Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Tak Mau Kehilangan


__ADS_3

HAPPY READING


“Sebenarnya itu buat apa sih ?”


Hana tak menjawab. Ia hanya tersenyum sembari memeluk Laptop yang baru saja Andre belikan untuknya. Yang tadi terjadi adalah Hana berhasil mencegah Andre untuk memborong semua laptop yang ada dan membawa 1 buah laptop yang bahkan tak hanya support desain yang ia minta namun bahkan untuk game pun mampu jika ia mau untuk menggunakannya.


“Han…” kembali Andre memanggil kekasihnya ini, karena sejak mereka keluar dari toko tadi, Hana masih asik senyum-senyum sendiri dan menacuhkan semua pertanyaan yang Andre berikan.


Sadar jika ANdre mulai kesal, Hana pun menoleh dengan senyum terpatri indah di wajahnya. “Aku belum tahu,” jawabnya tanpa dosa.


“Belum tahu?!” Andre tak percaya dengan jawaban ajaib kekasihnya. Ia tadi kekeh minta, tak tahunya masih belum tahu untuk apa. Bukan maksud Andre menyesal mengeluarkan uang untuk Hana, tapi tak biasanya Hana hidupnya tak berkonsep seperti ini. Tak biasanya Hana mau teguh untuk sesuatu yang ia sendiri belum tahu akan seperti apa nantinya.


Hana mengangguk yakin.


“Bukan kamu banget beli sesuatu tanpa alasan. Bukan karena aku banyak uang kan…” Andre geli sendiri dengan apa yang baru ia ucapkan. Bukankah selama ini Hana tak pernah sekali pun minta sesuatu dan bahkan selalu menolak saat ia ingin memberinya sesuatu.


Hana memutuskan kontaknya. Ia kembali menatap lurus ke depan. “Kita cari makan ya…” ujar Hana kemudian.


“Kamu mau makan apa?” sepertinya Andre lupa dengan topik yang ia pusingkan sebelumnya.


“Emm…. Bentar…” Hana nempak mengernyit. sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu yang ingin ia makan.


Hingga Hana mulai mengotak-atik ponselnya, Andre  masih membiarkan saja. Ia justru memilih untuk focus pada kemudinya.


“Halo Ma…”


Andre spontan menoleh mendengar ucapan Hana tiba-tiba. Namun ia segera kembali ke posisi semula saat tahu ternyata panggilan ma yang baru saja Hana ucapkan bukanlah bermakna mama seperti yang ia bayangkan. Ia kembali membiarkan Hana sibuk berbincang dengan seseorang di  seberang sana.


“Sudah?” tanya Andre setelah melihat Hana menjauhkan ponselnya dari telinga.


“Sudah,” jawab Hana sembari menyimpan ponselnya.


“Mau makan apa?” tanya Andre kemudian.


“Kita belanja bahan aja ya…”


“Kenapa?”


“Aku mau masak…”


“Oh. Oke…” ANdre mengiyakan tanpa banyak protes dan bertanya.


Hana kemudian menginstruksikan ke mana mereka akan belanja bahan makanan. Setelah sampai di tempat tujuan, Hana dengan gesit mengambil bahan-bahan yang ia butuhkan.


“Kamu mau masak apa sih…?” tanya Andre saat melihat Hana mengambil berbagai jenis daun. Bahkan ada beberapa diantaranya yang sepertinya nampak sudah mengering.

__ADS_1


“Aku mau bikin nasi liwet,” jawab Hana tanpa menatap Andre yang mengekor di belakangnya.


Andre meraih beberapa belanjaan Hana di dalam kerangjang. Ia memperhatikan dengan seksama, pasalnya ia sama sekali tak tahu itu apa selain cabe yang tak begitu ramah dengan perutnya.


“Emang kamu bisa?” tanya Andre setelah meletakkan semua.


“Lihat aja nanti,” jawab Hana yakin.


“Kenapa nggak beli atau minta bibi aja yang bikin sih...” protes Andre karena membayangkan betapa pusingnya Hana nanti saat memadukan bahan sebanyak ini.


Hana berhenti memilah dan membalik tubuhnya menhadap Andre di belakangnya. “Karena aku pengen masak Andre,” jawab Hana setelah tatapannya beradu dengan anak tunggal keluarga Wiguna ini.


“Nanti kamu capek lagi.”


“Nggak akan.” Hana berusaha meyakinkan.


Hana kembali berjalan dengan diikuti Andre yang mengekori kemanapun ia pergi. Sebenarnya Hana sudah meminta Andre untuk menunggu di mobil saja, namun Andre bersikeras untuk menemaninya.


Hana tahu Andre tak pernah benar-benar bersantai. Meskipun raganya nampak menemani Hana namun isi kepalanya tak jauh-jauh dari bekerja. Jadi dengan troli di sebelah tangannya, sebelah tangan lagi sibuk mengotak-atik ponsel dan sesekali mengobrol dengan ponsel menempel di telinga.


“Kamu sudah?” tanya Andre saat sadar kini Hana tengah berdiri mematung sembari memandanginya yang baru saja membahas pekerjaan dengan kolega.


“Sudah.” Hana kemudian mengulurkan telapak tangannya yang disambut dengan gengggaman oleh Andre.


mengulurkan tangannya.


“Kenapa sih?” tanya Andre tak mengerti karena Hana menolak tangannya ia genggam.


