Zona Berondong

Zona Berondong
Cinta yang halal


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


Matahari sudah tinggi, namun belum ada niat bagi dua sejoli ini untuk menyapa hari.


"Pa, beneran nih kita nggak bangunin mereka?" tanya Ririn saat menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Biarin Ma, kan mereka udah subuh juga."


"Tapi mereka butuh sarapan Pa."


"Mereka udah kenyang," ucap Reno dengan nada jenaka.


"Ck..." Ririn hanya mampu berdecak dengan wajah cemberut.


Flashback On


"Sayang, kamu kenapa?" panik Dika saat melihat Rina memegangi perutnya.


Rina hanya menggeleng sembari menatap suaminya.


"Ya Tuhan, jaga bilang..."


"Jangan bilang apa!? Perut aku mules," ketus Rina sebelum ngacir ke kamar mandi.


"Ya Allah, apes banget kalau iya..."


Dika menunggu dengan perasaan tak menentu. Ia telah mengganti handuk kimono dengan sarung dan kaos bolong berwarna hitamnya.


Setengah jam menunggu, akhirnya Rina keluar dari kamar mandi dengan setelan piyama gambar kucing yang kebesaran dan tak ada seksi-seksinya.


Ya Allah, sesuai yang aku pelajari kan malam pertama itu nggak kayak gini.


Dika menatap penampilan istrinya dengan senyum. Meskipun kurang suka ia tak bisa berbuat apa-apa. Rina berjalan masih dengan memegang perutnya. Namun satu hal yang membuat Dika lega adalah saat Rina berjalan mengambil mukena dan menggelar sajadah.


Alhamdulillah, si bulan belum datang.


Dika berbaring setelah sebelumnya mengambil ponsel. Ia ingin menghafalkan doa yang akan sering dirapalkan mulai saat ini.


Tak lebih dari 5 menit, Rina sudah berjalan menuju ranjang tempat Dika berbaring.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dika sembari membawa kepala Rina ke atas lengannya. Ia turut mengusap perut yang sedari tadi dipegangi oleh Rina.


"Mules sayang. Aku tadi kan udah bilang."


Rina tahu, tahu sekali apa yang ada di pikiran Dika. Dia bukan gadis polos yang tak tahu apa-apa, bahkan juga dengan Dika ia beberapa kali nyaris melakukan z***.


Rina memegang pipi kiri dan kanan Dika, kemudian membawa ke hadapannya.


" Kamu keberatan nggak kalau belum sekarang."


"Keberatan apa sih?"


"Eennggg, iittuuu..."


"Itu apa..."


"Gituan."


"Gituan apa?" bisik Dika tepat di telinga Rina. Jelas sekali ia sengaja menyentuh telinga Rina dengan bibirnya, membuat Rina refleks menjauhkan kepalanya.


"Iihhh, kamu tahu kan. Aku belum bisa, perutku sakit," ketus Rina sebelum memunggungi Dika.


Sepertinya Dika harus memendam kecewa. Hal yang ia tahan sejak lama harus kembali tertunda meskipun kini sudah halal baginya.

__ADS_1


"Oke lah."


Dika menyerah dan mulai memejamkan mata dengan Rina berada dalam pelukannya.


***


Adzan subuh berkumandang. Kali pertama ada orang lain tidur bersama membuat Rina dan Dika menjadi lebih peka dan matanya gampang sekali terbuka mendengar suara adzan. Mereka bangun dan melaksanakan sholat berjamaah untuk pertama kalinya setelah resmi menjadi suami istri.


"Sayang, aku mau turun bentar ambil minum," kata Rina saat melipat mukena.


"Aku juga deh," kata Dika.


"Mau aku ambilin apa gimana?" tawar Rina.


"Aku ambil sendiri aja, sekalian nemenin kamu."


Mereka berjalan beriringan menuruni tangga. Di dapur ternyata sudah ada Reno dan Ririn yang sedang membuat teh hangat.


"Kalian?" Ririn nampak terkejut dengan kemunculan Rina dan Dika. "Udah sholat?" lanjut Ririn sambil mengaduk tehnya.


"Udah Ma," jawab Dika.


"Mau teh sekalian?" tawar Ririn.


"Nggak deh Ma, kita minum air putih aja," tolak Dika saat menunggu Rina menuang air putih untuknya.


"Nak Dika nggak nyenyak ya tidurnya?"


"Nyenyak sih Pa sebenernya, cuma Rina bolak-balik ke kamar mandi, jadi ikut kebangun berkali-kali."


Dika menerima air putih yang Rina ulurkan dan segera meminumnya.


Reno tertawa kecil melihat anak dan menantunya. Pantes rambutnya masih pada kering, batin Reno dengan tawa kecil yang masih bertahan di bibirnya.


"Rina kebanyakan naruh sambel di makanan Ma."


"Kalau kepedesan kenapa nggak kamu buang sih," protes Dika setelah tahu penyebab sakit perut yang dialami istrinya.


"Kan mubadzir buang-buang makanan," cicit Rina.


