Zona Berondong

Zona Berondong
Bolos


__ADS_3


...Hai hai hai....


...Di sapa Dika sama Rina nih....


^^^Lebih sering jadi pihak yang minta maaf apa yang memaafkan?^^^


...*H A P P Y R E A D I N G*...


Akhir pekan yang dinantikan akhirnya datang. Segala urusan pekerjaan sudah Dika selesaikan dengan sempurna hingga jum'at tengah malam. Sekarang dia hanya akan fokus untuk dirinya.


Apa kabar sekolahnya?


Rencana tatap muka di awal pekan hanya tinggal rencana. Nyatanya waktu telah habis hanya untuk bekerjaan semata. Dia harus belajar dengan cepat dan langsung mengeksekusi setiap pekerjaan dengan baik sesuai yang ia pelajari.


"Ded, jadi ke sekolah hari ini?" tanya Dika pada Dedi yang sudah datang kerumahnya sejak pagi buta.


"Iya."


"Thanks ya, kamu udah mau nemenin aku di saat sulit seperti ini."


"Aku yang harusnya terimakasih karena kamu mau ngasih kesempatan buat orang nggak punya apa-apa kayak aku."


Dika terkekeh. "Kamu punya otak tapi nggak punya duit. Makanya aku mau manfaatin otak kamu."


"Sialan." Dedi melempar anggur yang semula hendak di makannya.


"Kak..." Rista datang dan duduk di samping Dedi.


"Kamu kok duduk di samping dia sih, Kakak kamu kan di sini," protes Dika.


Rista justru meraih lengan Dedi dan bergelayut manja di sana, "Kakak Rista emang di situ, tapi masa depan Rista ada di sini."


Dedi tak bisa mencegah kedua sudut di bibirnya untuk tak tertarik.


"Ck, awas aja kalau kamu nanti nyari Kakak," ketus Dika.


"Nggak akan, wleeee..." Rista menjulurkan lidahnya dan meraih selembar roti yang kemudian ia olesi dengan selai coklat.


"Lanjutin deh sarapannya, aku mau cek e-mail bentar." Dika bangkit dari meja makan dan beranjak dari sana.


"Kak, kok pakai seragam lagi sih?" tanya Rista pada Dedi yang setelah seminggu absen kini ia kembali mengenakan seragam pramukanya.


"Iya, mau ke sekolah."


"Nggak jadi homeschooling bareng Kakak?"


"Jadi Ta," Dedi membersihkan remahan roti yang jatuh di seragam Rista.


"Oh...," Rista kembali memakan rotinya.

__ADS_1


Dedi memperhatikan gadis kecil di hadapannya. Apakah kamu memang jodohku kelak? Apakah harapanku ini tak terlalu tinggi dan benar-benar bisa menjadi nyata.


Rista segera meminum segelas susu yang sudah tersedia di meja.


"Udah?" tanya Dedi saat Rista sudah meletakkan gelasnya.


Rista mengangguk dengan mulut yang penuh.


"Berangkat sekarang ya..."


Kembali Rista mengangguk dan keduanya beranjak dari meja makan.


"Kalian mau berangkat?" tanya Dika ketika melihat keduanya berjalan melewati dirinya yang sedang duduk di ruang tengah.


"Kita berangkat dulu Kak," Rista kemudian mencium pipi Dika.


"Kita berangkat dulu ya Kakak Ipar," ucap Dedi dengan tawa.


"Sialan. Gue jadi berasa tua," jawab Dika dengan wajah tak rela.


Dedi hanya tertawa. "Udah beres?" tanya ya kemudian.


"Udah." Dika meletakkan ipadnya dan ikut bangkit dari sana.


Mereka berjalan bersama dan memasuki dua mobil yang berbeda.


"Good luck Bro..." Dedi menepuk bahu Dika.


"Thanks."


***


"Pa, Rina bareng Papa ya."


Saat ini Rina dan kedua orang tuanya baru menyelesaikan sarapan.


"Boleh. Sekarang kalau gitu berangkatnya, soalnya Papa harus survei lapangan."


Rina segera mempercepat makannya agar tak menunda pekerjaan papanya.


"Dika lama nggak main ya Pa?"


Glek


Rina menelan ludah saat itu juga. Meskipun Ririn bertanya pada Reno, tetap saja ini menyangkut dirinya.


"Dia pasti sibuk banget Ma."


"Emang dia sendiri yang ngerjain Pa?"


