Zona Berondong

Zona Berondong
Ikrar


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


Dedi duduk bersila bersama para jama'ah yang kebanyakan adalah dokter yang merupakan rekan-rekan Rudi.


Ustad Syam yang biasa memimpin kajian tengah menyampaikan tausiah pasca sholat magrib yang dilaksanakan secara berjamaah.


Yang tak biasa kali ini adalah kehadiran anak dan istri Rudi yang tak pernah ditunjukkannya di hadapan para staf sebelumnya. Hanya sedikit yang mengenal Santi, apa lagi Rista dan Dika.


"Baiklah. Sepertinya saya butuh teman untuk duduk di sini," kata ustad Syam.


Semua jamaah saling beradu pandang. Memang Rudi tak memberitahukan bahwa hari ini ada yang berniat untuk mengikrarkan 2 kalimat syahadat di hadapan mereka semua.


"Kamu ke depan ya..."


Pinta Rudi dengan sedikit berbisik kepada Dedi.


"Kenapa saya Om?"


"Karena di sini kami ada untuk menyambut kamu, insyaallah."


Dedi masih diam. Dia belum sepenuhnya paham dengan maksud Rudi.


"Mari Nak Dedi, temani saya di sini."


Merasa dipanggil, Dedi segera bangkit dan berjalan ke depan dengan menunduk. Dia kemudian duduk di samping ustad Syam.


"Pemuda di samping saya cukup tampan bukan, sepertinya boleh kalau dijadikan calon mantu idaman," canda ustad Syamsi saat melihat raut tegang di wajah Dedi.


"Kak Dedi kan cuma punya Rista," protes Rista sambil meremas mukenanya.


"Sttt..."


Santi menginterupsi Rista untuk tenang.


"Iya, iya. Itu cuma bercanda kok?" lanjut Rina agar Rista tenang.


Dika datang dan duduk begitu saja di dekat adiknya.


"Dia kenapa?" tanya Dika pada Rina karena melihat wajah kusut adik kesayangannya.


"Ssttt...."


Rina hanya mengacungkan jari telunjuknya di depan bibir.


Dika memang belum lama hadir di sana setelah menyelesaikan secara kilat prosedur perpindahan keyakinan sahabatnya.


"Baik jamaah sekalian, mungkin banyak bertanya untuk apa kita semua di sini sekarang, padahal bukan jadwalnya rutinan, tapi di sini kita kedatangan tamu. Dan pemuda ini adalah tamu istimewa kita."


Dedi menangkupkan tangannya sebagai salam kepada semua jama'ah yang ada di sana.


"Baiklah, karena jarak waktu antara magrib dan isya' itu tak lama, langsung saja saya sampaikan bahwa pemuda ini berniat dan mantab untuk mengucap 2 kalimat syahadat."


Berbagai reaksi muncul saat itu juga, namun yang dominan adalah tatapan terkejut dan takjub.


"Ba'da asyar saya baru tiba dari luar kota, jadi saat dokter Rudi meminta saya untuk kemari segera, sempat saya tolak. Namun setelah beliau menyampaikan maksudnya, saya merasa saya harus datang betapa pun lelahnya saya."


"Namun ada hal yang lebih penting yang ingin saya tanyakan dan mungkin ingin pula para jamaah dengarkan."


"Nak Dedi, Dedi Yohanes ya namanya?"


"Betul Ustad."


"Saya tak ingin menanyakan keyakinan anda sebelumnya, namun saya ingin tahu, apa yang membuat anda yakin untuk menjadi seorang muslim."

__ADS_1


Dedi terdiam sejenak, mengumpulkan puing-puing memory dalam benaknya.


"Singkat saja, agar bisa diluruskan jikalau ada yang kurang tepat. Karena agama tak sebatas pandangan manusia, tapi urusan dengan Sang Pencipta."


Dedi nampak beberapa kali menghela nafas. Suasana mushola mendadak hening.


"Saya, seorang yatim piatu, kahilangan orang tua saat masih anak-anak kemudian hidup di panti asuhan. Memutuskan untuk keluar panti saat duduk di bangku kelas 3 SMP."


"Sejak awal SMK saya mulai berteman dekat dengan Dika sahabat saya. Selain itu ada pula beberapa teman lainnya yang juga beragama islam. Ketika mengerjakan tugas, mereka selalu break setiap adzan dan lanjut setelah adzan usai. Dari situ saya juga mulai suka dengar suara adzan."


"Suatu ketika kami ada jadwal latihan basket, kebetulan harinya minggu. Ditengah latihan Dika bertanya pada saya, bukankah hari ini waktunya beribadah? Dari situ saya merasa islam itu penuh toleran. Dan beberapa kawan lain juga mengizinkan saya untuk beribadah dan batu menyusul saat saya selesai."