“Itu lagi trouble jadi credit card dari kamu nggak bisa dipake, terus aku nggak punya cash buat bayar…” jelas Hana.


“Ohh…” Andre kemudian mengeluarkan ponsel yang baru saja ia simpan.


“Kamu mau ngapain?” tanya Hana saat melihat Andre masuk ke dalam sebuah aplikasi.


Andre hanya tersenyum sembari menaikkan alisnya. Ia kemudian berjalan ke arah kasir. “Mbak, bisa pakai e wallet kan?” tanya Andre kepada kasir yang bertugas.


“Bisa pak…” Wanita ini kemudian menunjukkan barcode dan langsung disambut oleh Andre dengan mendekatkan ponselnya.


“Sudah ya…”  ujar Andre sembari menjauhkan kembali ponselnya.


Andre segera meninggalkan mini market bersama Hana dengan sejumlah belanjaan di tangannya, Keduanya berjalan menuju mobil dengan tangan saling menggenggam.


“Kenapa?” Andre protes karena lagi-lagi Hana menarik tangannya.


“Tuh…” Hana menunjuk menggunakan ekor matanya agar Andre menatap di sekitar mereka. “Mata mereka udah mau copot ngeliatin kamu,” lanjut Hana.

__ADS_1


Di tempat yang berisi sayur dan bumbu dapur memang sangat jarang ada laki-laki. Jadi sekali ada yang nampak sedikit tampan dan berpenampilan rapi memang langsung menjadi pusat perhatian. Terlebih karena Andre terlihat sangat memanjakan Hana, wanita yang ada di sampingnya. Sontak hal ini memicu tatapan iri dan mendamba dari para wanita yang membuat Hana sering kali merasa kesal dan tak nyaman dibuatnya.


Jika tadi Andre meraih tangan Hana, kini justru dengan sengaja merangkulnya. “Begini kan maksudnya…”


Andre kian mengeratkan lengannya saat Hana nampak


ingin melepaskan diri.


“Kalau cemburu bilang, jangan berlagak tegar sekuat karang," ujar Andre dengan telunjuk menyentuh ujung hidung Hana. "Kamu harus tahu, kalau aku hanya peduli pada kamu bukan mereka…”


Hana menyandarkan kepalanya dan membiarkan kakinya melangkah mengikuti arah kemana pun Andre membawanya.


Wanita memang terkadang suka aneh. Sering kali yang ia ucapkan adalah yang sebaliknya dari yang ia rasakan. Untung dalam kasus ini Andre merupakan seorang pria yang peka. Jika ia seperti kebanyakan pria di luaran sana, yang malas berfikir dan melakukan apa yang pasangannya ucapkan, pastilah Hana juga akan mengatakan jika laki-laki merupakan makhluk yang tidak punya hati dan perasaan.


Hana merasa Tuhan memberikan banyak sekali keberuntungan untuknya dibalik semua penderitaan yang menyertainya. Terlebih karena ia punya Andre yang benar-benar bisa ia jadikan rumah untuk tempat dari terjangan badai kehidupan.


“Kita ke Risma ya?” pinta Hana.


“Kenapa ke sana? Kamu nggak berniat meminta aku untuk meninggalkan kamu di sana kan?”


Hana kembali terdiam. Tinggal bersama Andre memang bukan suatu pilihan yang bijak. Tapi kemana lagi Hana harus pulang kalau tak bersamanya.


Andre menyadari kegundahan dari raut wajah Hana. Ia mengurangi laju sebelum memutuskan utnuk menghentikan mobilnya. “Apa lagi yang kamu khawatirkan? Apa kamu masih berniat untuk menghianati kata hatimu?”


Hana memutar wajahnya untuk membalas tatapan Andre.


“Di atas kertas memang aku tak rugi sama sekali jika kamu ingin mengakhiri hubungan ini, tapi faktanya aku harus berjuang keras terutama untuk memulai semuanya lagi,” lanjut Andre begitu ia berhasil mengunci pandangan kekasihnya ini.


“Aku memang masih bisa melanjutkan hidup meskipun tanpa kamu. Kamu pun juga pasti bisa bertahan hidup meski tanpa aku lagi. Tapi bukan masalah itu Hana. Kita harus memulai semuanya lagi. Menata semuanya dari awal dan aku nggak mau mengulang proses itu. Aku nggak mau ribet dan menghabiskan banyak waktu untuk mengulang proses yang sama. Jadi kalau disuruh memilih, aku pilih melanjutkan saja apa yang sudah kita mulai apa pun resikonya.”


“Termasuk kalau aku hamil lagi sebelum hubungan kita


dapat restu?” tanya Hana ragu-ragu.


“Apa kamu pikir aku sebejat itu?”


Hana menggeleng cepat. Ia merasa salah dengan pertanyaannya. Andre tertawa kecil melihat hana salah tingkah dan bingun menatap ke sembarang arah. Ia kemudian meraih tangan Hana dan menggenggamnya dengan erat.


“Ya, aku memang bejat. Tapi aku tak akan pernah lari dari tanggung jawab.”


Perlahan Hana kembali membalas tatapan Andre. “Jadi intinya apa?” tanyanya kemudian.


“Ya sudah, kita jalani saja. Jujur aku nggak mau kehilangan kamu, jadi apa pun resikonya aku akan tetap membawamu tinggal bersamaku.”


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2