Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Masa Lalu Kelam


__ADS_3

Hai, hai.


Ada yang setia ngeship Dika-Rina, ada yang ngeship Andre-Dian atau Andre-Hana dan bahkan masih setia menantikan Dedi-Rista.


Senja cuma bisa bilang kalau idenya suka abstrak datanganya, terus kalau Dedi RIsta udah punya rumah sendiri yang akan dilanjut kalau novel ini udah bener-bener**End.


Harap maklum ya.


Semoga suka. **


HAPPY READING


Hana mencengkeram erat seat belt yang mengikat tubuhnya. Andre memacu mobilnya dengan gila-gilaan di tengah jalanan kampung yang tak seberapa luas ini. Hana tak berani bersuara apa lagi bertanya perihal perubahan Andre yang tiba-tiba.


Keluar dari jalan kampung yang sempit memasuki jalan besar yang cukup lega, namun Andre belum juga memelankan laju mobilnya. Hingga tiba di tepi area persawahan, Andre menginjak pedal remnya dengan tak sabar.


Dukh!


Setelah terlempar ke depan sesaat, tubuh Hana terpental ke belakang hingga membuat punggungnya membentur sandaran. Dada Hana naik turun. Mulutnya sedikit terbuka membantu hidung menghirup udara untuk untuk mengisi udara di rongga paru-parunya.


Dengan mencengkeram erat setirnya, Andre menoleh dan menatap tajam Hana yang masih diam dengan wajah takutnya.


Takut-takut Hana membalas tatapan itu sebelum akhirnya ia menundukkan kepala karena ngeri dengan keadaan Andre saat ini.


“Kamu tahu kenapa aku bisa begini?”


Hana menunduk semakin dalam. Ya mana aku tahu. Sejak tadi kan kamu diam saja. Tiba-tiba marah dan nyetir mobil gila-gilaan tanpa keterangan dan penjelasan.


“Hana!!”


Hana mengeratkan cengkeramannya di sabuk pengaman yang mengikat bagian depan tubuhnya.


“Kalau ditanya itu jawab!” bentak Andre berapi-api.


“Kamu nggak bisa diam saja kayak gini Hana. Kalau ada yang membuatmu tak nyaman itu tinggalkan. Kalau ada yang memperlakukanmu dengan tak baik lawan. Ngerti nggak sih! Ha!!!”


Hana mulai gemetar. Ia benar-benar takut terhadap Andre saat ini. Ia pernah sekali melihat Andre seperti ini, yaitu malam itu, disaat Andre melucuti apa pun yang ada bersamanya dan memberikan identitas baru hingga saat ini pada Hana.


Hana seperti kehilangan nafas saat Andre tampak melepas seat beltnya. Pikirannya gelap membayangkan apa yang akan Andre lakukan selanjutnya. Apakah pria ini akan melemparnya keluar mobil dan dan meninggalkannya di sana, atau bahkan akan menuntaskan hidupnya sekarang juga.


Hana memejamkan mata saat lengan Andre melewatinya.


Klik!


Tangannya mengepal erat saat sadar sabuk pengamannya sudah Andre lepas sekarang.


Ya Tuhan, hanya satu permintaanku, jangan dulu cabut nyawaku. Aku harus mencari tahu terlebih dahulu perihal kematian mamaku.


Mata Hana membola saat merasakan hangat di keningnya. Belum juga ia mencerna dengan baik apa yang terjadi padanya kini, tubuhnya sudah ditarik dengan tak sabar dan dipenjarakan Andre dalam dekapannya.

__ADS_1


“Andre…” lirih Hana.


Andre menangkup wajah Hana dengan kedua tangannya. Ia menatap setiap inci wajah Hana. Ia menyusuri wajah cantik itu dengan jarinya. Dagu Hana yang lancip, bibir tipis yang menjadi candunya, hidung mancung yang sangat suka dicubitnya, pipi yang akan langsung merona saat ia menggodanya, mata sipit dengan mololid membuat Hana terlihat imut, alis yang nyaris tak kelihatan jika Hana tampil tanpa riasan, dan dahi yang…


Andre tak tahan bermonolog lagi dalam hati. Ia mendaratkan ciuman dalam di kening Hana. Sangat dalam, seakan waktunya akan habis sekarang. Setelah puas ia kembali mendekap tubuh Hana.


“Apa pandangan seperti pria tadi sering kamu dapatkan?”


Suara Andre kali ini terdengar lembut, tak berapi-api dan penuh amarah seperti tadi.


“Maksud kamu?” tanya Hana hati-hati.