"Akhirnya saya mohon diri. Tapi bukan untuk pergi ke ******, tapi saya merenung di sebuah gedung tua."


"Setelah beberapa waktu, saya kembali untuk latihan, dan saat itu adzan dzuhur berkumandang. Seperti biasa semua break latihan. Mereka segera ambil wudhu dan sholat. Setelah sholat iseng saya tanya, apa nggak repot ibadah berkali-kali setiap hari?"


"Saya ingat betul Dika yang menjawab, karena kalau kena wudhu itu adem, nggak cuma badan saja yang adem, tapi hati juga."


"Kelas X semester 2,saya duduk sebangku dengan Dika dan mulai tahu tentang kehidupannya."


Dedi sempat beradu pandang dengan Dika. Dika mengangguk seakan tahu jika Dedi tengah meminta izin untuk membicarakannya, meskipun di sana banyak yang tak mengenal siapa Dika.


"Kondisi keluarganya kacau. Dia bahkan memilih untuk tinggal sendiri dan tak bersama kedua orang tuanya. Namun dia sama sekali tak pernah meninggalkan sholatnya."


Degh!


Santi mengangkat tangan di depan mulut. Hati dan pikirannya kalut.


"Apa kamu tak pernah marah sama Tuhan yang memberikan kamu takdir seperti ini? Dengan enteng dia mengumpankan balik sebuah tanya, bagaimana kalau Tuhan tak memberiku takdir untuk hidup di dunia ini?"


Dedi menghela nafas.


"Sejak saat itu saya yakin kalau Tuhan itu ada tapi saya merasa hampa dengan apa yang saya punya. Diam-diam saya belajar dan mencari tahu tentang beberapa agama."


"Hingga akhirnnya tadi pagi dokter Rudi mampu menjawab semua ragu saya, dan saya langsung mengungkapkan keinginan saya untuk mengikuti keyakinan beliau."


Santi sudah menitikkan air mata mendengar apa yang telah dilakukan anak dan suaminya.


"Jadi, kamu masuk islam atas ajakan dokter Rudi?"


Dedi menggeleng.


"Tidak. Ini atas keinginan saya sendiri."


"Apa yang ingin kamu dapat setelah menjadi seorang muslim?"


"Keselamatan di dunia dan akhirat."


"Subhanallah..."


Raut bahagia terpancar dari semua yang ada di sana.


"Saya rasa kamu sudah tahu banyak tentang Islam, namun pesan saya, islam itu rahmatan lil alamin, yang artinya islam sebagai rahmat atau kasih sayang bagi seluruh alam semesta. Tak hanya yang hidup tapi juga yang tak bernyawa. Jadi jika suatu saat kamu menemukan ketidak baikan yang dilakukan oleh manusia dengan mengatasi namakan islam, kamu jangan pernah menyalahkan Islam nya, tapi pandang siapa pelakunya."


Dedi mengangguk paham.


"Jadi apakah kamu benar-benar siap untuk mengucap dua kalimat syahadat?"


"Siap," ucap Dedi disertai dengan sebuah anggukan mantab.


"Ikuti saya."


"Bismillahhirohmanirrohim."

__ADS_1


"Bismillahhirohmanirrohim."


"Asyhadu an laa ilaaha illallaah..."


"Asyhadu an laa ilaaha illallaah..."


"Wa asyhadu..."


"Wa asyhadu..."


"Anna..."


"Anna..."


"Muhammadar..."


"Muhammadar..."


"Rasuulullah..."


"Rasuulullah..."


"Saya bersaksi..."


"Saya bersaksi..."


"Bahwa..."


"Bahwa..."


"Tidak ada Tuhan..."


"Tidak ada Tuhan..."


"Selain Allah."


"Selain Allah."


"Dan saya bersaksi..."


"Dan saya bersaksi..."


"Bahwa..."


"Bahwa..."


"Nabi Muhammad..."


"Nabi Muhammad..."


"Utusan Allah."


"Utusan Allah."


Gema takbir bersahutan menyambut gembira hadirnya saudara mualimnya.


Dika lupa menjaga image nya di depan Rina. Dia tampak sibuk menghapus air mata yang tanpa permisi keluar dari matanya.


Di sisinya Santi sudah sesenggukan sejak Dedi menceritakan bagaimana putranya membuat Dedi jatuh cinta dengan agamanya.


TBC


Nah kan, as you wish Dedi udah masuk Islam. Bersiap Untuk fokus pada kehidupan Dika dan Rin ya, 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2