Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Keajaiban


__ADS_3

HAPPY READING


Dengan muka tertunduk, Hana menyandarkan kepalanya di pundak Andre. Sementara Andre harus tetap tegak meski kedudukannya menjadi terdakwa.


Berkali-kali Rio memijat pelipisnya. Namun disini ia harus tegas memainkan perannya sebagai seorang kakak terhadap adik perempuannya.


“Aku tidak mau tahu, yang jelas pernikahan harus segera dilaksanakan,” ujar Rio tak terbantahkan.


Tentu saja kalimat ini menjadi angin surga bagi Andre dan Hana, jika saja tak ada tragedy yang membuat mereka seperti ini.


“Jujur saja aku tak ada masalah, tapi cara ngomongnya bagaimana? Nggak mungkin kan kalau...” Andre tak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya melanjutkan dengan helaan nafas.


“Meski ini pure salah kalian...,” ujar Rio sambil menunjuk Andre dan Hana. “Tapi aku tak akan lepas tangan,” lanjutnya.


Rio menghela nafas dan bangkit dari tempatnya semula. “Aku akan...,”


Cklek!!


Belum juga Rio menyelesaikan kalimatnya, ia sudah terinterupsi oleh suara pintu yang oleh seseorang dibuka dari luar. Dan ternyata yang datang adalah Mustika bersama Galih di sana. Rio pun dapat bernafas lega, setidaknya masalah mereka sudah bermuara.


Dan rencana pernikahan pun segera Rio ungkapkan dengan alasan yang dibuat semasuk akal mungkin. Galih tak banyak complain karena jujur saja ia hanya mengikuti kemauan anaknya saja. Ia memangkas habis ambisi karena ingin menikmati hari tua. Termasuk urusan anak, dia mau yang terbaik saja.


“Apa Andre sudah bicara dengan orang tua masalah ini?” tanya Galih setelah Rio mengatakan semua.


“Apa yang harus dibicarakan dengan kami?”


Ternyata Edo dan Heni juga ke sana. Mendengar Hana dilarikan ke rumah sakit pasutri ini segera meluncur untuk melihat kondisi calon menantunya.


“Pa, Ma…” sapa Andre.


Andre lantas bangkit segera untuk menyalami kedua orang tuanya.


“Apa mungkin kita harus mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol sekarang?” tanya Galih sembari menjabat tangan Edo.


“Tentang apa?” tanya Edo yang memang belum mendengar apa yang Galih dan Rio bahas sebelumnya.


“Tentang pernikahan anak-anak kita,” jawab Galih dengan lugasnya.


Edo nampak sekilas menatap Hana. Hana pun hanya bisa tersenyum membalasnya.

__ADS_1


“Apa tidak sebaiknya menunggu Hana sehat dulu baru bisa membahas ini lebih lanjut?” usul Edo.


“Masalahnya yang jadi obat Hana itu Andre Om,” canda Rio menyela.


Sontak semua tertawa, kecuali Hana dan Andre tentunya. Tak ingin membuat para orang tua curiga, keduanya pun ikut-ikutan mengurai tawa. Meski nyatanya sangat dipaksa.


“Apa betul Hana?”


Jika tadi Hana masih bisa mengangkat wajahnya, sekarang ia persis seperti siput yang menggulung dirinya karena malu. Bagaimana tidak malu, yang melontarkan tanya demikian adalah calon mertuanya.


“Ya jangan Hana lah Om yang ditanya. Mau bilang iya pasti malukan, coba kalau Andre,” goda Rio sambil menatap jengkel calon iparnya ini.


Tidak ada yang menyangka jika raut kesal yang Rio layangkan datangnya dari hati, pasalnya papa anak tiga ini membalutnya dengan canda.


“Iyain ajalah. Dari pada diblacklist calon ipar,” pasrah Andre.


Beruntunglah Andre karena disana ada Rio yang pandai sekali menggiring suasana. Bukannya dia tak mampu tapi kalau masalahnya demikian pasti susah untuk bermain peran.


1 jam kemudian.


Galih dan Edo sudah selesai membahas semuanya. Mereka telah tiba di kata sepakat agar bisa melangkah bersama. Memang pria kalau sudah bicara nyaris tanpa titik koma.


“Bicaranya sudah kan?”


