
Bim salabim pada komen, prok prok prok
HAPPY READING
Andre berbelok menuju sebuah gedung tua dan memarkirkan kendaraanya tepat di depannya. Di luar gedung ini terlihat sepi, namun di dalam sebenarnya ada kehidupan. Ia keluar dari mobilnya dan berjalan ke dalam meninggalkan kendaraannya.
“Ya Tuhan. Hampir saja jantungan.”
“Lemah sekali jantungmu,” cibir Andre saat menanggapi keterkejutan pria berbadan kekar ini.
Pria itu melanjutkan minum dari gelas yang hampir dijatuhkannya tadi.
“Tumben muncul disini, biasanya kamu lebih suka memberi perintah tanpa mau repot-repot menemui kami,” ujar pria itu lagi.
Andre menghela nafas dan mengambil sebatang rokok dari bungkusan putih yang tergeletak tak jauh darinya.
“Kamu sudah jatuh miskin ya sampai rokok saja tak punya?” ledek pria itu.
“Sudah lah Vin, jangan banyak mulut, satu batang ini nanti akan aku ganti satu container, tenang saja.”
“Ck…”
Kedua pria ini diam beberapa saat. Melvin sedang sibuk mengawasi kerja anak buahnya sedangkan Andre sibuk dengan pikirannya. Ia harus mulai dari mana, strategi apa yang sebaiknya ia gunakan sekarang.
Ketika Melvin yakin semua baik-baik saja, ia beralih menatap Andre yang terlihat bengong tak jauh darinya.
“Ada kerjaan apa buat kita?” todong Melvin. Ia yakin Andre ke sana pasti karena ada tujuan. Tak mungkin Andre ingat datang kemari jika tak membawa masalah yang harus ia pecahkan.
Andre menyerahkan selembar foto.
“Cantik.”
“Aku tak menyuruh kamu mengomentari penampilannya bangsat!”
“Wohohoho, calm down Bos. Ya mana saya tahu apa yang harus saya lakukan. Kamu hanya meletakkan foto seorang wanita cantik tanpa mengatakan apa pun. Jadi mata lelakiku langsung fokus pada kecantikannya.”
Andre menghela nafas. “Aku mau kamu cari info lengkap tentang dia.”
“Nama, usia, berat badan, ukuran bra…”
“Bacot lu ya!” potong Andre cepat sebelum Melvin makin ngelantur ucapannya.
Melvin menatap remeh pria yang sering bekerja sama dengannya ini.
“Kamu ada masalah apa Ndre? Sepertinya sedang labil sekali saat ini. Apa gara-gar wanita ini?” tebak Melvin.
Andre menggeleng. “Wanita itu namanya Raihana. Selidiki apa pun yang ada hubungannya dengan dia, latar belakangnya, keluarganya, apa pun yang ada hubungannya dengan dia. Aku mau semuanya selesai dalam waktu 3 hari.”
“Gila. Kita manusia bukan robot pemindai. Hanya dengan melihat foto dan nama bisa dapat informasi lengkapnya?!” protes Melvin tak terima.
“Aku tidak peduli. Aku siap bayar mahal untuk hal ini,” ujar Andre sambil menghisap rokoknya.
__ADS_1
“Oke, bisa diatur kalau begitu.” Setelah Andre menyinggung masalah uang, barulah Melvin terlihat gairahnya.
“Aku cuma tahu dia anak Galih Rahardja dari hubungan gelapnya dengan Erika. Erika adalah perempuan malam yang sudah meninggal beberapa tahun lalu.”
Melvin menatap lekar foto wanita di tangannya. “Apakah wanita ini berbahaya?” tanya Melvin dengan wajah seriusnya.
“Aku belum tahu. Aku baru mau lihat dari hasil penyelidikanmu.”
Melvin mengangguk paham.
“Aku pergi.”
Andre mematikan rokok yang bahkan belum habis setengah. Ia ingin segera ke suatu tempat sekarang, sehingga ia tak mau berlama-lama menghabiskan waktu di sana.
***
Hari ini Dika tak ke kantor begitu juga dengan Rina. Mereka ingin istirahat barang sehari utntuk menikmati dunianya sendiri. Tak liburan kemana-mana, hanya jalan-jalan ke pantai saja, menikmati semilir angin dan makan siang dengan menu ikan bakar.
Mereka tidak di villa, bukan pula di privat beach seperti biasanya. Hari ini mereka ingin jadi orang biasa dengan segela kesederhanaannya.
