri, Dedi coba menatap ke bawah. Ternyata Rista nyaris jatuh karena menginjak tali sepatu yang entah sejak kapan lepasnya.
"Kamu nggak apa-apa?"
Tanpa aba-aba, Dedi segera berjongkok dan mengikatkan tali sepatu kekasih kecilnya. Setelah selesai dengan tali sepatu, Dedi bangkit dan kembali meraih tangan Rista.
"Temenin aku makan ya, tadi pagi belum sempat sarapan."
Dedi membawa Rista berjalan dengan tangan saling menggenggam. Meskipun tak berani memandang secara terang-terangan, hal ini cukup menarik perhatian para staf di kantor yang kebetulan dilewatinya.
Banyak pandangan tak biasa dilayangkan pada dua sejoli ini. Mereka menganggap kedekatan Dedi dan Rista tak lebih dari kedekatan sebagai saudara karena Dedi merupakan sahabat kakak Rista, namun beberapa dari mereka yang peka dapat menangkap ada yag berbeda dari keduanya.
__ADS_1
Namun siapa mereka, hanya staf biasa yang tak punya hak untuk tahu kehidupan pribadi atasannya.
TBC