“Pandangan pak RT tadi. Apa kamu sering dipandang seperti itu?”


Hana mengangguk dalam pelukan Andre.


“Hana…”


“Jangan lanjutkan lagi, aku mohon. Bener. Kehidupan ku dulu sangat kelam. Kamu cukup bayangkan saja, kehidupan yang kujalani dulu tak akan jauh-jauh dari yang ada di pikiranmu.”


“Itu dulu Hana, tapi sekarang aku sudah memandangmu berbeda.”


Hana diam saja.


“Untuk bagian ini aku tak memaksamu untuk percaya. Yang aku minta kamu harus percaya hanya satu, yaitu aku mencintaimu.”


Hana maresa dadanya menghangat. Ia mengeratkan pelukannya pada Andre dan dibalas dengan tak kalah eratnya.


Pria paruh baya ini sepertinya belum menyerah juga. Terbukti saat ini dua raga kembali menjadi korbannya.


“Kalian lihat kan? Saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya.”


Jajaran pria kekar itu semua berdiri dengan kepala tertunduk.


“Hanya menemukan seorang wanita saja tak bisa, bagaimana mungkin pekerjaan lain akan beres saat kalian kerjalan.”


Seseorang datang dengan nafas tersengal.


“Kamu kenapa?” tanya Galih dingin.


“Maaf Tuan, saya hanya ingin melapor, tadi ada yang sekilas melihat Non Hana ada di sekitar tempat tinggalnya dulu.”


“Apa dia pulang?”


“Kurang tahu Tuan, kami kehilangan jejak saat mobil yang membawa Non Hana berjalan dengan sangat kencang. Mungkin dia menyadari jika sedang dibuntuti.”


“Kurang ajar. Dikasih hati malah melarikan diri,” desis Galih dengan nada yang membuat ngeri.


“Bagaimana ciri-ciri orang yang bersama Hana?”

__ADS_1


“Kurang tahu Tuan. Yang jelas nampaknya dia laki-laki. Sayang kami tak sempat mencatat nomor platnya, yang kami tahu mobilnya berwarna hitam.”


“Dan sekarang apa tindakan kalian?”


“Kamu terus melakukan pengejaran Tuan.”


“Bagus. Lanjutkan.”


Galih bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri anak buahnya ini.


“Untung kamu datang tepat waktu, jika tidak semua yang ada di sini akan pulang hanya namanya saja.”


Pria itu meneruskan langkahnya dan berjalan keluar. Tanpa ada yang tahu, seseorang tengah mengawasi mereka dari balik jendela.


Nggak boleh. Papa nggak boleh nemuin Hana. aku benar-benar nggak mau anak haram itu menguasai papa lagi, batin Rio saat itu juga.


Rio kemudian segera pergi dan menemui anak-anaknya yang sedang bermain di taman belakang.


“Kamu kenapa Mas?” tanya Indah saat melihat suaminya gelisah.


“Nggak apa-apa sayang. Aku capek aja tadi banyak kerjaan.”


“Kalau banyak kerjaan nggak usah maksain pulang seharusnya. Istirahat aja di kantor. Kalau jam istirahat habis kan tinggal kerja lagi, nggak perlu capek-capek menempuh perjalanan lagi.”


“Aku nggak capek Indah. Aku pulang karena pekerjaan sudah aku selesaikan semua. Aku ingin punya waktu dengan kalian, terlebih saat ini kebetulan ada mama papa. Kita sekalian q-time sama mereka."


“Terserah kamu lah.”


“Ya memang harus terserah.”


Indah melanjutkan aktivitasnya mengupas buah, sementara Rio merebahkan kepalanya di paha istrinya. Ia kemudian miring menghadap perut Indah.


“Hai baby kecil. Apa yang kamu lakukan di dalam?” tanya Rio sambil meraba perut Indah.


Indah tertawa kecil melihat apa yang Rio lakukan.


“Ndah, dia udah bisa gerak belum sih?” tanya Rio tiba-tiba.


“Mas, ini sudah anak ketiga loh, masa iya kamu nggak tahu bayi mulai gerak dalam perut umur berapa?”


“Ya ngerti sih, tapi kali aja dia beda sama kedua kakaknya.”


“Ngaco kamu.” Indah kemudian mengambil garpu dan menusukkannya pada buah yang baru saja ia kupas. “Nih?”


Rio menatap potongan buah yang Indah sodorkan.


“Aku nggak suka melon yang itu. Aku sukanya…”


“Papaaaaa…”

__ADS_1


Rio kehilangan otot seketika. Baru juga mau pegang dikit.


Bersambung…


__ADS_2