Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Obat Kunyah


__ADS_3

HAPPY READING


“Terserahlah kalau itu mau kamu.”


Andre melepaskan rangkulannya pada Hana. Meskipun tak menjauh, tapi terasa sekali jika ia kini menjaga jarak dengan


Hana.


Hana yang diperlakukan seperti ini merasa ada sesuatu yang siap meledak di salam dada. Ini kan mauku, ini kan inginku, tapi kenapa hatiku sakit saat Andre tiba-tiba seperti ini?


Hana berusaha stay calm dan fokus melihat film yang sebentar lagi usai. Ia yang tadi kekeh menolak permintaan Andre untuk melanjutkan hubungan keduanya, kini justru ia yang benar-benar merasa tersiksa saat Andre mendadak cuek dan acuh padanya. Ternyata kekesalannya saat Andre merengek tak ingin berpisah tak lebih menyakitkan dari pada ketika Andre cuek padanya. Mereka ada di tempat yang sama namun mereka seperti berada di dunia yang berbeda.


“Ndre…” panggil Hana setelah keduanya terjebak dalam diam entah berapa lama. "Aku..."


“Iya, aku antar, tapi aku ingin menyelesaikan film ini dulu,” potong Andre cepat bahkan saat Hana masih mau mulai berucap.


Hana menunduk. Tiba-tiba pandangannya kabur. Tak ingin sampai terjadi drama, ia segera bangkit dan lari ke kamar mandi. Di sana ia meloloskan isaknya. Sungguh, ia sungguh masih sangat mencintai Andre. Sungguh, ia sungguh ingin hidup bersama Andre. Tapi ia yakin, saat ia maju maka akan banyak hati yang tersakiti. Tapi jika ia mundur, hatinya sendiri yang akan sakit seperti ini.


Di kamarnya, Andre masih diam sambil menatap pintu dimana Hana menghilang dibaliknya. Ia tak benar-benar ingin menunggu film selesai, tapi hanya ingin mengulur waktu agar bisa lebih lama lagi dengan Hana kali ini. Ia yakin Hana masih punya rasa yang sama dengannya, tapi kenapa wanita ini sungguh keras kepala.


“Oke Hana. Aku akan mengikuti permainanmu. Kita lihat saja, siapa yang lebih kuat diantara kita,” gumam Andre seorang diri.


Hampir setengah jam Hana di dalam, tapi belum juga ada tanda-tanda ia akan segera keluar. Bahkan hingga kini film yang mereka tonton sudah selesai. Hal ini membuat Andre merasa tak sabar dan ingin segera mengecek kondisi Hana. Namun baru saja ia menyibak selimutnya, terdengar suara kunci dibuka dan tak berselang lama muncullah Hana dengan wajah basah seperti orang baru cuci muka. Namun bukan itu yang menarik perhatian Andre, melainkan kondisi hidung dan mata Hana yang terlihat bengkak dan merah. Hanya dengan melihat saja, Andre sudah tahu apa yang terjadi di dalam, dan pula kian menguatkan dugaannya bahwa sebenarnya Hana masih menyimpan perasaan yang sama dengan dirinya.


“Aku pikir kamu berubah pikiran dan akan menginap di sini?”


“Tidak, aku, emm, aku…” Ah sudah lah. kenapa aku harus segugup ini, padahal Andre sama sekali tak mempedulikanku.


“Tidak perlu kamu jelaskan.”Ketika Hana terlihat begitu sulit mengutarakan maksudnya, Andre justru dengan sengaja memotong ucapannya. Dengan sengaja ia melihat baik-baik reaksi Hana. Dan tepat seperti dugaannya, mata Hana langsung berkaca-kaca dan wanita cantik yang membuat akal sehatnya kehilangan fungsi ini sibuk menghindari kontak dengannya.


Andre dapat sedikit bernafas lega. Di tengah rasa kecewany, ia masih punya keyakinan jika mereka masih sama-sama menggenggam cinta. Aku nggak ihlas Hana, benar-benar tak ikhlas. Tapi kalau kamu mau coba, ya kita lihat saja.

__ADS_1


Entah ini sudah menjadi sumpah-serapah yang keberapa kali Andre ucapkan dalam hati, yang jelas ia tak cukup untuk meluapkan sesak di dalam hatinya.


“Ya sudah ayo…” Andre langsung mematikan rokok yang akhir-akhir ini kembali akrab dengannya. Ia bangkit dan berjalan melewati Hana.


“Ayo…” lirih Hana meski sebenarnya ia yakin Andre tak memerlukan jawabannya.


Dua sejoli ini berjalan bersama-sama meninggalkan kamar yang pernah menjadi saksi bagaimana mereka saling mengasihi. Tak pernah ada adegan haram yang terjadi di sana, karena Hana datang sudah dalam keadaan mengandung janin yang sudah bermasalah.


