
HAPPY READING
“Hi Dedi…”
Dedi spontan menoleh mendengar namanya dipanggil. Ia mengulas senyum setelah tahu siapa yang baru saja memanggilnya ini. “Sarah…” sapanya sebelum kembali dengan kesibukannya.
“Will you join us tonight?”
“I’m afraid Sarah. I wanna meet someone.”
“Someone? Who is?” tanya Sarah penasaran.
Dedi hanya mengulas senyumnya. Ia selalu mencari alasan saat diajak hang out seperti ini oleh teman kuliahnya bernama Sarah. Bukan maksudnya tak ingin punya teman, hanya saja ia tak ingin terjebak dalam lingkungan yang tak sejalan dengan aqidah yang ia genggam.
“It have been 5 year since we first meet, but you still take a space with me.”
Dedi tak buta. Ia tahu benar Sarah menaruh hati padanya. Nampak makin jelas saat Dedi menjadi asisten papanya. Sarah makin tak sungkan menunjukkan rasa sukanya. Namun Dedi selalu mencari cara agar Sarah tak salah paham pada kedekatan mereka.
Sebenarnya Sarah adalah wanita yang cantik dan cerdas. Terbukti ia menjadi salah satu mahasiswi berprestasi di kelasnya meski tetap tak secemerlang dirinya. Namun itu saja tak cukup untuk Dedi. Ia menginginkan sosok pendamping yang seiman karena ia belum merasa sanggup jika harus membimbing pasangannya dari hal yang paling mendasar. Namun jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, sesungguhnya ada alasan lain yang begitu kuat namun begitu berat untuk dia akui.
Sudah ada sosok yang mengisi penuh hatinya, yang terkadang harus susah payah ia dorong keluar agar tak mengalahkan cintanya pada sang pencipta. Meski begitu, rasa itu tetap bertahta meski sebenarnya tak juga ingin ia pelihara.
Aku akan segera kembali. Aku tak banyak berharap, namun aku akan membawa rasa ini pulang dalam keadaan utuh tak tersentuh.
***
Rina sudah selesai dengan infusnya. Kini ia menemani Hana bersama bibi karena Andre harus menghadapi pak Edo yang harus terbaring saat ini.
“Hana sebenarnya kenapa sih Bi?” tanya Rina yang cukup mengkhawatirkan kondisi Hana.
“Nona semula sedang berjalan-jalan di halaman, katanya ingin melihat kondisi sekitar karena sejak dibawa Aden ke sana Nona belum sama sekali keluar,” ujar bibi mengawali ceritanya.
“Tadi mang Maman sedang membersihkan bagian dalam mobil dan saya sedang menyiram tanaman. Tiba-tiba Nona lari dari gerbang seperti orang ketakutan kemudian tak sengaja menyandung selang air yang saya pegang.”
“Lalu?” tanya Rina penasaran.
“Seketika Nona jatuh, dan dari kakinya langsung mengalir darah segar. Dan saat saya ingin membawanya masuk, tiba-tiba nona tak sadarkan diri setelah sempat merintih sambil memegangi perutnya.”
__ADS_1
Rina tak tega terus bertanya. Sepertinya bibi ini cukup takut melihat kondisi Hana. Ia yakin perempuan paruh baya ini takut jika akan disalahkan atas peristiwa yang terjadi pada Hana, mengingat Andre yang sebelas dua belas dengan suaminya saat merasa ada yang mengusik hidupnya.
“Sudah Bi, jangan takut…” ujar Rina sambil menyentuh pundak wanita ini untuk coba menenangkannya. Diam-diam ia juga merasa bersalah. Karena jika tak demi menolongnya saat di rumah Lili, mungkin kondisi Hana tak akan selemah ini.
Di ruang lain di rumah sakit ini, Andre masih bersujud di dekat
papanya yang terbaring di atas brankar dengan selang infus di tangan dan selang oksigen untuk membantunya bernafas.
“Maafkan Andre Pa, maafkan Andre. Andre sudah sangat mengecewakan Papa,” ujar Andre penuh sesal.
Di ruangan ini juga ada Rudi dan Dika. Dika sedang duduk di sofa yang berada di sudut ruangan ini, sedangkan Rudi berdiri di sisi lain sambil mengamati kondisi Edo.
“Apa salah papa mama? Kenapa kamu bisa jadi sebejat ini?” Terlihat jelas Edo sedang marah dan kecewa. Namun dengan kondisinya yang seperti ini, untuk bicara keras saja dia tak bisa.