“Aku kok pengen cumi,” ujar Rina tiba-tiba.
“Dibakar juga?” tanya Dika.
“Iya,” singkat Rina.
“Pak…,” Dika memanggil pemilik kedai ikan bakar.
“Cumi bakarnya 1.” Ujar Dika kemudian.
Di kedai ini tak ada pengunjung selain Dika dan Rina. Dika sudah membookingnya selama makan siang ini. Meskipun judulnya menikmati waktu berdua dengan cara sederhana, tapi sederhana versi Dika terkadang di luar nalar kita. Penjagaan di luar pun cukup ketat. Dika tak mau ambil resiko yang bisa saja membahayan istrinya.
“Abis ini kamu mau ngapain?” tanya Dika pada istri cantiknya.
“Ada kapal kan?”
“Ada.”
“Pengen hirup udara laut.”
“Boleh…”
Dika mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Setelahnya ia bergabung dengan Rina yang sudah asik memakan cumi bakarnya.
“Suka ya?” tanya Dika saat melihat istrinya ini makan dengan lahap.
“Kamu cobain deh,” Rina menyuapkan sepotong cumi pada Dika.
“Enakkan?”
Mata Dika bergerak ke kanan dan kiri sambil merasakan cumi yang ia kunyah di mulutnya.
__ADS_1
“Lumayan…”
“Kok lumayan sih, ini enak,” ujar Rina yang juga sedang mengunyah cumi di dalam mulutnya.
“Iya, iya…” Dika menurut saja. Karena menurut Rudi, jika Rina mengalami mood swing, itu mungkin ada kaitannya dengan obat yang ia konsumsi. Sehingga Dika mengalah saja, toh saat Rina marah tak akan pernah lama.
“Sayang, nambah boleh,” ujar Rina sambil mengangkat piringnya.
Dika tertawa kecil dan segera memesan lagi sesuai yang istrinya minta.
“Sesuka itu ya?”
“Iya…”
“Perlu bawa dia ke rumah kah kokinya biar dia bisa masakin kamu kapan aja.”
Mata Rina membulat saat mendengar ide Dika. Dih, bisa rasional nggak sih. Mempekerjakan orang untuk hal yang kurang perlu itu kan hanya buang-buang uang.
"Gimana?" ulang Dika.
“Jangan dong. Nggak perlu lah sayang. Kalau kepengen tinggal ke sini aja, ngapain harus bawa kokinya ke rumah.”
“Ya aku kan nggak tahu kapan nggak sibuknya. Kalau kamu keburu pengen gimana?”
“Ya aku kan tinggal ke sini,” ujar Rina
“Kalau aku sibuk?”
“Ya kan bisa sendiri sayang.”
“No no no. Kemaren nggak boleh, sekarang nggak boleh, besok nggak boleh. Kamu nggak pernah aku izinin pergi sendiri.”
Rina menghela nafas. Dika memang protektif, terlebih setelah mereka mempublish pernikahan. Ia tak segan menunjukkan kepemilikannya terhadap Rina dalam berbagai kesempatan termasuk tak mengijinkan Rina pergi kemana pun tanpa dia.
Apakah Rina tertekan?
Iya awalnya, namun akhirnya ia bisa menerima. Hal ini semata karena Dika tertalu menyayangainya.
***
Hana menyibak selimut yang gunakan untuk menutup sebatas kepala. Ia kemudian duduk dan mengacak rambutnya.
“Aku lemes, kenapa nggak bisa tidur…”
Hana membanting tubuhnya dan telentang di ranjang Andre. Ia merentangkan kedua tangan dan kakinya. Ia ingin memenuhi kasur Andre dengan tubuhnya.
“Andre ngapain ya? Apa dia sedang…” Hana menggigit jarinya karena ia tak sanggup melanjutkan ucapannya. Entah mengapa saat memikirkan Andre dan Dian ia selalu membayangkan mereka melakukan hal-hal yang errr. Hal ini bukannya tak beralasan\, karena sejak hari pertama ia di sana\, Andre tak pernah jauh dari hal-hal ca**l\, meskipun niatnya untuk mengerjai Hana. Sehingga hana berfikir jika Andre dasarnya memang m*sum\, jadi saat sedang kesal pun ia tak pernah jauh dari tindakan-tindakan semacam ini.
Itu menurut Hana, in fact?
Bersambung…
__ADS_1