“Nggak perlu aku bukain pintu kan?” tanya Andre begitu keduanya tiba di mana mobil terparkir.


“Enggak,” jawab Hana.


Tanpa ragu Andre segera membuka pintu untuk dirinya sendiri dan segera masuk setelahnya. Hana juga melakukan hal yang sama kemudian duduk di sebelah Andre mengemudi. Dan  tak lama berselang mobil pun berjalan meninggalkan pekarangan.


Ini sudah hampir tengah malam, dan tadi di rumah mereka hanya berdua, sehingga mereka tak perlu pamit pada siapa pun saat mau pergi. Bibi memang tak pernah menginap kecuali saat Hana tinggal di sana sekitar 2 minggu lalu.


Sebenarnya Hana ragu apakah pantas ia pulang selarut ini ke kosan Risma atau kah sebaiknya dia kembali ke rumah Andre


Diam-diam Hana mencuri pandang ke arah Andre yang fokus di balik kemudi. Kamu benar-benar fokus dan sama sekali tak peduli padaku yang ada di sini. Apakah tak ada keinginan untuk membujukku lagi?


Entah apa yang merasuki Hana. Keinginannya dikabulkan bukannya senang malah bingung sendiri degan maunya.


Saat Hana belum juga menemukan jawaban atas kegundahannya, tiba-tiba Andre menghentikan mobilnya tanpa menepi terlebih dahulu. Spontan hal ini langsung membuat kekacauan meski jalanan di tengah malam tak sepadat siang.


“Kamu kenapa?” panik Hana saat melihat Andre memegangi perut dengan kepala dijatuhkan diatas kemudi.


Ttiinnn ttiiiiinn!


Ttttiiiiiiiiiiiiiiiinnn!!


Hana makin panic saat mendengar lengkingan klakson bersahutan di sekitar mereka.

__ADS_1


“Andre, kamu kenapa?” Hana berusaha menanyai Andre tapi tak hanya bunyi klakson yang ramai terdengar namun juga teriakan dan umpatan dari pengemudi mobil-mobil muatan besar yang lewat di jalan itu.


Tak ingin lebih banyak membuang waktu, akhirnya Hana keluar dari mobil dan berlari memutar dan membuka pintu di samping Andre.


“Andre, geser ya,” ujar Hana setelah melepas seatbelt yang mengikat tubuh Andre.


Dengan mengabaikan berbagai seruan yang mampir ke telinganya, Hana dengan susah payah menggeser tubuh  besar Andre agar duduk ditempatnya semula. Andre pasrah saja bahkan saat Hana menyandarkan tubuhnya dan memasangkan seatbelt padanya. Setelah berhasil memindahkan tubuh Andre, kini Hana mengambil alih kemudi dan membawa mobil menepi dengan segera sebelum terjadi kekacauan bahkan kecelakaan.


“Kamu sebenarnya kenapa?” tanya Hana setelah merasa mobil yang mereka kendarai berhenti di tempat yang aman.


Setelah menanyai Andre, ia baru sadar jika wajah Andre benar-benar pucat. Ia tak dapat menahan tangannya untuk tak memegang wajah Andre. Persetan dengan semua keribetan yang ia ciptakan yang jelas ia sekarang sangat mengkhawatirkan kondisi Andre yang tiba-tiba seperti ini.


Andre tak menjawab. Ia nampak berusaha menegakkan


tubuhnya namun sepertinya tak bisa. Ia justru terpental kembali ke sandarannya karena ia lupa melepas seatbelt yang mengikat tubuhnya.


“Kamu mau ngapain sih Ndre, bilang dong, biar aku bantuin…” ujar Hana yang melihat Andrenya yang kuat kini nampak begitu lemah dan mengenaskan.


“Tolong ambilkan obat yang botolnya putih,” ujar Andre sambil menunjuk ke arah dashboard.


Tanpa membantah, Hana segera melakukan apa yang Andre minta. “Yang sirup apa tablet?” tanya Hana saat menemukan dua buah botol obat yang nyaris serupa.


“Tolong ambilkan satu tablet,” ujar Andre dengan suara tertahan.


Hana menyerahkan tablet beserta air mineral yang telah ia buka tutupnya. Andre mengunyah tablet tersebut dan minum air yang Hana siapkan setelahnya. Hana tak perlu membeli air atau menanyakan keberadaan air di mobil Andre karena kebiasaan laki-laki ini adalah selalu sedia air di dalam mobil.


Setelah menelan habis obatnya, Andre kembali bersandar dengan mata terpejam. Tangannya masih setia menekan areaperut yang Hana yakini menjadi biang rasa sakit yang Andre rasakan sekarang.


Melihat Andre yang hanya diam sambil menahan sakit membuat Hana harus menahan diri pula untuk tak bertanya macam-macam pada pria ini sekarang. Meski kenyataannya ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Andre saat ini.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2