“Maafkan Andre Pa, maafkan…”
“Kamu…” Edo kembali memegangi dadanya.
Melihat hal ini, Rudi segera menghampiri. “Dika, bawa Andre keluar dulu,” titahnya pada sang putra.
Di luar dugaan, Andre justru menolak saat Dika hendak membawanya keluar. “Aku mau menemani Papa…” kekehnya.
“Ndre, kasih waktu Pak buat pak Edo. Semua serba sulit, jadi kamu harus sabar,” ujar Dika menasehati.
“Tapi Dik…”
“Nak Andre. Saya tak ingin membahas benar atau salah. Saya juga tak ingin mengatakan seharusnya begini dan seharusnya begitu, tapi yang jelas Hana juga butuh kamu.” Bukan maksud Rudi membuat Andre menjadi anak durhaka dengan melarangnya menemani sang apa, namun saat ini kondisinya akan lebih baik jika Andre tak di sana.
Ucapan Rudi ini berhasil mengembalikan kepingan logika Andre. Ia bingung hingga ia bersedia melakukan apa pun demi maaf sang papa bahkan sejenak lupa kalau ada satu tubuh dengan dua nyawa yang kini sangat membutuhkannya.
Akhirnya dengan berat hati, Andre meninggalkan papanya bersama Rudi selagi mamanya belum tiba di sini.
“Di mana Hana sekarang?” tanya Andre saat berjalan beriringan dengan Dika.
“Dia sudah dipindah ke ruang rawat sembari diobservasi. Sebenarnya apa yang terjadi?”
Andre menggeleng. “Bibi tak menceritakan dengan jelas apa yang membuat Hana tiba-tiba lari dan akhirnya jatuh karena tersandung selang yang bibi gunakan untuk menyiram tanaman,” jujur Andre. Meskipun ia yakin ada hal lain, namun ini lah informasi sementara yang ia dapatkan.
__ADS_1
“Apa kamu mencurigai seseorang?” tanya Dika lagi. Mengajak Andre berfikir logis adalah salah satu cara mengambalikan kewarasan sahabatnya ini.
Setelah beberapa hembusan nafas, Andre berjalan cepat dan duduk di sebuah kursi panjang di koridor rumah sakit ini. Ia menyandarkan punggungnya dan menyangga kepalanya berusaha mengumpulkan logika akan hal-hal yang mungkin mengancam Hana.
“Musuh Hana adalah Surya Group…” ujar Andre tiba-tiba.
Dika menyusul Andre dengan duduk di sebelahnya. “Coba kamu ceritakan.”
“Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu karena aku sudah libur seminggu itu untuk menyelidiki Hana.”
Dika hanya menghela nafas. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bermain-main dengan sekertarisnya ini. Ia kasihan juga ia harus mendapat badai dari sana-sini. Kalau ia juga menyumbang badai, bisa-bisa sekertarisnya ini jantungan seperti sang papa.
Andre kali ini pasrah. Bagaimana pun juga, Dika sudah sangat banyak membantunya termasuk untuk menhadapi papanya. Jadi dari pada dia umpet-umpetan lagi lebih baik ia jujur saja pada bosnya ini.
“Dan kami nyaris tewas karena serangan mendadak yang kemungkinan digawangi Galih Rahardja.”
“Jadi dari situ aku menyimpulkan kalau Galih merupakan ancaman untuk Hana. Ditambah Hana sedniri mengakui jika dia menyerang Surya sebenarnya karena tekanan darinya juga.”
“Di saat aku yang semula menjadi kunci ancaman Hana atas nama Surya sudah lemah seperti ini, rasa-rasanya tinggal Galih yang ingin melihat Hana hancur.”
Dika manggut-manggut. Untuk poin pertama dia sudah tahu, karena Melvin tak hanya bekerja untuk Andre tapi untuk Dika juga di misi yang sama.
“Lalu?”
“Dari situ lah aku yakin jika memang seharusnya aku melindungi Hana.”
Dika tersenyum samar. Kini ia semakin yakin kalau sekertarisnya ini masih tetap bisa ia jadikan orang kepercayaan.
“Tapi apa motif Galih meyerang Hana?”
Andre menggeleng. “Aku belum bisa memastikan. Tapi kalau perkiraanku mungkin ia kecewa karena Hana tak lagi di pihaknya.”
Dika mengernyit. “Ayo ke ruangan Hana. Aku juga harus menemui Rina di sana.”
Keduanya bangkit dan kembali berjalan. Hingga akhirnya mereka berdua sama-sama memasuki sebuah ruangan.
Bersambung…
__ADS_1