"Anak kita kayaknya belum sadar nikah sama siapa," goda Reno sambil menatap Dika.


"Papa jangan gitu lah..."


Dika merasa tak enak dengan candaan mertuanya.


"Ya udah, kalian istirahat aja lagi, pasti pada capek."


"Emang nggak apa-apa Pa kalau kita tidur lagi?"


"Ya nggak apa-apa lah Nak, apa kamu malu sama Dika kalau ketahuan suka bangun kesiangan," ledek Ririn.


"Mamaaaaa....." Rina merengek dengan wajah cemberutnya.


"Udah, udah. Bawa istrimu istirahat."


Ada yang hangat di dada Dika mendengar apa yang Reno katakan. Ia tak menjawab, namun segera meraih tangan Rina dan membimbingnya menyusuri tangga untuk beristirahat ke kamar. Ia sempat menunduk hormat pada kedua mertuanya sebelum menghilang di balik pintu kamar.


Rina yang malu-malu karena ucapan sang mama ngeloyor begitu saja ke balkon. Ia memeluk kedua lengannya karena hawa dingin yang menusuk. Dari belakang Dika datang dan memeluk gadis cantik yang belum genap 24 jam menjadi istrinya ini.


Ada gelenyar tak biasa selain rasa hangat yang kini Rina rasakan, dari setiap sentuhan dan hembusan nafas dari kekasih halalnya.


Perlahan Rina membaik tubuh dan mendongak menatap sosok tinggi suaminya. Tak ada kata, namun Rina tahu apa yang dimau kekasih halalnya. Saat wajah tampan Dika mendekat, ia segera memejamkan mata.

__ADS_1


Namun sekian detik menunggu, benda kenyal yang di taksir akan memagutnya itu tak kunjung terasa. Dengan hati gusar karena merasa dipermainkan, Rina segera membuka mata dan bersiap meninggalkan Dika begitu saja.


Baru saja matanya terbuka, ia sudah dibuat tak mampu berkata-kata. Bibirnya dikuasai sepenuhnya oleh pemuda tampan yang pula mengungkung tubuhnya. Dengan mata terbuka dan pandangan saling mengunci, keduanya saling bertukar saliva.


Di saat Rina merasa kehabisan udara, Dika masih memberi ampun dan melepaskannya.


"Sayang. Jangan pernah tutup mata kamu di setiap percintaan kita. Aku tak ingin ada bayangan lain yang mampir saat mata kamu terpejam."


Rina tak menjawab. Ia masih sibuk mengatur sebaran jantungnya yang tak berirama.


"I can't wait for longger darl."


Dika mengangkat tubuh Rina, dan membawanya bridal style dan menjatuhkannya perlahan di atas ranjang.


Rina mengalungkan lengannya di leher Dika. Dan Dika langsung menindih gadisnya. Namun tiba-tiba ia kembali menegakkan tubuhnya.


" Kenapa? "


Dika tak langsung menjawab. Ia justru membimbing Rina untuk duduk berdampingan dengannya.


"Ikuti aku bisa..."


Rina hanya menganggukkan kepala.


"Bismillahhirohmanirrohim..."


"Bismillahhirohmanirrohim..."


"Allahumma jannib naassyyaithaana..."


"Allahumma jannib naassyyaithaana..."


"Wa jannibi syaithoona..."


"Wa jannibi syaithoona..."


"Maa razaqtanaa..."


"Maa razaqtanaa..."


"Aamiin..."


Tangan mereka saling menggenggam, pandangan mereka beradu dengan senyum bahagia yang terpancar jelas dari keduanya.


Dika mengawali dengan baik. Melakukan dengan lembut dan menuntut, membuat Rina juga melakukan banyak hal dengan mahir meski belum pernah ia pelajari sebelumnya.


Akhirnya mereka melalui percintaan dengan indah. Kini mereka tengah mengecap nikmat sembari beribadah. Tak perlu was-was karena mereka bukannya menumpuk dosa namun tengah mengumpulkan pahala bersama.


Flashback off


"Mas, udah jam 10 loh. Mereka bisa sakit kalau nggak makan."


"Sayang, kamu nggak lupa kan kita pernah jadi pengantin baru juga."


"Biarkan mereka menikmati ibadah halal yang selama ini mereka tahan."


"Tapi Pa..."


"Ssttt..."


Ririn menyerah. Reno benar-benar mengandalkan logika sebagai pria. Seorang pria yang baru menyentuh wanita pasti akan seperti ini. Merasa waktu akan habis jadi ia tak akan puas jika hanya sekali. Berbeda dengan yang sudah biasa menyentuh wanita. Ia akan, lebih bisa menguasai diri di malam pertama.


Reno semula sempat khawatir jika Dika sudah mencuri start, terlebih saat pemuda ini memaksa untuk segera menikahi putrinya. Namun melihat gelagat menantunya, ia yakin pemuda ini bisa menjaga dirinya beserta putrinya sebelum halal.

__ADS_1


TBC


__ADS_2