Serempak semua yang ada disana fokus terhadap Heni yang tiba-tiba bersuara karena pasalnya para pria hanya terus bicara tanpa peduli di sana ada juga wanita yang punya peran sebagai orang tua.


Mustika yang sejak tadi juga hanya diam perlahan menatap calon besannya. Dan tanpa diduga, Heni pun membalas tatapannya. Keduanya sejenak beradu pandang sebelum terlebih dahulu Mustika putuskan.


“Baiklah…,” gumam Mustika.


“Sebelum saya bicara, apa Mbak Mustika ada yang ingin disampaikan?” tanya Heni pada calon besannya. “Karena sepertinya sejak tadi hanya kita yang belum menyampaikan pendapat,” lanjutnya.


Heni dan Mustika memang belum akrab. Sehingga tak heran jika saat komunikasi seperti ini pun masih terasa formal.


“Saya hanya mengusulkan satu hal,” ujar Mustika sebelum kembali beradu tatap dengan Heni. “Ehm, saya yakin Mbak Heni paham,” lanjutnya setelah merasa dapat kesimpulan.


Para pria tentu dibuat bingung seketika. Terlebih melihat Heni dan Mustika yang bicaranya tak langsung pada inti seperti mereka. Bahkan komunikasi yang dilakukan hanya dengan saling menatap dan menyimpulkan.


“Kalau begitu ayo,” ujar Heni seraya bangkit.

__ADS_1


Dan seketika Mustika melakukan hal yang sama.


“I, ini maksudnya apa sih?” tanya Rio yang sama sekali tak bisa menerjemahkan situasi ini.


“KUA tutup jam berapa sih Mbak?” tanya Mustika pada Heni.


Glek!


Rio menelan ludah. Selain diacuhkan, ia juga sama sekali tak paham dengan situasi ini. Langkah selanjutnya adalah berusaha mencari tahu dari para papa. Namun sepertinya mereka juga tidak tahu namun pasrah dengan apa yang akan dilakukan istri-istrinya.


Heni melihat ponselnya sekilas. “Setengah jam lagi penghulu akan datang Mbak. Dan saya rasa kita harus keluar sebentar untuk mencari pakaian yang pantas untuk Hana.”


“Apa?!” serempak Rio dan Andre. Sementara Hana hanya mampu membulatkan mata tanpa suara.


Sepertinya hanya para anak muda yang kaget di sana. Sementara Edo dan Galih nampaknya sudah biasa dengan keajaiban yang dimunculkan istri mereka.


“Nggak usah Mbak. Sebenarnya saya sudah siapkan. Tinggal minta saja mereka untuk mengantar,” ujar Mustika sambil tersenyum ceria. “Niat hati sih besok maunya, tapi karena Mbak Heni sudah menyiapkan juga nggak ada salahnya kalau dilakukan segera.”


Tiba-tiba Andre dibuat gemetar. Ia tahu sekarang apa yang para mama ini rencanakan. Dan tentunya hati dan pikirannya bergejolak tak karuan.


“Gimana nih,” lirih Andre sambil menyikut Rio yang masih plonga-plongo.


“Mau lari Lu!” ancam Rio yang masih terus diliputi pikiran buruk tentang Andre ini.


“Enggak Yo. Tapi gimana caranya...” jelas Andre yang sudah pasrah.


Rio menepuk jidatnya. “Ambil wudhu sholat. Minta petunjuk sama Allah.”


“Emang kamu udah sholat?”


“Ya belum, makanya ayo.”


Dan keduanya segera pergi meninggalkan ruangan Hana. Sepertinya hanya Rio yang bisa Andre mintai nasehat sekarang, tentang bagaimana dan apa yang harus ia lakukan.


Ijab kabul memang hanya dengan satu kalimat, namun kalimat ini adalah kalimat suci yang saat diucapkan mampu menggetarkan arsy. Jelas Andre dibuat panic karena hal sesakral ini harus dilakukan dalam kondisi seperti ini dan semendadak ini.


Tapi jika tidak sekarang, mau kapan lagi? Sudah terlanjur ada anak di rahim Hana. Mau nanti atau sekarang mereka menikah, tetaplah itu menjadi anak yang walinya kembali pada Hana. Bukan Andre meski ia adalah ayah biologisnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2