Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Jatuh


__ADS_3

Komenmu semangatku, hehehe


Rina akhirnya akan bertemu dengan Hana, wanita yang pernah berbuat kurang baik kepadanya.


Kira-kira apa yang akan terjadi.


HAPPY READING


Saat ini tinggal ada Rina, Dika dan Sofi di ruang tamu sementara Andre dan Lili sedang membicarakan sesuatu di luar.


“Apa saya bisa numpang ke kamar mandi?” tanya Rina pada Sofi.


“Tentu Nona. Hana tolong kamu antarkan Nona Rina,” ujar Sofi pada Hana.


Hana mengangguk kemudian berdiri. “Mari Nona.” Hana mempersilahkan Rina untuk berjalan.


“Permisi Bu Sofi ya,” ujar Rina saat melewati tuan rumah.


Rina berjalan mengikuti Hana masuk ke bagian yang lebih dalam rumah sederhana ini.


“Silahkan Nona…” Hana membukakan pintu kamar mandi untuk Rina.


“Well actually, saya tidak ingin ke kamar mandi,” ujar Rina yang sedikit mendongak menatap Hana yang jauh lebih


tinggi darinya. Hana sebenarnya sudah menunduk, tapi masih saja nampak menjulang bagi Rina.


“Lalu Nona mau apa?” tanya Hana yang sebenarnya tak nyaman hanya berdua dengan Rina seperti ini. Di tambah dengan bagaimana cara Rina menatapnya. Ini lebih membuatnya tak nyaman lagi.


Rina masih menatap Hana dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukan benci, tapi bukan juga suka. Hana benar-benar tak tahu apa yang ada di pikiran Rina saat ini.


“Raihana. Saya merasa benar-benar tak berguna. Bisa-bisanya saya tak mengenali kamu meski telah beberapa kali


bertemu.”


“Maaflan saya Nona.”


Ddrrrkkk!!!


“Saya tak menyuruhmu minta maaf,” cuek Rina setelah duduk di kursi yang baru saja ditariknya.


Hana menunduk dalam posisinya yang masih berdiri.


“Saya mau tanya satu hal, kamu punya rencana apa lagi untuk menjatuhkan kami?”


Hana memberanikan diri untuk membalas tatapan Rina sambil menggelengkan kepala. “Tidak ada Nona. Saya sudah menyerah. Biarlah saya tak diakui oleh papa, saya ihlas. Saya akan menjalankan hidup dengan kemampuan saya.”

__ADS_1


Rina menatap remeh Hana. Ia memperhatikan penampilan Hana dari atas kebawah. “Saya tak yakin kamu bisa. Bahkan pakaian yang kamu kenakan ini seharga motor, jadi bagaimana caranya kamu akan hidup sederhana?”


Hana menghela nafas. “Nona, saya memang bersalah pada Anda, saya pernah berbuat jahat pada Anda, tapi Anda tak berhak menilai saya tanpa tahu alasan saya yang sebenarnya.”


“Alasannya apa Raihana? Apa hidup sederhana versi kamu itu hidup enak tapi tidak usah memikirkan status.”


Dua wanita itu saling menatap dan mengintimidasi. Dua wanita ini sebenarnya sama-sama cerdas dan punya attitude


yang baik, hanya saja latar belakang dan sifat asli mereka yang sedikit berbeda membuat pembawaan mereka pun tak sama.


“Saya masih ingat betul saat kamu bahkan menghina saya, mengatakan saya tak pantas untuk mendampingi suami saya, dan sekarang kamu menjalin hubungan dengan orang sekaliber Andre. Jadi menurut kamu pikiran macam apa yang sebaiknya ada dalam kepala saya?” balas Rina dengan suara rendah.


“Nona, saya memang salah waktu itu. Itu semua saya lakukan hanya untuk menuruti kemauan papa, agar saya bisa mendapatkan pengakuan darinya. Tapi kalau hubungan saya dengan Andre, itu semua di luar rencana saya,” ujar Hana coba menjelaskan.


Rina menghela nafas beberapa kali. Ia tak ingin sampai Lili dan bundanya terganggu dengan teriakannya.


“Ya intinya kamu ingin hidup enak kan?”


Hana menghela nafas dan menatap Rina. “Nona. Saya yakin bahkan Nona pun tak ingin mengalami kehidupan seperti saya. Serba kekurangan, terhina, tertolak dimana-mana, sekali ada yang menerima, itu pun hanya bermaksud memanfaatkan. Saya yakin yang semacam ini bahkan tak pernah terlintas di pikiran Nona. Jadi apakah salah jika saya ingin keluar dari kondisi seperti ini?”