Reno mengambil tissue untuk membersihkan mulutnya. "Dibilang kerja sendiri ya nggak juga, yang kerja kan karyawan. Tapi kalau dibilang nggak kerja ya pasti salah, karena roda semua perusahaan dibawah Surya Group tergantung sama dia. Jadi Rin, kalau kamu emang suatu saat berjodoh sama Dika, jangan pernah marah kalau hanya sekedar Dika nggak kasih kabar atau pulang telat, karena ditangan Dika roda perusahaan berjalan. Ngerti?"

__ADS_1


Rina serasa tertampar, karena harus mempermasalahkan sesuatu yang sebenarnya tak perlu untuk dibahas. Ia hanya, mampu mengangguk sebagai respon dari ucapan papanya.


"Cepet selesaikan, Papa tunggu di depan." Reno bangkit dengan Ririn yang mengekorinya.


Rina hilang selera. Ia memutuskan untuk ikut meninggalkan meja makan. Setelah berpamitan dengan sang mama, Rina berangkat ke sekolah dengan diantar papanya.


Di sekolah Rina hanya bersama Nita. Aksi perang dinginnya dengan Dian masih berlanjut sampai sekarang.


"Rin, mendingan kamu cerita deh ada masalah apa sebenernya. Nggak mungkin banget kalau cuma gara-gara berantem sama Dian kamu gini banget jadinya."


Rina menghela nafas. "Aku lagi ada masalah sama Dika."


"Tahu, nah masalahnya apa?" Nita beringsut dan menghadap Rina. "Aku bilangin ya, masalah itu ada buat di hadapi bukan dihindari. Ngerti?"


"Iya tahu. Tapi nggak ngerti caranya gimana. Sedangkan Dika aja nggak ada hubungin aku sama sekali."


"Terus kamu juga nggak ada inisiatif gitu buat hubungin dia dulu?"


"Ya aku malu lah Nit. Masa cewe hubungin duluan, minta maaf duluan. Kudunya kan cowok yang berinisiatif."


"Ck..." Nita berdecak kesal karena pemikiran kolot sahabatnya. "Gini deh, kamu ngerasa turut andil nggak dalam masalah kamu sama Dika."


Rina hanya menatap tak paham.


Nita menghela nafas. "Kamu ngerasa ikut andil dalam menciptakan masalah nggak?"


Rina diam sejenak. Aku yang duluan marah-marah karena aku nggak terima kalau Dika nganggep aku ada main sama Awan. Aku juga sih yang salah. Harusnya aku langsung bilang gimana ceritanya aku sampai bisa bareng-bareng sama Awan.


Rina membereskan barangnya dengan tergesa. Ia ingin segera menemui Dika.


"Rin, kamu mau ke mana?" tanya Nita saat melihat Rina menyampirkan tasnya di pundak.


"Bolos." Rina segera melesat keluar dari kelasnya.


"Rin...!" Nita berlari mengejar Rina dan segera meraih tangan Rina untuk menahannya. "Tinggal 1 jam doang masa mau bolos?"


"Nit, gue takut semuanya keburu telat." Rina melepaskan cekalan Nita dan berlari mengendap-ngendap menuju belakang sekolah. Ini adalah satu-satunya jalan untuknya kabur saat ini.


Di depannya sudah terpampang tembok yang tinggi dan kokoh. Dia menatap ragu. Tapi anak-anak biasanya kalau kabur manjat sini kan? Jadi kalau mereka bisa aku pasti bisa.


Rina segera mencari apapun untuk membantunya memanjat tembok ini. Dan ia pun berhasil mencapai atas pagar.


Namun sial, di atas pagar tembok seperti ini, ia tak bisa mencari apapun untuk membantunya turun, karena saat memanjat tadi ia hanya fokus bagaimana caranya memanjat pagar dan sama sekali tak memikirkan bagaimana cara turunnya nanti.


"Ya Tuhan, masa iya aku minta tolong. Konyol banget," gumam Rina pada dirinya sendiri.


Ia hendak mundur namun posisinya sama-sama sulit. Mending aku lompat aja kali ya. Ni nanti bisa patah tulang nggak ya? Rina kembali menatap ragu.


"Bismillah. Sama-sama sakitnya, tapi aku nggak malu-malu banget kalau lompat keluar."


Rina memejamkan mata dan segera melompat.

__ADS_1


Rina merasa tubuhnya melayang. Ya Allah, apa aku sudah mati? Kenapa tak sakit sama sekali?


TBC


__ADS_2