Rina diam sejenak. Ia merenungkan apa yang baru saja Hana katakan dan menghubungkan dengan fakta tentang Hana yang berhasil ia peroleh.


“Ya. Kalau berdasarkan informasi yang saya terima kamu memang bukan anak sah kan, jadi pantas kalau banyak yang susah menerima kamu. Bagaimana pun juga sejak awal kamu sudah muncul di tengah kesalahan.”


Nada bicara Rina berubah. Sedikit melunak namun justru membuat dada Hana nyeri saat mendengarnya.


Dari sini Rina dapat melihat, ada sisi baik dalam diri Hana ini sebenarnya. Namun ia tak mau langsung menyimpulkan. Hana ini perempuan licin. Ia takut jika kini perempuan ini tengah memainkan perannya.


“Saya mohon maaf jika terlalu banyak kesalahan yang saya perbuat. Maafkan saya juga karena saya tak dapat mengganti kerugian yang saya timbulkan, karena jujur saya sama sekali tak menerima aliran dana itu yang telah saya alirkan dari Surya.”


Rina menghela nafas. Sepertinya ia harus mencoba membuka telinga untuk mendegar fakta yang ada. “Saya ingin dengan cerita utuh kamu. Ayo kita bergabung bersama mereka.”


Klunthang!


Saat berdiri Rina tak sengaja menyenggol gelas berisi air di atas meja. Gelas itu jatuh di atas lantai dan airnya tumpah tapi masih untung gelasnya tidak pecah.


“Biar saya saja Nona,” cegah Hana saat Rina hendak menunduk mengambil gelas itu.


“Nona tunggu sebentar,” ujar Hana saat mengambil lap.


Saat Hana hendak mengeringkan air, Rina yang tak sabar berniat melompat melewati genangan air itu. Ternyata kakinya yang tak cukup panjang untuk melewati genangan itu. Ujung kakinya menginjak permukaan lantai yang licin membuatnya tergelincir saat itu juga. Hana yang melihat tubuh Rina limbung langsung berlari untuk menahan tubuhnya agar tak membentur tepian meja yang bisa saja membuatnya cidera.


Brugh!


Hana terduduk tertimpa tubuh Rina. Pantatnya menyentuh lantai dengan keras membuat Rina segera bangkit karena ia tak mau Hana lebih lama menahan berat tubuhnya.

__ADS_1


“Hana nggak apa-apa?” tanya Rina yang ingin membantu Hana berdiri.


“Ahk…” namun tiba-tiba Hana merintih dan memegangi perutnya.


“Ya ampun kamu kenapa?” Rina bingung dan panic. Hanya jatuh seperti ini, tapi kenapa Hana sepertinya kesakitan sekali.


“Dikaaa, Annnddrreeeeee!!!!!!” Rina berteriak dengan keras memanggil dua pria yang ada di depan.


Ia masih berusaha membantu Hana berdiri, namun ia terkejut bukan main saat melihat cairan berwarna merah mengalir di sela kaki Hana. Hana semakin pucat dan badannya yang kurus terasa berat karena lemas.


Rina kembali terduduk bersama Hana. Darah apa ini?


“Tolloooooonngggg….!!!!”


Andre dan Dika panic saat melihat dua wanita ini sama-sama lemas.


Andre segera membantu Hana dan Dika memegangi Rina.


“Hana…” panggil Andre.


Hana tak menjawab. Wajahnya semakin pucat. Tanpa pikir panjang Andre segera mengangkatnya.


“Kalian kenapa?” tanya Dika.


“Hana tadi mau menolongku saat aku mau jatuh, tapi tiba-tiba dia memegangi perutnya dan di pahanya ada darah.”


“Terus kamu ini kenapa?”


“Aku ganti mau bantu dia, tapi kita malah kejatuh lagi karena nggak kuat.”


“Sekarang kamu kuat jalan.”


“Perutku nyeri…” lirih Rina.


Dika yang khawatir segera mengangkat tubuh Rina dan membawanya pergi dari sana.


“Ini kenapa?” kaget Sofi.


“Maaf Bu, kami harus membawa mereka ke rumah sakit.”


Dika berjalan keluar meninggalkan Sofi begitu saja. Di luar Lili sedang membantu Andre membuka pintu mobilnya. Dia bingung sendiri saat melihat Rina juga tengah digendong Dika.


“Aku kudu gimana dong?” tanya Lili yang tak tahu siapa yang harus menjawabnya.


“Ndre, pakai mobilku saja!” teriak Dika yang berjalan menuju mobilnya.

__ADS_1


Akhirnya Andre urung memasukkan Hana ke dalam mobilnya dan berjalan menuju mobil Dika. Dan Lili pun tahu apa yang harus di lakukan.


Bersambung…


__ADS_2